
Kehebohan terus terjadi, saat lempar bunga jatuh ke tangan Tama yang tidak ikutan menangkap bunga. Tian tersenyum melihat Tama melemparkan kembali bunga, Vira dan Winda rebutan sampai bunga hancur.
Sudah larut malam, pesta masih ramai. Anak-anak sudah tidur, Kasih juga sudah berganti baju untuk menjaga buah hatinya.
"Sayang jika kalian besar nanti, tetap jaga keharmonisan keluarga ini, saling menjaga dan merangkul."
Kasih mencium kening putra Putrinya, memejamkan matanya menunggu Ravi datang.
Orang tua juga sudah beristirahat, hanya tersisa muda-mudi yang memeriahkan acara. Tian meminta Bella, Winda, Vira masuk. Suasana sudah diganti acara laki-laki, Binar Karim juga di minta masuk.
Ravi juga kembali ke kamarnya, Erik Billa juga sudah berganti baju, keamanan di jaga oleh Tama dan Karan yang asik bercerita, Karan berencana ingin melamar Karin, tapi melihat Karin yang sibuk sepertinya sulit, dia terlalu fokus di VCLO.
Erik Billa masuk ke dalam kamar pengantin yang sudah penuh bunga, padahal awalnya Erik sudah membersihkan bunga di kamarnya.
"Kak Billa mandi dulu." Billa masuk kamar mandi.
Erik mengagukan kepalanya, melihat sebuah kotak kecil, langsung dibuka. Hadiah dari Ravi doa saat berhubungan, Erik langsung tersenyum.
Handphone Erik penuh dengan pesan, sambil menunggu Billa mandi Erik membacanya, banyak ucapan selamat, mengirimkan foto bersama saat pesta, juga beberapa emoticon sedih melihat Erik benar menikah.
Billa keluar kamar mandi, melihat Erik senyum-senyum melihat isi ponselnya.
"Kak mandi dulu, baru main handphone." Billa memonyongkan bibirnya.
Senyum Erik terlihat, langsung mendekati Billa menunjukkan ponselnya. Billa tersenyum mengambil ponsel, Erik mencuri ciuman di pipinya baru masuk ke kamar mandi.
Billa yang masih menggunakan baju mandi binggung melihat baju tidur yang terbuka semuanya. Banyak baju yang di keluarkan tidak ada satupun yang cocok, padahal saat tidur siang masih ada baju yang tertutup.
Erik keluar melihat Billa yang belum menggunakan baju, mata Billa melihat Erik yang tidak menggunakan baju menundukkan kepalanya.
"Mencari apa sayang?" Erik mendekati Billa melihat baju yang sudah di keluarkan.
"Bajunya terlalu seksi kak, Billa tidak terbiasa menggunakan baju lingerie."
"Pakai saja sayang daripada tidak menggunakan baju." Erik tersenyum melihat tubuh Billa yang putih.
Billa menurut mengambil satu baju langsung masuk ruang ganti, mengganti bajunya. Billa keluar langsung duduk di meja hias menyisir rambutnya, jantungnya berdegup melihat pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, bahkan transparan.
"Awww ...." Billa mengelus kepala yang tertarik, karena rambutnya kusut.
Erik mendekat membantu Billa menyisir rambutnya, mata mereka berdua bertemu dari pantulan cermin, senyum Billa yang manis membuat Erik memeluknya dari belakang.
"Sayang, boleh izin peluk?"
"Ini kak Erik sudah memeluk." Billa menatap Erik yang mencium rambutnya.
"Lebih dari ini." tangan Erik menyingkirkan rambut Billa mencium lehernya.
__ADS_1
Billa menyentuh dadanya yang berdegup, langsung berdiri. Erik melepaskan pelukannya mengikuti Billa dari belakang yang mengambil ponselnya.
"Sayang, kakak bicara kenapa tidak direspon?"
"Billa binggung kak, jadi terserah kak Erik, Billa ikut saja." Billa tertunduk malu.
Erik tersenyum, meminta Billa menatapnya. Billa hanya menurut saja sambil tersenyum. Erik menarik Billa masuk ke dalam pelukannya, Erik juga tidak percaya diri untuk minta malam pertama.
"Kita tidur saja sayang, kapan-kapan baru malam pertama." Erik merangkul Billa untuk naik ke atas ranjang.
Billa mengambil ponselnya, mencari tahu apa yang dilakukan di malam pertama. Erik menahan tawa membiarkan istrinya mencari tahu arti malam pertama.
"Apa yang harus di lakukan di malam pertama sayang?"
"Ini, tidak grogi, tidak fokus dengan rasa sakit saat ...." Billa langsung memeluk Erik karena malu mengatakannya.
"Kamu siap tidak merasakannya?"
"Kak Erik jangan ditanya Billa malu." Billa memonyongkan bibirnya, melihat Erik yang tertawa.
"Kenapa malu, kita berdua sudah sah."
"Billa malu, belum tahu ...." Billa mencengkram baju Erik, merasakan bibirnya sudah ditutup.
Erik mencium bibir Billa, melepaskan melihat mata Billa yang berkedip sambil tersenyum.
Ucapan Ravi ada benarnya, Keluarga ini turun temurun, tidak bisa langsung malam pertama.
Erik memejamkan matanya, memilih untuk beristirahat, Billa juga memejamkan matanya mengikuti Erik untuk terlelap.
***
Saat hampir subuh, Erik mendapatkan kebebasan untuk menyentuh, Billa memberikan izin untuk berhubungan. Baju Billa juga sudah melayang, lehernya juga sudah memiliki gigitan merah.
Suara Billa juga semakin kacau, merasakan beberapa bagian tubuhnya tersentuh.
"Bil, kamu yakin sudah siap." Erik mendekati wajah Billa, perlahan Billa berani menangkup wajah suaminya, menciumnya cukup lama.
Ciuman panjang yang saling membalas, tangan Erik menyentuh dada, mulut dan tangan tidak ada yang diam.
Suara ketukan pintu terdengar, Billa langsung mendorong Erik dari tubuhnya. Suara Ravi terdengar membuat Erik kesal. Erik melangkah dengan wajah bete, membuka sedikit pintu melihat wajah Ravi sambil menatapnya tajam.
Ravi tertawa kuat, dia hanya ingin mengingat untuk sholat berjamaah. Jika tidak ingin jangan lupa sholat. Erik langsung membanting pintu, tanpa menjawab, sedangkan Ravi tertawa kuat di luar.
Erik langsung lompat ke tempat tidur, Ravi memang pengganggu yang tidak tahu tempat, Billa tersenyum melihat suaminya kesal.
"kak ingin dilanjut tidak? atau Billa langsung mandi."
__ADS_1
"Nanti sayang, mandi berdua, kita selesaikan yang tadi."
"Memangnya masih ingat batas mana?" Billa tertawa melihat Erik yang masih merengek.
"Kita mulai dari awal juga tidak masalah, Ravi saja yang memang sengaja jahil." Erik mencium Billa yang juga menciumnya.
Selimut yang menutupi tubuh Billa melayang, Billa tersenyum mendengar candaan Erik. Dia tidak bisa fokus lagi, karena konsentrasi sudah buyar karena kehadiran Ravi.
"Ravi sialan, aku tidak bisa konsen." Erik mengumpat Ravi di dalam hati.
Billa masih bisa menikmati setiap sentuhan, pelukannya juga erat, memejamkan matanya tidak paham dengan rasa yang terasa membakar tubuhnya.
Tangan Erik menyentuh di bawah, Billa menahan tangan meminta waktu sebentar. Erik tersenyum mengiyakan, Erik melepaskan tangannya mencium kening Billa sambil memeluknya, saat Billa memberikan izin baru Erik membacakan doa yang dia dapatkan dari Ravi.
Tangan Erik meraba seluruh bagian tubuh, sampai ke bagian bawah. Erik menarik tangannya, merasakan basah, dirinya yang sudah tidak konsentrasi melihat darah ditangannya.
"Bil, ini darah apa?" Erik menunjukkan tangannya.
"Tidak tahu kak, dapatnya dari mana?" Billa balik bertanya.
Erik nyegir melihat tangannya, mencium bau darah yang ada ditangannya langsung menatap Billa yang penasaran.
"Kita belum melakukannya, tapi kenapa sudah berdarah? kak Erik tidak jorok mencium bau darah." Billa menyentuh perutnya yang terasa ngilu.
"Darah haid sayang." Erik langsung berlari ke kamar mandi.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP NYA
***
ERIK ARDANA
VISUAL XIAO
BILLA BRAMASTA
VISUAL TWICENAYEON
__ADS_1