SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 MENGHUKUM ZARA


__ADS_3

Tian terdiam melihat perusahannya kacau, Ravi juga duduk melihat banyaknya saham jatuh. Tian hanya menghela nafasnya memutuskan untuk mandi.


"Masih sempat mandi, jika menunggu besok Tian bisa jadi gembel." Erik menatap Ravi.


"Tian tidak bisa konsentrasi, Bunda bahkan tidak mengakuinya anak lagi."


Ponsel Ravi mendapatkan panggilan, langsung melempar ponselnya yang mendapatkan panggilan dari wanita kotor yang membuat Keluarganya bertengkar.


"Rav, kenapa diabaikannya?"


"Biarkan saja, aku tidak perduli lagi, dia bunuh diri, minum racun, lompat di gedung, menggugurkan, terserahlah."


Erik tersenyum melihat Ravi yang akhirnya bisa berpikir, masih sisa Tian yang diam saja padahal perusahan sedang diujung tanduk.


Ravi memejamkan matanya mencoba berpikir, mengigat tentang pengawal bayaran Kasih, Erik juga diam mengingat mungkin ada hal yang dilupakan.


"Rav, kenapa aku merasa ada yang tidak beres? soal DNA, juga Kasih yang terlihat santai."


"Pengawal bayangan Kasih, aku pernah melihat muncul. Selama ini Kasih tahu soal masalah ini, anak dan istriku sedang dalam bahaya." Batin Ravi.


Ravi langsung menunjuk rumah Mommy, masuk lewat rumah kecil yang biasanya Ravi gunakan saat pulang larut malam.


"Assalamualaikum ular, Daddy numpang lewat." Ravi langsung berlari, membuka pintu melihat Kasih yang sedang tidur tenang.


Ravi mengambil ponsel Kasih, langsung memeriksa tidak ada sedikitpun tanda soal pengawal Kasih, tapi Ravi yakin pernah melihatnya.


"Cari apa?" Kasih duduk di samping Kasih.


"Sayang, maaf menggangu tidur kamu. Pengawal bayaran kamu, atau apapun nama dia, aku pernah melihatnya muncul."


"Butterfly? kamu tahu wajah Butterfly?"


"Iya dia pernah menjenguk kamu saat koma, kami sempat bertarung, Aak melihat wajahnya."


Kasih hanya tersenyum berbaring kembali, Ravi ikut berbaring memeluk perut Kasih. Mata Kasih terpejam, Ravi melihat cincin pernikahan mereka sudah Kasih lepaskan, ternyata Kasih masih menyimpan sakit hati.


Ponsel Kasih berbunyi, Ravi langsung menjawabnya. Butterfly mengatakan berhasil merobohkan istana Zava, tapi ada satu masalah Zava ingin membunuh adiknya. Kasih langsung bangun, meminta Butterfly untuk menunda penyerang kedua, menyelamatkan wanita yang membuat Kasih sakit hati.

__ADS_1


"Siapa Zava? namanya mirip Dokter kandungan kamu." Ravi langsung menatap tajam Kasih.


Menyentuh perut Kasih, mendekatkan telinganya, mendengarkan bayi, juga merasakan gerakan mereka.


Kasih langsung membuka lemari, memberikan kepada Ravi bukti soal wanita yang menjebak Ravi. Meminta Ravi membantu Butterfly untuk mengalahkan Zava, karena Kasih tidak mungkin membantu dalam keadaan perutnya yang sudah besar.


Ravi sujud syukur tersenyum bahagia, ternyata dia tidak tidur dengan wanita lain. Obat yang dia minum memang membuat Ravi menggila, tapi sebelum terjadi Ravi sadar menyuntik tubuhnya dengan obat bius milik Erik yang Ravi ambil untuk menyuntik Erik untuk merayakan ulang tahunnya dengan meninggalkan Erik di kamar mayat, saat malam kejadian langsung menyuntikkan ke tubuhnya.


"Alhamdulillah ya Allah, ternyata aku hanya menyentuh wanita yang halal untukku." Ravi memeluk hasil rekaman.


Kasih menatap sinis, Ravi hanya nyegir ingin mencium Kasih, tapi Kasih langsung mundur.


"Maaf ya Sayang, aku tahu kamu marah, berat untuk kamu memaafkan aku." Ravi melangkah keluar pelan-pelan, Kasih hanya melihat sekilas.


***


Matahari belum bersinar, Erik sudah tiba di rumah sakit. Mencari keberadaan Zava yang ternyata sudah dari kemarin tidak masuk, Erik melihat keadaan pasiennya yang ternyata tertidur.


"Suntikan vitamin, berarti Cinta juga membantu Kasih, hanya dia yang tahu aku menyimpan vitamin di ruangan khusus." Erik bernafas lega.


Berbeda dengan Tian yang mengabaikan perusahaannya, Tian lebih memilih menemui Zava. Wanita yang sudah lima tahun, dia terima berkerja di rumah sakitnya, Tian tidak menyangka Zava tenyata wanita jahat.


"Saya mohon ampuni saya Kasih, kamu bisa mengambil Ravi kembali."


"Jangan terlalu senang Zara, kamu belum berhasil mengambil Ravi, setidaknya aku menyelamatkan kamu dari Zava karena kamu tidak memaksa Ravi berhubungan. Kenapa?"


"Pertanyaan lucu, aku tidak ingin tidur dengan lelaki yang beristri, dia juga terus menyebut nama Kasih, akhirnya pingsan karena dia menyuntik tubuhnya sendiri, daripada kami berdua sama-sama mati, lebih baik pura-pura melakukannya."


"Ternyata jika yang bersama kamu Tian, langsung sikat. Kamu tidak tahu kejamnya calon istri Tian, jika dia tahu kepala kamu bisa dia ledakan." Kasih tersenyum sinis.


Zara duduk gemetaran, memohon pertolongan kepada Kasih menyelamatkannya dari kakaknya Zava. Suara ketukan pintu terdengar, Ravi masuk kaget melihat Zara bisa bersama Kasih.


"Ravi, bagaimana jika aku membunuhnya di depan kamu?" Kasih mengarahkan senjatanya.


"Sayang, kamu sedang hamil, dia juga hamil."


Kasih menatap tajam, mengambil balok kayu, langsung memukul perut Zara. Butterfly yang baru datang kaget, Tian juga kaget melihat Kasih meluapkan amarahnya.

__ADS_1


"Ampun jangan bunuh saya." Zara sampai mencium kaki Kasih.


"Kasih, kenapa kamu membunuh anaknya." Butterfly mendekat menjauhkan Zara dari Kasih melihat darah di lantai.


"Darah siapa ini? kamu bisa keguguran, ayo tolong dia ke rumah sakit, ibunya boleh mati, asal anaknya selamat, dia tidak berdosa."


"Aku tidak hamil." Zara terlempar.


Butterfly menampar kuat sampai Zara terlempar, menendangnya habis-habisan. Kasih meminta Fly berhenti, tidak ingin membunuh Zara sekarang.


Ravi Tian masih terdiam, Cinta muncul kaget melihat Zara sudah babak belur. Tian menatap tajam Butterfly, tapi tidak bisa melihat wajahnya, hanya Ravi yang tahu.


"Kak Fly, sebaiknya kita segera menghancurkan markas kedua Zava. Hari ini semuanya harus selesai, jika kita menunggu malam mungkin dia bisa melarikan diri." Cinta langsung melangkah pergi, Fly juga pergi.


Ravi meminta pengawalnya membantu Zara, Ravi mendekati Kasih mengelus perutnya. Sangat khawatir melihat twin yang sekarang lebih banyak diam.


Kasih langsung meringis, mencengkram tangan Ravi saat twin mulai menendang. Ravi terus mengusap menenangkan anaknya.


"Kasih sebaiknya kamu pulang dan beristirahat, terlihat sekali wajah kamu lelah. Kamu juga sebaiknya pulang, jangan mempedulikan lagi masalah ini, kak Tian yang akan mengakhirinya."


"Berhati-hatilah kak Tian, dia berbahaya jangan lukai Bunda lebih dalam lagi."


"Jika memang perusahaan hancur, kak Tian bisa bangkit lagi, tapi soal Bunda memang sangat menyakitkan, tapi kak Tian berjanji akan kembali memohon ampun kepada Bunda."


"Maafkan Ravi hanya bisa membantu dari jauh kak, mereka bisa saja menyerang Kasih."


"Maafkan kak Tian Ravi, seharusnya kalian sudah bahagia, tapi kak Tian yang membuat kamu terlibat masalah, kak Tian juga menjadi orang yang bertanggung jawab akan Zava. Kasih maaf, kamu yang paling tersakiti karena kelalaian kak Tian, bisa mudah membawa musuh masuk."


"Kasih mengerti, kak Tian tidak punya waktu mengurus mereka, tapi akhirnya seperti ini."


"Twins maafkan Uncle, sudah membuat kalian bersedih." Tian mengusap matanya.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP

__ADS_1


***


__ADS_2