SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 BINTANG BULAN


__ADS_3

Kehebohan karena kehadiran media tanpa diundang selesai, Vira sudah selesai mandi menggunakan baju santai melihat suaminya yang berlari ke kamar mandi selesai berenang.


Vira tersenyum melihat tubuh Wildan jika tidak menggunakan baju selalu membuat tergoda.


Selesai mandi bersantai, Vira langsung mengobrol bersama yang lainnya, rambutannya terurai panjang.


Acara mengobrol sampai malam, mereka tidak pernah membicarakan orang, tapi membicarakan siapa saja yang ikut mengobrol.


"Aduh." Bella berteriak, menatap tidak suka, sudah sejak malam kemarin perut Bella dadakan sakit, tapi perkiraan melahirkan masih dua minggu lagi.


Sudah larut malam Tian masih belum muncul ke kamarnya, Bella berjalan ke arah dapur ternyata masih ada Billa, Binar, Winda dan Vira, juga Windy masih ramai bercerita banyak hal.


"Bel, aku pikir kamu sudah tidur. Kita ke kamar kamu mengorok." Vira menegur.


Bella mengangguk kepalanya, dia memang sudah tertidur, tapi bangun lagi karena merasakan sakit perutnya.


Winda dan Vira langsung melihat ke arah Bella, membiarkan duduk bersama untuk bercerita dan mengobrol santai.


"Aw sakit Bella." Vira dan Winda menahan tangan Bella.


Suara teriakan langsung heboh, Billa teriak kuat, Kasih juga langsung histeris karena kaget melihat air ketuban pecah.


Windy dan Binar juga kebingungan, mereka membantu Winda dan Vira untuk melepaskan diri.


"Sakit." Winda menahan rambutnya.


"Aduh, perut Bella sakit sekali." cengkraman kuat, Bella teriak tarik nafas buang nafas.


"Sialan kamu Bella, cari mati kamu ya." Vira teriak, merasakan rambutnya dicengkeram kuat.


Wildan dan Ar kaget melihat istri mereka terguling di lantai, lama menahan tangan Bella yang mencengkram rambut keduanya.


Tian langsung memeluk Bella, memintanya melepaskan Vira dan Winda yabg rambutnya acak-acakan mirip singa, mereka tidak tega ingin membalas Bella.


Rambut Vira Winda lepas, kedua tangan Belle mencengkram kuat rambut Tian. Teriakkan kuat, Wildan langsung membawa Vira pergi.


"Aku tidak akan memaafkan kamu Bella,. rambutku hancur, kurang ajar." Vira langsung memukul televisi.


Semua orang kerepotan di luar, Tian lebih sengsara lagi karena ulah Bella yang ingin melahirkan.

__ADS_1


"Siapkan mobil kita melahirkan sekarang?" Erik menatap Billa yang terkejut.


"Ke lumah cakit cekalang Papa, bukan melahirkan cekalang. Em belum hamil soalnya." Senyuman Em terlihat menatap Papanya fokus melihat Bella.


"Bapak sama anak sama saja bicaranya tidak jelas." Ravi menahan tawa.


"Billa, aku tidak memungkinkan lagi ke rumah sakit. Itu bayi sudah ingin keluar." Bella teriak kuat, membuat semua histeris.


Bella dibawa ke kamar, Binar melangkah mendekat. Dia yang akan membantu Bella melahirkan, meskipun dirinya tidak memilki gelar, dia pernah bekerja di rumah sakit, juga tempat persalinan.


Bunda jum panik, Viana Reva juga panik melihat keadaan Tian. Mereka kasihan melihatnya dijambak habis.


Vira menerabas masuk, Winda juga masuk. Bella masih sempat tertawa melihat rambut Vira dan Winda.


Kasih menggenggam satu tangan Bella, Billa juga memegang dengan kuat, Tian yang hanya pasrah.


"Bella, tarik nafas. Kepala bayi sudah kelihatan?" Binar memberikan arahan.


Bella sekuat tenaganya mendorong bayi keluar, wajah Vira dan Winda meringis, Bella banjir keringat, Tian meminta bantuan menghubungi dokter. Ternyata Erik sudah lebih dulu bergerak.


Tangan Tian berdarah, cengkraman Bella sangat kuat. Air mata menetes melihat keadaan istrinya yang berjuang tanpa Dokter.


Bella meneteskan air matanya melihat Bella menangis mendengar suara anaknya, Tian lebih parah lagi sudah banjir air mata.


Billa langsung menyambut keponakan untuk di bersihkan dari darah, bayi laki-laki yang sangat tampan.


Dia luar rumah tangisan Bisma pecah, dia sangat mengkhawatirkan keadaan putrinya. Bella memang wanita tangguh, tapi dia tetaplah seorang putri. Bisma tidak tega mendengar suara putrinya yang teriak kuat.


"Puluhan tahun aku membesarkan kamu Bella, memberikan yang terbaik, tapi saat ini kamu berteriak kesakitan sedangkan ayah tidak bisa melakukan apapun." Bisma terduduk mengusap air matanya.


Nazar Bisma jika anak dan cucunya baik-baik saja, akan membangun rumah sakit terbesar di beberapa kota agar lebih mudah dijangkau masyarakat, sehingga tidak seperti keadaan Bella yang sudah larut malam tidak memungkinkan ke rumah sakit, karena jarak yang sangat jauh.


Wildan duduk dengan wajahnya yang tegang, dia takut mendengar suara Bella yang tidak berteriak histeris. Bagi Wildan Bella anak yang sangat tangguh, dia juga tidak banyak mengeluh, tapi melihat ingin melahirkan tanpa Tim medis membuatnya sangat khawatir.


Suara bayi terdengar, semua orang teriak seperti sedang menonton sepak bola dan tim yang mendukung mencetak gol. Sebesar itu bahagianya mendengar suara bayi.


Wildan sampai lompat-lompat, berpelukan dengan Ar, memeluk Ravi Erik, Stev juga tersenyum bahagia.


Wira bertepuk tangan diikuti oleh adik-adiknya yang tepuk tangan sambil tidur mengelilinginya.

__ADS_1


Semuanya hening kembali satu bayi tidak terdengar suara tangisan membuat semuanya tegang.


Tangisan Bella terdengar memanggil bayinya, Bisma mendekati pintu memanggil nama Bella.


"Ayah anak Bella tidak menangis." Teriak histeris Bella terdengar.


Bisma langsung mendorong pintu, melihat putrinya menangis histeris, satu bayi berada di dada Bella.


Erik juga langsung masuk, mendekati bayi yang ada dalam pelukan ibunya.


Semua orang menangis, karena bayi lahir tidak menangis melihat kesedihan Bella dan Tian yang mengusap anak mereka.


Erik langsung memanggil bayi, menekan dadanya merasakan ada denyutan. Mereka tidak memiliki tabung inkubator, dengan penuh kelembutan Erik memberikan nafas buatan, memancing bayi agar bisa normal, memberikan kehangatan.


Secara dadakan Erik meludah, bersama dengan suara bayi yang menangis. Bayi merah yang penuh darah berada dalam gendongan Erik.


Billa langsung membantu menghangat bayi sesaat, mereka masuk ke dalam rumah ruangan yang hangat.


Bella tidak merasakan sakit apapun lagi, bahkan sampai persalinan selesai Bella tidak menyadarinya.


Satu bayi berada dalam gendongan Windy, tangisannya langsung terdengar, bayi yang bersama Billa juga langsung menangis kuat.


Erik keluar sambil tersenyum, Billa juga tersenyum melihat bayi cantik diperlukannya.


"Selamat kak Tian Bella, seorang putri yang sangat cantik." Erik tersenyum menyerahkan kepada Tian untuk di azan, begitupun dengan bayi laki-laki langsung berada dalam pelukan Ayahnya.


"Mereka lahir jam 23.50 untuk bayi laki-laki, sedangkan bayi perempuan lahir jam 00.01 hitungannya bagaimana ini?" Binar binggung, karena dua bayi lahir di hari yang paling berbeda.


Semuanya langsung melakukan sujud syukur, menangis sesenggukan melihat dua bayi baik-baik saja.


"Nama mereka siapa?" Windy menyentuh bayi.


"Bintang dan Bulan, lihatlah kelahiran mereka disaksikan Bulan Bintang, jarak mereka juga berdekatan." Vira tersenyum, Winda langsung memeluknya dari belakang.


"Bulan akan kesepian tanpa bintang, mereka akan saling mendampingi di langit malam, menjadi penerang." Winda tersenyum menatap Bella dan Tian yang menganggukkan kepalanya, meskipun mereka memiliki nama, tapi Bintang dan Bulan juga nama yang indah..


"Welcome Baby Bintang dan Bulan, selamat bergabung di keluarga besar kami." Vira mengeratkan pelukannya kepada Winda.


***

__ADS_1


Belum REVISI 1


__ADS_2