
Mobil tidak masuk area perumahan, Vira, Bella dan Winda harus jalan kaki. Dari kejauhan Vira sudah bisa melihat seorang gadis kecil yang bermain mobil-mobilan.
"Anak siapa itu mirip preman?" Vira langsung tertawa kuat.
Winda dan Bella juga tertawa kuat melihat Rasih sedang balapan dengan Bening, Raka hanya duduk diam saja memegang boneka Bening yang tidak boleh kotor.
"Minggir!" Asih teriak sambil melotot, Vira memegang jantungnya.
Bum ... bum bum ... bummm Asih mengemudi mobil besar balapan dengan Bening yang mengincang sepeda beroda tiga.
Winda melipat tangannya melihat Rasih yang menghilang di dalam semak belukar rumah Erik Billa.
"Hilang."
"Asih, tunggu Ning menyelamatkan kamu." Bening mendorong sepedanya, berlari kencang.
Winda tertawa bersama Bella yang sudah tertawa lepas bersama Vira yang sudah terduduk karena sakit perut tertawa melihat Asih hilang karena jatuh.
"Aku pikir hanya Wira manusia paling nakal, ternyata kak Ravi berhasil membuat versi wanitanya." Winda duduk menatap Asih yang sudah keluar dari semak.
"Aduh, sakit sekali pinggang Asih." Rasih berjalan memegang pinggangnya.
Rasih duduk menatap Vira yang tertawa, tatapan langsung tajam tidak menyukai Vira.
"Aunty, jelek sekali tertawanya." Asih merinding.
"Memang kamu pikir diri kamu cantik, lihat ada igus di hidung."
Rasih membersihkan ingus, menarik nafas karena masih ngos-ngosan jatuh. Bening berlari membawa botol minum, langsung terjatuh terguling.
"Astaghfirullah Al azim." Bella langsung berlari, membantu Ning berdiri.
"Ning, baik-baik saja Aunty." Bening mengambil botol minum memberikan kepada Asih.
"Kamu tidak sekolah Rasih?" Vira duduk di depan keponakannya.
"Buta, Aunty Vir buta. Lihat jam berapa hari apa? Asih hari ini libur." Rasih mengomel karena selalu membahas sekolah.
"Hai Raka apa kabar?" Vira melambaikan tangannya, tapi Raka cuek saja.
"Di mana Mommy?"
"Mana Asih tahu, kita dari tadi main di sini."
Vira melotot ingin sekali menelan Rasih hidup-hidup, mulutnya cerewet, pemarah, nakal mirip Vira kecil atau mungkinkah Ravi kecil.
Bella tidak melihat satupun penjaga anak-anak yang mengawal, bagaimana jika ada orang jahat yang menculik padahal usia Rasih Raka belum tiga tahun.
"Raka di mana Mommy?" Bella mendekati Raka.
__ADS_1
"Di dalam melihat Embun dan Elang." Raka tersenyum.
"Anak tampan, tapi kenapa main boneka? Raka sedang membaca apa?" Bella kaget melihat Raka yang sudah pintar membaca.
"Ini punya kak Ning, dia tidak ingin bonekanya kotor."
"Anak baik, kamu tidak ingin bermain mobil-mobilan?"
"Aka tidak suka, lebih suka membaca Aunty." Senyuman manis Raka terlihat, membuat Bella jatuh cinta.
"Subhanallah aku jatuh cinta kepada Raka, seperti saat mengagumi kak Tian." Bella mencium pipi Raka.
"Tolong jangan dicium aunty, aka tidak suka." Raka membersihkan wajahnya.
Bella tertawa mengusap kepala Raka, memeluknya gemes karena ketampanan dan kepintaran Raka.
"Astaghfirullah Al azim, Vira! anak aku sudah gila, ditambah lagi Auntynya lebih gila." Kasih teriak kuat, melipat tangannya di dada melihat Vira yang naik mobilan.
Rasih dan Bening mendorong Vira mengebut dengan suara mereka yang sudah full, sedangkan Winda menggunakan sepeda Bening kebut-kebutan.
"Astaghfirullah Al azim, Vira, Winda kalian berdua tidak ingat umur." Viana menggelengkan kepalanya.
"Awas Mommy, Vira bisa kecelakaan." Vira teriak kuat, meminta Asih dan Ning berhenti mendorong mobil dengan kuat, Vira langsung terlempar ke dalam taman bunga.
Winda tertawa kuat, langsung teriak minta tolong karena tidak ada rem langsung masuk ke dalam taman bunga menabrak Vira.
Suara Bella tertawa terdengar paling besar, Billa juga keluar tertawa melihat Vira dan Winda sudah tergeletak.
"Mommy tolong Vira, lihat cucu Mommy membuat Vira kecelakaan." Vira langsung berdiri memeluk Mommy.
"Mami, Mami, Mami tolong!" Winda masih guling-guling di tanah.
Reva yang baru selesai mandi langsung berlari keluar melihat Bima yang juga berlari mendengar suara teriakan Winda.
"Astaghfirullah Al azim Winda." Bima langsung mengangkat Winda untuk berdiri.
"Papi, anaknya kak Ravi sama kak Tama ingin membunuh Winda." Bibir Winda monyong langsung memeluk Bima.
Semua orang sudah cekikikan tertawa, rambut Vira dan Winda acak-acakan. Reva menarik telinga Winda yang suaranya bisa sampai ke jalanan.
"Kenapa mulut kamu besar sekali?" Reva kesal melihat putrinya yang memeluk Papinya erat.
"Sudah Winda, makanya jangan nakal."
"Mereka yang nakal Papi." Winda melihat rambutnya yang penuh sampah.
"Winda, kamu tidak tahu jika Rasih preman jalanan, Daddy-nya pulang dia berlari mengejar mobil Daddy-nya." Billa tersenyum melihat Winda dan Vira kesal.
"Kenapa kalian pulang tanpa pemberitahuan?" Jum menatap Bella.
__ADS_1
"Tidak tahu Wildan, dia mendadak pulang." Vira memegang kepalanya.
"Sekarang di mana Wildan?" Reva melihat sekelilingnya.
"Ke kantor bersama kak Tian, kak Ravi memaksa mereka pulang." Winda memeluk Maminya.
Jum langsung menatap Bella, Viana dan Reva juga menatap Bella yang masih duduk di pinggir jalan bersama Raka.
Winda dan Vira langsung berlari ke rumah masing-masing, membiarkan Bella mengahadapi masalahnya dengan Bundanya.
"Kenapa kamu pulang Bella?" Jum menatap tajam.
"Bella rindu Ayah, Bunda, Billa, Embun, Elang dan Ning." Bella langsung berdiri mendekati Billa.
"Kenapa kamu masih bertemu dengan Tian, ingat ucapan kamu Bella jika tidak ada hubungan apapun dengan Tian."
Viana langsung berdehem, mengusap punggung Jum yang menatap putrinya tajam.
Viana meminta Reva menghubungi Bisma agar segera pulang, tidak ingin Jum bertengkar dengan Bella lagi.
"Bunda kenapa tidak mengizinkan Bella pulang?"
"Bella, lebih baik kamu ganti baju lalu istirahat." Reva menarik Bella masuk ke dalam rumah Jum.
Billa juga melangkah masuk, menepuk pundak Bella agar tidak melawan Bundanya lagi seperti sebelumnya.
"Embun, masa Allah cantiknya anak Bunda Bel." Bella langsung mengendong Embun yang sudah pintar tertawa, Elang juga sudah bisa duduk.
"Elang, tampan sekali kamu." Bella ingin mencium, tapi Elang menahan wajah Bella.
"Minum apa sayang?" Bella mencium pipi Embun yang langsung minta digendong.
Binar tersenyum melihat Bella, langsung menyapanya. Bella juga tersenyum melihat Binar yang sangat cantik.
"Kak Binar apa kabar?"
"Baik Bel. Kamu apa kabar?"
"Alhamdulillah baik kak, pasti kak Tama sedang tugas."
"Iya Bel, karena lagi hamil jadinya tinggal bersama Bunda. Kak Tama pulang kita juga baru pulang."
"Iya kak, lebih baik di sini lebih ramai, juga ada yang menjaga kak Binar. Biasanya lagi hamil muda cukup sulit." Bella tersenyum menggendong Embun.
"Kak Bening tidak ada yang menjaganya."
"Tidak bisa dijaga Bel, jam empat pagi dia sudah bangun menunggu sholat lalu keluar rumah mau main."
Bella tertawa, menceritakan jika Ning dan Asih membuat Winda dan Vira terluka. Binar hanya tertawa, melihat kedua Auntynya tertawa Embun juga tertawa.
__ADS_1
***