SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 JANJI AKAN BAHAGIA


__ADS_3

Tatapan mata Winda dan Vira fokus memperhatikan desain kuda laut yang menjadi incaran para pengoleksi barang antik.


"Bagus sekali, Bella sudah lama menginginkannya." Bella merangkul Winda.


"Iya, banyak orang yang mencari pemilik dari kuda laut yang sangat cantik." Bil menyentuh pelan.


"Sepertinya kak Ar mengetahui semua tentang kamu Win, bahkan kak Ar tahu Vira menyukai boneka beruang besar." Vira merangkul Winda yang menundukkan kepalanya.


"Apa aku sudah melakukan kesalahan? rasa benci aku dibalas kebaikan, dia tahu apapun yang aku suka dan tidak suka, tapi aku hanya tahu cara menghacurkan dia." Winda melangkah ke arah kaca menunggu waktu subuh, karena dia akan segera di make up untuk menikah.


Vira memeluk Winda dari belakang, selama mereka terpisah Vira ingin Winda belajar membuka hati untuk kakaknya Ar.


"Win, kamu sahabat kesayangan aku. Maaf jika aku minta jangan sakiti kak Ar demi keluarga besar kita, sama aku juga akan menjaga rasa untuk Wildan demi keluarga kita, pada kenyataannya kita ada diposisi yang sama. Meskipun Vira baru tahu, kak Ar bagian keluarga Prasetya rasanya kami memiliki ikatan, rasa sayang yang sama seperti besarnya sayang aku kepada kak Ravi. " Vira mengusap rambut Winda, adik kecilnya.


"Winda tidak bisa berjanji Vir, seadanya aku tahu dari awal mungkin tidak akan pernah ada pernikahan." Winda memeluk Vira, senyuman Vira terlihat sangat mempercayai Winda yang bisa melihat kebenaran secepatnya.


"Aku tidak tahu apa masalahnya Winda, tapi Bella juga berharap kamu bahagia dengan pernikahan ini, cepatlah kembali berkumpul lagi bersama kami." Bella memeluk erat keduanya.


"Cepatlah lahirkan malaikat cantik dan tampan untuk menemani Rasih, Raka, Embun, Elang dan Bening." Billa memeluk erat ketiga sahabatnya.


"Vira tidak bisa napas woy, belum malam pertama sudah mati duluan." Vira langsung melepaskan pelukan, bersamaan tawanya.


"Malam pertama kamu tidak akan pernah berhasil Vira." Bella tertawa, meminta Winda mandi, karena harus sholat dan make up.


Senyuman Vira terlihat, memeluk bonekanya yang dibawakan oleh Wildan.


"Wil, berapa lama Winda dan kak Ar di luar negeri?"


"Tidak tahu, kemungkinan bisa dipercepat juga lebih lama. Pokoknya mereka pasti kembali." Wildan melangkah pergi ke kamarnya.


"Wil, kamu tidak punya hadiah?"


"Punya, nanti malam aku berikan. Setelah kita halal." Wildan membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


"Vira tidak ingin melakukannya, apalagi tanpa cinta." Vira berteriak, Wildan sudah menutup pintu kamar.


***


Rama dan Viana berjalan ke arah kamar Ar yang tidak tertutup rapat, ingin memberikan kado pernikahan untuk Winda melalui Ar.


Dari luar Rama dan Vi melihat Ar baru selesai sholat subuh, tapi terdengar suara tangisan yang terdengar sayup-sayup.


"Hubby, Viana balik ke kamar saja. Ar membutuhkan hubby untuk bicara, dia mungkin merindukan seseorang sehingga menangis." Viana melangkah pergi, menepuk pundak suaminya.


Rama melangkah masuk, membiarkan pintu kamar terbuka sedikit. Rama menatap pemuda masih sangat muda terlihat punggungnya memikul beban berat.


"Assalamualaikum Ar." Rama tersenyum.


Ar langsung diam, menyembunyikan foto seseorang. Menghapus air matanya, tersenyum melihat Rama.


"Waalaikum salam Daddy, maaf Ar tidak mendengar Daddy masuk." Senyuman Ar terlihat.


"Siapa yang sedang kamu lihat? kamu rindu?" Rama duduk di samping Ar bersandar di pinggir ranjang.


"Cerita Ar, kita hanya berdua sebagai penjaga keluarga ini. Status kamu sama seperti aku, meskipun kamu masih muda." Rama merangkul Ar yang tetap tersenyum.


"Daddy, dari sekian banyak perpisahan kenapa harus kematian?" Ar meneteskan air matanya, menunjukkan foto Abi yang membesarkan dirinya, foto kusam seorang wanita yang menjadi tersangka pembunuh dan di penjara seumur hidup.


Rama meneteskan air matanya, melihat foto lusuh seorang polisi yang wajahnya hampir mirip Ayahnya.


"Dia ayah kamu?" Rama mengambil foto.


Air mata Ar tumpah dalam pelukan Rama, hari pernikahan tinggal menghitung jam, tapi mendapatkan kiriman foto lusuh kedua orang tua kandungnya.


Terlihat juga laporan kematian ayahnya yang dibunuh oleh ibu kandungnya sendiri, karena memperkosanya. Rama sama terpukulnya melihat Ar dilahirkan di jalanan, lalu dilarikan ke rumah sakit lalu diadopsinya oleh seorang pilot yang sedang cendera, ibunya bunuh diri dihari Ar lahir ke dunia.


"Kenapa kamu melakukan ini? semuanya sudah selesai Ar, jangan kamu korek lagi luka lama, seadanya aku tahu memiliki sepupu, sudah lama aku mencari keberadaan kamu. Kenapa kamu masih mencari kebenarannya?" Rama memeluk Ar erat yang menangis sesenggukan.

__ADS_1


Viana yang mendengar menetes air matanya, Ar memiliki kehidupan yang lebih menyakitkan dari dirinya, tapi hebatnya dia tumbuh menjadi anak baik, pekerja keras juga sangat jenius.


"Sudah jangan menangis, kamu hari ini akan menikah harus bahagia." Rama mengusap air mata putra keduanya, adik sepupunya yang diangkat menjadi putranya.


"Maafkan Ar Daddy, hanya sebatas ini pencarian tentang keluarga kita, tapi Ar tidak bisa menemukan penyebab kenapa Ayah terpisah dari keluarga Prasetya." Ar menatap mata Rama.


"Daddy tidak ingin tahu, cukup ada kamu. Kehadiran kamu menjadi hadiah terindah dalam hidup Daddy. Mulai hari ini kamu harus selalu ingat di sini keluarga kamu, jangan lupa untuk kembali, juga menetap bersama kami." Rama mengusap air matanya.


Ar melihat foto ibu dan ayahnya, Rama meminta Ar menyimpannya. Mendoakan keduanya di setiap sujud.


"Abi kamu pasti membesarkan kamu dengan sangat baik, dia berhasil memperkuat mental kamu. Ar dulu Daddy juga kehilangan orang tua saat kecil, menangis di jalanan mencari mereka sampai seorang remaja yang sangat baik datang, mengandeng tangan selalu menguatkan, lelaki itu yang akan segera menjadi mertua kamu. Kita semua kuat, karena ada lelaki hebat yang menopang kita, juga ada malaikat tidak bersayap yang mendampingi." Rama memeluk erat, meminta Ar tersenyum.


Ravi dan Viana meneteskan air matanya, keduanya menguping pembicaraan dua lelaki yang sama-sama kehilangan kedua orang tua.


"Ravi beruntung memiliki kesempatan bertemu Daddy, Mom jangan pernah tinggalkan Ravi sampai kapanpun. Mental Ravi tidak sekuat Ar dan Daddy, bagaimana jadinya Ravi tanpa mommy." Ravi menetes air matanya memeluk Viana yang juga meneteskan air matanya.


Rama melihat Viana dan Ravi menangis, Ar juga menatap keduanya.


"Maafkan Mommy Ravi sudah membuang masa indah kamu bersama Daddy, mommy sangat menyesal pernah memutuskan pergi sehingga tanpa mommy sadari menyakiti kamu." Viana mengusap kepala putranya.


Rama langsung berlutut memeluk istri dan putranya, Vi tersenyum menatap Ar meminta untuk berpelukan.


"Hari ini menjadi sejarah indah bersatunya dua keluarga." Mommy sangat bahagia, bisa melihat Vira menikah, bisa juga melihat Ar menikah.


"Vi, jangan menangis, saat kamu menangis akulah yang tersakiti." Rama mengusap air mata istrinya, memeluknya erat mencium kening istrinya.


"Astaghfirullah Al azim." Ar langsung mundur.


"Ar kamu harus membiasakan diri, mereka memang pasangan aneh." Ravi tersenyum menatap adik lelakinya.


Senyuman Ar terlihat, menatap map yang sudah tertutup.


"Abi terima kasih atas cinta yang pernah Abi berikan, ibu Ayah Ar berjanji akan bahagia. Kalian bertiga tenang di sana, Ar akan terus mengirimkan doa agar kalian bangga memiliki Ar." Senyuman Ar terlihat, mengusap air matanya.

__ADS_1


***


__ADS_2