SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 VIRDAN HILANG


__ADS_3

Sudah larut malam, Wildan dan Vira masih berkeringat sambil berpelukan. Suara Virdan bangun terdengar, dia mengoceh sendiri membuat Wildan membuka mata langsung ke kamar mandi membersihkan dirinya.


Rambut Wildan masih basah menatap putranya yang masih mengomel sendiri, berbicara dengan bahasanya.


"Kenapa belum tidur sayang?" Wildan mengangkat putranya memindahkan ke atas ranjang.


Bayi lucu berusia enam bulan menjadi kebahagiaan terbesar Wildan, putranya sangat mirip dirinya dan Vira.


"Kamu lapar, mau minum susu?" Wildan mengambil botol susu, tapi Virdan menolak membuang arah pandangannya.


Vira membuka mata melihat putranya sudah tengkurap, melangkah mendekatinya. Wildan masih takut, jika putranya belum bisa.


"Kenapa?" Vira mencium pipi anaknya yang sudah memeluknya.


"Pengen dipeluk Mami ya?" Wildan juga memeluk Vira yang tersenyum.


"Kira-kira Virdan mendengar tidak kita uh ah ah?" Vira memeluk putranya, menciuminya bekali-kali.


Tatapan Wildan langsung tajam, tangan Vira menutup mata suaminya. Tidak bisa bercanda sama sekali.


"Ayang, tadi kenapa keluarnya masih di dalam?"


"Kenapa bahas keluar lagi? tadi siang sudah cukup panjang." Mata Wildan langsung terpejam, tidak ingin membahasnya.


"Ayang, Vira juga lebih suka di dalam?"


"Vira, ayo kita tidur saja."


Vira tersenyum melihat dua lelaki yang memeluknya, sungguh lucu sekali melihat dua lelaki yang wajahnya mirip.


"Kamu takut hamil Vir?" kepala Wildan berdiri, menatap Vira yang tersenyum.


"Takut, kenapa Vira harus takut?"


"Tunda saja dulu untuk hamil, aku tidak masalah jika kamu memutuskan untuk melakukan program menunda anak. Kita tunggu Virdan berusia lima tahun, atau sudah besar seperti Wira." Tangan Wildan erat memeluk istrinya.


"Vira tidak yakin Ayang." Suara Vira terdengar, membuat Wildan langsung duduk.


Vira langsung mengambil bajunya menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, Wildan hanya diam menunggu.


Suara pintu terbuka terdengar, Vira langsung melangkah ke meja rias, mengambil sebuah kotak memberikan kepada suaminya.


Wildan langsung cepat membukanya, berteriak dan berdiri di atas tempat tidur sampai Virdan yang tengkurap menjadi telentang, karena Wildan lompat dari tempat tidur.


"Seriusan ini Vira? aku bisa dimarah." Wildan mengigit bibir bawahnya.

__ADS_1


Vira tertawa, dia juga awalnya merasakan panik, cemas, khawatir juga saat Mami dan mommy membahas soal hamil.


Perasaan gelisah akhirnya Vira memutuskan untuk melakukan tes, menggunakan beberapa tes pack dan hasilnya garis dua.


Meskipun Vira tidak mendapatkan tanda-tanda yang terlihat jelas, setidaknya ada yang aneh dari dirinya.


Sudah bulan ke dua dirinya tidak haid, pagi-pagi tubuhnya lemas meskipun masih bisa beraktivitas.


Sangat menyukai makanan manis, suka melihat pria tampan, tapi seluruh lelaki dalam keluarga mereka tampan semua, bahkan sulit membandingkannya.


"Kenapa baru bicara sekarang sayang? kamu tahu resikonya." Pelukan Wildan lembut, membelai rambut Vira yang basah.


"Vira juga tidak menyangka Ayang, sungguh antara takut dan bahagia."


"Besok kita bicarakan ini dengan keluarga, lalu periksa ke dokter untuk memastikan."


Air mata Vira menetes, menunjukkan beberapa artikel soal mengugurkan kandungan, karena jarak hamil terlalu dekat sehingga membuat bahaya.


"Ayang, jika memang benar hamil sungguh Vira tidak ingin melepaskannya. Apapun resikonya Vira tidak perduli, dia tidak boleh digugurkan." Tangisan Vira semakin kuat, dia takut memberi tahu keluarga jika sampai mengeluarkan keputusan untuk melepaskan anaknya.


Wildan mengusap punggung istrinya, meminta Vira agar tidak khawatir. Kekhawatiran akan membuat suasana hati Vira semakin buruk.


"Kita bicarakan besok, sekarang kita tidur untuk beristirahat."


Wildan menggendong istrinya untuk kembali ke ranjang, keduanya melupakan Virda yang sudah turun ke bawah ranjang.


"Ayang, di mana Virdan?" Vira langsung duduk melihat ke dalam boks bayi.


"Bukannya dia tidur di sini?" Wildan langsung melihat ke bawah, mencari putranya.


Vira dan Wildan langsung panik, tangisan Vira langsung terdengar, berteriak kuat membangunkan seluruh orang di rumah untuk mencari putranya.


Rama yang mendengar langsung naik ke lantai atas, melihat Vira dan Wildan mencari ke segala arah.


"Ada apa Vira?"


"Daddy, Virdan hilang."


"Astaghfirullah Al azim, bagaimana bisa?"


"Dia tidur di sini, lalu hilang." Vira melihat ke atas ranjang.


"Tidak ada Vir, kamar mandi sampai balkon, ruang kerja, satu kamar ini tidak ada." Wajah Wildan terlihat stres.


"Dia belum bisa berjalan Wildan Vira, kalian berdua keterlaluan." Rama melangkah membuka kamar mandi, bawah meja juga tidak ada.

__ADS_1


Selimut, bantal, guling disingkirkan. Virdan tidak terlihat sama sekali.


Vira sudah gemetaran, dia sangat mengkhawatirkan putranya yang masih kecil. Hal yang sangat mustahil Virdan bisa menghilang dalam kamar.


"Di mana Virdan? kalian berdua bagaimana menjaga anak?" Rama meminta asisten membangunkan Viana yang masih tidur, meskipun ada bom meledak.


"Ada apa? ini masih tengah malam." Viana langsung tidur lagi di atas ranjang kamar Vira.


"Virdan hilang Mom, ke mana anak sekecil itu bisa hilang, dia belum bisa berjalan." Rama menaikan nada bicaranya.


"Oh, Virdan. Sore tadi juga hilang di rumah Reva, kita mencari dia sampai encok pinggang, kaki hampir patah, anaknya tidak ada."


"Mommy serius, Virdan masih kecil."


"Kenapa Daddy marah kepada Mommy?" Viana langsung melotot, menatap Virdan yang merangkap dari bawah kursi.


"Bukan menyalahkan Mommy, tapi kita semua khawatir."


"Sekarang Nek mud tahu kamu sembunyi di mana?" Viana melihat Virdan pindah bersembunyi di bawah meja rias yang memang muat untuk tubuhnya.


"Mommy, Vira khawatir Mom?" Tangisan Vira semakin kuat.


"Kalian cek di bawah meja, dia akan muncul sendiri. Sore juga begitu, Reva sudah menangis, lalu Virdan muncul sambil merangkak."


"Virdan baru bisa tengkurap Mom."


"Dia sudah bisa merangkak Wil, mungkin sebentar lagi bisa berlari." Viana langsung melihat ke bawah meja rias.


Semua orang melihat ke bawah meja rias, Wildan menatap Vira yang kebingungan melihat putranya tidur tengkurap di lantai.


"Apa yang kamu lakukan Virdan?" Wildan langsung ingin mengeluarkan, tapi Viana melarangnya.


Perlahan Virdan keluar sendiri, dia sangat pintar mengeluarkan kakinya terlebih dahulu baru kepalanya, merayap dan merangkak.


"Astaghfirullah, Kenapa kamu mengemaskan sekali sayang." Rama langsung mengambil Virdandan meletakkannya di atas ranjang.


"Virdan, tidurlah dengan tenang, Nek mud lanjut tidur dulu." Viana memeluk lengan Rama untuk keluar.


Vira dan Wildan masih tidak percaya melihat putranya yang bisa masuk ke bawah kolom kecil.


"Mulai besok ganti semua yang ada di kamar ini, jangan sampai Virdan bisa masuk ke bawahnya." Wildan mengusap kepala putranya.


Baru saja Wildan dan Vira ingin naik ke atas ranjang, Virdan sudah merosot turun, merangkak dan tidur di tempat lap kaki.


Vira langsung tertawa, inilah hasilnya mengejek Asih saat kecil yang hobi tidur seperti kucing.

__ADS_1


***


__ADS_2