SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 DIJODOHKAN


__ADS_3

Dua wanita cantik menarik koper melangkah keluar dari bandara, menatap seorang wanita yang berdiri di dekat mobil mewahnya.


"Bella, kami rindu." Vira berlari langsung memeluk Bella.


Koper Vira berjalan sendiri setelah ditendang oleh Winda, Bella hanya tertawa melihat Vira dan Winda yang masih sering bertengkar.


"Bagaimana kabar Bunda dan Ayah?"


"Alhamdulillah baik, mereka aman." Vira masuk ke dalam mobil.


"Vira sialan, koper kamu terlalu besar." Winda keberatan memasukkan koper.


Mobil melaju menuju kediaman Bella, Mansion mewah milik Wildan yang sangat jauh dari keramaian.


"Dia tampan tidak kak?"


"Pakai banget Winda, Dewa terlihat sangat tenang."


"Ada sesuatu yang mencurigakan?"


"Entahlah Vir, dia terlalu hangat untuk dikatakan orang yang bermasalah." Bella mempercepat laju mobilnya.


Winda melihat tabletnya yang memiliki banyak pekerjaan, Vira menatap Winda yang fokus di kursi belakang.


"Winda, saat tiba nanti kamu akan terkejut melihat seseorang yang mungkin sangat kamu cintai."


"Sampai detik ini lelaki yang aku cintai hanya Papi."


"Dia lebih tampan dari dewa, tapi aku akui masih unggul Wildan."


"Siapa Bel, aku mengenal dia?"


"Bukan kenal lagi, dia sudah dianggap Papi Bima sebagai putra."


Winda langsung memukul kepala Bella, keluarga Bramasta hanya memiliki dua putra, Bastian dan Wildan.


Bella hanya tertawa, sangat penasaran dengan ekspresi Winda saat bertemu pria yang paling dia benci.


Setelah perjalanan panjang yang cukup melelahkan, senyuman Vira terlihat menatap alam yang sangat sejuk, banyak perkebunan sepanjang perjalanan.


"Luar biasa, Wildan sukses mengembangkan perekonomian di sini."


"Bukan Wildan, tapi pemilik mobil ini."


Vira mengerutkan keningnya karena sangat penasaran dengan seseorang yang tinggal bersama Bella, pria yang dikenal sangat dekat oleh mereka.


"Wow, mansion besar sekali." Senyuman Winda terlihat lebar menatap besarnya rumah yang ditinggali oleh Bella.


"OMG, ini mansion bangus banget seperti rumah seorang mafia yang tinggal di perkebunan."


"Mansion Wildan, kamu sedang memuji atau menghina Winda." Bella menghentikan mobil.


Winda dan Vira langsung melangkah menaiki tangga, pintu terbuka membuat langkah kaki Winda dan Vira terhenti.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun, ustadz Amin. Kenapa kamu ada di sini?" Winda teriak kuat melihat Yusuf yang melangkah keluar.


Vira dan Bella langsung tertawa melihat Winda cemberut, bibir Winda monyong menatap Yusuf yang tersenyum mengucapkan salam.


"Assalamualaikum, selamat datang."


"Woy, Amin. Kenapa kamu ada di sini?" Winda teriak di telinga Yusuf.

__ADS_1


"Sejak awal aku memang tinggal di sini."


"Kenapa kak Wildan memelihara mahkluk aneh seperti kamu, merusak pemandangan saja." Winda langsung melangkah masuk.


Vira tersenyum menatap Yusuf agar lebih sabar, karena Winda akan segera mengusik kehidupan Yusuf yang tenang.


"Kak Yusuf ini remote mobil, terima kasih." Bella langsung melangkah masuk.


Bella menarik tangan Vira, membisikkan sesuatu yang membuat Vira teriak kaget.


"Jangan memberi tahu Winda, biarkan waktu yang menyatukan mereka."


"Demi apapun, aku tidak percaya jika Winda dijodohkan dengan Yusuf."


"Aku mendengar sendiri pembicaraan Yusuf dan Papi Bima, sudah seizin Wildan dan Mami Reva."


"Astaga, kasihan Winda semoga cepat jatuh cinta."


"Bodoh kamu Vira, kasihan kak Yusuf. Ketenangannya akan segera hilang."


Vira tersenyum langsung menuju kamar yang sudah disiapkan, Bella melihat Yusuf yang mendengar pembicaraan mereka.


"Maaf kak, Bella tidak sengaja mendengarkannya."


"Tidak apa Bel karena memang faktanya, tolong jangan memberitahu Winda, karena dia pasti akan marah besar."


"Bella satu pemikiran kak, jika bisa sebaiknya Kak Yusuf segera menemukan pujaan hati." Bella langsung melangkah pergi.


Ponsel Yusuf berdering, menatap layar yang membuatnya langsung tersenyum.


"Di mana kamu Fly?"


Winda mengerutkan keningnya langsung merampas ponsel Yusuf mendengarkan pembicaraan dengan butterfly, tatapan mata Winda tajam karena Fly akan segera tiba.


"Siapa butterfly?"


"Dia tangan kanan Wildan selama di Roma, kontrak dia sudah habis sekarang sudah waktunya dia kembali ke sini."


"Bohong, Fly orang yang pernah bersama kak Kasih. Mustahil menyelesaikan kontrak yang belum satu tahun. Sebenernya apa yang kamu dan Wildan sembunyikan?"


"Aku tidak punya wewenang untuk menjawabnya, aku hanya bisa mengatakan kontraknya habis."


Yusuf langsung melangkah pergi, Vira menahan lengan Yusuf yang langsung dilepaskan perlahan.


"Ada hubungan apa dia dan Wildan?"


"Aku tidak tahu, tidak ingin ikut campur urusan pribadi mereka."


"Di mana Dewata?"


"Dia tinggal di perumahan desa ini, aku belum mengetahui motif kedatangan mereka."


"Apa yang kak Yusuf lakukan di sini? bukannya seharusnya ada di kampus, melakukan penelitian."


"Apa mungkin kedatangan kak Yusuf ke sini ada sangkut pautnya dengan penyakit yang sedang menyebar? mungkin juga Dewa dan Fly memiliki alasan yang sama." Bella menatap Yusuf tajam.


"Aku permisi." Yusuf langsung melangkah pergi.


Vira menatap tajam, menendang angin karena Yusuf tidak mudah membocorkan informasi. Kejujuran Yusuf tidak bisa di buat kesepakatan.


"Aku sudah berapa bulan di sini, tapi Yusuf tidak akan membuka mulut."

__ADS_1


"Dia tidak mungkin akan memberitahu kita, karena selama ini Yusuf bekerja dengan jadwal yang tidak teratur." Bella menatap serius.


"Kita harus mencari tahu, tempat ini memiliki banyak rahasia." Vira menatap Winda dan Bella.


"Rahasia, Winda yakin Wildan juga belum menemukan rahasia itu."


Senyuman Vira terlihat, mengunyah buah apel yang terasa sangat segar.


"Hanya satu yang harus kita lakukan?"


"Makan." Winda dan Bella melangkah mengikuti Vira ke meja makan.


"Di saat binggung, pusing, stres kita harus makan." Vira tersenyum melihat banyaknya makanan.


Bella tersenyum makan bersama sambil menonton drama Korea yang sedang adegan romantis, senyuman Winda dan Vira juga terlihat.


"Kapan Winda bisa dicium bibir?"


"Cepatlah menikah, kamu bukan hanya bisa merasakan bibir, tapi bibir bawah." Vira mengigit bibirnya.


"Konsen, Vira tidak boleh begitu kita masih harus mencari kekasih dulu."


"Vira sudah ada target calon kekasih."


"Siapa?"


"Dewa."


Winda langsung menjambak rambut Vira, kesal melihat Vira yang belum juga menyerah soal Dewata.


Bella menunjukkan layar tabletnya, menunjukkan wajah Dewa yang sedang berjalan-jalan bersama Randu Ambarawa.


"Siapa dia?"


"Randu, adiknya Dewa."


"Tampan juga." Winda tersenyum.


"Kamu Randu, aku Dewa." Vira tersenyum menatap Winda.


"Kak Bel sama Amin."


"Yusuf namanya Winda bukan Amin." Bella menatap sinis.


"Vira Dewa, Bella Randu, Winda Yusuf pasangan cocok." Vira tertawa.


Winda langsung memukul meja, menendangnya kuat.


"Winda tidak suka Amin, dia putranya wanita malam." Winda teriak kuat.


"Winda!" Vira dan Bella memukul Winda yang menghina Yusuf.


"Dia pria baik Winda, jangan sembarang bicara." Bella menatap tajam.


"Kak Bel suka, silahkan ambil." Winda menatap sinis.


Vira menggelengkan kepalanya melihat Winda yang mulutnya sangat kasar, belum tahu rasanya mencintai seseorang seperti dirinya dan Bella yang pernah menyimpan rasa cinta cukup lama.


***


KAK UPDATE.

__ADS_1


SIAP, AWAS SAJA GAK BACA YA ....


VOTE YA


__ADS_2