SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 MENCARI


__ADS_3

Di dalam rumah hening, Kasih pulang bersama Erik dan Wira. Menemui keluarga yang sedang berkumpul bersama untuk membahas soal Lin.


Kasih menatap Ravi, langsung duduk di samping suaminya setelah mandi dan mengganti baju.


Erik juga muncul bersama Embun, Putrinya di turunkan meminta masuk ke dalam ruangan bermain. Anak kecil di larang mendengar pembicaraan orang dewasa.


"Bagaimana keadaan dia Rik?" suara lembut Bima terdengar, menatap dokter keluarga yang menghela nafas panjang.


Erik mulai bercerita jika racun yang Lin minum memang untuk mengugurkan kandungan sampai terjadi pendarahan, tapi tujuan bukan hanya membunuh janin, langsung sekaligus ibunya yang akan kehabisan darah.


Lin mengalami muntah, karena dia sedang tidak hamil sehingga merusak bagian dalam tubuhnya. Bahkan Erik mengkhawatirkan akan merusak rahim, lebih buruknya lagi bisa menyebabkan kanker rahim sehingga harus diangkat.


Semuanya masih perkiraan, tubuh Lin sudah kaku hampir tidak berfungsi jika terlambat sedikit saja tidak ditangani. Detak jantung berhenti sesaat, bahkan kemungkinan Lin mati otak.


"Sekarang dia koma?"


"Iya Daddy, Lin koma. Kak Windy menginginkan pemeriksa keseluruhan, seperti jantung, ginjal, paru-paru yang mungkin mengalami kerusakan. Erik akan melakukan operasinya besok, sekarang ingin mempelajarinya terlebih dahulu, karena ini pertama kalinya." Erik menghela nafas kasar, dirinya akan kembali lagi ke rumah sakit demi Windy yang memohon.


"Billa boleh ikut?"


"Tidak kamu menganggu."


Tatapan Billa tajam, Erik langsung tertawa melihat istrinya yang mulai kesal.


"Kamu jaga anak-anak sampai masa cuti selesai, atau sekalian cuti selamanya datang ke rumah sakit saat ada operasi saja."


"Kenapa ada perempuan lebih cantik di sana?"


"Astaghfirullah Al azim Billa, kamu wanita paling cantik. Aku tidak bisa konsentrasi kerja jika melihat kamu, jiwa liar meronta-ronta ingin mengajak kamu tidur." Erik menutup mulutnya, meminta maaf, karena candaannya tidak sesuai tempat.


Erik langsung pamit ke rumah sakit, menatap Vira yang terlihat sedih.

__ADS_1


"Vira, jangan banyak pikiran. Fokus ke kandungan kamu, ingat semakin banyak pikiran resiko semakin besar." Erik melangkah pergi, setelah berpamitan dengan orang tua dan anak-anaknya.


Kasih tertunduk diam, tidak mengeluarkan sepatah katapun. Ravi merangkul pun tidak dirasakan.


"Sayang, ada apa? keadaan Lin sangat buruk ya?" Ravi mengusap rambut istrinya yang masih diam.


"Kenapa ada orang tua sekejam ini di dunia? anak hanya menginginkan cinta, bukan harta. Saat Kasih seumuran Lin, sudah hidup di luar dengan kokoh, hujan badai sampai petir sesuatu yang menyenangkan, suara tembakan makanan sehari-hari, tapi bagi Lin semua itu kiamat untuknya." Kasih menunjukkan foto terakhir Lin yang bisa Kasih ambil.


Tubuhnya yang putih kecil membiru, rambutnya yang panjang rontok seperti orang penyakit kangker, wajahnya hitam seperti terbakar.


Obat yang di minum Lin bukan obat aborsi sembarang, lebih tepatnya obat yang sedang diuji coba.


"Apa ada kemungkinan untuknya hidup? jika hidup dalam keadaan cacat lebih baik dia mati." Kasih meremas rambutnya.


"Dia akan baik-baik saja, kita bantu doa dan menyemangati Lin agar terus bertahan." Jum memeluk Kasih yang terlihat sangat sedih melihat keadaan Lin.


"Siapa pelakunya Wildan?" Bisma menatap Wildan yang hanya diam saja sibuk bekerja meskipun di rumah.


Wajah Wildan terlihat binggung dengan pertanyaan Bisma yang secara dadakan terarah kepadanya.


"Wildan, ini berawal dari kamu, cuek boleh, tapi lihat situasi yang bisa merusak rumah tangga kamu. Ayah tidak mengkhawatirkan Ravi dan Erik, tapi kamu dan Ar. Kalian terbiasa mengabaikan orang baru di sekitar. Jika kamu bisa bersikap seperti Tian yang menghargai wanita, tidak mungkin ada pengagum rahasia."


Tangan Wildan dipukul oleh Bisma, memintanya mengubah sikap untuk tidak terlalu dingin dengan perempuan. Sikap dingin tidak membuat wanita takut, apalagi menjauh karena rasa terobsesi membuat seseorang baik dekat maupun jauh akan menunggu waktu yang tepat untuk mendekat, bahkan pengagum bisa menunggu seumur hidup.


"Ayah tahu kamu hanya mencintai wanita di dalam keluarga kita, tapi bukan berarti mereka tidak ada."


"Bagaimana cara Wildan bersikap? aku tidak biasa berbicara hal yang tidak penting atau basa-basi, senyuman wanita mengganggu. Aku tidak tertarik mereka ada atau tidak." Kening Wildan berkerut menatap Papinya yang memiliki sikap sama seperti Wildan, tidak bisa merespon banyak wanita.


"Bapak sama anak sama saja." Bisma melangkah pergi.


"Ayah, sejak kecil Wildan belajar banyak hal hanya satu yang tidak aku pelajari memahami perasaan lawan jenis."

__ADS_1


Bisma langsung tertawa, berjalan mendekati Wildan mengusap kepalanya. Wildan sangat pintar dan memiliki kecerdasan di atas rata-rata, tapi soal hati dia lelaki yang tidak pernah peka.


"Kamu bisa mengetahui orang yang berniat jahat, tapi tidak bisa tahu siapa yang menyukai kamu. Sangat dimaklumi, Winda kamu urus masalah wanita ini. Bella jangan ikut campur, kamu hanya tahu berkelahi." Bisma pamit pulang, mengusap kepala Wildan dan Winda yang celingak-celinguk.


Winda melihat ke arah Vira, menatap kakaknya Wildan yang tidak bisa diajak bicara jika soal wanita pasti hanya mengatakan tidak tahu.


Satu persatu keluarga mulai pulang, hanya ada Winda, Ar, Wildan dan Vira yang masih duduk berhadapan.


Sekuat apapun Wildan berpikir soal wanita dia tidak tahu, jalan satu-satunya mencari tahu keberadaan ayah Lin.


"Kak Ar, apa sangkut pautnya ayah Lin dan wanita yang memerintah Lin untuk memisahkan aku dan Vira?"


"Tidak tahu, mungkin mereka satu komplotan, tapi apa untungnya untuk ayah Lin kecuali soal uang." Ar menatap istrinya Winda yang masih diam menatap meja.


Sejauh ini tidak ada yang mendekati keluarga mereka, bahkan seluruh hubungan baik.


"Kenapa ayah Lin tidak menerima Lin? kenapa wanita ini bisa mengendalikan Lin? seharusnya Lin mengatakannya bukan meminum racunnya, jika seperti ini gerakan kita lambat." Vira menepuk pelan tangan Winda, tidak ada respon sama sekali, membuat Wildan dan Ar binggung.


"Wanita ini bisa saja keluarga Lin, ayah Bisma benar pengagum rahasia yang terobsesi menakutkan, karena jarak mereka bisa saja jauh, pertahanan mereka juga lama sehingga sulit di curigai." Winda memutar ponselnya di atas meja, mengingat ucapan Lin yang mengatakan ingin bersama Ayahnya.


Vira memukul ponsel Winda, Lin tidak memiliki saudara, sahabat ataupun orang terdekat kecuali ibunya. Bahkan sudah lama terpisah dengan Ayahnya.


"Siapa saudara Lin?"


"Saudara tiri? sepupu atau bisa juga ibu tiri." Winda menatap tajam, Ar menyentuh kening istrinya yang selalu mencurigai siapapun, bahkan semut juga bisa dia curigai.


Winda menghubungi seseorang untuk secepatnya mencari tahu soal keberadaan Ayah Lin, sekalipun harus mencari dalam dan luar negeri.


"Apa yang akan kamu lakukan Winda?"


"Besok aku akan ke kantor kak Wil." Winda langsung pamit pulang bersama Ar.

__ADS_1


***


Done 2bab


__ADS_2