
Perdebatan terjadi di kamar Arum, mulut Arum mengomel terdengar sampai keluar rumah. Winda dan Vira sangat khawatir jika Arum sudah marah.
Dia memarahi kedua adiknya yang ceroboh, tidak bisa dinasehati. Kemarahan Arum didengarkan oleh Vira, Wildan, Ar dan Winda yang merasakan khawatir.
Bima meminta semuanya tenang saja, anak kecil sudah biasa bertengkar. Arum bisa mengendalikan kedua adiknya yang sebenernya sangat menyayangi dia.
"Kak Arum tidak boleh marah-marah Lo, ingat apa kata Abi. Gadis yang baik dia yang sabar." Tatapan Vio memelas duduk di samping Arum.
"Terserah, kenapa jika aku bukan anak baik? masalah untuk kalian jika aku tidak sabar. Jika tidak suka silahkan keluar." Arum melempar boneka ke arah pintu.
Senyuman Vani terlihat, langsung mengambil boneka yang dibuang. Mengumpulkannya menjadi satu.
"Kak Rum tidak mau lagi bonekanya, buat Vani saja." Vani menggeledah kamar Arum, mencari tempat untuk membawa pulang boneka.
Bibir Arum langsung monyong, mengambil kembali boneka melarang Vani mengambil miliknya.
"Kakak Arum jangan marah lagi dong, Vio minta maaf ya. Kak Rum cantik deh, tapi masih cantik Vio." Tangan Vi menarik Arum untuk berpelukan.
Tatapan Arum dan Vio melihat ke arah Vani, tidak diizinkan mengambil boneka bukan tersinggung ataupun marah, tapi Vani sibuk berjoget-joget di depan kaca.
"Vania Bramasta! kamu yang membuat masalah seharusnya minta maaf bukan joget-joget." Suara Vio berteriak sangat besar, wajahnya sampai merah.
Arum menutup telinganya, Vani juga melakukan hal yang sama. Telinganya sampai sakit melihat Vio mirip orang kesurupan.
"Aku harus bagaimana lagi? percuma minta maaf karena kak Arum sedang ngambek, jika Vani juga ngambek tidak akan mau memaafkan. Kak Vio cek mulut deh, mungkin ada sobekan." Tatapan Vani sinis, lanjut lagi menari di depan kaca.
Arum langsung tersenyum, Vio menatap tajam adiknya. Suara Arum berteriak terdengar, Vio mengambil boneka langsung memukul Vani sampai jatuh.
Melihat diserang tanpa persiapan, Vani langsung merangkak naik ranjang, mengambil bantal langsung membalas Vio.
Suara ketukan pintu tidak terdengar, suara Vio dan Vani sedang gelut lebih besar. Arum memukul keduanya agar pergi menjauh.
Di atas satu ranjang, tiga anak lompat-lompat saling pukul. Suara teriakan ketiganya sangat besar.
Pintu terbuka, Ar melihat kamar Arum berhamburan. Seluruh isi bantalnya yang terbuat dari bulu dengan harga fantastis hancur.
Kamar Arum yang mirip kamar seorang putri kerajaan lenyap, seluruh kamar isinya bulu semua, selimut sobek, boneka tercabik-cabik ulah tiga wanita.
__ADS_1
"Berhenti!" Winda dan Vira berteriak membuat ketiganya langsung menoleh.
"Keluar kalian bertiga, lanjutkan di luar rumah." Winda menatap tajam.
Tanpa ada jawaban, anak-anak langsung melangkah keluar. aksi pukul belum berhenti dilanjutkan di depan rumah membuat Virdan dan Arwin langsung mencoba melerai ketiganya.
Winda yang masih marah di dalam rumah langsung berlari lagi keluar, melihat bukan lagi tiga, tapi sudah menjadi lima.
Kepala Vira terasa pusing, Wildan sudah memanggil kelima anak untuk berhenti, tapi tidak ada yang mendengarkan.
"Arum, Vio, Vani nenek Jum masak chicken. Ayo kita makan." Wira berteriak sambil tersenyum melangkah ke rumah neneknya Jum.
"Ayam." Vani langsung melepas bantalnya.
"Chicken." Arum langsung merapikan rambutnya.
"Vio suka chicken." Viona langsung berlari ke rumah neneknya Jum.
Vani dan Arum juga berlari, tapi masih saling dorong. Virdan dan Arwin langsung terduduk melihat tiga anak sudah menghilang.
"Vani, Vio Arum, bereskan dulu kamarnya." Reva mengusap dada melihat seisi rumah penuh bulu berwarna putih.
"Harapan kamu terkabul Ayang, lihatlah kedua putrimu." Vira menatap gemes Wildan yang hanya tersenyum.
Ar masih ada di kamar Arum melihat seisi kamar penuh bulu, dunia Ar yang sepi sekarang sudah berubah rusuh apalagi kehadiran putrinya.
"Abi, jangan pernah belikan Arum bulu-bulu lagi. Abi bersihkan sendiri. Winda mau ke salon, pusing kepala Winda."
Di rumah Jum anak-anak sudah kumpul, Septi tersenyum melihat Arum yang rambutnya ikal sudah kacau.
"Sayang, sini nenek rapikan rambut kamu."
Senyuman Arum terlihat, langsung duduk mendekat sambil menggigit ayamnya. Vani dan Vio juga sudah makan, mereka lupa jika baru saja bertengkar.
Tatapan Jum terharu melihat cucunya berkumpul, dan masih menikmati masakannya. Sungguh kebahagiaan terbesar dalam hidupnya.
"Wira, kenapa kamu pulang sendiri? di mana Lin? nenek kangen dia."
__ADS_1
"Mommy Daddy pulang bersama kak Lin? karena kuliah hampir selesai dan Daddy bilang sekalian perginya. Wira pergi lebih dulu karena bosan di sana." Tatapan Wira mengarah kepada Asih yang menatap sinis.
Suara salam terdengar, Erwin pulang langsung memeluk Mamanya. Melihat wajah Arum yang celemotan sedang makan.
"Wira, kamu sudah pulang? di mana Lin?"
"Masih di bumi, kak Erwin jangan coba-coba mendekati kakaknya Wira. Kita kalangan playboy tidak boleh mendekati wanita baik-baik." Wira menatap tajam Erwin yang cengengesan.
"Kak Erwin sudah taubat tau, sekarang sibuk bekerja." Senyuman Erwin terlihat.
Asih dan Embun menatap sinis, baru saja uncle nya ketahuan makan bersama wanita di restoran, langsung di marah Billa.
"Kalian nanti tekena karma." Asih mengingatkan jangan sampai seperti Daddy-nya yang terkena karma jadi bucin.
Wira dan Erwin tertawa, mereka tidak merasa bersalah sama sekali.
"Win, berhentilah gonta-ganti pacar. Mama juga ingin melihat kamu menikah dan punya anak, Mama sudah tua Win." Septi menatap putra bungsunya dengan wajah memelas.
"Ma, menikah jangan buru-buru nanti dapat yang salah. Santai saja." Erwin langsung teriak, mengusap kepalanya menatap Erik yang baru pulang dan memukulnya.
"Menikah itu ibadah, kamu jangan kebanyakan gaya hanya karena bergelar Dokter. Jaga nama baik keluarga, jangan macam-macam kamu Win." Erik menatap tajam, meminta Erwin mencoba serius kepada pasangan.
Ravi menepuk pundak sahabatnya, jangan hanya mengkritik Erwin tapi tidak berkaca dengan masa lalu.
"Win, jangan sampai kamu seperti Erik, memendam rasa cinta sejak kecil, memiliki banyak pacar sebagai pelarian untuk melupakan cinta pertamanya. Bersyukurnya Billa juga suka, jika tidak dia menjadi jomblo abadi dan sad boy." Ravi tertawa melihat Erik yang menendangnya.
Senyuman Erwin terlihat, ucapan Ravi mungkin ada benarnya. Wanita lain hanya sebagai tempat pelarian karena wanita yang ditunggu belum juga membuka hatinya.
Vani menatap Erwin yang melamun, mendekatkan ayamnya untuk memberikan bau wangi.
"Ucel dari pada banyak pikiran lebih baik makan yang banyak, jika mati pacarnya ucle cari pacar baru, jadi ucel harus makan biar hidupnya lama." Suara Vani tertawa terdengar, dia suka sekali menjahili Erwin.
"Vio, jauhkan ayamnya."
"Aku Vani tahu, uncle menyebalkan."
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazara