SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 KEMUNCULAN DEWA DAN BUTTERFLY


__ADS_3

Sebuah mobil berhenti di perbatasan kota, salah satu kota yang sangat maju, tapi tidak bisa dimasukin oleh sembarang orang.


"Kamu yakin kita akan masuk kota ini, ingat kota ini kekuasaan Wildan. Dia bukan hanya berhasil membangun kerajaan bisnis secara legal. Wildan tidak akan pernah membiarkan adanya bisnis ilegal, apalagi memasuki wilayahnya."


"Tidak perlu kamu perjelas, aku tahu sepak terjangnya Wildan. Dia yang menghancurkan Ayahku, tapi aku tidak pernah dendam dan membencinya. Aku mengagumi sosok wildan, kedatangan aku bukan untuk menjadi musuh."


Mobil melaju masuk ke kota yang paling ujung dari sebuah negara maju, kota pedalaman yang sangat sukses.


Bella tersenyum berjalan di perkebunan buah, melihat banyaknya buah-buahan yang sedang memasuki musim panen.


"Bella Bramasta? kenapa dia bisa ada di sini?"


"Siapa Bella?"


"Dia putrinya Bisma Bramasta, tangan kanannya Viana Arsen. Bisma adiknya Bima Bramasta."


"Dia sepertinya wanita baik." Senyuman terlihat mengagumi sosok Bella.


"Jangan mengaguminya, Bella salah satu anak yang berbahaya, dia bahkan memiliki perusahaan yang bekerja di bidang pembuatan senjata."


"Ilegal?"


"Seluruh bisnis keluarga Bramasta resmi, mereka membuat perusahaan untuk negara. Seluruh keuntungan langsung disalurkan kepada rakyat."


"Wow hebat."


"Bukan hanya Bella, adiknya juga seorang dokter, sepupunya adik dari Wildan memiliki gelar pengacara, tapi dia membuka bisnis perhiasan, jarang memiliki kasus, jarang membela orang bahkan dia yang beberapa kali ditahan polisi."


Suara tertawa terdengar, merasakan lucu melihat seorang pengacara muda bukannya membela terdakwa, tapi dia yang membuat masalah, selalu berurusan dengan kepolisian.


"Dia wanita yang unik."


"Dia bukan unik, tapi gila. Saat dia kecil menghancurkan satu pesantren karena melakukan siaran langsung adegan tercela seorang guru pesantren, menghancurkan karir orang."


"Lucu pasti dia mengemaskan sekali."


"Dia tidak lucu sama sekali Dewa, dia wanita gila."


"Ran, dia tidak gila. Orang yang jenius menatapnya seseorang yang berbakat, tapi bagi orang normal dia pembuat masalah."


"Baiklah, ada satu lagi. Dia ketua dari mereka."


"Ketua, pasti dia memiliki gelar pemimpin."


"Pemimpin kamu bilang, dia salah satu anak jenius yang memiliki beberapa perusahaan besar di bidang fashion juga kosmetik. Dia putri Viana Arsen, orang yang menyebabkan ibu meninggal."

__ADS_1


"Bukan salah dia Randu, Viana Arsen wanita yang tidak pernah menyentuh, tapi banyak orang yang merasa tersaingi. Pasti sangat menyenangkan bisa berjumpa dengan empat wanita tadi."


"Satunya sudah menikah, dia menikah dengan putra Ammar, salah satu orang kepercayaan Viana Arsen pada masa kejayaannya."


"Mereka membentuk keluarga besar."


Bella tersenyum, melempar buah apel ke arah Dewa, senyuman Dewa langsung terlihat menatap Bella yang bejalan ke arahnya.


"Enak ya menceritakan orang lain, kalian berdua mirip seorang haters. Membicarakan kejelekan orang lain."


"Haters orang yang membicarakan keburukan, tapi kami membicarakan kebaikan juga kekaguman."


"Kekaguman dan kebencian beda tipis, keduanya tersembunyi." Bella tersenyum licik.


Dewa tersenyum menatap Bella yang melangkah pergi, ucapan Bella benar membuat Dewa merasakan kekaguman dengan sikap dingin Bella.


***


"Sialan!" Vira teriak kuat di depan Wildan yang masih duduk melihat mewahnya gedung pelaminan.


"Sudah saatnya kalian pergi Vira." Wildan membuka jas hitamnya yang menjadi pendamping pengantin.


Vira menatap tajam Wildan, langsung melangkah masuk ke dalam mobilnya melangkah pergi kebut-kebutan.


"Siapa butterfly?" Vira melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Mami, Winda sudah besar jangan mengatur hidup Winda."


"Sebesar apa kamu Winda, wanita dewasa dia yang bisa mengendalikan emosi. Kamu baru saja keluar dari kantor polisi, mencoret nama baik Papi kamu di depan umum."


"Winda tidak salah Mami, selama Winda benar tidak ada yang bisa mengehentikan Winda."


Bima menatap Winda yang emosinya sedang berada dipuncak, hari bahagia Tian berubah menjadi kekacauan. Bima berharap Tian menjadi lelaki yang lebih kuat lagi.


Bima tahu Winda tidak salah, dia melakukan pembelaan hanya saja cara Winda membela menggunakan kekerasan.


"Ayo kita pergi Vira, Winda muak berada di sini."


"Pamitan dulu bersama Papi dan Mami, aku tunggu di rumah. Winda jangan menyakiti perasaan Mami, aku tidak suka anak yang durhaka." Vira langsung melangkah keluar.


"Siapa butterfly?"


"Entahlah, mungkin Bella tahu. Kita harus menemui dia." Vira melangkah ke rumahnya.


Vira menemui Mommy dan Daddy-nya langsung pamitan, karena selesai pernikahan Tian Vira memang sudah izin untuk pergi ke luar negeri.

__ADS_1


Viana meminta Vira berhati-hati, harus selalu memberikan kabar.


Vira memasukkan kopernya, melihat Winda yang mencium tangan Mami Papinya. Winda dan Vira tidak bisa pamit dengan seluruh keluarga karena ada kabar duka, tapi Winda dan Vira harus tetap pergi.


"Vira, bandara belok kanan."


"Sebelum pergi kita harus menyelesaikan satu masalah." Vira tersenyum, Winda juga tersenyum.


Mobil Vira berhenti di depan apartemen, Winda langsung melangkah bersama Vira menuju kamar seseorang yang sudah menyebabkan Winda ditahan polisi karena bertengkar dengan beberapa ibu-ibu arisan yang membicarakan Maminya Reva.


"Winda, Mami pasti sekarang sedang sedih karena perusahaan VCLO sahamnya jatuh karena ditipu wanita ini. Mami dan Mommy tidak bisa melakukan apapun karena sedang berduka, sedangkan kita juga harus pergi."


"Benar Vir, Papi mengeluarkan uang milyaran untuk menolong Mami agar tidak diseret ke pengadilan karena penipuan."


Winda dan Vira terdiam melihat Wildan yang sudah bergerak lebih dulu, dua pria babak belur, satu wanita bersujud di kaki Wildan.


"Penjarakan mereka, sudah aku katakan. Kalian boleh menyakiti aku, tapi jangan pernah mencoba menyentuh keluargaku, apalagi ibuku." Wildan melangkah pergi, menatap Vira dan Winda.


"Kak Wildan. Winda takut Mami masuk penjara karena kesalahan yang tidak Mami lakukan. Jatuhnya VCLO cukup memukul perasaan Mami." Air mata Winda menetes.


"Selama kak Wildan bernafas tidak akan ada yang bisa menyentuh keluarga kita, VCLO tidak akan pernah hancur. Mami dan Mommy diam hanya karena mereka sedang berduka, jangan menjadi beban pikiran, apalagi kamu menyerahkan diri mengantikan Mami." Wildan menghapus air mata Winda.


Vira tersenyum, melihat cara kerja Wildan yang hanya duduk diam, tapi di belakangnya sudah bergerak semua.


Winda, Wildan dan Vira pergi menuju bandara, Wildan hanya bisa mengantar sampai bandara. Wildan akan menyusul setelah masalah dan beberapa pekerjaannya selesai.


Winda langsung memeluk Wildan untuk pamitan, Vira juga memeluk Wildan bersamaan. Melihat Winda mencium pipi Wildan langsung diikuti oleh Vira yang langsung berlari.


Wildan teriak kuat menutup kedua pipinya, Maminya saja tidak diizinkan menciumnya beraninya Winda dan Vira mencium pipi.


[Vira, Winda kekasih kalian Dewata Ambarawa bersama dengan Randu Ambarawa ada di sini.] Bella mengirimkan pesan suara setelah berbulan-bulan.


Vira dan Winda langsung berlari masuk pesawat, jika Dewa ada di tempat Bella besar kemungkinan butterfly juga ada di sana.


"Sebenarnya yang jahat Dewata atau butterfly?" Vira menatap Winda.


"Entahlah, kak Wildan tidak memberikan jawaban."


"Butterfly, kupu-kupu malam yang menggoda Wildan."


"Cie cemburu." Winda tertawa melihat Vira melotot.


***


CUKUP DI SINI DULU.

__ADS_1


UPDATE KAPAN-KAPAN TUNGGU BOY DAN WINDY TAMAT.


***


__ADS_2