
Keheningan terjadi, Bima menatap Winda yang masih menangis. Dia tidak bermaksud menyakiti anaknya, hanya ingin melindungi twins saja.
Tatapan Ar juga dingin, terlihat sekali rasa kecewa hanya saja Ar tidak banyak bicara. Winda tidak mungkin ingin menyakiti putrinya, meskipun sering bertengkar.
"Ini yang terakhir Winda, jangan mengajarkan anak kecil kekerasan. Arum terbiasa manja, dia hanya belum mengerti." Ar melangkah pergi, tanpa menunggu jawaban.
"Temani Arum, kalian pulang lebih dulu." Bima meminta Winda menemui suaminya dan meminta maaf.
Steven meletakan Arum di sampingnya, menatap malam yang semakin larut. Hari ulang tahun Arum akan segera berakhir dan usianya tepat satu tahun.
Selesai mengamuk dan teriak-teriak histeris Arum lebih banyak diam, tidak ingin makan dan minum hanya diam saja.
Semua orang diamuk kecuali Steven, membawakan sebuah kue kecil pemberian Lin, ada satu lilin menyanyikan lagu ulang tahun untuk si kecil Arum.
Suara Lin, Wira, Twins R, Ning, Tiar, Twins E, Twins B, Virdan, dan Arwin datang membawa kue kecil masing-masing sebelum jam berganti.
Mereka bernyanyi bersama, sambil tersenyum dan menyebutkan doa masing-masing.
"Daddy akan mengabulkan doa kalian, tapi sesuatu yang wajar. Jangan meminta mobil, pesawat, Bintang di langit. Di mulai dari Lin."
"Lin tidak membutuhkan apapun, jika boleh hanya meminta belikan bunga, keluar dari sini Lin ingin mengunjungi ibu. Memberikan bunga kesukaan ibu." Mata Lin berubah merah, menahan kesedihannya.
"Daddy akan mengabulkannya, apapun yang Lin inginkan akan Daddy berikan." Senyuman Steven terlihat, menyentuh kepala anak remaja di depannya.
"Asih ingin ...."
Stev meminta berurutan, dilanjutkan oleh Wira yang menginginkan untuk tidak kembali ke luar negeri, dia ingin menetap dan terus bersama saudaranya.
Kening Steven berkerut, tidak bisa menjamin keinginan putranya. Harus dibicarakan secara serius.
Bening mengajukan keinginan, dia ingin sekali mengikuti lomba menari, tetapi tidak mendapatkan izin dari Mimi dan Pipinya.
Steven juga tidak bisa mengabulkannya, karena kaki Ning pernah cendera. Sebagai ganti Stev akan membelikan sepatu menari yang bisa Ning sumbangan untuk para penari di kelasnya, mungkin akan lebih bermanfaat.
"Cepat kak Aka, Asih tidak sabar lagi."
"Raka tidak menginginkan apapun."
"Oke, Rasih ingin dibelikan mobilan baru, tapi harus lima, enam, tujuh atau delapan. Punya Rasih sudah banyak lecet Daddy." Wajah Asih memelas.
__ADS_1
"Untuk apa sebanyak itu?"
"Balapan, Asih, Ning, Embun, nanti pasti Aunty Vira, Winda, sama Bella juga ikut-ikutan. Sebentar lagi Bulan sama Arum juga besar, kita membutuhkan banyak mobil." Alasan Rasih selalu membawa banyak orang, padahal dirinya sama seperti Daddy-nya yang hobi koleksi mobil, jika Ravi mobil asli, Asih mobil-mobilan berukuran besar.
"Kita tidak pernah berencana balapan Asih?"
"Diam." Tatapan Asih tajam melihat Ning.
"Bagaimana jika kita beli bus saja, jadi semuanya bisa ikut." Stev meminta persetujuan Asih.
"Tidak bisa Daddy Stev, nanti kita kecelakaan mati semua. Asih harus hidup biar bisa menang." Nada bicara Rasih mulai emosi.
Wira langsung tertawa, masalahnya tidak ada juga yang ingin naik jika Asih supirnya, sudah pasti pagar rumah hilang semua, taman bunga Bunda Jum sisa akarnya.
Asih tidak ingin mengaku kalah, padahal dia tidak bisa bermain. Sesuatu yang tidak dia pahami dan kuasai, tapi sangat digemari.
Steven akhirnya menyetujui untuk membeli lima, Asih sudah lompat-lompat kesenangan dan menunggu mobilnya tiba.
Elang tidak menginginkan apapun, Embun senyum-senyum menginginkan sepeda baru tetapi yang bergandengan sampai sepuluh.
Stev berpikir keras, membayangkan imajinasi Embun sangat tinggi, syukurnya sepedanya memanjang ke belakang, jika sampai ke atas menyeramkan.
"Virdan, Arwin happy birthday tampan. Apa keinginan kalian berdua?"
"Berkumpul bersama keluarga." Arwin dan Virdan menjawab bersamaan.
"Kalian sudah mendapatkannya." Stev memiliki rencana membelikan sesuatu, tapi keduanya menolak.
Steven melihat Arum yang sudah terlelap tidur, bahkan belum menyebutkan apa yang dia inginkan.
"Ayo kita kembali ke kamar, Arum sudah tidur."
"Daddy, adiknya Arwin baik-baik saja."
Winda mengambil alih putrinya, langsung ingin membawanya pulang, tapi Stev melarangnya.
Arum memiliki perasaan yang sensitif dan ego yang besar, membiarkan dia terbiasa bersama Twins V, agar memiliki ikatan.
"Arum tidak menyukai mereka?"
__ADS_1
"Iya, dia merasa kehilangan apa yang dia miliki, hanya karena hadirnya bayi baru." Stev menepuk pundak Winda pelan untuk tidak khawatir, perlahan Arum akan belajar menerima.
***
Sudah tiga hari Arum tidak ingin menyusu lagi, dia memilih meminum air putih, tidak ingin pergi ke rumah sakit sekalipun Vira yang menghubunginya.
Arum menutup diri, bahkan menolak bertemu Arwin dan Virdan, tidak ingin mendengar ada yang menyebut twins.
Ar bekali-kali berusaha berbicara dari hati ke hati, tetapi putrinya tetap tidak ingin mendengarkan.
Winda sampai berkali-kali menangis, putrinya tidak ingin minum ASI lagi, tidak ceria lagi, lebih banyak tidur.
"Mommy, Vira ingin pulang. Perasaan Vira khawatir sama perubahan Arum, sudah dua malam Vira bermimpi Arum bersama anak kecil, sungguh menakutkan." Air mata Vira menetes, menceritakan mimpinya yang melihat Arum bersama anak kecil seumuran dia yang tidak terlihat wajahnya.
Mereka tertawa bersama, berkali-kali Vira memanggil tapi tidak dihiraukan.
"Hanya mimpi Vira, nanti pasti Arum akan membaik." Reva mencoba menenangkan, karena mungkin hanya membutuhkan waktu.
"Tunggu beberapa hari lagi ya sayang, sampai keadaan twins sudah boleh pulang." Wildan menghapus air mata istrinya.
Perasaan Wildan sama cemasnya, mengkhawatirkan keadaan Arum yang berubah drastis.
Tatapan Vira melihat kedua anaknya yang sudah terlelap tidur, mengingat kejadian kemarahan Arum membuat Vira sedih.
"Nanti saat kalian besar harus menyayangi kakak Arum, meskipun ada pertengkaran kalian harus cepat berbaikan seperti mami sama Umi yang selalu bertengkar dan akur kembali." Senyuman Vira terlihat, mencium kening kedua putrinya.
Pintu kamar diketuk, Erik masuk dengan tatapan tidak bersahabat. Lin mendadak drop kembali dan dirawat dengan pengawasan ketat, mengalami sesak nafas parah.
"Ada kabar lebih buruk lagi, sekitar sepuluh menit yang lalu Arum masuk ruangan ICU, tubuhnya panas tinggi dan mengakibatkan muntah parah. Dokter sudah menangani, tapi belum ada perubahan." Erik menatap Vira yang sudah teriak sambil menangis, Winda juga sudah jatuh pingsan lebih dari tiga kali.
"Bagaimana keadaan Virdan?"
"Dia bersama Billa, Arwin juga mulai demam, badan Virdan mulai panas. Jika memburuk langsung dirawat." Erik langsung melangkah keluar bersama Wildan untuk melihat keadaan anak-anak.
Tubuh Vira langsung mendadak lemas, Reva dan Viana juga meneteskan air mata. Ujian selalu datang dalam keluarga mereka, seakan mereka sangat kuat.
***
DONE DUA BAB.
__ADS_1
LIKE COMENT DONG.