
Suara ribut dan rusuh terdengar, Bulan sudah boleh pulang dan tangannya akan membaik secara perlahan.
"Jam berapa Bulan pulang?" tatapan mata Bulan melihat ke arah Vani yang mulai menggambar lagi di tangannya.
"Satu jam lagi, kita bisa makan lebih dahulu." Arum meletakan makanan, langsung naik ke atas ranjang.
Vio juga naik bersama Asih, diikuti oleh Embun. Semuanya berkumpul untuk makan, Ning menarik kursi untuk duduk bersama.
"Suap kak Asih." Bulan membuka mulutnya, langsung menerima makanan.
Rasih menyembur adik-adiknya dengan air karena memintanya untuk menyuapi, akhirnya Ning yang mengalah menyuapi semuanya.
"Gambar apa lagi itu Vani?" Arum menggelengkan kepalanya melihat tingkah Vani yang sangat suka menggambar.
"Wow, gambarnya bagus." Senyuman Ning terlihat.
Ada enam wanita yang Vani gambar, semuanya terlihat dengan ciri khas masing-masing. Arum dengan rambut ikalnya, Bulan yang berambut panjang selalu menggunakan topi.
Asih dengan rambut panjangnya yang terurai, Embun dengan gayanya yang selalu mengikat rambut, juga Ning yang dikepang.
"Mana Vio?" teriakan Viona sangat besar.
Tidak terlihat gadis kecil berambut pendek, tatapan Vio tajam melihat hanya ada satu gadis yang rambut pendek.
"Sabar, ini lagi proses. Jangan melotot kamu mirip sendal bolong." Bibir Vani monyong menatap sinis kakaknya.
Semuanya terdiam, tidak ada tempat lagi untuk Vio digambar. Vani yang tidak kehabisan ide menggambar kepala kakaknya, tanpa badan.
Bulan tertawa cekikikan melihat gambar wajah Vio, dia hanya mendapatkan kepala tanpa badan.
"Kurang ajar kamu Vani." Vio menjambak rambut adiknya.
"Apa sih? tadi katanya rambut pendek. Ini sudah Vani gambar kepala rambut pendek."
"Badannya mana?" Vio mengangkat tangan Bulan.
"Buta kamu ya, sudah tahu tidak muat." Tatapan Vani tajam memukul punggung Vio sambil naik ke atas ranjang.
"Kalian ada kenapa Vio tidak ada?" suara teriakkan Vio dan Vani saling adu mulut.
Arum meminta keduanya diam, mereka ingin makan dengan tenang bukan mendengar pertengkaran dua saudara kembar.
"Sudahlah, Vio kamu harus banyak bersyukur masih ada kepalanya. Kita tidak punya kaki." Em melihat gambar, tidak ada gambar kaki hanya sampai pinggang.
"Vio kepala buntung, kita semua kaki buntung. Sudah adil." Asih meminta Vani duduk dan lanjut makan.
__ADS_1
Vio mengerutkan keningnya, dia merasa masih saja tidak adil. Dirinya hanya ada kepala, dan paling jelek.
Senyuman Vani terlihat langsung duduk meminta Ning menyuapinya, Vio menendang adiknya sampai hampir jatuh.
Bening langsung berdiri dari kursinya, makanan berhamburan ke atas. Ranjang yang diduduki oleh anak-anak mendadak patah dan menjatuhkan semuanya.
Erwin yang ada di luar langsung berlari masuk bersama perawat yang ingin mengecek Bulan terakhir kalinya.
"Astaghfirullah Al azim, kalian bisa pulang sekarang saja. Sebentar lagi rumah sakit ini hancur." Kepala Erwin menggeleng.
Asih mengusap pinggang yang terhentak kuat, menatap Embun yang mengusap wajahnya penuh air.
Tatapan keduanya melihat Arum yang jungkir balik, dan terjatuh bersama makanan yang dia pegang.
Vio dan Vani sudah tengkurap menimpa Bulan yang sudah membuang piring Ning yang jatuh menimpa kepalanya.
Suara Asih tertawa terdengar, Em sudah menundukkan kepalanya langsung tertawa lepas, diikuti oleh Arum.
Vani dan Vio saling tatap melihat Bulan wajahnya sudah merah, langsung cepat bangkit duduk.
"Kalian baik-baik saja?" Ning tersenyum melihat wajah Bulan.
Vira dan Bella masuk, langsung tertawa melihat anak-anak jatuh dari atas ranjang, Winda juga masuk langsung cekikikan melihat wajah Bulan yang sudah mengusap wajah.
"Uncle, lepaskan balutan ini. Benci sekali Bulan melihatnya." Suara tangisan Bulan terdengar, hanya karena kepala buntung, kaki buntung.
Erwin tersenyum membersikan kepala Bulan yang penuh makanan, melepaskan balutan tangannya.
Bella menghentikan tawanya membantu Bulan berdiri, membawanya duduk di sofa.
"Gambar Vani bagus, kenapa dibuang? kata kak Bulan tadi boleh menggambar." Tatapan mata Vani tajam tidak terima gambar keduanya dibuang.
"Maafkan Vio, semuanya gara-gara kepala buntung. Vani juga kenapa gambarnya gitu?"
"Kenapa menyalakan Vani? siapa yang berat sampai ranjang ambruk?"
"You." Asih, Em, Arum dan Vio menatap Vani.
Wajah Vani cengengesan meminta maaf, dia tidak tahu jika akan jatuh. Mengusap perutnya yang memang mulai buncit.
Semuanya bersiap untuk pulang, Erwin sudah siap mengganti pembungkus tangan Bulan, tapi langsung ditolak.
Bulan menyayanginya karena ada wajah mereka semua, meskipun hanya gambar coretan.
"Boleh Asih tanda tangan?"
__ADS_1
"Boleh kak, tapi jangan dipukul ya." Senyuman Bulan terlihat menatap Asih yang menandatangani tangannya.
"Kak Asih, bagi-bagi ke kita. Ini tempatnya kecil sekali." Em melotot melihat tanda tangan Asih mengambil ke tempat gambar wajahnya.
Arum lama menatap tangan Bulan, langsung tanda tangan kecil. Menatap Bulan yang membuatnya mengerutkan keningnya.
"Kak Bulan bagaimana caranya tanda tangan? mau Arum bantu." Senyuman Arum terlihat.
"Tidak, tanda tangan kamu jelek. Hei twins V pembuat onar, ayo cepat." Mata Bulan melotot.
Ning langsung mendahului Vani, mendoakan Tangan Bulan segera pulih. Bisa bermain sepeda lagi, dan sekolah lagi.
"Kak Ning jangan ceramah di sini, membuat lama saja." Vani sudah lompat-lompat menunggu gilirannya.
Tanda tangan Vani sangat besar, tidak kira-kira menghabiskan semua tempat. Vio yang melihatnya hanya menundukkan kepala sambil menghela nafasnya bekali-kali.
Semua orang binggung melihat Vio yang hanya memberikan tanda titik, wajahnya terlihat sedih dan pasrah menjadi yang paling teraniaya.
Gambar hanya kepala, tidak punya ruang untuk tanda tangan. Nasib masih kecil selalu menjadi yang terakhir.
Semuanya langsung bersiap untuk pulang, Tian baru tiba langsung menggendong putrinya yang tersenyum bahagia.
"Ayo kita pulang sayang, cium ayah dulu." Senyuman Tian terlihat menatap putri yang sangat disayanginya.
"Anak-anak, hari ini ada kabar gembira. Kalian ingin mendengar tidak?"
"Apa Ayah? hari ini tidak ada yang berjalan baik, lihatlah gambar Vani punya Vio hanya kepala, ranjang patah, wajah Vio terkena makanan, lihat hidung mancung Vio luka, terus apa lagi. hari ini bukan keberuntungan Vio." Tatapan mata sinis sangat mirip Vira saat marah dan kesal.
Tian tertawa kecil, kali ini kabar baik untuk mereka semua, dan pastinya hari yang bahagia.
"Kalian sekarang bisa mulai sekolah di tempat yang sama seperti sebelumnya."
Tidak ada yang menyambut baik ucapan Tian, Vio apalagi langsung menghela nafasnya melangkah keluar, menundukkan kepalanya seperti kehabisan cairan.
Vira binggung melihat putrinya yang tidak semangat, anak-anak yang lain juga terlihat biasa saja.
Satu-persatu melangkah keluar, masuk ke dalam mobil masing-masing. Di dalam hati anak-anak sudah bersorak joget-joget, tapi sengaja tidak bersemangat untuk memberikan hukuman.
"Kita menang lagi." Arum tersenyum melihat jalanan.
***
follow Ig Vhiaazara
***
__ADS_1