
Masih pagi Ravi sudah berisik, sesuai kesempatan Kasih harus mengikuti semua perintah Ravi. Kasih dan Ravi masuk ke dalam mobil untuk menuju rumah mereka yang tidak jauh dari rumah orangtua Ravi.
Sampai di sana juga sudah ramai, seluruh anggota keluarga sudah berkumpul untuk membantu Ravi berbenah.
"Apa mereka semua selalu seperti ini? heboh berisik." Kasih mengomel dalam hati, Kasih tidak yakin jika para wanita yang berisik akan membantunya.
"Selamat pagi Ravi Kasih, kita sudah berbenah kalian hanya perlu meletakkan barang." Cinta tersenyum memeluk Kasih, tatapan Kasih dingin menatap Cinta yang munafik.
"Terima kasih kak Cinta, memang kakak ipar terbaik."
"iya Ravi karena kak Cinta juga sedang belajar menjadi istri yang baik."
"Beruntung sekali yang menjadi suami kamu."
Kasih sibuk menyusun seluruh pakaian Ravi, di dapur sudah berisik bunyi Vira geng memasak bersama Cinta. Ravi sibuk bersama Wildan dan Tian mengatur keamanan rumah. Ravi diam melihat Kasih yang masih di kamar, perlahan Ravi menutup matanya.
"Ravi ada ular!" Tian menatap layar dan langsung berlari.
"Aku tidak membawa ular ke rumah ini."
"Kak itu ular asli!" Wildan menunjuk ke layar, Kasih yang sudah berjalan sambil duduk, terus mundur dan terpojok.
Ravi langsung berlari, Tian sudah lari lebih dulu. Mommy dan Mami yang baru datang kebinggungan melihat Tian di susul oleh Ravi.
"Wildan ada apa sayang?"
"Di kamar kak Ravi ada ular, kak Kasih di dalam." Wildan langsung lanjut berlari.
Viana dan Reva saling pandang, langsung ikut melangkah ke atas.
Kasih memeluk lututnya karena takut, menutup matanya membiarkan apa yang ingin terjadi. Jika memang sudah takdirnya mati, Kasih ikhlas.
Pintu terbuka, Tian melemparkan kain tebal untuk menutup kepala ular, Kasih tubuhnya gemetar, Ravi mendekati Kasih langsung menggendongnya Keluar kamar.
Viana melihat Ravi membawa Kasih langsung panik, teriak-teriak untuk ke rumah sakit. Ravi menuruni lantai dua, meletakkan Kasih di ruang tamu.
"Kasih buka mata kamu, bagian mana yang sakit. Jangan membuat aku khawatir Kasih." Ravi mengecek seluruh tubuh Kasih, tubuh Kasih langsung dingin dan bibirnya gemetaran.
"Tenanglah sayang." Ravi memeluk, membelai rambut Kasih lembut.
Cinta berlari panik melihat Kasih, berharap Kasih sudah mati di gigit ular berbisa.
Kasih membuka matanya, memeluk erat tubuh Ravi, menyembunyikan tubuhnya, Ravi terus menenangkan.
"Bolehkah aku takut, haruskah aku terlihat lemah?"
__ADS_1
"Kamu punya aku, jika takut katakan karena aku akan melindungi kamu."
"Sayang kamu tidak terluka, coba Mommy lihat." Ravi melepaskan Kasih, Mommy melihat tubuh Kasih.
Tian melangkah ke bawah membawa ular, Kasih memeluk Viana. Vi meminta Tian menyerahkan ular kepada penangkaran.
Ravi yakin ada yang sengaja meletakkannya, sebelum ada orang yang masuk Ravi sudah meminta orang ahlinya untuk mengecek setiap sudut rumah, tidak ada ruang untuk hewan sejenis ular bisa masuk.
"Awas kamu Cinta, aku akan membalas semuanya. Sudah saatnya kamu di hentikan, aku tidak menggagap kamu kakakku lagi." Batin Kasih menatap Cinta tajam.
Reva memanggil bagian keamanan untuk mengecek setiap sudut rumah, Vira menatap Kasih yang terlihat beda, Kasih yang Vira tahu takut ular, tapi tidak terlihat panik anehnya Kasih yang sekarang gemetaran.
"Vir, dia bukan kak Kasih." Winda berbisik menatap Kasih yang matanya tajam.
"Iya, rahasia apa yang tersembunyi, kak Kasih punya kembaran?"
Vira dan Winda langsung melangkah pergi dari rumah, mencari keberadaan Bella yang sedang berdebat dengan Bundanya.
Setelah semuanya aman Ravi meminta Mommy pulang karena Ravi ingin beristirahat, Viana hanya tersenyum jika Ravi mengatakan beristirahat.
Mommy dan Mami pulang, Cinta juga pulang. Tian menatap Kasih yang masih terdiam.
"Kalian bertiga menyembunyikan sesuatu? ular ini sengaja diletakkan di sini, dan targetkan Kasih." Tian menatap Ravi, memperlihatkan hasil video dari kamera tersembunyi yang Ravi letakkan di kamarnya.
"Kamu mau istirahat, biar aku yang menyusun baju."
Kasih langsung berdiri, tapi bukan masuk kamar, pindah sofa sebelah, berbaring memejamkan matanya.
"Pindah kamar kasih."
"Aku takut ular, dia yang membunuh calon kekasihku."
Ravi langsung tertawa, melempar Kasih dengan bantal sofa. Ucapan kekasih terdengar lucu bagi Ravi, Kasih menatap Ravi sinis.
"Kak dia Kasih atau Karin?" Wildan duduk di dekat Ravi.
"Kasih, dia wanita pertama yang aku temui."
"Maksudnya Kasih Karin, Siapa Karin?" Tian langsung duduk menatap Kasih.
Ravi menjelaskan semuanya tentang Kasih yang dia ketahui, meminta di rahasia dari Tama. Kasih menatap Wildan orang pertama yang mengenalinya.
"Apa rencana kamu tiba-tiba menjadi pengantin pengganti?" Tian bicara serius.
"Pikir sendiri, misal acara batal kedua keluarga malu."
__ADS_1
"Acara akan tetap berlangsung walaupun kamu tidak muncul, ada satu pengantin pengganti yang akan melukai keluarga kita, tapi tidak punya pilihan harus menerimanya atau membatalkan pernikahan." Wildan tersenyum lucu, perebutan dalam keluarga.
"Maksud kamu Cinta, dia sengaja menghilangkan pengantin agar pernikahan batal, dia akan menawarkan diri untuk jadi pengganti, demi menjaga nama baik keluarga, tapi sayangnya bertepatan dengan kedatangan Kasih yang asli. Semua rencananya gagal."
"Ravi kamu harus berterima kasih atau marah?" Rian nyegir.
"Aku juga sedang mencari jawabannya." Ravi tersenyum, melihat Kasih yang sedang berpikir.
"Kasih seperti otak kamu sedang tidak jalan?"
"Diam bocah, otak aku memang tidak jalan, aku pulang karena ingin menghentikan pernikahan karena Karin merahasiakan hubungan dengan Ravi, tapi kenyataannya aku yang menikah. Baru hitungan hari sudah ada ular di depan mataku, otak aku ikutan geser."
"Tidak perlu nada tinggi, aku tidak suka mendengarnya Kasih. Kita tetap rahasia tentang kamu, perlahan kita mencari keberadaan Karin. Berhati-hati untuk Cinta, dia bisa menyakiti siapapun karena rencana ular sudah gagal."
"Ravi benar, sebaiknya kami pulang, besok baru kita bahas lagi."
"Ada apa Wildan? kenapa kamu belum pulang?"
"Kak Ravi cinta Kasih atau Karin?" Wildan langsung melangkah pergi, tidak menunggu jawaban.
Ravi meminta Kasih menutup pintu, masuk ke dalam kamar. Ravi merapikan pakaiannya, Kasih juga membantu tapi dengan ekspresi hati-hati.
Kasih menyusun jam tangan Ravi, Kasih yakin harganya pasti mahal. Tangan Ravi melingkar, Kasih tidak bisa menolak karena perjanjian mereka, Ravi boleh memeluk dan mencium saja.
"Pertanyaan Wildan sama dengan pertanyaan hatiku."
"Hanya kamu yang tahu jawabannya, tapi jika kamu tanya aku, kamu tahu jawabannya Ravi, di mata aku kamu seorang playboy, aku tidak terpikirkan untuk mencintai kamu."
"Bagaimana jika wanita yang aku cintai kamu? hatiku tidak marah mengetahui Karin menghilang, aku tidak bersedih berlarut saat tahu kamu kembar, bahkan aku bahagia jika wanita yang menjadi istriku wanita galak dan kasar."
"Jangan kuat-kuat memeluk, susah nafas."
"Kasih aku hanya perlu membuat kamu jatuh cinta, kamu harus mengerti jika kamu tidak bisa lepas dari pernikahan ini. Silahkan di renungkan." Ravi langsung melepaskan pelukannya.
"Aku tidak tahu, saat kamu bertemu Karin silahkan kamu pastikan perasaan kamu,."
"Benar juga, jika jantung berdegup berarti Karin yang aku cintai, tapi jika tidak kamu harus bersedia menjadi istri sesungguhnya, menjadi ibu dari anak-anakku."
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***
__ADS_1