SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 KEJUTAN


__ADS_3

Di kantor Wildan tidak berhenti tersenyum, bahkan saat meeting dia tidak konsentrasi memikirkan Vira.


Karan menatap aneh bosnya yang terlihat mirip orang gila, senyum yang tidak pernah terlihat akhirnya muncul menghiasi bibir Wildan.


"Kerasukan jin Tomang anak satu ini." Karan menendang kaki Wildan, meminta untuk fokus.


Semua orang diam menatap Wildan berdehem mencoba untuk mendengarkan hasil presentasi, berusaha fokus melupakan malam indahnya.


Karan tersenyum melihat Wildan yang menjelaskan dengan nada yang berbeda, tidak seperti Wildan biasanya yang berbicara tegas juga langsung tanpa banyak bicara.


Pertama kalinya saat meeting Wildan mendengarkan usulan, meskipun tetap memilih pendapatnya.


Selesai meeting Karan berjalan di depan Wildan memperhatikan bos-nya yang sangat aneh, tersenyum seperti orang gila.


"Wil, kamu menang lotre ya?"


"Lotre apa?" Wildan mengerutkan keningnya.


"Kamu tersenyum terus, mirip orang gila." Karan membuka pintu mempersilahkan Wildan masuk.


Senyuman Wildan terlihat, dia memang sudah gila karena terlalu bahagia bisa bersama Vira. Kebahagiaan yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.


Selesai meeting Wildan fokus kembali untuk bekerja, masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.


Panggilan dari Randu membuyarkan konsentrasi Wildan, langsung menjawab panggilan.


Wildan kaget, jika Fly melarikan diri dari rumah sakit, melihat wanita yang sedang mereka bicarakan ada di hadapannya.


"Wildan." Fly berjalan mendekat, Wildan hanya diam saja melihatnya berjalan sempoyongan.


"Aku membutuhkan kamu Wil, tolong aku sama seperti dulu kamu menyelematkan hidupku." Fly langsung jatuh pingsan, Wildan menangkap tubuhnya sebelum terjatuh ke lantai.


"Masalah apa lagi ini?" Wildan mengambil ponselnya meminta Randu datang ke kantornya untuk membawa Fly kembali ke rumah sakit.


Terpaksa Wildan membawa Fly ke sofa meminta Karan ke ruangannya, jangan sampai ada fitnah yang akan membuat masalah.


"Ada apa Wil?"


"Lihatlah, ada saja masalah. Wildan binggung kak, menolong orang salah, tidak ditolong juga salah, jadi apa yang harus Wildan lakukan?" Tatapan Wildan binggung, melanjutkan pekerjaannya, Karan juga duduk di depan Wildan sambil bekerja.


Suara ketukan pintu terdengar, Randu datang langsung melihat Fly yang belum juga sadar, cepat membawanya kembali ke rumah sakit.

__ADS_1


Wildan langsung membantu Randu membawa Fly ke rumah sakit, melihat keadaan Fly yang sebenarnya baik-baik saja.


"Kenapa dia bisa melarikan diri Randu?"


"Aku juga tidak tahu, saat aku tiba Fly sudah pergi. Beberapa hari ini dia ingin bicara dengan kamu, ada sesuatu yang ingin dia katakan" Tatapan Randu melihat ke arah belakang, menatap Fly yang belum juga sadar.


Wildan mengaruk kepalanya, dia juga binggung jika Fly terus dibiarkan bisa ribut dengan Vira.


***


Senyuman Vira terlihat, setelah tidur puas hampir sore Vira bisa merasakan tubuhnya lebih bertenaga.


Melihat ponselnya yang mendapatkan laporan jika Fly menemui Wildan, bahkan cukup lama berada di dalam ruangan.


Senyuman Vira terlihat, menarik nafas panjang langsung melangkah ke toilet. Suara barang pecah terdengar, tatapan mata Vira tajam, tapi tetap berusaha untuk tersenyum.


"Cari mati ini perempuan." Vira cepat menyelesaikan mandinya, langsung bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit.


Mobil Vira yang sudah lama bersemedi akhirnya keluar, langsung melaju dengan kecepatan tinggi untuk menemui Fly, mengeluarkan otaknya dari kepala.


Vira langsung putar balik melihat mobil Wildan yang melaju dengan kecepatan sedang, mengikuti suaminya jauh lebih menyenangkan daripada mengurus wanita gila.


"Ayang ingin pergi ke mana?" Vira menggunakan kacamata hitam, menutup kepalanya dengan selendang.


"Apa yang dia lakukan di toko bunga, ingin ke kuburan?" Vira melihat Wildan membeli mawar merah.


"Vira sukanya mawar putih bodoh." Vira langsung bergerak lagi, mengikuti suaminya yang menuju toko kue.


"Sialan, dia membeli kue pasti ingin ke rumah sakit." Vira mencengkram apapun yang ada di hadapannya.


Senyuman Wildan terlihat, dia bisa melihat Vira di depan kaca besar yang mengikutinya. Wajah Vira yang terlihat kesal sangat terlihat bahkan kacamata hitamnya di patah-patah.


"Vira, Vira." Wildan merasa lucu, langsung melangkah pergi lagi membeli buah.


Selesai membeli keperluan, langsung kembali ke mobil. Vira celingak-celinguk mencari keberadaan Wildan yang mendadak menghilang, tetapi mobilnya masih ada.


"Ke mana dia pergi? awas saja kamu Wil." Vira menghentakkan kuat kakinya.


Wildan tersenyum berdiri di belakang istrinya, Vira yang teriak kaget ternyata dia sudah ketahuan.


"Apa yang kamu lakukan membututi aku?" Wildan tertawa, mencium kening.

__ADS_1


"Sejak kapan tahu jika aku mengikuti?"


"Sejak mobil di belakang." Wildan menarik tangan Vira ke dalam mall, mereka belum pernah bersenang-senang berdua.


"Ke mana?"


"Beli baju, hari ini aku ingin membawa kamu ke suatu tempat." Senyuman Wildan terlihat, rasa kesal Vira langsung lenyap.


Selesai berbelanja, Wildan membukakan pintu mobil menuju ke tempat yang ingin dia kunjungi.


"Aku punya sesuatu?" Wildan menyerahkan bunga yang dia beli.


Senyuman Vira terlihat, mencium bunga mawar meskipun dia tidak menyukai mawar merah, tetap saja memuji keindahan bunga, mencium pipi Wildan mengucapkan terima kasih. Setidaknya suaminya ada niat.


Perasaan Vira tidak nyaman, melihat kue yang Wildan beli. Jangan sampai mereka pergi ke pantai terus kemah dipinggir pantai, makan kue bersama bulan dan bintang.


Vira mengharapkan bisa tidur di hotel, mandi berdua di dalam air mawar. Makan romantis dengan lilin yang beraroma menenangkan.


Sungguh impian Vira yang sangat indah, tapi melihat belanjaan Wildan, Vira takut dibawa memancing di laut.


Vira melihat cuaca, berharap hujan. Jika tidak hotel setidaknya penginapan sederhana, Vira tidak ingin berdiam diri di pantai.


"Vir, kenapa kamu diam saja?"


"Sebenarnya dari tadi aku bicara, eh tidak ada apa-apa." Padahal Vira sudah banyak bicara di dalam hatinya.


"Hari ini kita berdua saja, aku dan kamu."


"Apa yang ingin kamu lakukan? bermain petasan di pantai?" Vira tertawa lucu, tidak sekalian saja bermain bom.


"Rahasia."


Vira tersenyum melihat suaminya, Wildan tidak lucu jika melakukan sesuatu yang romantis, dia sangat lebay juga membuat Vira malu.


Senyuman Wildan juga terlihat, dia tahu banyak hal soal Vira meskipun mereka tidak saling bicara.


Soal mawar sebenarnya Wildan tahu, hanya ingin melihat reaksi Vira yang mendapatkan hadiah darinya.


Meskipun Vira membenci mawar merah, dia tetap memeluk bunga dari Wildan, meskipun yang Wildan beli hanya sebuah kue bukan berlian tetap dihargai.


Mobil masuk ke tempat yang tidak pernah Vira kunjungi, sebuah hotel mewah yang baru dibangun, jauh dari keramaian berdiri di hutan yang tidak terlalu lebat, karena hutan buatan.

__ADS_1


"Wow, bagus sekali." Vira tersenyum melihat Wildan, memeluknya erat. Vira melupakan tujuannya keluar rumah.


***


__ADS_2