SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 MENCARI CACING


__ADS_3

Semuanya bersiap memasukkan koper ke dalam mobil untuk berangkat ke hotel, juga persiapan untuk pergi ke Bali.


Suara tangisan histeris terdengar, Wildan langsung berlari keluar rumah melihat Rasih yang menangis mengamuk Ravi dan Kasih.


Rama juga berlari ke luar rumah melihat Rasih yang menangis memukuli Ravi, Kasih sampai kewalahan menggendong putrinya.


Tangisan Rasih sambil teriak-teriak, matanya bengkak karena sudah sejak bangun tidur menangis.


"Rasih sayang, kenapa cantik?" Rama langsung menggendong menenangkannya.


Rama menatap Kasih yang juga menangis melihat anaknya menangis sampai mengamuk.


"Kenapa Rav?" Viana menatap tajam.


"Tidak tahu Mom, bangun tidur langsung keliling rumah menangis histeris. Ravi sudah coba bertanya, tapi tangisannya semakin kuat." Wajah Ravi terlihat khawatir.


"Uncle ganteng tolong Asih." Tangisan Rasih kembali terdengar, menatap Wildan.


"Sini gendong uncel." Wildan memeluk Asih yang menangis dalam gendongannya.


Semuanya keluar rumah menatap Rasih yang menangis, satu anak yang menangis hebohnya satu kompleks.


"Rasih kenapa menangis? cerita sama uncel." Wil duduk di bawah pohon memangku Rasih.


"Asih jelaskan ya uncel, tadi pagi Asih sholat terus bobok lagi, terus bangun tapi sudah hilang." Air mata Rasih mengalir membasahi pipinya.


Wildan tersenyum, mengusap pipi Rasih menghapus air matanya.


"Uncel tidak tahu apa yang hilang, tapi mulai sekarang Rasih harus belajar selesai sholat tidak boleh tidur lagi." Wildan mengusap kepala Rasih.


"Namanya juga mengantuk, Asih hanya guling-guling, terus tertidur. Bukan salah Asih." Tangan kecil Rasih mengusap air matanya.


Dari lantai atas, Vira menguap menatap ke bawah yang penuh drama Rasih mengamuk. Winda juga baru bangun melihat ke bawah kehebohan di pagi hari.


"Apa yang hilang? nanti Uncle bantu cari." Wildan menurunkan Rasih, memintanya untuk bercerita.


Semuanya diam mendengar cerita Rasih yang berputar-putar, Wildan dengan sabar mendengarkan ocehan Rasih yang sudah berhenti menangis.


"Jadi cacing hilang." Wildan menggaruk kepalanya.


"Iya cacing Asih hilang." Tangisan Rasih kembali terdengar.


Wildan memeluk Rasih, menatap Ravi dan Kasih yang menggelengkan kepalanya tidak tahu jika Rasih memelihara cacing.

__ADS_1


Erik langsung berlari ke belakang mengambil cacing yang menggelikan, memasukkan ke dalam mangkok langsung berlari ke depan.


"Cacing ketemu." Erik tersenyum menyerahkan cacing kepada Rasih.


Tangisan Rasih semakin kuat, menendang cacing. Langsung duduk di tanah mengamuk sejadinya.


Wildan langsung menggendong Rasih, membawanya menjauhi semua orang. Ravi memukul kepala Erik yang membuat anaknya semakin marah.


"Dia mencari cacing, capek menggali cacing di dalam tanah." Erik menghela nafasnya.


"Kenapa kalian membiarkan Rasih memelihara cacing?" Viana menatap tajam Ravi dan Kasih.


"Kasih tidak tahu Mom, selama ini dia tidak pernah bermain cacing." Kasih mengusap air matanya, karena mengkhawatirkan Rasih.


Bening berlari mengejar Wildan yang membawa Rasih menjauh, senyuman Rama terlihat menatap Wildan yang sangat lembut.


"Reva, dia kak Bima versi muda." Rama menepuk pundak Reva yang mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Manusia es bisa akrab dengan anak-anak juga." Ravi tersenyum.


Semuanya teriak kaget melihat si kecil Embun yang jalannya sempoyongan belum seimbang ingin mengejar Wildan.


Erik ingin mengejar putrinya, tapi dilarang oleh Billa. Perumahan mereka aman dari kendaraan sehingga anak-anak bebas bermain.


Wildan langsung menoleh, berlari kembali lagi melihat Embun terjatuh. Bening langsung membantu Embun berdiri lagi.


"Cantik sayang, sini gendong uncel." Wildan langsung menggendong Asih dan Embun, sedangkan Bening langsung digendong dipunggung.


Wildan duduk di taman, menggunakan ponselnya mencari cacing kesayangan Asih. Embun yang masih kecil matanya mulai sayu karena mengantuk, tapi masih berusaha untuk tidak tidur.


"Embun, sini tidur peluk uncel." Wildan memangku Embun langsung memeluknya dan terlelap tidur.


Wildan tertawa melihat Rasih, Daddy sama anak sama saja selalu membuat heboh seisi rumah.


Tidak butuh waktu lama, Wildan menemukan orang yang mencuri cacing, tuduhan Asih tidak salah jika ada yang megambil hewan kesayangannya.


Wildan bicara lembut untuk meminta dikembalikan, karena Rasih sangat menyayanginya.


Dengan berat hati akhirnya cacing Rasih dikembalikan, Wildan mengucapkan terima kasih langsung pamit pulang.


"Tante, lain kali jangan mencuri. Dosa, nanti Allah marah dikutuk menjadi batu." Asih melotot sambil marah.


"Asih sayang cacing, sudah cinta cacing. Tante lewat depan rumah Asih langsung mencuri cacingnya Asih, sekali ini Asih maafkan, tapi lain kali Asih akan memberikan perhitungan." Rasih langsung berjalan pulang.

__ADS_1


"Tante jangan nakal lagi, kasihan Asih menangis." Ning langsung berlari mengejar Rasih.


Wildan tersenyum menggendong Embun melangkah kembali, sepanjang perjalanan pulang Wildan mengetes kamera tersembunyi sepanjang jalan perumahan mereka.


"Uncel terima kasih sudah membantu Asih menemukan cacing, nanti Asih kasih hadiah es cream." Rasih tertawa lucu.


"Uncel boleh tidak bantu Ning menemukan anak nakal yang merusak sepeda Ning." Bening menggandeng tangan Wildan yang tertawa pelan.


"Iya Uncle, dia juga merusak mobil Asih." Bibir Rasih monyong karena kesal.


Wildan mengatakan jika yang merusak mobil sepeda mereka, Vira Prasetya dan Winda Bramasta.


Dari kejauhan Ravi sudah melihat putrinya tertawa bahagia, berlari bermain kejar-kejaran bersama Bening.


Wildan berjalan di belakang mereka sambil menggendong Embun, Vira melipatkan tangannya melihat kesal tiga bocah yang menyukai Wildan.


"Bagaimana ketemu cacingnya?" Kasih mengusap kepala putrinya.


"Ketemu Mommy, kita bukan hanya bertemu cacing, tapi juga sudah menemukan pelaku yang merusak mobil Asih. Aunty Vira sudah salah tidak mengakuinya, dasar tidak bertanggung jawab." Asih menatap tajam.


Vira tersenyum langsung memeluk mommynya, Viana hanya tersenyum melihat putri dan cucunya bertengkar.


Winda juga terkena sindiran, langsung tersedak ayam goreng menatap Bening yang mengadu kepada Papanya.


"Aunty tidak boleh diam saja, jika Aunty yang merusaknya seharusnya bertanggung jawab, meminta maaf, jika tidak memperbaiki setidaknya harus ganti." Ning memeluk Tama, dia sangat menyayangi sepeda pemberian Papanya.


"Iya maaf nanti Aunty ganti." Winda menggaruk kepalanya.


"Di mana cacing? ukurannya besar atau kecil?" Erik mengangkat cacing berbulu.


"meow ... meow meow ...," suara kucing.


Reva, Jum dan Viana langsung tertawa, Ravi dan Rasih memang manusia aneh. Daddy-nya memelihara ular, sekarang putrinya memelihara cacing berbulu.


Rasih memeluk cacing, mengusap kepalanya penuh kasih sayang.


"Ayo kita siap-siap ke hotel." Viana kembali ke rumahnya.


Ravi langsung menggendong Asih untuk pulang, Erik juga mengambil Embun dalam gendongan Wildan.


Semuanya bubar, Wildan masih berdiri tegak menatap keluarga besar mereka kembali ke rumah masing-masing.


"Cacing mengeong, Asih kamu lucu sekali seperti Vira dulu yang setiap hari mencari ular kak Ravi. Dia datang hanya untuk bisa bertemu, meminta mencarikan ular." Wildan tersenyum mengingat masa Vira masih menganggapnya penting, tidak seperti sekarang.

__ADS_1


***


__ADS_2