SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
PENCULIKAN


__ADS_3

Bisma keluar kamarnya sambil menggendong Ravi dan berpapasan dengan Rama yang tersenyum melihatnya, terdengar juga suara Viana yang tertawa bersama para wanita.


"Kenapa kalian bisa ada di sini," Bisma memulai percakapan bersama dan berjalan mendekati Bima yang sibuk dengan tabletnya.


Bima terdiam melihat foto seorang wanita bule bersamaan Bisma yang dikirimkan Ammar.


Wajah Reva merah melihat foto yang baru di kirimkan oleh seseorang tentang foto seorang wanita yang di peluk Bima. Tangan Reva gemetaran langsung bangkit berdiri dan berteriak mencari Bima dengan amarah, Jum dan Viana kaget mereka sedang membahas pekerjaan bersama Sisi dan Septi.


"Bima! jelaskan," Reva melemparkan handphonenya ke Bima yang sedang memandangi foto yang sama.


"Bukan aku! tapi Bisma, aku tidak mengenali wanita bule ini." Bima diam saja mendengarkan Reva yang marah dan mengomel tidak jelas.p


Bisma mengambil handphone Reva dan melihat foto Sisil yang berada di Indonesia, cepat Bisma mengambil ponselnya dan menyiapkan penerbangan hari ini juga ke Indonesia, dan menghubungi Ammar untuk menahan wanita bule yang bersamanya.


"Bisma! Lo udah janji ke gue berhenti mencintai Sisil," teriak Vi menarik lengan Bisma.


"Ini bukan masalah cinta Vi, ada hal yang harus dia luruskan." Bima menepis tangan Vi.


"Sisil tidak mencintai Lo, hatinya milik pria lain. Berhentilah mengejar cinta wanita tua itu."


"Vi, ini rahasia yang aku sembunyikan dari kamu, jangan membenci dia Viana bisa jadi wanita ini punya hubungan darah dengan kamu. Saat kamu melahirkan Ravi, kamu mengalami pendarahan dan dia yang menyelamatkan kamu. Golongan darah kamu yang unik bisa sama dengannya. Dan alasan aku pergi mencari dia karena mendapatkan laporan dari wanita yang pernah membantu persalinan kamu, Dan...." Bisma menghentikan ucapannya dan melangkah pergi.


"Kita juga kembali hari ini juga kak Bima," Rama memberikan perintah yang di anggukan Bima.


Viana terdiam mendengar perintah Rama, apa pentingnya wanita 50 tahun-an ini harus menjadi alasan Rama kembali, tapi melihat ekspresi Rama Viana tidak berani membantah.


Hanya Rama Vi Ravi, Bima Reva, Jum dan Bisma yang kembali. Sisanya menyelesaikan pekerjaan yang menjadi satu alasan liburan mereka.


Selama di perjalanan tidak ada yang bicara, Viana dengan wajahnya yang dingin, Rama yang tenang tapi menakutkan.


Ravi binggung melihat kedua orang tuanya, melihat uncle Bisma nya, hanya Jum yang berani dia dekati.


Rama dan lainnya tiba di tanah air saat waktu subuh, mobil sudah terparkir menunggu kedatangan mereka, Viana mengandeng tangan Ravi masuk ke dalam mobil Taksa yang sudah menunggu mencari penumpang, Vi menyebutkan alamat rumah keluarga Arsen, dan menutup pintu tanpa bicara apapun ke Rama.

__ADS_1


Semuanya terdiam melihat kemarahan Viana, Rama hanya memberikan perintah ke pengawal mengiring Viana dan putranya menuju kediaman mertuanya. Rama masuk mobil bersama Bisma. Bima masih harus mengantar Reva dan Jum yang langsung di tolak Reva yang langsung pergi menarik tangan Jum pergi bersamanya.


Di dalam mobil Rama sangat gelisah, berkali-kali menghubungi Ammar tapi tidak berhasil. Alarm Rama sebagai tanda peringatan berbunyi, terlihat komplotan Ririn yang berhasil menahan Viana tanpa Ravi.


Nampak wajah tenang dari Rama yang menunjukkan ke Bima penahanan Viana yang di lakukan Ririn, Bima memutar arah. Rama menghubungi pengawal menanyakan keberadaan Ravi yang ternyata tidak sadarkan diri ulah Viana.


"Di mana Ravi," wajah cemas Bisma terlihat.


"Ravi bersama para pengawal, dan menuju kediaman Arsen. Viana mengetahui pergerakan Ririn dan membuat Ravi tertidur agar tidak menyadari kepergiannya."


"Viana akan baik-baik saja Rama, lindungi Sisil dan kita selesaikan masalah dengan Ririn."


"Iya kak Bisma, Sisil sudah aman, tapi entahlah kita tidak bisa memprediksi yang akan terjadi."


***


Mobil taksi Viana yang menuju kediaman Arsen diikuti oleh dua tim, Viana hanya tersenyum melihat pertempuran di belakang mereka. Viana menghubungi pengawal pribadinya agar bertemu di persimpangan yang sudah Viana rencanakan.


"Nona! ikut pergi bersama kami."


"Tidak selamatkan putraku, berikan pengawal ketat. Aku menyerahkannya padamu dan hubungi tuan Rama,"


Mobil taksi Viana sudah di kepung, supir taksi yang membawa Viana melihat kebelakang dan tersenyum memberikan Viana semangat.


"Terimakasih pak, biasannya orang ketakutan tapi bapak terlihat sangat tenang." Viana menyerahkan bayarannya.


"Anak kecil tadi putranya tuan Rama, dia pernah membayar saya dengan uang dolar saat dia ingin bertemu Daddy-nya." Bapak supir mengigat pertemuan pertamanya dengan Ravi.


"Iya dia putra kami, terimakasih juga sudah membawa Ravi hari itu, dia selalu menceritakan bapak. Bapak jangan bantu saya, pergi selamatkan diri bapak."


"Hati-hati nak, ingatlah untuk selamat dan pulanglah putramu menanti kamu."


"Baik pak, suami saya tidak akan membiarkan saya terluka." Viana keluar kamar melangkah ke depan dengan tersenyum.

__ADS_1


Beberapa senjata sudah berada di depan Viana, dan mendorongnya masuk ke mobil dan membawanya pergi.


Di dalam mobil mata Viana tertutup, Vi memfokuskan pendengarannya mengawasi pergerakan mobil juga orang yang berada di dalam mobil.


Senyum licik terukir di bibir cantik Vi, mobil berhenti Viana bisa merasakan hawa dingin, bau perpohonan dan suasana.


"Perkebunan, rumah sederhana dan jauh dari pemukiman."


Tubuh Viana di lempar ke lantai yang kasar, membuat Viana meringis kesakitan. Mata Viana terbuka melihat dua orang dan tersenyum lebar tertawa menggelegar.


"Berisik! mulut kalian bau," Viana menutup hidungnya membuat mata Ririn menatapnya tajam.


Ririn mencengkram wajah Viana dengan penuh Kemarahan, ditamparnya Viana berkali-kali membuat wajah putih Vi berubah merah tapi Viana masih tertawa menatap licik Ririn.


"Siapa pria ini, aku rasa pernah melihatnya." Viana coba mengigat pria tampan yang mendampingi Ririn.


"Kemal! lelaki yang hampir mati karena kamu." Ririn mengigat kekasihnya yang dulu tergila-gila dengan Viana.


"Belum mati rupanya, jangan salahkan aku Mitha, kemal yang mencintai aku tapi aku tidak, jika dia memutuskan bunuh diri salahkan dia yang bodoh."


Viana menatap kemal tersenyum, wajah tampan yang tidak asing.


"Kita pernah bertemu sebelumnya Angel," tawa kemal sambil memeluk Ririn.


"Oh iya, kamu yang pernah datang di kantor Rama, seorang perwira. Wajah kamu juga berubah dulu culun sekarang wow. Tapi tetap masih tampan hubby."


Tawa Viana terdengar, tidak ada ketakutan sama sekali di wajah Viana yang melihat dua manusia yang sangat membencinya.


"Siapa orang dalam kalian yang mengetahui pergerakan Rama."


Mata Viana melihat seorang pria yang sangat dia kenal.


"Ammar!"

__ADS_1


__ADS_2