SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 SUDAH TUA


__ADS_3

Acara memancing ramai, teriakan beradu siapa yang mendapatkan ikan paling banyak. Vira mengumpulkan milik Rama, ikan kecil masih besar jempol Vira.


"Semangat Daddy, cayo cayo." Vira terus teriak menyemangati.


"Vira, diam. Nanti ikannya kabur." Winda melotot marah.


"Dasar syirik, kalian belum dapat, baru satu kasihan." Vira menjulurkan lidahnya.


"Kalian berdua diam, kita walaupun sedikit tapi besar, tidak seperti kalian kecil seperti jarinya Wira." Bella tertawa bersama Billa.


"Kenapa menyebut nama Wira?" Senyum cengengesan terlihat, Wira bertolak pinggang di atas kursi.


"Kamu mengemaskan sekali." Yusuf mengusap kepala Wira.


"Uncle Yusuf dukung siapa?" Wira tersenyum, menunjukkan giginya.


"Mendukung Daddy-nya Wira." Yusuf mengelus pipi Wira.


"Yeee semangat Daddy, kalau masih belum dapat, nanti Wira yang mencari ikan dalam air."


"Amit-amit ini bocah, dia pikir menyelam di laut dalam seperti di kolam berenang bisa menggunakan bebek." Winda melotot.


"Ikannya malu keluar, soalnya Wira tampannya kelewatan." Karan juga ikut memancing.


Ravi keluar dari kamar, mencari keluarga yang tidak terlihat terjadi asik memancing. Semuanya sudah berkumpul dengan keributan yang tidak ada hentinya.


"Mommy, kenapa ramai seperti di pasar?" Ravi duduk bersama yang lainnya.


"Kamu lihat sendiri, sepertinya mereka aki-aki tua menemukan mainan baru."


Karin datang membawa kentang goreng, sambil menonton lomba memancing. Jum juga datang membawa sosis goreng, Ravi ikut bergabung menyemangati Daddy.


"Mommy, keluarga ini selalu kompak, Kasih sangat kagum, juga sangat bahagia menjadi bagiannya." Kasih tersenyum melihat di depannya tawa bahagia terlihat.


"Sayang, keluarga kita ini sangat besar, jika tidak kompak akan berantakan. Dulu Mommy berpikir hidup dengan kekuasaan membuat Mommy bahagia, tapi ternyata hidup sederhana, penuh canda tawa, di jalani bersama, jauh lebih membuat bahagia." Viana juga tersenyum melihat putra putrinya tertawa lepas.


"Kasih semakin dewasa seseorang, semakin banyak beban hidupnya. Semua masalah bukan untuk membuat kita menyerah, tapi semakin mendewasakan diri. Dalam rumah tangga, akan ada pertengkaran, perdebatan, keributan kecil, tapi jika kamu tidak bisa mengendalikan, masalah kecil akan menjadi besar."


"Berarti dalam rumah tangga kita harus banyak mengalah, ya mami."


"Bukan mengalah sayang, tapi kamu memiliki alasan yang jelas di setiap perdebatan. Jangan lepaskan suami saat marah, jangan mengabaikan kewajiban, jangan bicara hal kasar, jangan salahkan orang lain."

__ADS_1


"Baiklah Bunda, Kasih akan belajar banyak hal, karena Ravi setiap hari ada saja yang membuat kesal."


"Pasti kalau sudah mandi teriak-teriak." Viana menatap tajam Ravi.


"Iya Mom, padahal handuk ada di pinggang, tapi masih minta handuk."


"Sebelum tidur pasti gigitan badan, seperti kucing garong."


"Betul Mommy, pipi Kasih, lengan Kasih selalu digigit."


"Apapun yang dia lakukan selalu teriak, kalau kita tidak menjawab dia bilang lama, mulai tuli, kalau makan sukanya mengambil makanan kita. Mommy ingin tahu yang paling menyebalkan Ravi mesum, kamar mandi saja tempat yang romantis bagi dia." Kasih kesal melihat Ravi.


"Ternyata Ravi memang jiplakan Rama." Viana tertawa.


"Kasih, di dalam kamar mandi, memang tempat yang enak untuk ehem- ehem. Setiap pasangan pasti pernah merasakan, berada di dalam bathtub." Reva. nyegir.


"Jangan bongkar kartu keluarga, di sini ada singel." Jum menatap Karin yang hanya mengaruk tengkuknya.


Viana tertawa melihat Karin, mengelus kepala untuk segera menikah. Merasakan indahnya pernikahan, juga merasakan pusingnya pernikahan.


"Menikahlah sayang, Mommy akan mendukung kamu, memilih lelaki bukan soal wajahnya, tapi agamanya akhlaknya."


"Nanti saja Mom, Karin tidak dekat dengan lelaki manapun."


"Kak Vi dan mbak Reva, semakin tua semakin jahil. Karin dengarkan Bunda, Karan ganteng, baik, pintar dan juga cukup mapan." Jum tersenyum, Karin tertawa kecil melihat Karan sekilas yang sedang tertawa di depannya.


Keributan soal ikan belum berakhir, Bima langsung meninggalkan pancingnya. Yusuf mengantikan, Bisma juga berhenti bersama Ammar.


"Mami, di mana makanan Papi?" Bima mendekati Reva yang mengerutkan keningnya.


"Bukannya sudah makan tadi, piringnya juga kosong." Reva melotot.


"Belum Mam, dengar cacing protes." Bima menunjukkan perutnya yang berbunyi.


"Makanya Papi, waktunya makan ya makan dulu, tinggalkan dulu pekerjaan Papi." Reva berjalan ke arah belakang, Bima mengikutinya.


"Baru tahu serunya memancing sayang, bagaimana kalau Papi menjadi nelayan saja?" Bima tertawa memeluk erat istrinya yang mengemaskan.


Ammar juga sibuk mencari istrinya minta makan, Septi menolak menyiapkan makan. Ammar sendiri yang mengatakan malam, jadi terpaksa Ammar mencari makan sendiri, Bisma juga sudah makan di meja makan.


"Kamu mencari makanan di mana Bisma?"

__ADS_1


"Istri yang menyiapkan, kamu percumah istri koki, tapi kalau marah galak banget."


"Jauh masih galak istri Lo." Ammar langsung mengambil piring, makan bersama Bisma.


Sesekali Bisma melirik Ammar yang mulai memilih makanan, kesehatan Ammar juga sering menurun, dia juga sudah pensiun.


"Mar, kamu sering sakit apa?"


"Biasalah penyakit tua, seandainya aku tidak sempat melihat Erik menikah, tolong kamu kuatkan putraku. Bis, dia mencintai putri kamu, tapi Erik takut dengan statusnya yang putra seorang wanita malam, kalian keluarga besar dan terhormat, aku memaklumi ketakutan erik."


"Aku tidak pernah memandang Erik seperti itu, sejak dia pertama hadir aku sudah sangat menyayanginya. Ammar jangan menutupi penyakit kamu dari istri dan anak."


"Septi masih muda, dia bisa menikah lagi jika aku meninggal. Putra bungsuku juga masih kecil, aku hanya bisa menitipkan mereka kepada Erik." Ammar mengusap matanya.


"Kenapa kamu sekarang lemah sekali, hiduplah sampai seratus tahun." Bisma mulai kesal.


"Tua banget, tapi aku salut dengan kak Bima, ketampanan dia awet, masih seperti seusai Rama."


"Iya, aku juga salut. Orang baik pasti akan sangat bahagia, lihatlah Wildan, wajahnya terlalu tampan."


"Viana dulu jahat, tapi awet muda, masih bisa menggunakan high heels tinggi." Ammar tertawa bersama Bisma.


"Viana menghirup aura brondong, jiwa dia dan Rama bertukar. Rama berubah jadi kakek, Viana menjadi Tante girang." Bisma tertawa kuat membayangkan Viana.


Viana lewat menatap kedua pria tua yang sedang makan, kehadiran Vi membuat Bisma dan Ammar diam.


"Apa yang membuat kalian berdua tertawa?" Viana ikut duduk.


"Ammar sudah kebanyakan uban, dia minta tolong dicabut. Aku memberikan saran untuk diwarnai." Bisma tersenyum.


Viana menyentuh kepalanya, rambut pirang Vi masih kuning, walaupun sekarang tidak terlihat karena tertutup hijab. Sejak Reva memutuskan berhijab, Viana dan Jum juga berhijab, awet sampai mereka tua.


"Rambut Viana semakin kuning pucat, apa itu uban ya? astaga aku sudah lupa, jika sudah tua. Bagaimana jika aku meninggal Rama menikah lagi?" Viana langsung cemberut.


"Tidak ada yang tahu umur seseorang Viana, bisa saja yang muda lebih dulu. Tidak ada yang pernah tahu, kematian kapan datang, tugas kita hanya mengumpulkan amal kebaikan." Bima datang membawakan minum Bisma.


"Terima kasih kak."


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA

__ADS_1


SEKALIAN KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP NYA.


HARI INI AUTHOR BIRTHDAY boleh tinggalkan COMENT, yang ingin memberikan kado, boleh VOTE atau HADIAHNYA 🤭🤭🎉🎂🎂🎂🎂


__ADS_2