SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 BUAH KHUSUS


__ADS_3

Tidak terasa waktu sangat cepat berlalu, hari pernikahan Vira Wildan, Yusuf dan Winda sudah dekat.


Kesibukan Viana dan Reva heboh sendiri, keduanya sangat bersemangat untuk menyambut pernikahan anak-anaknya sangat berbeda jauh dengan pengantin.


Vira dan Winda sibuk jalan-jalan, Wildan sibuk bekerja tanpa berhenti, Yusuf juga sedang ada di luar negeri karena ada pekerjaan penting.


Gedung mewah sudah disiapkan, bahkan setiap hari Viana, Reva dan Jum pergi meeting bertemu para Wedding organizer untuk pesta pernikahan terbaik.


Wildan mendapatkan panggilan dari Maminya, sedangkan dirinya sedang meeting. Wil meminta presentasi ditunda sebentar.


Wildan langsung menjawab panggilan, Reva menginginkan Wildan untuk datang melihat gaun, dekorasi bahkan Mami bertanya tema yang Wildan inginkan.


Tarik napas panjang, Wildan meminta Maminya menanyakan langsung kepada Vira, karena dia ikut saja apapun yang disiapkan.


Panggilan langsung diakhiri, Wildan meminta melanjutkan kembali meeting. Panggilan kembali terdengar, Wildan langsung mengucap meminta rapat ditunda.


Wildan langsung melangkah pergi, menjawab panggilan Maminya yang sudah marah-marah meminta Wildan segera menemui Maminya.


Mobil Wildan melaju dengan kecepatan tinggi, mencoba menghubungi Vira, tapi tidak bisa dihubungi.


"Ya Allah di mana perempuan satu ini, seharusnya dia yang sibuk mengurus masalah pernikahan, tapi dia yang menghilang." Wildan mengusap dada, dia tidak paham melihat wanita yang memiliki perusahaan besar bukannya di kantor, tapi sibuk jalan-jalan.


Mobil Wildan sampai di gedung mewah milik keluarganya, langsung melangkah masuk melihat Maminya melotot.


"Mi, Wildan lagi meeting. Pendapat Wildan memang tidak dibutuhkan di sini, Mami bertanya soal gaun Wildan tidak menggunakan gaun." Langkah Wildan terdengar memasuki gedung menatap mommy yang tersenyum menyambut Wildan.


"Di mana Vira mom?" Wildan mencium tangan Viana, menatap gedung yang bisa menampung ribuan tamu undangan.


"Tidak tahu, coba kamu yang menghubungi dia." Viana meminta Wildan duduk, Reva juga mencoba menghubungi Winda yang tidak terlihat batang hidungnya.


"Assalamualaikum." Bella dan Billa datang untuk membantu persiapan pernikahan, hanya melihat Wildan sedangkan pengantin perempuan tidak terlihat.


"Bella kamu tahu di mana Winda dan Vira?" Viana sendiri tidak tahu di mana keberadaan anak gadisnya.

__ADS_1


"Bel, tidak tahu. Mereka sudah lama tidak menemui Bella, katanya sibuk menjelajahi perjalanan enam puluh hari." Bella menatap Billa yang juga menggelengkan kepalanya tidak tahu keberadaan Vira dan Winda.


Reva baru sadar jika putrinya memang setiap hari keluar pagi, pulang malam membawa koper gonta ganti.


"Billa coba hubungi mereka saja Mom." Billa mengambil ponselnya.


"Jangan Aunty tidak akan tersambung, mereka sedang berlayar memancing di laut, nanti ikannya dijual ke pasar." Asih datang bersama Kasih.


Semuanya kaget mendengar ucapan Rasih, Vira dan Winda memang sedang gila memancing. Mereka membawa koper pergi menggunakan kapal untuk berlayar, pulangnya malam setelah menjual ikan.


"Apa yang mereka lakukan tidak penting sekali." Viana menatap kesal melihat tingkah putrinya yang selalu di luar batas.


"Jangan berpikir negatif dulu, mungkin mereka sedang berlayar mencari jati diri. Mencari kebenaran tentang pilihan yang sedang mereka ambil." Jum tersenyum meminta Viana dan Reva membiarkan Vira dan Winda menghabiskan waktu berdua sebelum keduanya berpisah.


Jum membuka sebuah file, saat mendengar kabar Winda Vira ingin menghabiskan waktu dengan melakukan enam puluh hal yang tidak biasanya mereka lakukan.


"Kalian ingin melihat mereka di mana?" Jum menunjukkan foto yang Vira dan Winda kirim jika mereka sedang bermain dengan anak-anak pantai.


Setiap hari membelikan cemilan, makanan ringan untuk anak-anak berlayar bersama untuk membantu perekonomian orang-orang perdalaman.


Winda sangat cerdas dalam pemasaran, dia juga sangat memahami karakter setiap orang. Vira juga sangat pintar dalam menciptakan brand new yang bernilai fantastis, jika keduanya digabungkan bisa mengalahkan pemasaran yang sedang naik daun.


"Hari ini Jum rasa perjalanan terakhir mereka, selama dua bulan mereka mengajarkan ilmu marketing, membuka peluang juga membudidayakan kekayaan alam." Senyuman Jum terlihat, mendengar suara keduanya pulang.


Suara high heels menggema di dalam gedung, langka kaki berirama terdengar.


"Melihat mereka mengingat Jum saat mengagumi kecantikan kak Vi saat pertama kali tiba di rumah tuan Rama, Vira sangat cantik Versi kak Vi muda." Jum tersenyum menatap Viana yang meneteskan air matanya.


"Kamu benar Jum, Winda juga terlihat cantik sama seperti saat pertama aku melihat Reva mendapatkan prestasi sebagai desainer termuda dan berbakat. Saat itu aku bangga, karena VCLO ada di tangan anak muda berbakat." Viana mengusap air matanya merangkul Jum dan Reva.


Vira dan Winda mencium tangan orang tua, langsung mengambil tempat duduk mereka. Senyuman Vira terlihat memberikan oleh-oleh untuk Bella.


"Bel buah spesial untuk kamu, Vira yakin suatu hari kamu akan menyukainya." Vira menyerahkan kotak kecil.

__ADS_1


"Thanks you." Bella membuka kotak kecil.


Kasih menatap Bella yang memakannya wajah Vira dan Winda terlihat jahat ingin mengerjai Bella.


"Bagaimana rasanya?" Winda langsung menatap serius.


"Enak, Bella suka rasanya. Kalian masih punya banyak tidak, boleh minta lebih banyak lagi." Bella tersenyum terus mengunyah buah kecil yang rasanya sangat asam.


"Billa coba satu kak." Billa langsung memuntahkan buah yang masuk mulutnya, tubuhnya langsung merinding karena masam.


"Bella kamu hamil duluan ya? kata nelayan di sana ini biasanya sangat disukai ibu hamil, berarti kamu hamil." Vira menatap tajam, menuduh Bella hamil duluan.


"Astaghfirullah Al azim, jangan kurang ajar Vir, mulut kamu tidak sopan." Bella langsung meneteskan air matanya.


"Tidak ada yang salah dari ucapan Vira, kak Bel mengatakan ingin hamil bersamaan, melahirkan juga sama-sama. Buktinya Kak Bel tidak setia kawan." Winda melotot membuat Bella semakin menangis menghabiskan buah yang ada di kotak.


Semua orang terdiam menatap Bella yang cengeng, dia jarang menangis bahkan lebih sering bertengkar.


"Bella lebay begitu saja menangis." Vira meninggikan suaranya, langsung mendorong pundak Bella mulai ingin bertengkar.


"Vira tidak boleh mendorong seperti itu, nanti Bella jatuh. Lagian Bella tidak hamil duluan sumpah." Bella mengangkat tangannya terus menangis berani bersumpah jika tidak hamil.


"Lalu kenapa terus di makan, ini buah untuk orang hamil. Sekarang kak Bel banyak berubah, dulu selalu kuat sekarang cengeng." Winda juga membentak, Bella semakin menangis sesenggukan.


"Sumpah Win, awal bulan kemarin masih bulanan. Bella tidak hamil." Bella menutup wajahnya.


Viana menatap Jum yang langsung tersenyum bahagia, langsung berteriak memeluk Viana dan Reva.


"Apa salahnya kak Bel hamil, ada suaminya." Billa memeluk kakaknya, mengusap punggungnya.


"Iya Bella punya suami." Bella mencari Vira dan Winda yang sudah berlari mengejar Wildan yang melangkah untuk menemui Yusuf di bandara.


"Vira Winda!" Bella teriak kuat, membuat semua orang tertawa bahagia, berharap memang benar.

__ADS_1


***


BENTAR LAGI VISUAL


__ADS_2