SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 KEBAKARAN


__ADS_3

Pintu terbuka, Vira melangkah masuk bersama Winda menatap Ravi dan Kasih yang masih asik bermesraan.


"Waduh, ini sudah jam berapa kak Ravi?" Vira menggelengkan kepalanya, melihat rambut kakak iparnya masih basah.


Winda sudah cekikikan tertawa, saat anak-anak sudah pergi sekolah, Ravi dan Kasih lanjut di kamar sampai lupa waktu kerja.


"Pagi-pagi sudah ada tamu tidak diundang." Ravi tersenyum mengacak rambut Vira.


"Kak Ravi ini sudah siang." Tatapan Vira tajam.


"Bagaimana keadaan kandungan kamu?"


"Kurang baik, dokter memprediksi harus dilahirkan sebelum waktunya demi keselamatan Vira."


Ravi menatap tajam langsung cemas, matanya menunjukkan rasa khawatir melihat keadaan adiknya.


Vira meminta kakaknya pergi bekerja, jangan mengkhawatirkan dirinya saat ulang tahun pertama Virdan, Vira akan segera di rawat dan memprediksi waktu yang tepat.


Kasih mendekati Vira, kejadian Virdan akan terulang kembali.


"Kamu akan melakukan operasi di usia kandungan tujuh bulan?"


"Belum tahu kak Kasih, mungkin tujuh, delapan, atau sembilan belum bisa ditentukan. Wildan minta dirawat saja, karena menghindari kejadian yang tidak diinginkan." Senyuman Vira terlihat, meminta Kasih santai saja.


Ravi memeluk adiknya dari belakang, meminta Vira selalu kuat dan terus berjuang sampai akhir.


Kepala Vira hanya mengangguk, meminta kakaknya pergi bekerja dan jangan banyak pikiran.


Kasih meminta Vira duduk, melihat Winda yang asik memainkan ponselnya sambil cekikikan sendirian.


"Ada apa Winda?"


"Hari ini temani Winda untuk berkunjung ke suatu tempat, Vira dan Bella tidak bisa pergi, jika Bella dia emosian. Kak Kasih jauh lebih hebat dalam kontrol emosi." Senyuman Winda terlihat, menunjukkan sesuatu untuk Kasih.


"Kamu ingin mengembalikan masa bar-bar kak Kasih?" Tawa Kasih terdengar, setuju untuk menemani Winda.


Vira meminta Winda dan Kasih berhati-hati, pelukan Vira erat menyentuh tubuh sahabatnya yang akan menggantikan dirinya untuk menyelesaikan masalah.


Sejak kecil selalu bersama, melakukan kesalahan dan kebaikan tidak ingin dipisahkan.


Kasih tersenyum melihat Bella dan Billa datang, memeluk Vira Winda untuk saling menyemangati.

__ADS_1


Vira meneteskan air matanya, memeluk ketiga adiknya yang selalu ada disampingnya sampai detik sekarang.


"Vira sayang kalian, lebih dari saudara, sahabat, kalian bagian dari hidup Vira."


"Kak Bel, titip pelakor kecil kesayangan Winda, aku pergi sebentar."


"Kamu hati-hati, boneka Barbie aman bersama kita." Bella tersenyum menatap Vira yang menghapus air matanya.


Kasih langsung melangkah ganti baju, Vira duduk melihat cacing kesayangan Asih yang tidur di dalam kandang, bahkan ada selimut bantal guling, kasur.


"Kucing ini beruntung sekali bertemu Asih." Vira mengusap perutnya, dirinya juga beruntung memiliki kedua putrinya.


***


Kasih melajukan mobilnya, melaju kencang di depan sebuah rumah mewah, tanpa mengurangi sedikitpun kecepatan kendaraannya langsung menabrak pagar sampai mobilnya penyok menerobos masuk.


Winda tertawa melihat tingkah Kasih yang mirip preman, langsung keluar mobil setelah melihat kekacauan.


"Siapa yang disalahkan jika mobil hancur?"


"Gerbangnya." Winda melangkah mendekati pintu.


Pintu terbuka tanpa diketuk, karena mendengar suara kuat tabrakan. Kasih langsung melangkah masuk, menyingkirkan maid yang membukanya.


Dua wanita tidak tahu sopan santun masuk ke rumah orang, tanpa izin. Satpam langsung berlarian, pemilik rumah meminta semuanya mundur.


Kasih langsung duduk, tersenyum melihat wanita di kursi roda. Winda masih berkeliling ruangan melihat foto keluarga.


"Siapa kalian?" suara tinggi membentak, kemarahan terlihat dari wajah wanita yang membutuhkan bantuan hanya untuk mendorong kursi rodanya.


Tatapan marah terlihat, Winda tersenyum dengan keberanian wanita cacat, tapi sikap keras dan tanpa rasa takut sudah mendarah daging sehingga kata-kata kasar spontan keluar mencari maki Kasih, bahkan ancaman juga terdengar.


Kasih tersenyum sinis, langsung melempar sebuah belati kecil menancap di kursi roda, karena yang duduk di sana berhasil menghindar.


"Seandainya kamu tidak cacat, mungkin bisa adu kehebatan bela diri."


"Sialan, cari mati."


"Di mana suami dan anak kamu? aku ingin bertemu." Winda memegang bingkai foto.


"Anak? suami? apa yang kalian inginkan?"

__ADS_1


Winda tertawa terbahak-bahak, langsung menjatuhkan bingkai foto. Suara teriakan terdengar wanita yang kursi roda langsung jatuh, merangkak mengambil foto.


"Brengsek, beraninya kamu menjatuhkan foto anakku."


Winda tersenyum langsung melangkah ke tempat duduk, meminta maid membantu tuan rumah untuk berdiri.


Dugaan Winda benar, menatap Kasih yang matanya tajam melihat nyonya rumah yang sama kerasnya.


"Apa Feby menantu kamu yang sudah mengakibatkan kecelakaan sampai merenggut nyawa putramu dan kamu cacat, pada akhirnya juga merebut suami kamu. Ini namanya karma." Winda meletakkan kakinya di meja, tersenyum sinis.


Wanita yang sudah merusak kebahagiaan Sherlin, memisahkannya dari Ayahnya sejak kecil, meninggalkan ibunya menjadi tulang punggung keluarga menghidupi putri semata wayang.


Kebahagiaan keluarga yang dihancurkan oleh wanita tajir, hanya karena memiliki banyak uang merasa dirinya paling hebat dan berkuasa sehingga berhak merebut dan merusak kebahagiaan orang lain.


"Bagaimana rasanya kehilangan anak dan suami dihancurkan oleh menantu sendiri? inilah doa istri yang tersakiti." Winda memukul meja kuat, keluarga mereka berbeda, tidak akan membiarkan orang ketiga merusak keharmonisan.


Kedatangan Winda dan Kasih untuk meminta keadilan dari orang-orang yang sudah merenggut kebahagiaan Erlin, selama sepuluh tahun keluarga hidup dalam kesusahan karena orang serakah.


"Kalian mengambil hak anak yatim, harta yang dimiliki bukan hak kamu, tapi milik ibunya Lin. Harta dari peninggalan Clara, tapi dirampas manusia serahkan, bahkan suaminya juga kamu ambil." Kasih melangkah mencengkram kuat, meminta semua hak Lin dikembalikan.


Suara tawa terdengar, wanita cacat yang tidak tahu malu. Dirinya tidak akan mengembalikan apa yang selama ini sudah menjadi miliknya.


Kasih dan Winda juga tertawa, mereka merasa lucu melihat wanita tua dan tidak tahu diri. Winda sampai terpingkal-pingkal tertawa merasa konyol.


"Kamu ingin mati!" Winda berteriak kuat.


"Lakukan saja, aku tidak takut."


"Winda, wanita serakah tidak takut mati, tapi takut miskin." Kasih tersenyum lucu, dengan sukarela Kasih akan mengabulkannya.


Karena permintaan mereka tidak dituruti, maka Kasih akan bertindak dengan caranya. Mati bukan hal yang menakutkan, tapi jatuh yang membuat hidup seakan mati.


Kasih menggambil senjata, diarahkan ke lantai dua dan ditembak tanpa aba-aba. Api langsung berkobar besar melahap setiap sudut rumah yang Kasih bakar.


"Kalian akan menyesal."


"Kami tidak pernah meninggalkan jejak dalam kejahatan, inilah hanyalah peringatan. Kami akan datang kembali dengan serangan lebih besar, gerakan seluruh polisi, tidak akan pernah menemukan bukti apapun." Winda melambaikan tangannya, meminta Kasih mundur.


"Selamatkan apa yang bisa diselamatkan, jika ada yang masih ingin hidup segera berlari." Kasih memberikan ciuman jarak jauh sambil tertawa.


Kepanikan terlihat, seluruh maid berlarian keluar, kursi roda di dorong keluar, meminta satpam memanggil mobil kebakaran.

__ADS_1


Mobil Kasih sudah melaju pergi, meninggalkan satu orang yang harus bertanggung jawab, lanjut untuk memberikan pelajaran kepada dua manusia benalu.


***


__ADS_2