SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 LUKA TERDALAM


__ADS_3

Mendengar kabar duka Erik memutuskan langsung mandi, Billa berusaha bangkit menahan rasa ngilu bagian bawahnya.


Menatap Erik yang mandi dengan cepat, mengendong Billa ke kamar mandi, baru menceritakan jika ibu Kasih meninggal.


Billa langsung kaget, mengucapkan inalillahi wainailaihi rohjiun. Erik dan Billa menyempatkan untuk sholat subuh, mengabari bibik jika mereka langsung kembali.


Tanpa banyak bicara Billa langsung memasukan baju, juga keperluan, langsung menuju mobil yang sudah Erik siapkan. Erik juga tidak banyak bicara lagi, langsung masuk mobil, mereka berangkat saat matahari belum terbit.


Pergi ke Desa Kasih yang jaraknya cukup jauh, matahari sudah tinggi Erik menatap Billa yang memegang perutnya.


"Astaghfirullah Al azim, Billa maaf kamu belum makan."


"Tidak apa kak, kita pergi dulu untuk berbelasungkawa. Semoga kita tiba tepat waktu." Billa tersenyum.


Erik memberhentikan mobilnya, membeli makanan untuk istrinya yang terlupakan. Erik kebiasaan karena selalu bertindak darurat, jadinya fokus ke satu tujuan, lupa di sampingnya.


"Maafkan Billa kak."


"Kenapa minta maaf sayang, kak Erik yang minta maaf tidak memberi kamu makan."


Billa langsung menyantap makanannya, sesekali menyuapi Erik yang masih fokus menyetir.


Di rumah duka, Cinta tidak berhenti jatuh pingsan, bahkan jiwanya kembali terguncang melihat Ibunya menutup mata.


Kasih tiba bersama Ravi langsung meneteskan air matanya, melihat Ibunya sudah berpulang bahkan tanpa pesan.


Ravi mendapatkan panggilan dari Tama tengah malam, Ibunya meninggal mengabari Kasih jika sudah dekat rumah, begitu juga dengan Karin yang pergi bersama Karan.


Ravi langsung mengabari kedua orang tuanya, meminta menjaga Raka Rasih, pegi menyusul. Ravi pergi bersama Kasih terlebih dahulu.


Tangisan Kasih Karin bisa ditahan, tapi tidak dengan Cinta yang ingin mati bersama Ibunya, Tama meminta tolong Tian membawa Cinta, menjaganya selama proses pemakaman.


Cinta yang paling dekat dengan Ibunya, keadaan Cinta yang memang pernah mengalami gangguan jiwa akhirnya kumat kembali. Teriak, bahkan sampai harus dibius.


Tama memeluk Kasih Karin untuk tidak menangis, mengikhlaskan kepergian Ibunya, memakamkan jenazah, juga mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhir.

__ADS_1


Seluruh orang kumpul, proses juga sudah dilewati, Kasih menggenggam tangan Karin agar kuat, Tama memanggul keranda, bersama Ravi, Wildan, juga Karan.


Mobil Erik tiba, langsung membantu untuk membawa jenazah ke tempat pemakaman, di samping bapaknya Kasih.


Billa keluar menemui Vira, Bella, Winda yang menemani Tian bersama Cinta, Vira mengerutkan keningnya melihat Billa yang berjalan terlihat aneh.


Winda mengedipkan matanya kepada Vira, keduanya masih diam karena sedang berduka, kasihan juga melihat keadaan Cinta yang sudah diam seperti patung.


"Bagaimana keadaan kak Cinta kak Tian?" Billa mengecek keadaan Cinta yang air matanya terus mengalir.


"Ibu Cinta tinggal sama siapa? Cinta tidak punya siapa-siapa?" Cinta terus bergumam pelan.


Jum melangkah masuk melihat Cinta, menggenggam tangan Cinta menghapus air matanya. Sedih sekali melihat keadaan Cinta yang memang jiwanya rapuh.


Cinta membutuhkan dukungan dari orang terdekat, tangan Cinta menggenggam Tian, tatapan matanya kosong.


"Aku akan menjaga kamu Cinta, jangan pernah merasa sendiri."


"Aku wanita jahat, sehingga semua orang meninggalkan Cinta. Ibu juga pergi, Cinta pembawa sial." Cinta menangis sesenggukan.


Tian duduk di samping Cinta, Bella Billa, Vira Winda keluar. Hanya tersisa Tian dan Bunda Jum yang menemani Cinta.


Jum menatap Tian, menggenggam tangan Tian. Meminta Tian segera menikahi Cinta sesuai amanah ibu Cinta atas persetujuan Tian, Jum dan juga Bisma.


Cinta memang menolak karena tidak ingin menyakiti hati Bella, meminta waktu agar Bella tulus dengan ucapannya meminta Cinta menerima Tian.


Melihat keadaan Cinta yang sendirian, menikahkan Tian dan Cinta sebaiknya dipercepat. Tian mengagukan kepalanya, menyetujui keinginan Bundanya, menungggu keadaan Cinta pulih total, mereka akan segera membahas pernikahan.


Jum melangkah keluar, meminta Tian menjaga Cinta, Jum menemui Bella Billa, Vira dan Winda. Jum ingin Bella yakin dengan keputusan sehingga tidak ada yang tersakiti lagi.


"Bella bagaimana perasaan kamu kepada Tian?"


"Bella menggagap kak Tian kakak kandung Bunda, Bella yakin dengan perasaan Bella yang sekarang."


"Kamu tidak akan menyesal jika Tian menikahi Cinta?"

__ADS_1


"Mereka saling mencintai Bunda, lagian lebih baik kak Tian bersama kak Cinta sehingga keluarga kita satu, dan berdekatan." Bella tersenyum sangat yakin.


"Billa bagaimana dengan kamu?"


"Billa setuju, kak Tian memang mencintai kak Cinta, begitupun sebaliknya, sudah sebaiknya menikah. Kak Cinta juga butuh teman hidup yang saling menguatkan." Billa tersenyum yakin.


Vira melongo, Winda lebih kaget lagi, sejak kapan Tian dan Cinta menjalin hubungan. Setahu mereka Bella selalu menjadi wanita satu-satunya di dalam hati Tian.


Jika keduanya saling mencintai, berarti Tian mempermainkan hati Bella. Kehidupan cinta memang aneh, Vira langsung mengandeng Winda untuk melangkah pergi, keduanya diam di bawah pohon tidak mengerti arti cinta sebenarnya.


"Vir, kita sangat mengenal Bella, tapi kenapa bisa sejauh ini kekacauan hubungan dengan kak Tian?"


"Entahlah, Vira juga binggung, kita doakan saja Bella memang tidak punya rasa lagi, kak Tian dan Cinta hidup bahagia. Bagaimanapun juga Cinta kakaknya Kak Kasih dan Karin, berarti keluarga kita juga." Vira berpikir positif.


Wildan melihat Vira dan Winda duduk di bawah pohon sambil memakan buah jambu. Keduanya diam menatap ke depan, Wildan berdiri di depan langsung duduk melihat mata Winda dan Vira.


"Apa yang kalian berdua pikirkan?" Wildan menatap aneh.


"Kak Tian dan Cinta saling mencintai, Bella menjaga jodoh orang. Mereka akan segera menikah, tapi Bella terlihat baik-baik saja, juga terlihat bahagia menyambut kak Tian menikah." Vira mengigit jambu, masih fokus melihat ke depan.


Wildan tersenyum duduk di samping Winda, kepala Winda bersandar di dada kakaknya masih binggung soal cinta.


Bagi Wildan cinta sejati membiarkan orang yang dicintai memilih bahagianya, Bella terlihat bahagia hanya pencitraan, dia menyimpan luka di dalam lubuk hatinya paling dalam. Tidak ada yang tahu soal luka Bella bahkan dia sendiri tidak menyadari dirinya terluka.


"kak Wil, pacar baru Winda?" Winda memberikan ponselnya.


"Winda, kamu bukan Mommy yang pintar dalam memilih. Mommy wanita mandiri sedangkan kamu hanya gadis manja." Wildan menatap adiknya yang memiliki banyak pacar.


"Wildan, Vira jomblo, tolong carikan pacar."


"Sudahlah ayo kita masuk, berhenti membahas cinta, kita masih berduka, perbanyakan mengirim doa." Wildan berdiri, menarik Winda dan Vira.


"Kenapa kamu mirip Yusuf Wil?" Vira menatap aneh.


"Jika Yusuf selalu bicara seperti ini Vir, astaghfirullah Winda, Cinta terbaik ialah cinta kepada Allah, jangan pernah mencintai sesuatu melebihi kecintaan kamu kepadanya, kita semua hanya titipan, akan kembali kepadanya." Winda menepuk jidat, Vira menahan tawa.

__ADS_1


***


__ADS_2