
Pandangan mata Kasih jauh menembus bintang yang berada di langit malam. Kasih menghitung jumlah bintang yang tidak terhingga jumlahnya, air mata Kasih perlahan mengalir membasahi pipinya. Masih teringat jelas perdebatan Cinta dan ibu soal hubungannya dengan Ravi.
"Kak Kasih, are you okey."
"Winda!" Kasih kaget, seakan melihat hantu.
Senyum Winda terlihat karena berhasil mengagetkan Kasih, dia duduk dan berbaring di atas taksi mengikuti arah pandangan Kasih.
"Kabur lagi, Mami Reva sangat ketat tapi kamu masih bisa kabur."
"Winda bebas, yang ketat penjagaan kak Windy."
'Ohh iya ya."
Kasih tersenyum melihat bocah tengil, dia selalu berhasil mengelabui orangtuanya. Keberadaan Kasih juga sangat mudah dia ketahui, masalah yang sedang Kasih hadapi Winda juga tahu.
"Winda bisa membuat kak Kasih jauh lebih hebat dari Cinta, kakak punya bakat yang besar tapi memang tidak ingin diasah. Bahkan bantuan Winda juga selalu ditolak."
"Terimakasih Win, biarkan kakak dengan kehidupan yang sederhana. Cinta saudara kandung kak Kasih, aku sangat menyayanginya."
"Kak Kasih tahu tidak, jika Mami dulu mengejar cinta Papi sampai 6tahun baru bisa naik pelaminan."
"Kenapa?"
"Karena cinta butuh perjuangan, saat Papi tidak ingin melihat Mami dengan susah payah Mami masih bertahan, tapi saat Mami ingin pergi Papi yang mengejar. Karena mereka tidak mempunyai kepercayaan sehingga membutuhkan waktu lama."
Kasih tertawa, Winda memang dewasa dalam menyingkapi sesuatu. Walaupun dia nakal tapi kedewasaannya mirip dengan Mami, beda dengan Papi yang cemburuan juga manja.
"Winda, jika Mami Papi kamu butuh 6tahun, mungkin aku butuh waktu lebih lama lagi."
"Satu bulan saja belum berjuang, sibuk memikirkan tahun. Mommy dulu pernah pergi meninggalkan Daddy membuat luka untuk kak Ravi." Vira datang langsung ikut duduk sambil bibirnya manyun.
"Mommy dan Daddy pernah berpisah!" Kasih kaget, karena keluarga Prasetya sangat harmonis.
"Iya, saat kak Ravi dalam kandungan. Selama lima tahun tidak bertemu Daddy."
"Tapi sekarang Ravi sudah bahagia, biarkan semuanya menjadi masalalu."
"Bukan itu inti masalahnya!"
Kasih terdiam memandangi Vira yang melihat bintang, matanya fokus dengan kacamata bening juga masih menggunakan baju tidur.
__ADS_1
"Kak Ravi punya trauma akan perpisahan, dia tidak akan melepaskan kak Kasih dengan mudah jika sudah penting untuknya." Winda tersenyum, memandang Kasih sebentar, lalu melihat langit mengerakkan tangannya seakan menyentuh bintang.
Ketiganya terdiam, saat melihat dua bocah kembar berlarian, Bella dan Billa datang langsung naik ke atas mobil.
"Dasar Billa siput, lelet banget."
"Kak Bella mirip kura-kura."
"Sudah jangan bertengkar, kalian berempat tahu kak Kasih di sini dari mana. Sepertinya kalian juga tahu masalah kak Kasih."
"Dari Vira!" jawab BB bersamaan.
"Vira tahu dari mana?"
Pertengkaran Kasih dan Cinta membuat masalah dalam keluarga Kasih, ibu tidak bisa memilih salah satu. Cinta mengatakan kejujuran yang dia rasakan jika masih mencintai Ravi, satu-satunya lelaki yang selalu membuatnya tertawa, selama ini Cinta hanya bosan membutuhkan suasana baru.
berkali-kali Cinta coba mengelak soal perasaan, tapi hatinya semakin sakit. Cinta akhirnya menyadari jika masih mencintai Ravi, berharap kembali mendengar candaan Ravi. Tapi semuanya sudah menjadi milik Kasih, Ravi juga sangat berbeda jauh dari saat berpacaran dengan Cinta.
Mendengar kejujuran Cinta sungguh menyakitkan untuk Kasih, dia berpikir akan menjalankan amanah bapaknya dan belajar mencintai Ravi. Tapi belum sempat mereka melangkah lebih jauh, Kasih harus merasakan sakit mendengar pernyataan kakaknya.
Jika Kasih terus maju, Cinta akan terluka. Merusak persaudaraan mereka, jadi Kasih memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan dengan Ravi. Ibu sangat marah besar dengan keputusan Kasih tapi tidak ada yang salah. Karena keduanya putrinya, dengan penyesalan ibu datang menemui keluarga Ravi untuk membatalkan hubungan perjodohan.
"Billa pikir, pasti kak Ravi tidak terima."
"Kak Kasih, sebenarnya cinta tidak dengan kak Ravi?" Vira menatap tajam.
"Entahlah Vira, perasaan belum begitu yakin. Ravi seorang playboy."
"Kak Ravi orangnya seperti apa bagi kak Kasih?" Winda juga menatap tajam.
"Tampan, baik, lucu, Sholeh, kaya juga." Mendengar jawaban Kasih semuanya tertawa.
"Melihat kejadian ini, jika pada akhirnya Cinta yang menikah dengan Ravi. Kaka bisa terima?" Bella juga angkat bicara tapi masih fokus di tabletnya.
Kasih menyentuh dadanya, ada rasa sesak saat mendengar pertanyaan Bella. Kasih tidak rela, tapi dia tidak punya hak. Tapi rasanya sesak, sakit tapi tidak berdarah.
"Ternyata kak Kasih tidak menyadari sudah jatuh cinta, Cinta datang tanpa permisi kak."
"Apa aku cemburu?" Keempat bocah menggagukan kepalanya.
"Bella, kamu tahu banyak hal soal Cinta."
__ADS_1
"Iya, karena cintaku di tolak kak Tian. Katanya kami saudara tidak diperbolehkan memiliki ikatan selain adik-kakak."
"Kamu gila Bella, Tian memang kakak kamu."
"Beda ayah beda ibu, tidak salah kami menikah. Dasar Tian yang lebay, beraninya dia menolak cinta Bella Bramasta."
"Tian punya pacar?"
"Bukan hanya pacar, tapi tunangan." Billa tertawa, sedangkan Bella sudah menatap tajam.
"Sakit!" Kasih menatap bocah yang sudah jatuh cinta.
"Banget, tapi tunggu saja tanggal mainnya, akan Bella ledakan kepala tunangannya."
Kasih tersenyum, berbicara dengan bocah jenius juga sangat luar biasa membuat Kasih istimewa. Beginilah kedekatan mereka, Kasih menjadi tempat cerita, mengadu, berbagi, meminta pendapat, juga penasehat terbaik.
***
Di kediaman Prasetya Ravi menatap lukisan Kasih, Viana melangkah masuk mendekati putranya.
"Ravi, perjelas hubungan kamu dengan Cinta, jangan membuat selisih dalam keluarga Kasih."
"Apa yang ingin dijelaskan Mom, hubungan aku dan Cinta sudah berakhir beberapa tahun yang lalu. Mungkin aku pernah mencoba mendekatinya lagi, tapi tidak sampai mengajak jadian. Jika dia masih mencintai Ravi, sudah menjadi masalah dia, karena Ravi akan tetap mencinta Kasih."
"Apa yang akan kamu lakukan, keluarga Kasih membatalkan perjodohan."
"Tidak ada pilihan, menunggu pendapat Kasih. Jika dia tetap memutuskan meninggalkan Ravi maka dengan sangat terpaksa Ravi akan bermain kasar."
Viana menghela nafas, dia tahu Ravi masih menyimpan luka karena pernah berpisah dari orang yang dia sayangi. Perpisahan dengan Daddy, juga Kejadian satu tahun yang lalu cukup membuat Ravi terluka, karena kehilangan seseorang yang penting, wanita yang dia anggap adik tapi mencintainya Ravi tidak bisa menerimanya karena tidak memiliki rasa, dia meninggal karena kecelakaan, membuat Ravi trauma dengan darah.
"Ravi jangan gunakan cara satu tahun yang lalu, karena keegoisan kamu sampai ada korban nyawa."
"Ravi mencintai Kasih Mommy, beda dengan dulu. Mommy tahu jika Ravi sudah serius tidak bisa dihentikan. Tapi jika Ravi menolak tidak ada yang bisa mengubahnya."
"Mommy hanya mengingatkan kamu, jangan melakukan hal dosa. Dan jangan sampai Kasih terluka."
"Siap Mommy, calon menantu Mommy tidak akan lecet sedikitpun."
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
__ADS_1
***