
Suara langkah kaki berlarian terdengar, penjaga menatap tajam melihat seorang pemuda tampan yang berkeringat minta gerbang dibuka.
"Buka pak."
"Sudah punya janji dengan keluarga Bramasta atau Prasetya?" Satpam tidak mengenali jika pemuda yang berlarian sering datang ke perumahan.
"Saya adiknya Erik si dokter gila." Senyuman Erwin terlihat.
"Tunjukkan bukti." Satpam tidak bisa mempercayai ucapan orang baru demi keamanan keluarga.
Erwin menendang gerbang kesal, mengambil sebuah kartu dan menunjukkan identitasnya barulah dia diizinkan masuk.
"Nak Erwin, di mana mobil kamu?" seorang satpam yang mengenali Erwin langsung mempersilahkan masuk.
"Erwin? dari tadi ke mana saja? saya sudah jatuh miskin pak, soalnya kakak kejam saja menutup seluruh akses keuangan dan menarik kendaraan saya. Kak Erik, kamu manusia paling kejam." Teriakkan Erwin sangat besar, berlari kencang menuju kediaman keluarganya.
Pintu rumah Erik terbuka, suara Erwin berteriak kuat memanggil kakaknya.
"Kak Erik, kak kamu di mana? wah sialan." Kepala Erwin pusing langsung tidur di sofa.
Cukup lama dia berdiam diri, tidak ada satupun orang yang muncul. Pintu kamar di cek dan terkunci semuanya.
"Di mana mereka semua?"
Erwin berlari ke rumah Bisma, asisten kebingungan melihat Erwin datang mencari seluruh keluarga.
Bahkan seluruh rumah di datangi, tapi tidak ada satupun yang ada di rumah.
"Ke mana semua orang?" rambut Erwin berantakan, duduk di pinggir jalan melihat perumahan sepi dan kosong.
"Ada apa ini? handphone mati tidak tahu cara menghubungi kak Erik." Suara teriakan Erwin terdengar, duduk di jalan bersandar di pohon tempat biasanya keluarga santai sore hari.
Senyuman Erwin terlihat jika mengingat masa kecilnya, dulu dia yang paling sering diasingkan dan menjadi bully-an Vira dan kawan-kawan.
Karena Erwin lelaki satu-satunya di antara mereka, sedangkan Wildan tidak bisa dijadikan teman. Sekuat apapun Erwin mengejar Wildan dia tetap tidak dianggap ada.
Hanya Billa yang baik hati, selalu mengajarinya banyak hal. Berbeda dengan tiga monster yang selalu membuat masalah.
Demi bisa tetap dekat dengan yang lainnya, Erwin lebih pilih menjadi anak bodoh yang tidak tahu apapun.
__ADS_1
Meskipun sebenarnya Erwin tahu jika Wildan selalu memperhatikan, begitupun dengan Vira, Winda, Bella yang selalu menjaganya dari orang-orang yang ingin mendekati.
"Terkadang aku rindu masa kecil kita, kalian semua sudah menikah dan meninggalkan Win sendirian." Wajah Erwin terlihat sedih.
Menutupi kepintarannya dari kedua orangtuanya bukan hal yang mudah, sekarang Erwin mengerti kenapa kakaknya Erik, Wildan, dan Billa menyembunyikan kemampuan mereka, karena ingin tetap dianggap orang normal.
Diusianya yang masih muda Erwin memiliki kemampuan yang sama seperti Erik, dia tidak bisa beradaptasi dengan teman-teman seumuran, sehingga memutuskan untuk pindah negara.
Sikap posesif Papanya membuat kesulitan, hanya Steven yang mengetahui soal Erwin dan membantu menjaga identitasnya.
Karena tidak ingin diasingkan, Erwin menyembunyikan kepintarannya dan baru memutuskan menjadi dokter setelah satu tahun di militer.
Steven orang yang membantu Erik sekolah kedokteran, demi tidak mengecewakan Papanya dia sekolah kedokteran militer. Selesai sekolah dan menjadi dokter termuda, barulah Ammar dan Septi tahu jika putranya sekolah kedokteran.
Karena terlalu muda, dan suka bersenang-senang Erwin melarikan diri dan masuk ke rumah sakit.
Perlahan matanya tertutup merasakan angin sepoi-sepoi yang menenangkan, akhirnya Erwin tidur di bawah pohon sambil menunggu keluarganya pulang.
Satu persatu mobil memasuki gerbang perumahan, pengawal dan penjaga sudah menundukkan kepalanya melihat keluarga kembali.
Mobil sudah bersusun, Erik keluar dari mobilnya melihat adiknya yang tidur sambil tersenyum.
Bella dan Winda juga keluar melihat Erwin yang sudah menjadi pria tampan, meskipun sejak kecil dia memang tampan.
"Erwin." Ravi menatap Erik yang menatap tajam adiknya.
"Sudah aku katakan, kamu akan datang tanpa dicari." Erik mendekati Erwin, Billa langsung menahan suaminya untuk tidak memarahi Erwin.
"Kak Erwin masih muda, dia masih harus mencari jati dirinya." Billa meminta Erik lebih lembut ke Erwin.
"Ucel, ucel Rum pulang." Arum berlari kencang membuat anak-anak yang lain juga berlarian langsung memeluk Erwin yang masih tidur.
"Uncle Erwin, akhirnya Uncle pulang." Asih menatap Erwin yang tersenyum melihat anak-anak pengacau.
"Ini uncle Em."
"Uncel cama-cama, ucel kita cemua." Bulan memukul Em yang langsung melangkah mundur.
Erwin membuka matanya, melihat para bocah bertengkar. Tatapan para bocil laki-laki hanya diam saja.
__ADS_1
"Sampai kapan kalian bertengkar? Uncle sudah mirip gembel di sini." Erwin menutup mulut para wanita cerewet.
"Kenapa Uncle di sini? kenapa tidak tidur di dalam rumah?" Wira menggeleng kepalanya.
Erwin langsung berdiri, menatap Erik tajam langsung mengejarnya. Erik bukan lari langsung menendang kaki adiknya.
Keduanya langsung saling pukul, Ravi langsung tertawa bersama Tian melihat dua bersaudara yang bertengkar seperti anak kecil.
Septi menggelengkan kepalanya, langsung mengambil semprotan air langsung menyiram keduanya agar berhenti bertengkar memberikan contoh yang buruk.
"Mama, kak Erik jahat." Erwin memeluk mamanya dari belakang.
"Dia yang keterlaluan Ma, selama ini Erwin ada di rumah sakit tanpa sepengetahuan kita. Jika dia memang ada masalah seharusnya bicara sama Erik, bukan membuat masalah. Satu kesalahan kamu bisa menghancurkan masa depan kamu Erwin." Nada bicara Erik tinggi, kesal melihat tingkah adiknya.
"Masalah apa yang sudah Erwin perbuat, aku bekerja dan menjalankan tugas dengan baik. Erwin sudah besar kak, berhentilah untuk mengkhawatirkan Erwin." Tatapan Erwin juga tajam.
"Kenapa Erwin bisa masuk rumah sakit? tanpa sepengetahuan Tian?" tatapan Tian juga tajam, seharusnya pihak rumah sakit mengabari Tian jika ada dokter baru.
"Siapa orang dalam yang memasukkan Erwin?" Ravi menatap seluruh keluarga yang juga tidak tahu.
"Siapa yang punya pengaruh? Wildan, Tama Ar, atau kak Stev." Erik menatap tajam.
Wildan menggelengkan kepalanya diikuti oleh Tama dan dan Ar yang juga tidak mungkin bisa melakukanya.
Semua orang menatap Steven, satu-satunya orang yang bisa melakukan pasti Steven.
"Maaf, aku hanya menginginkan Erwin dewasa dengan caranya. Dia juga anak yang memiliki kelebihan sama seperti kamu Erik, dia mampu memerankan dua hal penting, sebagai tentara juga dokter. Erwin sudah sepantasnya menemukan tempat nyamannya. Kak Stev tidak salahkan?" Steven tersenyum, jika dia orang yang menjaga Erwin.
Ammar memijit pelipisnya, dua putranya memiliki kepintaran sama seperti dirinya hanya bedanya, Ammar mengungkap kemampuannya dan diasingkan, sedangkan Erik dan Erwin menyembunyikan kemampuannya agar tidak dianggap lebih.
"Ma, kak Erik gila. Dia menahan keuangan Erwin, bahkan kendaraan dan apartemen juga ditahan. Erwin berlari ke sini, lihatlah sisa uang Erwin hanya segini, karena kakak kejam."
"Aku tidak akan mengembalikannya." Erik langsung ingin pergi.
Erwin langsung berlutut, memegang kaki kakaknya meminta maaf dan berjanji akan menurut, dan berhenti membuat masalah.
"Jangan kejam sama adik sendiri kak, sayang kak Erik. I love piu." Erwin memelas membuat Erik menghela nafasnya.
***
__ADS_1
Follow Ig Vhiaazara