SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
BONUS PART 8


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit Bella dan Tian menghentikan langkahnya, Bisma dan Jum sudah ada di depan ruangan Bulan.


Mereka hanya berdiri, dan tidak melangkah masuk. Bella menatap suaminya dengan perasaan cemas.


"Bunda, Ayah." Tian memberikan diri untuk mendekat.


Jum menetes air matanya, langsung memukul Tian yang membiarkan Bulan tanpa pengawal. Cucunya yang heboh sekarang terbaring, dan tangannya terbungkus.


"Dari mana kalian berdua?!" Jum menatap marah.


"Diam Jum." Bisma menghentikan istrinya dengan nada yang sangat dingin.


"Siapa pelakunya Bella?" Bisma menatap tajam Bella yang jantungnya berdegup kencang.


Tian langsung ingin menjawab, tapi Bella menarik tangannya. Mereka sangat tahu bagaimana jika Bisma marah, meskipun Ayah mereka sangat hangat jika sudah marah tidak ada yang berani melawannya.


Bella dengan tenang mengatakan jika yang menyerang Bulan anak di bawah umur, meksipun tubuhnya memang terpaut jauh dari Bulan.


Sebelum ayahnya bertidak, Bella sudah mengamuk lebih dulu dan memukul orang tuanya sampai membalas imbang apa yang dilakukan kepada cucu Bramasta.


Dengan penuh kebohongan, Winda dan Vira juga membenarkan. Mereka tidak ingin masalah ini melibatkan para orang tua, apalagi Bisma yang sangat menyayangi cucunya.


"Bella ingin melihat Bulan dulu Ayah."


"Jangan, Winda kamu temui Ar yang sedang berbicara dengan Erwin, dia terlihat sangat cemas. Kamu tetap di sini Bella." Bisma menatap tajam ke arah dalam ruangan Bulan.


Di dalam ruangan bukan hanya ada Bulan dan Arum, tetapi sudah ada Embun, Asih dan twins V. Mereka sedang asik mengobrol.


"Kenapa tidak melawan? memalukan cucu Bramasta patah tulang." Tatapan Asih tajam, akan membalas dendam anak-anak yang menyerang.


"Arum rasa tidak perlu kak Asih, mungkin orang tua kita sudah bertindak."


"Sudahlah lagian rasa penasaran Bulan sudah terjawab." Senyuman Bulan terlihat menatap saudaranya yang sangat khawatir.


Vio langsung memikul tangan Bulan, rasa penasaran kakak perempuannya terlalu berlebihan.


Saat melakukan sumbangan di panti asuhan, Bulan melihat seorang anak yang tangannya patah, dia sangat penasaran rasanya.


Asih menepuk jidat, Bulan sudah gila hanya untuk merasakan menggunakan gift tangan dia rela dipukul.


"Lan, jika orang menggunakan kursi roda, kamu juga ingin mencobanya?" tangan Asih menutup mulutnya sungguh gila.


"Mungkin kak Bulan juga ingin tertabrak mobil, Vani yakin pasti langsung inalillahi." Bibir atas Vani terangkat, kesal melihat Bulan.

__ADS_1


Suara Bulan tertawa terdengar, dia tidak gila mendekati akhirat. Dia juga masih ingin hidup lama dan menikmati hidup, juga tubuh besar.


"Jangan lakukan ini lagi kak." Arum melotot, menyesal merasakan khawatir.


"Kalian pernah mendengar pepatah mengatakan, jika kamu belum mengalaminya tidak akan tahu rasanya." Bulan menyadari tindakan salah dan meminta maaf.


Jika Bulan tahu rasanya sakit, dia tidak mungkin diam saja. Terlalu mempercayai pepatah yang Ning katakan membuatnya patah tangan.


"Sakit tidak kak Lan?" Mata Vio menyipit mecolek sedikit tangan Bulan yang terbungkus.


"Kamu ingin mencobanya?" Senyuman licik Bulan terlihat.


"Tidak mau, kak Ning pernah berkata lebih baik tersakiti, daripada menyakiti. Awalnya Vio setuju, tapi melihat kak Bulan patah tulang Vio tidak setuju." Tubuh kecil Vio merinding sambil lompat-lompat.


Asih menghela nafasnya, Ning salah tempat untuk ceramah, sudah tahu cucu Bramasta dan Prasetya otaknya kelebihan.


Tatapan Bulan tajam langsung ingin menangis melihat Vani mencoret tangannya, Arum langsung berpaling menahan tawa.


Embun dan Asih sudah berjongkok tertawa, Vani memang tidak punya otak, tangan sedang sakit dia gambar pocong bertopi.


"Ini lucu kak Bulan." Bocah kecil cengengesan membuat Bulan emosi.


"Lucu kepala kamu, hapus tidak." Bulan memejamkan matanya.


Vani mengambil penghapus, tapi tidak bisa hilang seperti di buku gambar. Bulan sudah menangis merasakan tangannya sakit.


"Sakit, Ayah." Bulan memegang tangannya yang dipukul oleh Vani.


Tian langsung masuk melihat putrinya menangis memanggil, pelukan hangat Tian berikan kepada putri kesayangannya.


Asih sudah duduk di lantai tertawa sambil membekap mulutnya, tidak kuat menahan tawa melihat tingkah bodoh Vani.


Embun juga sama menahan tawa, menendang Rasih untuk berhenti. Jika Bulan mendengar bisa menangis lebih kencang lagi.


"Vani bodoh." Arum menepuk jidatnya melihatnya menangis melihat Bulan menangis.


"Ayah maafkan Vani ya, gambarnya belum selesai." Kening Vani berkerut ingin menyelesaikan gambarnya.


Bulan menangis lebih kuat lagyu membuat semua orang khawatir, Vio menarik tangan adiknya untuk keluar.


"Ada apa sayang bicara sama kakek?" Bisma mengusap air mata Bulan.


"Vani bodoh kakek, lihat tangan patah Bulan digambar pocong pakai topi, mana warnanya merah." Bulan mengusap air matanya.

__ADS_1


Bisma melihat tangan cucunya yang dibungkus, ada gambar dan tanda tangan Vani, sekuat tenaga Bisma menahan tawa.


"Dia pikir tangan Bulan buku gambar bisa dihapus, awas saja kamu Vani aku balas." Bulan mengomel.


"Dasar cucu Bramasta ada saja tingkah konyolnya." Bisma bergumam pelan.


Vira sudah berbalik badan tertawa memeluk Arum, Bella dan Winda juga sudah jongkok menutup mulut mereka.


"Nanti kita ganti ya sayang, pasti sakit sekali ya nak." Tian mencium kening putrinya.


Senyuman Bulan terlihat, mengatakan jika dirinya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikawatirkan, dia akan segera pulang dan bermain lagi.


"Maafkan ayah ya sayang." Tian menciumi tangan putrinya berkali-kali, sedangkan Bulan selalu mengatakan jika dia baik-baik saja.


Wildan dan Vira juga melihat Arum yang terlihat baik-baik saja, tapi masih membuat khawatir Ar yang gelisah soal kondisi Arum.


"Di mana kakak?"


Pintu terbuka, Arwin dan Virdan masuk menatap Arum yang tersenyum mengatakan jika dirinya baik-baik saja dan akan segera pulang.


Pintu terbuka kuat dan terbanting membuat semua yang di dalam kaget.


Bintang muncul, langsung mendekati adiknya. Tatapannya sangat tajam dan penuh emosi.


"Kamu bisa mengalahkan banyak orang, tapi kenapa kali ini bisa terluka? siapa yang melakukannya? kamu yang mengatakan atau aku yang mencarinya." Suara Bintang tinggi marah kepada adiknya.


"Bulan baik-baik saja, ini tidak menyakitkan seperti yang kak Bintang pikirkan."


Kepala Bintang mengangguk, langsung melangkah mundur. Bulan memanggil kakaknya yang pertama kalinya marah.


"Jangan balas dendam, Bulan kalah bukan karena dikalahkan. Kak Bintang tidak boleh menyakiti orang, besok Bulan boleh pulang." Bulan menatap Arum yang juga khawatir Bintang emosi.


"Remaja tujuh belas tahun, memukul anak lima tahun apa ini wajar. Ayah yang akan mengurus mereka atau Bintang yang akan bertindak." Langkah kaki terdengar meninggalkan kamar.


Bella dan Wildan saling pandang, langsung menatap Bintang yang bisa mengetahui padahal mereka menutupi identitas pelaku.


"Virdan, apa yang dilakukan kakak Bintang?" Vira menatap binggung.


"Apapun bisa dilakukan oleh kak Bintang melalui komputernya." Virdan langsung melangkah keluar.


"Ar, apa kak Virdan juga terlibat?" Vira menatap penuh tanda tanya.


"Emh ... Kaka Raka dan kak El juga terlibat. Mereka akan bermasalah jika menyakiti para wanita. Sebaiknya Papi segera bertindak, kak Raka sedang marah." Arwin juga melangkah pergi.

__ADS_1


***


FOLLOW IG VHIAAZAIRA


__ADS_2