SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 CINCIN BERDARAH


__ADS_3

Pihak keamanan langsung menarik seorang pemuda yang membawa benda tajam untuk ke luar, Wildan tidak diizinkan mendekat begitupun dengan Vira.


Pemuda yang mengamuk di acara pernikahan langsung dibawa ke kantor polisi, Vira sudah panas dingin.


Winda menatap tajam Vira, inilah akibatnya dulu Vira menjalin hubungan dengan pemuda yang tidak berakhlak, demi bisa menyakiti hati Wildan.


Karena keamanan yang sangat ketat, Wildan tidak bertemu dengan lelaki yang mengumpatnya. Vira juga langsung kembali ke kamarnya, karena tidak ingin terjadi masalah.


Keluarga masih ramai di tempat ijab kabul, Vira sudah berlari masuk kamar melihat ponselnya yang sudah penuh pesan dan panggilan.


"Vir, kamu gila ya? kenapa dia bisa tahu siapa kamu?" Bella menahan tawa, mengusap perutnya yang semakin membuncit.


"Sudahlah, terima nasib saja. Mereka tidak bisa masuk sampai acara selesai, lihatlah ketatnya penjagaan di luar hotel. Penjagaan kak Wil dan Ar sangat kuat." Winda meminta Vira tenang, keadaan mereka tidak seperti dulu yang bisa bebas.


Keadaan Billa yang sudah repot mengurus kedua anak kembarnya, belum lagi Bella yang sedang hamil muda.


Hanya tersisa Vira dan Winda yang sudah menjadi istri tidak mungkin bisa berpergian dengan mudah.


Wildan langsung membuka bajunya, mengganti dengan baju santai langsung melangkah keluar melewati pintu darurat.


Rasa penasaran Wildan cukup besar melihat seorang pria yang meneriakinya, langkah Wildan terhenti melihat Ar berdiri santai melihat kehebohan di luar hotel.


"Apa yang kak Ar lakukan?"


"Lihatlah banyaknya pasukan yang akan masuk malam ini, mereka komplotan dari Roma. Vira mungkin ada hubungan dengan salah satu dari mereka." Ar menatap Wildan yang menghela nafasnya.


"Berapa banyak mantan Vira? seharusnya dia tidak mengungkap identitasnya." Wildan menarik nafas panjang.


Senyuman Ar terlihat, menepuk pundak Wildan yang menatap kesal. Kekesalan Wildan karena kesalahan yang dia lakukan saat ijab kabul.


"Wildan malu sekali kak, jatuh harga diri."


Armand tertawa, dia merasa lucu melihat wajah Wildan yang menundukkan kepalanya merasa malu.


"Sudahlah, setiap orang pasti pernah melakukan salah. Jangan pikirkan apapun, fokus saja untuk malam ini."


Wildan menganggukkan kepalanya, menatap tajam ke arah luar yang penuh dengan orang.

__ADS_1


Niat awal Wildan ingin menemui pria yang meneriakinya, tetapi melihat Ar mengurungkan niatnya. Jangan sampai ada masalah sampai malam penjagaan harus semakin diperketat.


Suara langkah kaki terdengar, Wildan dan Ar langsung melihat ke arah lantai atas. Wildan menarik Ar untuk bersembunyi melihat Vira dan Winda yang saling dorong.


"Ingin ke mana kalian berdua?" Ar menatap punggung Vira dan Winda.


Keterkejutan terlihat, Vira tersenyum langsung memeluk Ar meminta bantuan kakaknya.


"Kak, lihat ponsel Vira penuh ancaman, bagaimana keadaan malam ini?" Vira takut Wildan tahu jika dia banyak menyakiti hati lelaki, akhirnya akan mengacau pesta pernikahan.


"Sudah jangan dipikirkan, lebih baik kalian beristirahat. Malam ini akan melelahkan." Senyuman Ar terlihat.


Wildan langsung keluar, menarik tangan Vira untuk kembali ke kamar mereka. Winda juga langsung ingin mengejar Vira, tapi ditahan oleh Ar.


Jantung Vira berdegup kencang, merasakan tangannya ditarik melewati tangga darurat.


"Capek." Vira langsung memeluk pinggang Wildan, meminta digendong.


Wildan langsung ke arah lift, menarik Vira masuk untuk menuju kamar mereka. Kepala Vira tertunduk, Wildan menatap tajam ke depan.


"Ayo masuk kamar, ingin melihat kado tidak?"


Senyuman Wildan terlihat, melihat Vira berlari lebih dulu masuk ke dalam kamar. Langsung duduk menunggu Wildan memberikan kado ulangtahun.


Pintu kamar dikunci, Vira senyum-senyum menunggu kado spesial dari Wildan untuk dirinya.


Senyuman Vira langsung lenyap saat melihat Wildan memberikan tabletnya, menunjukkan beberapa barang mewah. Vira bebas memilih, Wildan akan membayarnya.


Cepat Vira mengembalikannya, dia bisa membeli sendiri. Tidak harus menunggu hari ulang tahun, perasaan Vira rasanya sakit melihat Wildan yang tidak pernah paham apa yang Vira inginkan.


"Aku tidak butuh harta, sebaiknya Vira keluar saja."


Suara ketukan pintu terdengar, Wildan langsung membuka pintu menatap Maminya yang tersenyum.


Reva langsung masuk, menatap Vira yang kepalanya tertunduk sedih. Reva duduk di samping menantunya memasangkan sebuah gelang yang pernah Wildan berikan saat happy anniversary pernikahannya yang ke sembilan belas tahun.


"Vira, gelang ini sangat Mami sukai. Sudah lama Mami menunggu hari ini agar bisa memberikan kepada kamu, sekarang Vira pemiliknya. Sayang harta berharga ialah keluarga, jaga keluarga Bramasta dengan baik. Kamu menjadi pengganti Mami untuk menjaga keutuhan keluarga ini. Selamat ulang tahun Vira, Mami titip Wildan kepada kamu. Cepat berikan Mami cucu yang lucu agar bisa menggendong bayi lagi." Air mata Mami menetes, langsung memeluk Vira mengusap punggungnya.

__ADS_1


"Siap Mami, Vira akan menjaga amanah Mami. Tunggu cucu lucu lahir ke dunia ini, mungkin Vira tidak bisa sebaik Mami, karena wanita terbaik hanyalah Mami, tapi Vira akan terus belajar menjaga keutuhan keluarga Bramasta." Senyuman Vira terlihat, meneteskan air matanya memeluk Maminya.


"Kalian berdua lanjutkan, tapi ingat jangan bercengkrama dulu nanti kelelahan." Mami langsung melangkah keluar meninggalkan pasangan pengantin baru.


Wildan membuka laci, mengambil kado ulang tahun dari Ar langsung menyerahkan kepada Vira.


"Hadiah ulang tahun dari Ar."


Vira langsung membukanya, melihat kalung mewah yang ada nama Wildan. di belakang nama Wildan ada nama Vira.


Senyuman Vira terlihat, begitu romantis Ar yang sangat memahami perasaan wanita sangat berbeda dengan Wildan.


Kalung melingkar di lehernya bertulisan Vira, Wildan hanya diam saja menggenggam sebuah cincin yang ingin dia berikan sebagai kado ulang tahun sekaligus kado pernikahan.


"Vir ini."


"Vira keluar dulu, tidak ada yang harus kita bicarakan." Vira langsung melangkah pergi, Wildan menahan tangannya.


Tangan Wildan ditepis kuat sampai cincin yang Wildan genggam terlempar ke luar jendela, Vira kaget melihatnya.


Mata Wildan tertutup melihat genggaman tangannya melepas cincin yang sudah lama dia persiapkan untuk istrinya.


Vira langsung melangkah pergi ke kamar rias, meninggalkan Wildan sendirian yang menatap ke lantai bawah.


Cepat Wildan berlari ke bawah untuk mencari cincin yang jatuh, halaman yang sangat luas tidak mungkin bisa dengan mudah Wildan menemukan benda kecil yang terlempar dari lantai tertinggi.


"Astaga, bagaimana aku menemukannya? kenapa kita tidak bisa berhubungan baik Vir?" Tatapan Wildan melihat seseorang yang menatapnya tajam, sebuah senjata terarah kepada Wildan.


Keadaan yang sepi membuat Wildan tidak punya pilihan untuk berlari, dia sedang berurusan dengan seorang psikopat yang menggila karena cinta.


"Kamu mencari apa?"


"Kebahagiaan yang menghilang." Wildan menatap santai, tidak terlihat sedikitpun ketakutan.


Suara pertarungan terdengar, suara tembakan juga terdengar membuat banyak orang langsung berlarian ke arah suara.


Wildan berdiri tegak menatap cincin yang sudah penuh darah, Ravi langsung berlari kencang melihat Wildan penuh darah

__ADS_1


"Wil." Ravi langsung merangkul Wildan, tatapan Wildan masih terfokus kepada cincin yang berlumuran darah.


***


__ADS_2