SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 KU MENANGIS


__ADS_3

Tian melihat Erik berada di dalam ruangan kerjanya, wajahnya terlihat berantakan, sudah tiga hari Erik belum pulang.


Suara ketukan pintu tidak Erik hiraukan, Tian masuk menepuk pundak Erik, tatapan mata Tian penuh kesedihan. Erik mempersilahkan duduk.


"Ada masalah apa kak? Erik tidak menangani Laura, minta Dokter yang sudah Erik rekomendasikan."


"Rik ...." Tian berat hati untuk mengatakan kebenarannya.


"Kak Tian, keadaan semakin rumit, sore ini Erik harus menemui Billa, undangan dibatalkan untuk disebar. Soal Laura, bisa tidak jangan libatkan Erik lagi, maaf sekali kepala Erik rasanya ingin pecah, sekarang saja Billa tidak bisa dihubungi." Erik memijit kepalanya, lelah dengan masalah Billa yang sulit untuk diminta berkomunikasi.


Tian hanya duduk diam, tidak bisa mengatakan apapun, membiarkan Erik tahu sendiri. Ponsel Erik juga mendapatkan panggilan dari Mamanya, di minta untuk secepatnya pulang ke rumah.


Erik langsung menepuk pundak Tian meminta maaf, langsung pamit untuk pulang ke rumah. Tian hanya tersenyum meminta Erik berhati-hati.


***


Sampai di rumah Erik langsung berlari ke dalam mencari Mamanya, Septi tersenyum menyambut putranya kembali.


"Apa kabar kamu sayang? sibuk sekali di rumah sakit." Septi meminta Erik duduk, menyiapkan makanan untuk dia.


"Baik Ma, maafkan Erik yang jarang pulang."


Septi menyuapi Erik makan, Ammar juga muncul tersenyum mencium Septi, mengusap kepala Erik. Ammar menatap sedih putranya, tapi masih sempat tersenyum.


Selesai makan Septi pergi ke kamarnya, mengambil cincin mengembalikan kepada Erik. Tatapan mata Erik tajam langsung membuka tempat cincin, kaget melihat cincin pertunangan bersama Billa dikembalikan.


"Apa maksudnya Ma?" nada bicara Erik mulai naik.


"Billa membatalkan pernikahan, dia juga pergi liburan." Septi duduk menundukkan kepalanya, Erik langsung pergi begitu saja ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Ammar coba mengejar, tapi Erik langsung meletakkan cincin di meja, langsung memejamkan matanya untuk tidur. Ammar berusaha untuk berbicara, tapi Erik menolak, dia ingin beristirahat.


Septi menghentikan Ammar, membiarkan Erik menenangkan diri, Septi yakin putranya bisa mengatasi masalah hatinya.


Ammar mengabari Septi untuk berkumpul di kediaman Vi, ada rapat acara syukuran twins.


Seluruh keluarga kumpul di rumah Viana, membicarakan soal acara syukuran Rasih dan Raka yang akan dilakukan di Mansion Erik.


Acara pernikahan memang batal, tapi acara syukuran tetap dilangsungkan. Mengundang banyak anak panti asuhan, juga acara amal.


Viana mencium kedua cucunya, Rasih Raka sudah bisa tersenyum, Kasih juga sudah sehat. Keadaan ramai tidak membuat Raka dan Rasih terganggu.


Selesai membahas seluruh persiapan, panitia sudah pulang, hanya tersisa keluarga inti, Bima bersama Reva juga anak cucunya, Ammar Septi, Jum Bisma, Rama Viana, Ravi Kasih sudah mengantar keluarga Kasih untuk pulang, setelahnya Kasih membawa kedua anaknya untuk beristirahat.


Suara bantingan pintu membuat Wira teriak kuat, memeluk Daddy-nya. Erik menabrak pintu kuat, langsung membantingnya.


Langkah kaki Erik terhenti di depan keluarga, duduk menatap semua orang yang terlihat tenang saja, hanya dirinya yang hancur.


Air mata Erik menetes, sulit baginya menerima keputusan Billa. Seharusnya Billa meminta penjelasan, atau menunggu Erik.


Jum berjalan mendekati Erik duduk di sampingnya, menghapus air mata Erik memeluknya erat.


"Maafkan Bunda sayang, ini berat untuk Erik. Billa juga berat dengan keputusannya, maafkan kami yang tidak bisa menghentikan Billa." Jum meneteskan air matanya.


"Salah Erik apa Bunda? Erik tidak selingkuh. Demi menjaga hati Billa dan Tian Erik meminta tolong Wildan, meminta untuk menghentikan Laura. Aku pernah mengatakan soal Laura kepada Billa tapi belum detail, tapi saat tahu Laura adik Tian, Erik juga berusaha menjaga perasaan Tian. Akhirnya Tian tahu, Erik bernafas lega, akhirnya tidak terlibat dengan Laura, Tian turun tangan, tapi akhirnya Billa mengambil keputusan sendiri." Erik meneteskan air matanya, memegang dadanya yang terasa sesak.


"Bunda, Erik boleh kecewa tidak. Kenapa hati Erik merasa sangat dihina, Billa pergi, mengembalikan cincin kepada Mama, tapi tidak berbicara apapun kepada Erik. Jika dia marah, pukul Erik, tampar, caci maki Erik, hina Erik tapi jangan tinggalkan Erik." Erik tertunduk dalam, kecewa hancur dan sakit.


"Sesakit apa yang Billa rasakan sampai tega melakukan ini, apa aku begitu hina dimatanya?"

__ADS_1


"Sayang, maafkan kami tidak bisa menolong kalian berdua, tidak juga bisa menghentikan. Apapun yang terjadi tidak akan pernah mengubah hubungan kita." Jum mengusap punggung Erik.


"Iya Erik mengerti, sangat mengerti. Hanya saja akal sehat Erik tidak bisa menerimanya Bunda, dada rasanya sesak, sakit. Mendengar keputusan Billa mengakhiri pernikahan ini, Erik akan terima, Erik maafkan karena memang salah Erik." Tangan Erik menutup matanya tangisan sesegukan terdengar, Bisma mendekati Erik memeluknya, merasakan kesedihan Erik.


"Maafkan Uncle Erik, kamu pria baik. Uncle tahu kalian akan dipertemukan kembali jika sudah waktunya, sekarang berikan Billa waktu untuk menenangkan diri." Bisma mengusap matanya, tidak bisa menahan kesedihan Erik.


Septi juga sudah menangis dalam pelukan Ammar, Jum sudah sesegukan mencium tangan Erik meminta maaf, Viana memilih pergi tidak sanggup melihat kesedihan dan terpukulnya Erik.


Di antara yang lain, Erik yang paling tenang tidak pernah mengaku jika dia terluka, tapi kali ini Erik mengakui dia sedang hancur dan terpukul.


"Salah Erik besar sekali Uncle, Erik ingin sekali marah, tapi kepada siapa?" Erik menekan dadanya, memukulinya merasakan sesak.


Rama mendekati Erik mengusap kepalanya, menatap mata Erik, Rama pernah merasakan sesak kehilangan juga rindu.


"Kamu lelaki baik Rik, wanita yang memiliki kamu sungguh beruntung ditangisi oleh seorang lelaki. Uncle Rama pernah menyalahkan takdir, di sini rasanya sakit, sesak, tapi tidak terluka. Mencintai memang sangat sakit, tapi lebih sakit ditinggalkan, sedangkan kita ingin bertahan. Uncle ingin kamu kuat, walaupun sulit, jangan salahkan takdir, memohon dia agar hati kamu diberikan ketenangan. Hari ini boleh sebuah bencana, tapi percayalah besok kamu menemukan cahaya bahagia." Rama menguatkan Erik menghapus air matanya, mengusap dada Erik.


"Sakit Uncle, di sini sakit sekali." Erik meremas dadanya, teriak pelan tidak dapat menahan air matanya.


Wira mendekati Erik memberikan tisu, langsung duduk dipangkuan Erik memeluknya erat. Erik juga memeluk tubuh Wira.


"Aunty Bil nakal ya Uncle, nanti kalau pulang Wira cubit, seperti Uncle Wildan kalau nakal dicubit nenek." Wira mencium wajah Erik, mengelusnya meminta Erik berhenti menangis.


"Maafkan Aunty ya Uncle, kalau Mommy salah, Daddy yang selalu meminta maaf, memeluk Mommy mengatakan aku mencintai kamu, nanti kalau Aunty pulang, Uncle peluk, katakan Uncle mencintai Aunty." Wira menatap wajah Erik yang berusaha untuk tersenyum.


"Aunty tidak mencintai Uncle lagi, Aunty pergi karena membenci Uncle."


Erik pamit pulang ingin beristirahat, Reva menatap punggung Erik. Ravi ingin menemani Erik tapi langsung ditolak.


"Sabar Erik, wanita jahat itu harus membayar mahal air mata kamu." Reva menepis air matanya.

__ADS_1


***


__ADS_2