
Pagi-pagi Kasih bangun, dia kesiangan bahkan tidak sholat. Bangun tidur langsung keluar kamar, menuruni tangga melangkah perlahan sambil memegang perutnya. Membuka pintu kulkas, mencari es krim tapi tidak ditemukan, Kasih langsung keluar kembali ke rumahnya sambil jalan kaki.
"Rumah Bunda tutup, rumah Mami juga tutup, terpaksa pulang ke rumah." Kasih berjalan kaki, penuh senyuman.
"Aak, Kasih pulang. Boleh makan es krim ya?" Kasih langsung masuk, tidak menemukan Ravi.
"Iya boleh." Kasih langsung tersenyum.
"Terima kasih Daddy." Kasih membuka kulkas, banyak sekali es krim, Kasih mengeluarkan es krim, duduk di meja makan memakannya perlahan, sambil tersenyum.
"Enak ya nak, Mommy suka es krim, tapi kalian jangan memberitahu Daddy, pasti kita akan mendengarkan ceramah Daddy." Kasih mengelus perutnya.
"Daddy di mana? kenapa belum pulang? Kasih ingin dipeluk." Kasih memeluk dirinya sendiri.
Di rumah Vira kaget tidak melihat Kasih, langsung berlari keluar menuju rumah kakaknya, pintu terbuka melihat Kasih berbicara sendiri, tertawa, sambil memakan banyak es krim.
"Kak Kasih, nanti sakit perut. Masih pagi bukannya makan susu hamil, atau makan nasi." Vira mengambil seluruh es krim, memasukkan kembali ke dalam kulkas, memanggil maid langsung memarahinya.
Maid bahkan tidak mengetahui jika Kasih sudah pulang, karena Ravi tidak meminta maid masak.
"Kakak, sama adik sama saja, sukanya mengomel." Kasih cemberut, menatap sinis Vira.
"Kak Kasih sekarang mandi, terus minum susu dan makan nasi." Vira menatap tajam, Kasih langsung cepat melakukan yang Vira minta, tapi bibirnya cemberut, dalam hatinya mengomel.
***
Wildan datang bersama Karan, Karin langsung tersenyum melihat kekasihnya. Sikap cuek Karan muncul jika sedang bekerja, Karin tersenyum mengejek dirinya yang bisa jatuh cinta dengan pria sedingin Karan.
Di dalam kamar jenazah, Karan memperhatikan kondisi korban yang sulit dikenali. Wildan mengeluarkan laporan soal kecelakaan yang dilakukan oleh Hariz, Ravi memukul pintu kuat, Karin kaget bukan main melihat kemarahan Ravi.
"Bagaimana Karan, kita bisa memastikan dia bukan Erik, seluruh bukti mobil milik dia." Tian menatap Karan yang keluar dari kamar jenazah.
"Sulit dikenali, hanya bisa melakukan otopsi, Karan juga membaca laporan dari Tama soal kondisi mobil.
Karan melihat semuanya sudah direncanakan, di dalam mobil juga sudah diletakkan peledak, jangankan manusia, besi yang keras, batu gunung juga bisa menjadi abu, apalagi tubuh manusia.
__ADS_1
"Sebenarnya Hariz siapa Erik?"
"Menurut yang Karin ketahui, dia putra utama memiliki seorang adik yang masih remaja, Ayahnya selingkuh, Ibunya pernah stres karena adiknya meninggal bunuh diri, dengan meledakan mobilnya." Karin berdiri di samping Karan.
"Jangan ikut campur Karin, aku tidak ingin kamu terlibat."
"Aku mengetahui tentang keluarga Hariz, dia dulunya pemuda baik, tapi sejak Ayahnya mendua dia berubah beringas."
"Aku tidak perduli siapa dia, aku pernah mengatakan, jika salah satu keluarga terluka, aku sendiri yang akan membunuhnya."
Wildan melihat tabletnya, Hariz sudah berhasil ditangkap, Ravi langsung berlari untuk menuju lokasi, Tian juga cepat mengejar.
Kecepatan mobil Ravi sudah full, Tian meminta Ravi lebih pelan, berpikir dengan logika, tidak menggunakan emosi.
"Sudah terlambat kak, kita bisa saja menggunakan logika, jika belum terjadi, tapi sekarang sudah terlambat." Ravi memukul setir mobilnya.
"Membunuhnya juga tidak akan mengembalikan Erik, kita bisa menyiksanya. Dia bisa hidup seakan-akan mati."
"Tidak, dia memang sedang mencari kematian, berani memasuki kediaman kita, rencana untuk membunuh Erik sudah lama dia rencanakan."
Sesampainya di gedung, Ravi langsung berlari keluar. Masuk ke dalam mendengarkan suara Hariz yang sedang tertawa. Tian juga memanas melihat wajah Hariz.
Wildan, Karan, Tama dan Karin masuk ke dalam melihat Ravi yang sudah melayangkan pukulannya. Mendapatkan pukulan berkali-kali, tidak membuat Hariz berhenti tertawa.
"Erik, tidak ada sangkut pautnya dengan Ibunya, kenapa tidak kamu hancurkan Ibunya juga Ayahnya kamu." Ravi mencekik kuat.
Tian langsung menarik Ravi, tatapan Hariz tajam melihat Ravi.
Hariz tersenyum satu bulan yang lalu, dia sudah membunuh Ayahnya dengan memberikan racun, Ibu Erik menjadi tersangka, tapi Erik menolongnya, membuktikannya tidak bersalah. Hariz juga mengatakan Ibu Erik meninggal bersamaan dengan Erik, saat kematian Erik, Hariz mengirimkan foto kematian Erik, baru membunuh Ibunya Erik dengan gantung diri.
Ravi dan Tian sangat kaget, Hariz benar-benar gila. Hanya karena Ayahnya menjadikan dia seorang pembunuh.
"Jangan memaksa sebuah cinta, jangan salahkan Ibunya Erik, dia kotor di mata lelaki kotor, tapi dia akan menjadi wanita terhormat, jika dia berada ditangan orang yang terhormat." Karin menatap Hariz, berjalan mendekatinya.
"Ayah kamu tidak selingkuh, sebenarnya dia bukan selingkuh, tapi Ibu Erik cinta pertamanya, dia orang yang meminta Erik dilahirkan, tapi Ibu kamu yang jahat, membuat cinta mereka terpisah, Ibu Erik merasa dikhianati sehingga menjadi orang jahat, Erik korban dari kejahatan kalian semua." Karin meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Bohong Ibu wanita terhormat, Ibu Erik wanita kotor."
"Coba kamu ingat Hariz, berapa kali kamu melihat ibu kamu bersama lelaki lain, dia selalu mengatakan saudara, sebenarnya dia Ayah kandung kamu, juga Ayah kandung adik kamu, kalian satu ibu, tapi beda Ayah."
Tawa Hariz terdengar, dia tidak pernah mempercayai ucapan siapapun, baginya Ibunya yang terbaik.
"Bodoh," Karin menunjukkan video, dirinya dan Kasih yang saling menjelaskan keadaan untuk bertukar posisi, Karin dan Kasih mengenal keluarga Hariz, tapi yang lebih banyak tahu Kasih, karena sikap Kasih yang menyukai tantangan, membuatnya mengetahui banyak hal, tapi tidak pernah ikut campur.
"Aku tidak tahu persis, tapi kakakku Kasih selalu menjelaskan dengan detail, agar aku tidak terkejut saat bertemu dengan orang yang kak Kasih kenali."
"Tidak mungkin Ibu berbohong." Hariz mulai berpikir.
"Satu hal lagi Hariz, kematian adik kamu bukan kesalahan Ayah kamu pergi dengan wanita yang dia cintai, tapi menjadi korban seksual, Ayah kandung kamu."
"Bohong! kamu bohong!" Hariz teriak kuat, tidak mempercayai ucapan Karin.
"Tidak ada gunanya sebuah kebenaran, aku tidak akan membebaskan dia, setidaknya Erik harus melihat kamu tanpa nyawa." Ravi melayangkan pukulan kuat, Tian ingin menghentikan, Tama menahan Tian.
Ravi terus melayangkan pukulannya, Tian berteriak untuk berhenti. Darah sudah mengalir, Karin berlari ke dalam pelukan Karan, Ravi yang punya trauma dengan darah, tidak terpengaruhi, tangannya penuh darah.
"Cukup kak, jika kak Erik ada di sini, pasti akan bersedih jika tahu, sahabatnya, adiknya menjadi seorang pembunuh, kak Ravi juga harus ingat, ada istri dan anak di rumah." Wildan bicara kuat, Ravi terduduk membayangkan Erik yang selalu merangkulnya.
Air mata Ravi mengalir, tawa dan canda Erik masih menggema. Dalam satu bulan Ravi kehilangan banyak orang yang dia cintai, Erik bukan hanya sahabat dalam suka dan duka, tapi orang yang berdiri di depan Ravi untuk menjaganya.
Erik selalu mengatakan, kita sahabat, saudara, bukan karena ikatan darah, kita lebih kuat dari sebuah ikatan, tidak akan pernah terpisahkan kecuali maut.
Tian merangkul Ravi yang menangis, bahkan Tian tahu, Erik masih menyimpan mobil-mobilan pemberian Ravi, robot dari Tian, bahkan boneka dari Windy. Air mata Tian juga tidak tertahankan.
"Dek, ayo bangun, kita antar Erik untuk terakhir kalinya." Tian bangun bersama Ravi.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
__ADS_1
***