SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 TANGISAN BINAR


__ADS_3

Suara tangisan Binar terdengar sampai ke dapur, Jum langsung berlari melihat Binar yang menangis sesegukan dalam pelukan Billa.


"Ada apa Bella?"


Bella hanya menggelengkan kepalanya, masih menatap Binar yang terlihat terguncang.


"Kak Binar tenang, bagaimana Billa menjelaskan jika kak Binar sendiri tidak bisa menenangkan diri kak Binar" Billa meneteskan air matanya.


Binar terdiam betapa bahagianya dia saat mengetahui dirinya hamil, berpikir menjadi awal kebahagiaannya. Pertunangan yang sudah dilakukan, hanya menunggu waktu yang tepat untuk menikah secara hukum, tidak pernah Binar bayangkan akan melihat suaminya, Ayah dari anaknya mengenalkan wanita lain sebagai istrinya, pernikahan juga sudah ditetapkan.


Binar meminta pembelaan dari keluarga, tapi dia dihina, dikatakan wanita murahan, menjual diri di jalanan, anaknya anak haram.


Luka Binar mendapatkan penghinaan belum cukup, dia harus bertahan hidup bekerja demi anaknya, berharap nasib baik masih berpihak. Dunia boleh menghujatnya, tapi anaknya harus hidup dengan layak.


Berbulan-bulan Binar hidup di dalam rumah kecil, makan seadanya. Kebahagiaan Binar semakin hancur dia dipecat dari pekerjaannya yang memberikannya kehidupan bersama suaminya, Binar berjuang mencari pekerjaan demi biaya persalinan.


Pertemuan dengan Maria, membuatnya memiliki harapan, tapi harapan Binar salah, bayinya dikeluarkan secara paksa, bahkan meninggal di tangannya sendiri.


"Binar membunuh anak Binar." Mata Binar melihat tangannya, meletakkannya di lantai, langsung memukulinya, Tian berlari langsung menahan Binar memukuli tangannya sendiri.


"Binar Ibu yang jahat." Tangan Binar menggenggam kuat, Billa meringis kesakitan, karena dia membantu Binar melepaskan tangannya agar tidak terluka.


Bisma meminta Billa menjauh, menggenggam tangan Binar, membiarkannya mencengkram kuat tangan Bisma.


Bibir Binar bergetar melihat Bisma, air matanya terus mengalir dengan deras, Tian sudah menangis tidak tega melihat Binar.


"Kenapa kamu seperti ini? kemarin kamu sudah berjanji ikhlas, tapi kenapa sekarang menyakiti diri sendiri? jika kamu terus seperti ini tempat kamu bukan di sisi kami, tapi rumah sakit jiwa." Bisma menepis air mata Binar.


"Pa, kenapa membuang Laura? Ma, kenapa membenci Laura? Mama jahat." Binar menatap Bisma dan Jum tajam.


"Harta membuat Mama lupa diri, Laura sendirian Ma, mimpi Laura hancur, tapi Laura bersyukur mendapatkan beasiswa, bekerja di tempat yang nyaman, mimpi Laura hanya ingin memiliki keluarga, jatuh cinta, tapi ternyata Laura juga di campak kan." Binar tertawa merasa lucu dengan dirinya.


"Nama kamu Binar, ingat nama kamu Binar." Bisma menangkup wajah Binar yang terus menangis.


"Ayah."


"Iya ini Ayah, kamu punya Ayah yang akan memberikan jalan kebahagiaan untuk kamu, tapi Binar yang harus mengumpulkan niat untuk bahagia, kasihan Bunda menangis, kakak adik kamu menangis melihat kamu seperti ini."

__ADS_1


"Bella tidak." Bella menatap tajam, Winda menutup mulut Bella, Vira menjitak kepala Bella.


Binar tertawa mendengar ucapan Bella, menggenggam tangan Bella, kening Bella berkerut siap menonjok jika Binar menyerangnya.


"Bel, aku wanita jahat yang membunuh anak sendiri."


"Iya kamu memang jahat, bukan hanya jahat, tapi bodoh, kamu tidak pantas menjadi seorang ibu."


"Bella!" Jum teriak kuat, menatap Bella yang ucapannya menyakitkan.


"Aku tidak pantas hidup."


"Ya sudah mati saja, ingat Binar kamu penyebab Erik dan Billa hampir batal menikah, setidaknya kamu jangan menjadi beban dalam keluarga kami. Bunda Ayah Billa Tian sangat menyayangi kamu padahal baru mengenal kamu, bersyukur kamu diselamatkan oleh keluarga ini, pikirkan jika punya otak. Kami mempertaruhkan nyawa, Billa melepaskan Erik agar kamu selamat, tapi apa yang kamu lakukan, sudah gila."


"Bella benar, kami pergi mempertaruhkan nyawa menangkap Maria, mengungkap kejahatannya. Winda hampir celaka berada di dalam laser sampai muntah darah, Bella juga hampir tertembak, Yusuf bahkan sudah tertembak, setidaknya hargai perjuangan kami. Kami merasa kalah jika kamu harus mengalami depresi, sampai gangguan jiwa, sia-sia perjuangan kami." Vira meneteskan air matanya.


"Kak Binar, lupakan yang menyakitkan, buatan cerita baru bersama kami, Billa sayang Kak Binar, jika kak Binar sudah tenang, baru kita berbicara." Billa menerima suntikan dari Erik, langsung ingin menyuntiknya.


"Bening siapa?" Binar menatap Billa yang langsung memberikan suntikan kepada Erik.


"Bening, putriku."


"Iya kak, dia putri kakak, cucu pertama keluarga kita."


"Bagaimana keadaannya saat kalian menemukannya?" Binar menatap tajam Billa.


"Dia baik-baik saja, dalam keadaan sehat, berada di tabung, dijaga dengan baik, tubuhnya gemuk, wajahnya cantik, bibirnya mungil, matanya memancarkan kecantikan yang luar biasa. Saat pertama melihatnya kita langsung tahu dia putri kak Binar, langsung kita berikan namanya Bening." Winda mengoceh.


Binar langsung berdiri mencari bening, Bella menatap Winda yang berbohong tidak berdosa, masih bisa tersenyum.


"Uncle, Winda berbohong." Bella Vira dan Billa menunjuk Winda.


Bima tersenyum meminta Winda mendekat langsung memeluknya, Winda mencium pipi Bima, sikap manjanya mulai muncul.


"Berbohong demi kebaikan tidak apa ya, Papi."


"Siapa yang mengajari kamu?"

__ADS_1


"Siapa lagi, Winda ingin digendong Papi. Ingin tidur dalam pelukan Papi."


"Sudah, sikap manjanya ratu drama kembali."


Semuanya mengejar Binar, melihat Binar yang menemui Bening. Sedangkan Winda sudah minta gendong, Vira juga memeluk Daddy-nya.


"Bella peluk siapa, Ayah Bunda sibuk mengurus putri mereka. Uncle minta gendong." Bella memeluk Bima, meneteskan air matanya, Bella selalu menangis mengadu kepada Bima.


"Bella kamu sudah dewasa, semakin cerdas. Kamu wanita yang kuat."


"Maafkan ucapan Bella yang kasar Uncle, Bella tidak bermaksud menyinggung." Bella memeluk erat Bima, Winda menarik tangan Bella untuk melepaskan Papinya. Bima langsung memeluk keduanya.


Tama duduk memeluk Bening yang sedang tidur, Binar mendekat langsung menatap Tama yang cuek saja.


"Bening putriku." Binar duduk di samping Tama, mengelus wajah Bening.


"Aku akan memberikan Bening, tapi kamu harus berjanji satu hal." Tama tidak menatap Binar, tapi menatap Bening.


"Janji apa kak Adit?"


"Aku Ayahnya, jika Bening bertanya soal Ayah ingatkan Bening tentang aku, surat kelahiran Bening juga aku Ayahnya, jangan pernah kamu biarkan ada lelaki lain yang dia panggil Ayah."


"Baiklah, Binar akan mengatakannya, jadi sekarang Bening bersama Bunda." Binar mengambil Bening, tapi langsung menangis.


"Bening jangan menangis, Ayah pergi untuk bekerja. Ayah pasti pulang, bermain lagi dengan kamu ya sayang, baik-baik sama Bunda." Tama langsung berdiri ingin pergi, tangisan Bening langsung kuat. Binar langsung berdiri menenangkan putrinya.


"Sayang, sini sama Nenek. Ayah pergi kerja hanya beberapa hari." Jum menenangkan Bening, memberikan susu, tapi tangisan semakin kuat.


"Mampus, bagaimana kalau Bening ingin tidur bersama Ayah dan Bundanya. Jadinya yang malam pertama Binar Tama bukan Billa Erik." Vira mengoceh membuat semua orang melotot melihatnya.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***

__ADS_1


__ADS_2