
Sudah dua hari panas Arum tidak turun, Virdan juga sudah dirawat karena mengalami muntah membuat keluarga khawatir.
Billa masuk melihat keadaan Arum yang belum bisa ditemui orangtuanya, dia diawasi oleh dokter muda yang tampan.
"Bagaimana kondisinya dek?"
"Baik, insyaallah segera membaik dan dirawat biasa." Senyuman terlihat, mengusap kepala Arum yang tubuhnya mulai kurus.
"Kasian si centil harus diinfus, cepat sembuh ya sayang, kasihan Umi sama Abi. Kedua Kaka kamu juga sakit, Arum harus sehat kembali." Billa tidak bisa menahan kesedihannya.
Tangan Dokter muda di samping Billa mengusap punggungnya, meminta Billa menunggu beberapa jam lagi. Arum masih kecil, harus diberikan nasihat secara perlahan.
Sejak bayi menjadi yang utama, membuatnya kehilangan membentuk sikap yang menutup diri, karena menghindari rasa sakit lagi.
Anak kecil jauh lebih peka dari orang dewasa, dia bisa dengan mudah mengetahui orang yang menyayanginya, membencinya.
Bahkan dia bisa tahu ekspresi orang terdekatnya saat bahagia dan bersedih, kepekaan anak kecil sangat kuat, dia bisa mengigat hal yang tidak penting tetapi selalu membekas.
"Sementara aku akan menjaga Arum, minta keluarga untuk bersabar sampai emosi si kecil stabil. Dia sakit karena amarahnya terlalu besar."
"Baiklah, kak Billa percaya sama kamu. Hubungan Mama Papa sebelum mereka khawatir, karena kamu melarikan diri dari rumah sakit militer." Tatapan Billa tajam memberikan ancaman, langsung melangkah keluar untuk menemui keluarga.
Winda mendekati Billa, menanyakan perkembangan putrinya. Billa hanya mengatakan Arum baik, tapi masih belum stabil.
"Kapan kami bisa melihat Arum?" Ar terlihat sangat cemas kepada Putri semata wayangnya.
"Akan Billa kabari kak, mohon bersabar."
Winda langsung menangis, ingin sabar seperti apa lagi. Winda sudah cukup sabar untuk menunggu, sudah dua hari tidak melihat Arum rasanya Winda tersiksa.
Vira yang menggunakan kursi roda juga menangis, ingin melihat putrinya Arum. Rasa bersalah juga Vira rasakan, mereka selalu mengatakan Arum yang pertama, tapi di hari ulangtahunnya dia diduakan.
"Bagaimana keadaan Virdan dan Arwin?"
"Panas turun, kondisi mereka berdua sudah stabil. Sudah bisa bermain bersama Wira, tersenyum melihat candaan kakaknya." Erik melihat sekilas ke kamar rawat Arum.
Sudah larut malam, Winda hanya duduk bersama Ar menunggu di depan kamar Arum. Sesekali Ar juga mengawasi kondisi putranya.
"Maafkan Winda, belum bisa menjadi ibu yang baik. Tangan aku terlalu ringan, sehingga menyakiti putri yang sangat aku cintai." Air mata Winda menetes.
Tangan Ar langsung merangkul istrinya, Ar sangat mengerti Winda tidak sengaja. Dia terbiasa memukul apapun yang mengejutkannya, tindakan Winda karena rasa kaget.
__ADS_1
Di dalam ruangan Arum sudah bangun, dan tidak bisa tidur. Hanya ada satu Dokter yang menemaninya.
Senyuman Arum terlihat menatap Uncle yang hanya satu kali mengunjungi ketika dirinya lahir, suara lembut khas Dokter terdengar menunjukkan foto di ponselnya.
Dari balik foto terlihat seluruh keluarga inti, Arum melihat daftar bayi dari masa ke masa sampai akhirnya kelahiran Arum, Arwin dan Virdan juga menjadi hari berduka yang bersejarah karena pertama kalinya kehilangan bayi.
Saat kelahiran Wira sangat menegangkan, cucu pertama yang bersejarah dan lahirnya Wira penuh darah, kelahiran Rasih Raka juga sama hebohnya, karena bayi hampir terkena racun.
Munculnya Bening yang hampir meninggal di dalam sebuah lab, hanya kelahiran Elang dan dan Embun yang cukup tenang.
Semuanya menganggap Elang pria yang memiliki derajat tinggi, bisa melebarkan sayap menjaga keluarga. Embun sangat cantik, wajahnya menenangkan seperti Embun di pagi hari.
"Inyi Lan, Rum." Senyuman Arum terlihat menunjuk ke arah foto bayi.
"Iya sayang ini Bulan dan Bintang, mereka lahir paling lucu karena tidak menunggu dokter lagi, Tidak heran Bulan bar-bar, Bintang juga langsung keluar dadakan, karena mendapatkan tendangan darinya." Suara tawa pelan terdengar.
"Ancel Rum."
"Iya ini foto Uncle saat kamu bayi, tampan tidak?"
Arum menganggukkan kepalanya, menunjukkan tangannya yang masih diinfus. Mencari Umi Abinya, tidak melihat keduanya menemaninya tidur.
"Besok ketemu Umi Abi ya sayang, sekarang Arum tidur bersama Uncle." Senyuman terlihat, hukuman untuk Winda tidak bertemu anaknya beberapa hari, karena sudah berani menyakitinya.
Arwin dan Virdan sudah tidur di sampingnya, suara tangisan Vira dan Winda tidak bisa diam membuat semuanya merasakan sedih melihat kedekatan tiga anak yang bisa dibilang kembar tiga.
"Maafkan Umi ya nak ya, janji tidak marah lagi."
"Bohong." Ar menahan tawa, tidak ada sejarahnya Winda mengalah kepada Arum, menyesalnya hanya satu hari saja.
"Aku mimpi Arum sama anak kecil, aku tidak rela Vivi mengambil Arum."
"Jangan bicara sembarang sayang, mungkin Vivi hanya menyapa saja. Dia merindukan saudaranya." Wildan mengusap punggung istrinya.
"Sudah jangan ribut, jadikan pelajaran. Terutama kamu Winda, jangan main pukul sampai Arum sakit." Rama menegur dua putrinya yang mulai bertengkar.
"Suara Vira teriakannya besar, aku kaget."
"Kamu juga teriak Winda, suara kamu lebih melengking." Tatapan Vira tajam sambil mengusap air matanya.
"Aku mengkhawatirkan twins V, tidak terpikirkan juga Arum bisa marah besar."
__ADS_1
"Aku juga ...." Vira memukul punggung Winda.
"Stop! jangan mulai ribut lagi. Jika tidak para nenek yang ribut kalian, jika tidak kalian anak-anak. Berikan ketenangan satu hari saja." Suara Wildan mulai tinggi menatap tajam.
Tatapan Viana dan Reva langsung tajam, mereka tersinggung dengan ucapan Wildan. Asih, Ning, Embun juga terkejut mereka juga merasa disindir, padahal mereka hanya makan tidak bertengkar.
"Kakak." Arum membuka matanya, memeluk lengan Arwin yang tidur di sampingnya.
"Cayang, akit ya dek."
"Itu kakak." Tatapan Arum diikuti oleh semua orang, Virdan langsung menutup mata adiknya sambil tersenyum.
Mengusap kepala Arum, Wira juga mendekat memperingati Arum jika kakaknya ada tiga Wira, Arwin dan Virdan, kakak sepupunya ada Raka, Elang, Bintang dan Tiar. Kakak perempuannya Rasih, Bening, Embun dan Bulan.
"Sekarang Arum harus mengigat hanya mereka saudara kita, kamu juga memiliki adik Viona dan Vania."
"Itu kakak temani Rum."
Ar tersenyum langsung menggendong putrinya, mencium keningnya karena sangat khawatir, tatapan Arum melihat Mami dan Uminya yang masih menangis.
Suara tangisan twins V terdengar, Arum langsung melihat ke arah boks bayi melihat baju yang dikenakan dua bayi.
"Jaju Rum."
"Bukan sayang, itu baju mereka yang dibelikan oleh Daddy Stev." Winda langsung deg-degan.
"Jaju Rum na?"
"Ada, ini baju baru Arum." Vira menunjukkan baju yang baru dibeli oleh Maminya.
Arum melihat twins menyusu, Winda langsung mengatakan jika itu bukan susunya Arum, tapi memang milik twins V.
"Sayang, kenapa kamu tidak ingin berbagi sesama saudara? berbagi itu baik." Ar bicara sangat lembut mengambil susu yang langsung ditolak.
Arum tidak ingin meminum ASI lagi, dirinya sudah besar dan memberikan ASI-nya untuk twins yang membutuhkan lebih banyak ASI.
"Arum yakin tidak ingin nen lagi? Bulan masih nen."
"Dak, Lan cicip aja." Bulan melepaskan botol susunya merasa malu.
"Masih marah sama Mami, maaf ya sayang. Mami salah." Vira mencium wajah Arum tidak bisa menahan air matanya.
__ADS_1
Wajah Arum masih lesu, menatap twins yang sudah diam. Sesekali matanya mencari seseorang, melihat kedua kakaknya yang tangannya bekas infus.
***