SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 KEMBALI KE TANAH AIR


__ADS_3

Jadwal kepulangan sudah Wildan tentukan, Vira menarik kopernya menghela nafasnya berkali-kali.


Wildan menunggu Yusuf kembali dari museum, Yusuf tidak bisa kembali bersama Wildan karena masih ada pekerjaan.


"Wil, maaf lama."


"Tidak masalah kak, tolong antar kita ke bandara." Wildan menarik kopernya.


"Aww ... Winda." Yusuf menatap kakinya yang terluka karena Winda mendorong kopernya.


"Sayang, kenapa kamu tidak ikut pulang?" Winda meletakkan tangannya di leher Yusuf.


"Apa yang kamu lakukan?" Yusuf melepaskan tangan Winda, menarik kopernya langsung melangkah ke luar rumah.


Vira menggelengkan kepalanya melihat Winda yang dari pagi sudah menjahili Yusuf, terkadang Vira juga merasakan kasihan melihat Yusuf.


"Jahil sekali Win." Vira melewatkan Winda yang bejalan pelan.


Winda mendekati Yusuf yang meletakkan koper di bagasi, menatap tajam membuat Yusuf mengerutkan keningnya.


"Kenapa kamu menolak merasa jijik sama aku? Amin kamu jangan lupa ibu kamu ...." Winda melotot melihat Yusuf menutup mulutnya.


"Tidak perlu kamu ingatkan, aku tahu. Tunggu kita menikah, baru aku bersedia menyentuh kamu." Yusuf tersenyum melangkah pergi masuk ke mobil.


Winda langsung memukul mobil, masuk ke dalam mobil duduk di samping Yusuf.


Wildan masuk menatap Winda yang perang tatapan dengan Yusuf, Vira hanya tersenyum melihat Winda yang selalu Yusuf abaikan.


"Win, kamu harus percaya rasa cinta dan benci beda tipis. Di dalam kepala kamu hanya ada dia, dia dan dia." Vira tersenyum.


"Benarkah, kamu mencintai aku Amin. Sudah siap memiliki anak dari wanita seheboh aku." Winda menyentuh wajah Yusuf, tapi langsung ditepis.


Vira menahan tawa, Wildan hanya menggelengkan kepalanya saja melihat adiknya yang jahil, tidak tahu saja dia pesona Yusuf yang bisa membuatnya naik darah.


Perjalanan cukup lama, tapi terasa sebentar karena mendengar Winda dan Vira bercerita, dari A sampai Z.


Sesampainya di bandara Yusuf tidak turun, langsung memalingkan wajahnya dari Winda yang berusaha mempermainkannya.


Winda mencium tangan Yusuf, Vira memukul kepala Winda karena merasakan geli ulah sahabatnya yang konyol.


"Abi, umi pulang dulu. Assalamualaikum Abi." Winda mengedipkan matanya.


"Waalaikum salam."


"Abi hati-hati di jalan, seandainya ada mobil besar langsung ditabrak saja biar cepat innalilahi." Winda langsung melangkah keluar.


"Winda, hati-hati di jalan semoga selamat sampai tujuan, salam untuk Papi dan Mami." Yusuf tersenyum.


Wildan melangkah masuk, diikuti oleh Vira dan Winda yang menarik koper masing-masing.

__ADS_1


"Gays." Bella melambaikan tangannya langsung berlari.


"Bella." Winda dan Vira langsung berlari berpelukan.


Ketiganya berpelukan sambil lompat-lompat kesenangan karena akhirnya bisa bertemu lagi, Vira mengecek leher Bella mungkin ada kiss bibir.


"Tidak ada merah-merah?" Vira menatap Bella.


"Gila." Bella ingin menonjok Vira.


"Bagaimana berhasil?" Winda berbisik-bisik tetangga, sambil senyum-senyum.


"Pulang membawa kemenangan." Bella mengedipkan matanya.


Vira dan Winda langsung memeluk Bella, Tian langsung menepuk pundak Wildan untuk pulang bersama.


Karena Bella ingin pulang bersama Vira dan Winda, akhirnya harus menggunakan pesawat pribadi untuk menjemput Wildan.


"Ayo kita pulang." Tian melangkah diikuti oleh Wildan.


"Lama tidak melihat si tampan." Winda menyentuh jet Tian.


"Selamat pagi nona dan tuan."


"Hai om sekretaris, pasti membosankan mengikuti kak Tian keliling dunia." Vira menepuk pelan.


Bella memeluk lengan Tian mendengarkan pembicaraan Wildan dan Tian soal pekerjaan, kepulangan mereka dipercepat karena Ravi yang memaksa untuk kembali karena ada pembahasan penting yang tidak bisa diwakilkan.


Sepanjang perjalanan Tian dan Wildan membahas pekerjaan, sedangkan Bella sudah tertidur dengan nyenyak.


Vira duduk diam mendengarkan musik, menggunakan kacamata hitam. Matanya terpejam, tetapi tidak tidur.


Di dalam kepala Vira banyak konflik yang harus dia lawan saat mereka sudah kembali menginjakan kaki ke tanah air, Vira masih memikirkan soal perjanjian pernikahan.


Bukan hanya Vira, Winda juga berada dalam posisi yang sulit. Kepulangannya kali ini mungkin akan mendengar permintaan pertama dari Papinya untuk Winda menerima perjodohan dengan Yusuf.


***


Pesawat sudah mendarat, Bella berjalan dengan langkah ketakutan karena harus meminta restu Bundanya, Vira juga berat sekali melangkahkan kakinya karena perjodohan.


"Bel, kak Tian pergi dengan Wildan ke kantor dulu."


"Tidak ingin pulang dulu kak, dari pagi ketemu pagi."


"Ini belum jam kerja, bisa mandi di kantor."


Bella langsung duduk melihat Tian pergi bersama Wildan dan sekretarisnya, Vira juga duduk di samping Bella dengan tatapan kosong.


"Di mana Winda" Bella menatap Winda yang masih tertinggal jauh di belakang.

__ADS_1


Langkah kaki Winda tidak bertenaga, seseorang berlari menabrak koper Winda yang langsung berhamburan.


Vira langsung mendekati koper yang kosong, Winda masih belum berubah selalu membawa koper kosong.


"Kamu baik-baik saja Win?" Bella membantu Winda duduk.


"Win, koper kamu kosong."


"Iya, memang tidak pernah berisi. Hanya ingin terlihat keren saja." Winda menakup wajahnya.


Ketiganya diam, saling tatap langsung tersenyum. Mereka tahu harus ke mana untuk menghilangkan kegalauan mereka dengan cara berpesta.


"Ini masih pagi, kita pulang dulu malamnya kita pesta." Vira tersenyum.


"let's go." Winda dan Bella teriak heboh.


Ketiganya langsung melangkah keluar bandara, masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan oleh Wildan.


Sepanjang perjalanan terdengar suara bernyanyi kecil menghirup udara pagi yang menyejukkan, kenangan kecil yang selalu mereka rasakan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah.


"Stop pak, kita ingin sarapan bubur dulu sebelum kita menelan ceramah triistri." Vira langsung melangkah ke tempat bubur favorit mereka.


"Pak, kami pulang. Tolong buburnya, jangan lupa harus ada bubur." Vira tertawa.


Suara Vira mengunyah terdengar, Bella juga langsung duduk memakan bubur hangat.


"Perempuan kampung, sangat lebay dan rakus."


Winda menatap beberapa wanita yang mengejek Vira dan Bella, langkah kaki Winda terdengar memegang bubur panas, langsung berpura-pura jatuh menumpahkan buburnya ke wajah orang lain.


Vira hanya tertawa, Bella juga tertawa karena mengejek mereka berakibat fatal.


"Maaf kak saya tidak sengaja, Vir membutuhkan uang untuk perawatan wajah yang semakin mahal." Winda mengeluarkan uang dua puluh juta sambil tersenyum mengejek.


"Pak minta buburnya lagi, soalnya tumpah untuk menutupi mulut kotor. Upz canda kotor." Winda tersenyum licik.


Vira menatap ke arah samping, siapa yang memulai akan tahu akibatnya. Bahkan mereka bisa membuat wajah cacat.


Selesai makan dengan membayar ganti rugi, Vira mengeluarkan sepuluh juta, makan bubur saja Vira, Winda dan Bella menghabiskan uang tiga puluh juta.


"Mulutmu harimaumu, tidak bisa menjaga mulut akan tahu akibatnya." Vira merangkul pundak Winda dan Bella langsung melangkah mendekati mobil.


"Perut kenyang, hati pun senang. Waktunya pulang." Bella meminta supir jalan.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT


FOLLOW IG VHIAAZAIRA

__ADS_1


__ADS_2