
Selesai makan siang semuanya kumpul kembali, Bella sudah menggunakan gaun mewah yang sangat cantik. Rambutnya disanggul menggunakan mahkota.
Keluarga inti juga sudah menggunakan baju coupel, siap keluar untuk menyambut para tamu yang sudah mulai berdatangan dari beberapa negara.
"Mommy, Asih tidak mau menggunakan baju ini, Asih kelihatan gemuk sekali. Lihat perut Asih besar seperti perutnya aunty Binar." Rasih mengusap perutnya.
Suara tertawa terdengar mendengar Rasih mengoceh sampai ke lantai bawah, dia tidak ingin ikut berpesta karena perutnya buncit.
"Kamu bisa diam tidak Rasih? lihat banyaknya tamu, tidak malu." Kasih melotot melihat putrinya yang terus marah-marah.
"Asih punya mulut, kenapa harus malu Asih tidak menyusahkan mereka?" Rasih melangkah kembali ke kamarnya.
Rasih bertemu dengan Wildan yang sudah rapi, siap turun ke bawah. Wil langsung menggendong si kecil yang bibirnya monyong.
"Ada apa Rasih?" Wildan mengusap kepala Rasih yang tidak bersemangat.
Pintu kamar Bella diketuk, Wildan tersenyum melihat Bella sudah siap, Tian juga sudah siap. Masalahnya Vira, Winda yang tidak siap.
"Tamu sudah ramai Wil?" Bella menatap Rasih.
"Sudah kak, Billa dan kak Erik sudah menyambut tamu dari pihak rumah sakit, kak Ravi Kasih juga sudah di bawah bersama keluarga yang lainnya menyambut tamu yang sudah ramai." Wildan menurunkan Rasih yang langsung menarik selimut menutup kepalanya.
"Kenapa kamu Rasih?" Tian mengusap kepala si kecil Ravi.
"Asih sedih, bajunya Rasih jelek."
Tian tersenyum meminta Rasih keluar dari selimut, memperlihatkan bajunya.
"Lihat perut Rasih besar." Rasih berdiri sambil kepalanya menunduk.
Wildan dan Tian menahan tawa, perut Rasih gemuk dan buncit karena dia kekenyangan.
"Sayang, bukan bajunya yang salah, tapi Rasih sedang kekenyangan." Tian mengusap perut Rasih.
__ADS_1
"Masa iya, sekarang juga Asih lapar." Bibir Rasih cemberut, melipat tangannya di dada.
Vira langsung menatap Rasih memintanya menghadap kearahnya, Rasih hanya sedang masa pertumbuhan jadi tidak heran jika terlihat gemuk. Model baju Rasih juga berbentuk baju balon sehingga terlihat gemuk dan mengembang.
Vira mengambil gunting, mengubah motif baju secepatnya kilat, mengubah model baju bukan hal yang sulit apalagi baju anak-anak.
Senyuman Rasih terlihat setelah menggunakan kembali bajunya, Winda juga memasangkan ikat pinggang yang menambah cantik baju Rasih.
Sekarang Rasih siap berpesta." Asih langsung lompat dari atas rajang berjalan keluar kamar.
Baju Rasih bermodel gaun panjang, berjalan anggun dengan high heels kecilnya. Wildan menggandeng lembut membiarkan Rasih bertingkah seperti dirinya pengantin.
Bella dan Tian juga keluar, tangan Bella memeluk lengan Tian. Vira dan Winda juga berjalan di belakang, tersenyum bahagia untuk Bella yang sekarang sudah melangkah bersama suaminya, tidak lagi bertiga.
Sesampainya di area pesta, banyak media yang menyorot pengantin. Tian tersenyum berjalan ke arah pelaminan.
Vira dan Winda berjalan bersama Wildan bergabung dengan yang lainnya, Vira duduk manis melihat tamu undangan.
"Vir, sekarang kak Bel sudah naik pelaminan. Kita masih seperti ini." Winda tersenyum menatap Vira yang juga hanya tersenyum kecil.
Vira tersenyum melihat kedua orang tuanya, selalu bahagia sampai tua, melihat kakaknya juga bahagia meksipun menghadapi ujian yang berat.
"Wildan, Vira binggung apa kita bisa mempertahankan pernikahan seperti kisah cinta suamiku masih ABG mommy dan Daddy, mengejar cinta Om duren Mami Papi, Penjahat jatuh cinta Ayah bunda, mengejar cinta Om bule kak Stev Windy, Pelabuhan cinta playboy kak Ravi Kasih, Ketulusan cinta dokter muda kak Erik Billa, sekarang apa judul cinta Bella dan kak Tian." Vira menatap Wildan yang juga menatapnya.
"Emmhh ... Cinta saudara." Wildan mengaruk kepalanya.
"Cinta dan luka bersaudara." Winda menatap Vira.
"Ketulusan cinta kakakku." Yusuf menatap tiga orang di depannya.
"Vira lebih menyukai usul Yusuf, mereka bukan saudara kandung, juga cinta mereka bukan soal luka, tapi cinta yang tulus sampai akhirnya mereka bahagia." Vira dan Winda bertepuk tangan pelan.
Wildan menjawab pertanyaan Vira soal apakah bisa berakhir bahagia seperti cinta lainnya, setiap perjalanan kehidupan berumah tangga memiliki konflik yang berbeda.
__ADS_1
Mungkin pernikahan mereka tanpa cinta, tidak tahu cara mengatasi, tidak tahu juga apa yang terjadi. Wildan juga tidak bisa menjamin dia bisa membahagiakan, tapi mungkin itu juga namanya perjalanan yang harus mereka jalani.
Kita tidak tahu akhirnya, tapi kita tahu awalnya, juga niatnya apa yang diinginkan dalam berumah tangga.
Wildan tidak memaksa Vira kembali seperti dulu yang mencintainya, tidak juga memaksa hatinya untuk langsung jatuh cinta.
Segala sesuatu memiliki proses, Wildan ingin Vira memantapkan hati jika siap menikah terima, jika tidak batalkan. Jangan menikah karena terpaksa, tapi karena siap dengan masalah yang pasti datang.
Senyuman Vira terlihat membaca pesan di ponselnya, Wildan mengirimkan pesan panjang lebar membuat Vira tidak ragu untuk melihat cerita rumah tangganya.
"Semoga kamu siap dengan gilanya aku, ingat Wil aku akan menjadi diri sendiri bukan istri yang baik." Vira berbisik membuat Wildan tersenyum.
"Aku juga tidak minta kamu menjadi istri yang baik, jika kamu sudah menjadi istri berarti sudah siap menjadi ibu." Wildan tersenyum tanpa menoleh ke arah Vira yang melotot.
Tatapan Vira tajam, dia tidak akan menyerahkan diri semudah yang Wildan harapkan. Vira pastikan setiap harinya akan ada kehebohan yang membuat Wildan hampir gila.
Tamu undangan pulang pergi, Winda asik tidur dalam pelukan Vira. Seluruh orang sibuk menyambut tamu yang datang, tapi keduanya asik tidur yang menjadi pusat perhatian.
Rasih yang kelelahan juga langsung mengambil kursi tidur dipangkuan Vira.
Saat lempar bunga, Bella mencari dua sahabatnya yang tidak terlihat batang hidungnya. Bella turun dari pelaminan, melewati banyak orang menggelengkan kepalanya menatap dua orang asik tidur.
Bella langsung mundur bersiap melempar Vira dan Winda yang tidur, Tian langsung menggendong Rasih agar tidak terkena lemparan.
Suara keras terdengar, Bella langsung teriak. Semua tamu undangan langsung tertawa lepas melihat high heels tepat mengenai kepala Vira, sedangkan Winda sudah mencium lantai.
"Bunga ini punya Eike," bunga dan sepatu langsung diambil.
"Manusia setan, cari mati kamu." Vira langsung berlari mengejar bencong yang membuat keningnya sakit.
Winda masih celingak-celinguk kebingungan, langsung duduk melihat Vira teriak marah, Ravi sampai mengejar adiknya menarik Vira untuk tidak memperpanjang.
Bella tertawa lucu melihat Vira yang langsung duduk, melihat semua orang langsung menutup wajahnya, Winda juga langsung menutup wajah karena malu.
__ADS_1
"Kalian berdua bersiaplah untuk berfoto keluarga." Viana melotot heran melihatnya.
***