SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 INGIN BERSAMA


__ADS_3

Bastian duduk di kursi menatap wajah Bella yang tidur tersenyum, perlahan mata cantik terbuka menatap lelaki dihadapannya yang menatapnya tanpa berkedip.


Bella langsung membalik badannya, memunggungi Tian. Bella menarik selimut menutupi kepalanya.


Jantung Bella berdegup kencang, tarik nafas buang nafas. Bella tidak menyangka dia bisa ketiduran sangat lama.


"Apa kabar Bella? kamu ingin makan apa?" Tian berusaha mencairkan suasana, langsung melangkah ke meja makanan yang Tian beli.


Bella membuka selimutnya, duduk di pinggir ranjang mengatur nafasnya. Bella langsung berkaca merapikan rambutnya, menggunakan lipstik.


Langkah kaki Bella terdengar mendekat, menatap makanan kesukaannya.


"Wow, lama sekali Bella tidak memakannya." Bella mengunyah makanan yang Tian beli.


"Pelan-pelan saja, tidak akan ada yang merebutnya." Tian duduk menatap Bella sambil tersenyum.


"Kak Tian sudah makan?"


"Belum, malam ini kita makan di luar."


"Oke, Bella beli baju dulu." Senyuman Bella terlihat.


"Kak Tian sudah membelikannya." Tian menyerahkan paper bag berisi baju dan high heels.


Bella teriak kesenangan, langsung memeluk baju yang sedang trend. Senyuman Tian terlihat menatap Bella berputar memperlihatkan lekuk tubuhnya.


Selesai lompat kesenangan, Bella duduk kembali melanjutkan makanannya. Bella bahagia ternyata Tian belum berubah setiap dia pergi ke luar negeri selalu membelikannya baju.


"Kak Tian masih sayang Bella?"


"Pertanyaan apa itu Bel, kasih sayang aku kepada kamu tidak pernah berubah, tapi bertambah besar." Tian mengambil tisu, membersihkan mulut Bella.


Bella tersenyum langsung diam, Tian meminta Bella duduk di dekatnya. Bella langsung mendekat menatap Tian malu-malu.


"Bagaimana kamu bisa ada di sini? tiba-tiba tertidur di kamar."


"Kak Tian tidak suka melihat Bella datang ke sini?" Bella tertunduk.


Tangan Tian menggenggam lembut, mengusap kepala Bella. Perlahan tangan Tian menjauh.


Air mata Bella menetes, melihat jarak diantara mereka. Rasa canggung dan tidak nyaman.


"Bella minta maaf kak karena sangat egois, Bella menyakiti diri Bella sendiri juga tidak menghargai perasaan kak Tian. Mulut bisa berbohong, tapi tidak dengan hati." Bella menggenggam bajunya.


"Bella ...."

__ADS_1


"Bella pulang saja, maaf sudah menganggu waktu kak Tian." Bella langsung berdiri berjalan ke arah pintu.


"Bel ...."


"Koper Bella ketinggalan." Air mata Bella membasahi pipinya.


Tian langsung berdiri di dekat pintu, Bella mengusap air matanya menarik kopernya menatap Tian membuat air matanya semakin banyak menetes.


"Kenapa menangis? kak Tian tidak mengusir kamu. Maaf jika sudah membuat kamu bersedih." Tian menyentuh bahu Bella.


Tangisan Bella semakin kuat, kesedihan yang sudah lama Bella tahan diluapkan sepuasnya. Tangisan dengan teriak langsung memeluk Tian sangat erat, memukuli punggung Tian yang meninggalkannya.


"Kak Tian jahat!" Bella memukuli dada Tian, mengigit bibirnya sangat kuat menyebabkan berdarah.


Tian juga menetes air matanya, menakup wajah Bella. Bukan hanya Bella yang menyimpan kesedihan sangat dalam, Tian juga sama menyimpan luka yang menghancurkan hatinya.


"Maafkan aku Bella, tidak ada alasan aku membela diri. Aku orang yang paling bersalah."


"Kak Tian jahat, kenapa meninggalkan Bella? seharusnya kak Tian memperjuangkan Bella, kak Tian tidak boleh jatuh cinta dengan wanita lain. Kenapa kak Tian jahat?" Bella memeluk erat lelaki yang dicintai sejak kecil.


"Kamu benar, seharusnya aku berjuang. Sekalipun kamu menolak, aku harus tetap berjuang, penyesalan terbesar dalam hidup aku Bella karena melepaskan kamu." Tian memeluk tubuh Bella sangat erat.


Tangan Bella melingkari leher Tian, merasakan hembusan nafas mengenai lehernya. Tian memeluk pinggang Bella, mengusap punggungnya.


"Bella yang salah, rasa cemburu sudah menutupi hati Bella. Kak Tian lebih memilih Binar, kak Tian tidak menolong Bella rasanya hati hati Bel hancur."


"Kamu mengatakan tidak mencintai kak Tian, kamu hanya menganggap sebagai kakak." Tian menatap mata Bella.


"Bella pikir karena melihat wajah kak Tian hanya membuat marah, berarti tidak cinta. Melihat surat undangan sialan, hati Bella hancur." Bella langsung menangis.


Tian mengusap air mata Bella, mencium keningnya.


"Bella aku sangat mencintai kamu."


"Bagaimana nasib Bella jika Cinta tidak meninggal?" mata Bella tajam menatap Tian.


Bastian menatap ke arah lain, pernikahan dengan cinta memang tidak mungkin terjadi. Bastian menolak bercerita alasannya demi menyimpan privasi Cinta.


"Maafkan kak Tian Bel, biarkan rahasia ini menghilang bersama dengan pemiliknya."


"Cinta hamil anak kak Tian?"


"Astaghfirullah Al azim, dia memiliki penyakit serius Bel. Kak Tian berani bersumpah tidak menyentuh wanita yang tidak kak Tian cinta."


"Kalau Bella ada di mana? sini atau sini?" Bella menunjuk dada dan kepala Tian

__ADS_1


Senyuman Tian terlihat mengusap air matanya, menghapus air mata Bella. Tian menyatukan hidung mereka.


"Bel, di dalam kepala aku hanya bisa memikirkan satu wanita, di dalam hati aku hanya menyimpan satu wanita." Tian menggesekkan hidungnya.


Bella tersenyum langsung memeluk Tian, tidak ingin berpisah lagi. Ingin selalu bersama, melupakan masa lalu meniti masa depan.


Bella langsung teriak menutup mulutnya, Bella baru mengingat satu hal saat Bundanya memaksanya menghalangi hubungan Tian dan Cinta, tapi Bella membentak dan mengatakan tidak sudi menikah.


"Bunda mengatakan tidak akan pernah memberikan restu lagi, kak Tian tahu Bunda jika sudah mengatakan sesuatu tidak akan menariknya lagi." Bella langsung duduk, meremas rambutnya.


Tian masih tidak percaya jika Bella ingin meminta restu, berarti ingin berhubungan seperti dulu lagi.


"Bel, apa hubungan kita?" Tian menarik tangan Bella untuk berdiri.


"Kakak adik." Bella tersenyum.


Tian menghela nafasnya, berharap lebih tetapi Bella masih bermain-main.


"Bella ingin menikah kak."


Tatapan mata Tian tajam, hanya bisa menganggukkan kepalanya. Senyuman Tian terlihat terpaksa.


"Kak Tian bagaimana kita menikah jika Bunda tidak merestui?" Bella memukul dada Tian.


"Siapa Bel ... kita." Tian meminta Bella mengulangi ucapannya.


"Kak Tian tidak ingin menikahi Bella?"


"Mau, mau banget. Kak Tian tidak salah dengar?" Bastian memeluk Bella penuh cinta.


"Bunda tidak merestui?" Bella menakup wajah Tian.


"Jika Bunda yang tidak menyetujui urusan panjang, kak Tian tidak ingin kita menikah tanpa restu, nanti kak Tian yang bicara pelan bersama ayah bunda." Tian mencium bibir Bella.


Bella membalas dengan senyuman, Tian langsung memeluk erat berharap semuanya bukanlah mimpi, jika memang mimpi Tian tidak ingin bangun lagi, biarkan dirinya selalu berada dalam mimpi, hidup bersama wanita yang dicintainya.


"Bella, jangan pernah mengabaikan aku lagi. Jangan pernah meminta berpisah lagi Bel." Tian mengusap rambut hitam adik sekaligus kekasihnya.


"Kak Tian juga jangan pernah menyerah untuk terus mempertahankan Bella, jangan pernah melepaskan Bella lagi."


"Kak Tian bahagia Bel, berat sekali menjalani hari tanpa kamu. I love you Bella Bramasta."


Bella tersenyum mencium pipi Tian lama, senyuman Tian juga terlihat mencium kening Bella lama.


***

__ADS_1


__ADS_2