SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 KEMBANG API


__ADS_3

Mobil kembali berjalan, Yusuf mengambil alih untuk membawa mobil. Wildan masih fokus melihat layar ponsel, tatapan Wildan mulai tenang.


"CCTV di sana diretas, jadi kita tidak tahu bahaya di sana?" Wildan mematikan ponsel.


"Lalu apa yang akan kitw lakukan Wil? sebentar lagi kita sampai tujuan. Hari juga mulai gelap."


"Kak Erik, kita bagi tim menjadi dua. Wildan masuk lebih dulu, jika dalam 2jam Wildan tidak kembali, atau tidak memberikan kabar pergi dari sini."


"Terserah kamu." Erik tersenyum.


Wildan menatap tajam, mobil langsung berhenti. Erik menatap santai.


"Kenapa kak Erik tersenyum jahat?" Winda menatap kesal.


"Kalian datang mengantarkan nyawa, kalian lemah Wildan." Erik menatap sinis, langsung membuka pintu mobil berlari kencang meninggalkan mobil.


Billa meneteskan air matanya, jantung Wildan berdegup kencang. Sangat mustahil Erik yang berkhianat, sejak kecil mereka tumbuh bersama keluarga juga saling dekat.


"Mustahil kak Erik, ini bohong." Billa gemetaran, menggelengkan kepalanya.


Kasih menatap sayu kegelapan, dia pernah berada di ujung kematian, Erik orang yang berjuang menyelamatkannya. Seorang Dokter yang mempunyai pesona, tidak memiliki cacat, baik penampilan, maupun sikapnya.


Wildan menghela nafas, sekarang hanya ada dirinya yang harus melindungi banyak wanita. Wildan mematikan lampu mobil. Sudah terlambat, jika bekerja menggunakan teknologi, sudah saatnya Wildan bekerja menggunakan tenaganya.


"Vira, kamu bantu aku. Kita harus bekerja sama, berusaha saling melindungi. Aku percaya kalian semua kuat."


"Iya, aku ikut perintah kamu Wil."


Semuanya keluar dari mobil, suara kapal terdengar semakin dekat. Yusuf bisa merasakan suasana pantai yang digunakan untuk pengangkutan barang, berarti tidak ada orang umum yang akan berkunjung.


"Kak Yusuf, kamu fokus menjaga kak Kasih dan Karin. Mereka lebih kuat dari kamu, tapi aku mempercayakan keselamatan mereka. Vira, Winda, Bella, Billa, kalian diizinkan untuk bertarung habis-habisan, jika diserang."


Semuanya melangkah maju, suara ledakan terdengar di atas langit, tapi tidak ada cahaya sama sekali.


Kasih melangkah di depan sekali, Vira juga tidak memiliki rasa takut lagi. Tidak perduli siapa sebenarnya yang berkhianat, saat ini menemukan Ravi dan Tian jauh lebih penting. Urusan Erik akan menjadi masalah belakangan.


Kapal sudah terlihat di depan mata, lampu penerangan juga sangat minim. Wildan meminta semuanya diam bersembunyi mendekat secara terpisah.


"Vir, di sini banyak nyamuk." Bella tersenyum, mengaruk wajahnya.


"Berisik monyet kurap, nyamuk mendekati kamu karena busuk." Vira masih sempat bicara berbisik sambil menahan tawa.

__ADS_1


"Ah sial, tapi benar juga aku belum mandi." Bella menutup mulutnya.


Cara kerja Bella, Winda dan Vira yang menutupi ketakutan dan kesedihan dengan sedikit candaan.


Winda menutup hidungnya, mencubit bokong Bella. Jika ada penerangan, pasti bisa melihat mata Winda yang sudah hampir keluar.


"Body kamu dikontrol, buang angin sembarangan. Aku hampir pingsan."


"Ya maaf, nanti ditahan, tiba-tiba meledak bagaimana?" Bella menahan tawa, Vira dan Billa sudah menutup hidung, menahan bau busuk dan menahan tawa.


Dari kejauhan Kasih melihat, beberapa orang berjaga. Melihat dari penampilan, lebih mirip pelayan restoran, hanya saja menggunakan jas hitam.


"Kenapa mereka menggunakan kacamata kak Kasih? sudah gelap tambah gelap. Semoga cepat terbitlah terang." Karin menyentuh jantungnya yang berdegup.


"Mereka buta."


Billa masih duduk lemas bersembunyi, melihat Erik dipukuli, hancur dan sakit hati Billa, tapi lebih sakit lagi saat tahu Erik berbohong. Dia berpura-pura sakit, melarikan diri meninggalkan mereka, jika ingin berkhianat, setidaknya tunggu sampai akhir, jangan di setengah jalan.


Air mata Billa tidak tertahankan, saat dia kecil Erik selalu mengendong, membelikan es krim di belakang Bella yang serakah. Sungguh menyakitkan bagi Billa melihat kenyataan, Erik pergi.


"Aku benci kak Erik, rasa kagum harus dipupuk sampai berubah sayang, harus disiram sampai berubah cinta. Rasa benci bisa muncul tanpa permisi, langsung meruntuhkan pertahanan sekuat apapun." Batin Billa menghapus air matanya.


Wildan sudah perlahan semakin mendekati kapal, Yusuf juga sudah mendekat bersamaan dengan Wildan, mereka sampai harus tiarap perlahan.


"Iya, tempat ini bisa dibilang ilegal, karena kapal besar berisi manusia bukan barang." Wildan terus berjalan perlahan, agar bisa cepat masuk.


Kasih melihat ke arah dalam kapal, penuh lampu kerlap kerlib terlihat. Kening Kasih berkerut, merasakan keanehan, menatap Karin yang menundukkan kepalanya.


"Siapa mereka? perbuatan mereka tidak masuk akal." Kasih bergumam pelan.


Tangan Winda menyentuh benda kenyal, menekannya berkali-kali, seperti dia menemukan mainan baru. Billa melihat Vira yang hanya terlihat matanya, menyentuh tangan Winda yang meremas sesuatu.


"Lucu." Winda tersenyum, memasukkan ke dalam kantongnya.


"Ada apa Win?" Vira menatap Winda yang sudah diam.


"Aku mendapatkan mainan baru, nanti di tempat terang akan aku tunjukkan."


Billa memijit pelipisnya, Winda sangat bodoh. Kodok dikira mainan, Billa membiarkan Winda yang meraba-raba mencari kodok lagi.


"Win kamu bisa diam tidak?" Bella merayap semakin maju."

__ADS_1


Winda diam, langsung berjalan jongkok. Mengikuti pergerakan Wildan dan Yusuf. Tiba-tiba Winda teringat ucapan Yusuf, dia harus di penjara.


"Dasar Yusuf, jahara. Beraninya kamu ingin mempersunting Winda Bramasta."


Malam semakin larut, penjagaan mulai lengah. Kasih langsung berdiri melangkah maju, Kasih ingin melihat suaminya. Melihat Kasih yang sudah maju menyerang, Vira juga berlari mengejar.


Diikuti oleh Winda dan Bella, Wildan menghela nafas, jika ingin menyerang dadakan, kenapa harus menunggu larut malam. Wildan langsung berlari, Yusuf melihat pekerjaan Wildan yang menunjukkan lokasi di dalam kapal.


Semuanya terlihat, Yusuf menepuk jidat. Pertengkaran sudah terjadi, pukulan Kasih membuat puluhan orang tumbang.


Kasih langsung jatuh pingsan karena dibekap dari belakang, Karin belum sempat menyerang langsung jatuh pingsan. Winda Bella Billa juga sudah tergeletak. Masih tersisa Wildan dan Vira yang berdiri berdua.


Semua orang menggunakan topeng, menggunakan baju jas hitam. Vira menatap Wildan langsung tersenyum melangkah mundur, sedangkan Wildan maju.


"Di mana Ravi dan Tian? sebenarnya apa yang kalian inginkan?" Wildan menatap santai.


"Berlutut, serahkan wanita di belakang kamu. Kalian semua bisa pergi, dua orang yang kamu pertanyaan sudah menjadi makanan ikan."


Wildan menatap marah, seseorang mendekati Vira, Wildan mengambilnya masuk ke dalam pelukannya.


"Jangan pernah menyentuh dia, jika kalian tidak ingin patah tulang."


"Wildan diamlah di sini selama dua jam, jika kamu ingin dua wanita yang sudah di bawa ke dalam selamat." Tubuh Kasih dan Karin di bawa pergi.


Mata Wildan menatap Billa, Bella juga Winda yang tergeletak. Wildan langsung duduk bersama Vira. Lampu langsung seketika mati.


"Wil, kita tidak mungkin diam saja, bagaimana jika kak Kasih dan Karin dinodai."


"Aku bisa mendengar suara mereka, jadi kita tunggu saja. Jika memang menginginkan kita mati sudah lama kita diserang, ada sesuatu yang harus kita tunggu. Kak Kasih dan Karin hanya tahanan."


Perlahan Winda, Bella Billa terbangun, langsung memeluk Wildan dalam kegelapan. Wildan mengusap matanya, meneteskan air mata merasakan kegagalan.


Teng ... bunyi jam tepat diangka dua belas malam, bunyi petasan terdengar. Kembang api menyinari kapal di langit. Semuanya menatap binggung.


"Tahun baru ya?" Vira binggung.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP NYA.

__ADS_1


***


__ADS_2