
Jadwal untuk bertemu sudah ditentukan, tidak banyak yang boleh bergabung sehingga membuat rusuh terutama Bella dan Winda diikuti oleh Vira yang mirip cacing kepanasan ingin bertemu Mafia.
Pertemuan akan diadakan malam hari, saat keadaan sepi dan hening. Steven hanya mengizinkan Windy dan Lin untuk bergabung, karena ini akan menjadi jawaban untuk masa depan Lin.
Selain mereka ada Ravi, Ar, Wildan yang akan ikut sedangkan yang lainnya tetap ada di mansion untuk berjaga, terutama Erik, Tian, dan Tama.
Bima, Rama, Bisma juga ikut bersama Ammar untuk bertemu langsung dengan Delton, sedangkan Viana tetap di Mansion.
Demi keamanan Wildan menyiapkan puluhan pengawal berjaga di depan pintu, tidak ada yang boleh mendekati kaca.
Karan yang akan mengawasi dari kamera, juga tidak ada senjata yang bisa mendekati wilayah hotel. Keamanan sudah dipastikan tidak mungkin bisa ditembus.
"Kasih ingin ikut, ada sesuatu yang ingin aku pertanyakan?" tangan Kasih memohon kepada Ravi.
"Viana juga ingin ikut, ada hal yang ingin aku ketahui?" Vi memeluk suaminya, memohon agar Rama mengizinkan.
Reva tersenyum, menggelengkan kepalanya tidak ingin ikut. Membayangkan Mafia saja tidak menyenangkan, dia takut melihat wajah sangar.
"Ayo Reva Jum kita ikut, kalian harus mendampingi suami." Viana menarik tangan Reva yang mengerutkan keningnya.
"Sorry saja ya kak Vi, lihatlah penampilan Reva, perhatikan dari atas sampai bawah, kak Vi melihat kekurangan tidak? demi rumah tangga yang harmonis, Reva akan menjaga diri di mansion." Reva tersenyum merapikan lipstiknya.
"Gila kamu Reva?"
"Nanti Mafianya jatuh cinta pada pandangan pertama bagaimana? aku masih mencintai Bima." Suara tawa Reva terdengar, tersenyum manis melihat tatapan Viana tajam.
"Najis!" Viana meludahi Reva yang bicaranya sembarangan, menyemburnya dengan air agar sadar diri
Jum bahkan memberikan jampi, lalu mengusap wajah Reva agar tingkat percaya dirinya tidak terlalu tinggi.
Wanita cantik di keluarga banyak tidak ada yang bisa dibandingkan, semuanya memiliki wajah yang cantik dan jika mafia menyukai Reva dia harus menyingkirkan para queen.
Winda sudah sibuk di kamarnya, mencoba baju terbaik untuk bertemu mafia. Bahkan menggunakan baju serba hitam membuat putrinya Arum terduduk dan terdiam tidak percaya.
"Abi, jaga Arum di rumah ya." Winda tersenyum manis mengusap wajah putrinya yang ada dalam gendongan.
"Ingin pergi ke mana Umi?" Ar tersenyum melihat penampilan istrinya.
"Bertemu mafia."
Semua orang yang melihat sudah lelah menahan tawa melihat penampilan Winda, satu persatu tawa mulai terdengar.
"Apa ada yang lucu?"
__ADS_1
"Kamu gila menggunakan gaun seperti ingin pergi ke tempat pemakaman?" kepala Wildan menggeleng melihat adiknya.
"Kamu tidak boleh pergi Winda."
"Pokoknya Winda ingin pergi titik, tidak perduli diizinkan atau tidak Winda harus bertemu." Sikap keras kepala Winda muncul, tidak ingin mendengarkan larangan suaminya.
Ar menghela nafasnya, hanya tersenyum mengizinkan Winda pergi sedangkan dirinya tetap di mansion menjaga anak-anak.
"Arum, sebaiknya kita istirahat." Ar melangkah pergi ke kamarnya.
"Abi, Winda ingin melihat mafia."
"Iya pergi saja, jika memang mafia lebih penting dari aku tidak masalah, sekalian titip salam." Senyuman Ar terlihat langsung membuka pintu kamar.
Winda langsung merengek, memeluk Papinya meminta bantuan. Ar selalu tersenyum membuat Winda takut.
"Makanya menjadi istri harus menurut Winda."
"Mami jangan mengajari Winda, memangnya Mami penurut?" suara kaki Winda menghentak terdengar, langsung mengejar suaminya untuk tidak pergi.
Reva tertawa, Winda si manja tidak bisa menang dari Ar yang penenang. Reva juga sama tidak bisa melawan suaminya yang tidak pernah marah, tapi jika melarang sangat menakutkan, tegurannya sangat halus.
Bella duduk diam di dapur, menyuapi putrinya makan. Pikiran Winda masih fokus soal larangan dirinya untuk ikut, dia sangat penasaran dengan wajah asli seorang mafia.
Bella sangat yakin Delton tidak mungkin muncul sendiri, pasti lima orang berkuasa di lima negara akan datang untuk menemaninya.
"Sungguh menyebalkan tidak bisa pergi."
Jum memukul punggung Bella, memintanya fokus mengurus anak. Makanan Bulan sudah berhamburan bukan duduk di kursi lagi, tetapi ada di atas meja.
"Sakit Bunda."
"Apa yang kamu pikirkan?"
"Bel, menghawatirkan ayah. Bunda tahu sendiri emosinya ayah, bagaimana jika terjadi keributan? Bella tidak bisa tinggal diam." Wajah Bella meyakinkan, karena jika Bunda yang minta ikut tidak mungkin Ayahnya berani menolak.
"Banyak orang di sana bukan hanya Ayah." Jum meminta Bella jangan khawatir.
"Bunda pasti sepemikiran dengan Bella, ini berbahaya Bunda." Bel terus berusaha menyakinkan.
"Mereka semua tidak boleh pergi jika begitu." Jum langsung melangkah untuk menghentikan suaminya.
Bella mengacak-acak rambutnya, bukan itu tujuan Bella. Dia juga ingin pergi melihat pertemuan.
__ADS_1
"Ayah, Jum rasa ini tidak benar. Sebaiknya jangan pergi." Jum menggenggam tangan suaminya.
Bisma langsung tertawa, menyentuh hidung istrinya. Bisma tahu jika putrinya Bella pasti sudah merasuki pikiran Bundanya demi keuntungan dirinya sendiri.
Bundanya yang polos selama puluhan tahun masih saja tertipu, bahkan tidak nyambung dengan tujuan Bella.
"Kamu masih saja tidak memahami hasutan Bella."
"Jum hanya khawatir, kirim orang lain saja."
"Bunda, biarkan Bella yang menemani ayah "
"Urus anak kamu Bella, suami kamu sudah makan apa belum? berhentilah mengurusi mafia. Putraku tidak beruntung sekali memiliki istri seperti kamu?" Jum memukul punggung putrinya membuat Bella teriak histeris.
Tian menggeleng kepalanya, melarang Bella untuk pergi menemui mafia. Merangkul Bunda untuk membiarkan Ayahnya pergi.
Viana berteriak kuat ingin ikut, Rama lebih baik tidak pergi daripada Viana pergi.
Kasih juga sudah merengek, tapi sekali Ravi mengatakan tidak maka tidak ada kesempatan kedua.
Semuanya melangkah pergi, dan yang lainnya ke posisi masing-masing untuk bersiap mengawasi.
Viana menatap tajam, melihat ke arah Kasih dan Bella, juga Winda dan Vira yang sudah mirip kuntilanak menggunakan baju putih rambut terurai.
Jika pergi secara terang-terangan dilarang, maka terpaksa harus dengan cara diam-diam.
Senyuman licik Vi terlihat, langsung duduk melihat ke arah Bella yang sangat yakin ingin pergi.
"Apa rencana kak Vi? keamanan sangat ketat." Reva mengerutkan keningnya.
"Jangan sebut nama Viana, jika tidak bisa keluar dari sini."
"Viana ... Viana ... Viana. Kenapa tidak keluar kak Vi?" Jum tertawa membukakan pintu, melihat pengawal menundukkan kepalanya.
"Jum sialan, Kasih kamu pikirkan caranya." Viana sudah merasa tua, sehingga malas berpikir.
Bella tersenyum, dia akan mengacaukan keamanan setelah memastikan jika rombongan mafia sudah tiba, saat seluruh pengawal berlarian mereka harus melewati tangga darurat untuk menuju ke tempat pertemuan.
"Gila kamu Bel, lantai pertemuan di lantai lima belas, sedangkan kita di lantai puluhan. Kamu ingin mommy pingsan menuruni tangga. Cari cara lain." Tangan Vi memijit pelipisnya.
Kasih tersenyum, Rencana Bella tetap dijalankan untuk mengalihkan. Sisanya Kasih yang akan mengurusnya.
***
__ADS_1
FOLLOW IG VHIAAZAIRA