SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 8 MINGGU


__ADS_3

Genggaman tangan Wildan erat, mencium tangan Vira yang sedang tidur.


Pintu terbuka kuat, Viana meminta Wildan membawa Vira ke rumah sakit. Ekspresi Vi yang menegangkan membuat Wildan panik, langsung menggendong Vira untuk segera ke rumah sakit.


Vira terbangun, menepuk pundak Wildan untuk menurunkannya. Vira merasa dirinya hanya lemas, bukan sakit. Dia tidak butuh rumah sakit, hanya butuh tidur.


"Vira tidak ingin ke rumah sakit, titik." Suara barang dibanting terdengar, Vira menatap tajam ingin kembali ke kamarnya.


"Sadar tidak kamu Vir, jika aku sangat khawatir. Aku mengkhawatirkan kamu yang sudah tiga hari hanya tidur." Suara pelan Wildan terdengar, langkah Vira juga terhenti.


"Vira hanya mengantuk Ayang." Vira masih mempertahankan pendiriannya.


"Oke, silahkan untuk melakukan apa yang kamu mau? karena hanya kamu yang tahu apa yang tubuh butuhkan." Kepala Wildan yang pusing, tapi berusaha untuk menyembunyikannya.


Langka Wildan cepat ke dapur, langsung muntah. Viana langsung mengusap punggung Wildan.


Vira langsung memeluk dari belakang, meminta maaf dia akan segera pergi ke rumah sakit , tidak akan membantah lagi ucapan suaminya.


Di balik kepanikan Vira, ada Viana yang tertawa lebar. Senyuman terlihat sangat bahagia, mereka tidak mungkin salah jika Vira yang sering lemas, sedangkan Wildan yang mulai muntah.


"Mommy apa maksud senyuman mommy? bahagia sekali melihat kita sakit, membuat kesal saja." Mata Vira menatap sinis, meminta sopir bersiap ke rumah sakit.


Daddy mengusap punggung Wildan yang duduk, tersenyum memeluk menantunya.


"Bismillah ya Wil, kita periksa ke dokter kandungan soal kehamilan Vira. Semoga saja hasilnya memang positif." Rama berbisik, Wildan langsung berdiri ingin teriak, tapi Mommy memintanya untuk diam.


Senyuman Wildan tidak bisa dia sembunyikan, menutup wajahnya, mencoba mengontrol diri.


"Mami tahu tidak Mom?"


"Tahu, karena Winda juga sama. Kita periksa dulu untuk memastikan." Viana memeluk Wildan, mencium keningnya karena sangat bahagia.


Wildan lebih bahagia lagi, mengusap matanya berkali-kali menahan air mata. Vira turun lantai sambil mengomel memarahi Mommynya yang senyum-senyum mengejek.


Wildan tersenyum melihat istrinya, memperhatikan tubuh Vira yang memeng berisi, Wildan bahkan lupa kapan terakhir Vira bulanan.


"Maafkan Vira, tapi seperti Ayang yang harus diobati."


"Ayo kita pergi Vir, aku tidak sabar lagi." Wildan merangkul Vira, menyentuh perutnya. Tatapan Vira aneh melihat tangan suaminya mengelus perutnya.


Viana berteriak memanggil Reva, mereka pergi menyusul karena masih menghubungi Winda yang melangkah pergi tanpa izin.

__ADS_1


Wildan memeluk Maminya dari belakang, Reva hanya mengusap kepala putranya. Wildan terlihat sangat bahagia, harapan terbesar untuk memiliki anak, meramaikan kediaman mereka.


"Sana pergi Wil, nanti mami Papi menyusul."


"Wildan bahagia Mami, sungguh ini rezeki anugerah yang sangat besar." Wildan mengusap air matanya.


Reva langsung mengangguk kepalanya, air matanya menetes melihat wajah bahagia putranya.


Wildan juga memeluk Papinya, tidak tahu lagi cara mengekspresikan kebahagiaannya.


Vira yang berada di dalam mobil binggung, langsung ingin keluar, tapi Rama menahannya.


Bella melambaikan tangan memberikan love besar membuat Vira geli, senyuman Jum sekeluarga terlihat, mengusap air mata karena sangat bahagia melihat Vira Wildan.


"Ada apa ini? Vira menjadi takut."


Billa berlari kencang, meminta Mami dan Papi ke rumah sakit, Billa juga langsung ikut ke rumah sakit saat mendengar kabar dari suaminya.


Mobil melaju menuju rumah sakit, Wildan menggenggam erat tangan Vira sambil tersenyum. Ada pesan dari ponselnya jika proyek besar mereka sukses di tangan Ar.


"Ada kabar baik Wil?" Rama melihat menantunya tersenyum.


"Iya Pi, proyek kita sukses di tangan kak Ar. Dia memang sangat luar biasa jika soal bisnis." Wildan mengirimkan pesan kepada Ar mengucapkan terima kasih.


"Kenapa dulu Uncle menjadi bawahan Daddy?" Vira mengerutkan keningnya.


"Kamu memanggil Uncle Vir?" Viana melotot.


"Masa iya Vira mengatakan Uncle, Papi Mom." Vira memukul mulutnya.


"Kamu sedang mengejek mommy tuli?" Viana ingin memukul putrinya.


"Vira bertanya sama Daddy, bukan mommy. Kenapa mommy yang kesal?"


"Viana, Vira berhenti." Rama menghentikan pertengkaran keduanya.


Rama menjawab pertanyaan Vira, jika Bima menjalankan amanah Ayah Rama. Sejak kehilangan orangtuanya Rama menjadi tanggung jawab Bima, baik perusahaan maupun masa depan Rama.


Bima yang tidak pernah merendahkan orang, berjuang membangun perusahaan yang sudah hancur, padahal dia juga memiliki bisnis yang sudah meroket.


Terkadang berada di bawah sebuah tantangan bagi anak muda yang hanya tahu bekerja, sampai Rama remaja dan menikahi seorang Viana, ada Bima disisinya.

__ADS_1


Bima melepaskan saat dia jatuh cinta dengan wanita muda, lalu menikah. Mereka tetap memegang teguh persaudaraan sampai kapanpun, sehingga itu anak cucu diharapakan menjaganya, saling merangkul seperti mereka dulu.


"Ingat untuk anak cucu, jika kamu sudah tiada, jangan pernah kalian terpecah belah. Tanamkan kepada anak-anak kalian arti keluarga kita yang saling terikat."


Wildan dan Vira menganggukkan kepalanya, mereka akan menjaga keutuhan keluarga mereka.


"Mommy dulu mencintai Bima, tapi jodohnya brondong."


"Tidak ada bertanya Mom." Vira melotot.


"Mommy hanya mengingatkan saja, jika lelaki yang pernah mommy cintai lelaki hebat. Kami tidak berjodoh, ternyata kalian yang jodoh." Viana tersenyum, memeluk lengan suaminya.


Sesampainya di rumah sakit, Vira terdiam melihat ruangan dokter kandungan. Wajah panik Vira terlihat langsung memeluk Wildan.


"Ayo periksa kehamilan kamu, tingkah gila kalian melakukan tes kehamilan hasilnya garis dua." Viana memeluk Vira yang menangis histeris.


"Sayang, periksa dulu." Wildan tersenyum melihat dokter yang mempersilahkan untuk tidur di ranjang.


"Ya Allah semoga saja ya Nis hasilnya positif." Viana menyentuh tangan dokter yang menangani Bella.


"Santai kak Vi, semoga saja. Sepertinya keluarga ini akan ramai, twins B juga belum lahir." Dokter Nisa tersenyum.


Jantung Vira berdegup kencang, Wildan juga sama. Vira ingin melakukan tes pack lagi, tapi dokter Nana menggelengkan kepalanya.


"Dok, Vira hamil tidak?"


"Itu lihat, berapa bulan kamu telat bulanan?"


"Tidak tahu." Vira menatap Wildan.


"Selamat untuk keluarga Bramasta dan Prasetya, cucu selanjutnya sedang tumbuh. Perkiraan saya dari ukuran sudah lebih dari delapan minggu."


Viana teriak kuat, Vira langsung menangis. Wildan memeluknya erat, meneteskan air matanya, anak mereka sudah lama tumbuh, tapi tidak mereka ketahui.


"Maafkan aku Vir, seharusnya lebih perhatian, sehingga tidak terlambat mengetahui kehadiran baby." Wildan memeluk lembut sangat bahagia.


Rama dan Viana juga sangat bahagia, tapi tidak melihat Reva dan Bima.


Rama terkejut melihat ponselnya, ada pesan dari Ravi jika Ar dirawat.


***

__ADS_1


,


__ADS_2