
Pagi-pagi Wildan sudah sibuk bersama Virdan, mandi berdua makan berdua, berolahraga berdua sambil menunggu Vira bangun.
"Vira mulai susah tidur Wil?" Rama mengendong cucunya yang sudah rapi dan tampan sekali.
"Iya Daddy, Vira baru tidur selesai subuh." Wildan duduk bersama Rama, menceritakan hasil pemeriksaan.
Wildan tidak ingin merahasiakan apapun, awalnya Wildan juga sama sangat putus harapan, apalagi melihat Vira yang menyalahkan dirinya.
"Wildan."
"Sekarang sudah jauh lebih baik Daddy, Vira juga sudah membaik." Senyuman Wildan terlihat, hatinya merasa luluh saat mendengar Vira berbicara dengan twins.
Rama sampai meneteskan air matanya, Vira alasan Wildan kembali bersemangat karena istrinya juga menguatkan hati untuk optimis dengan apapun yang dia jalani.
"Insyaallah, kita dalam lindungannya ya Daddy."
"Alhamdulillah jika kalian berdua masih memilih kuat, Daddy tahu kamu berada dalam kesulitan dan gelisah Wil. Daddy bantu doa ya nak, semoga Vira dan twins dalam keadaan baik-baik saja." Rama menepuk pundak Wildan.
Kepala Wildan mengangguk, doa tidak pernah tinggal di dalam sujud. Wildan pamit untuk ke rumah orangtuanya, meninggalkan Virdan bersama Rama.
Dari depan pintu Wildan sudah mendengar keributan Winda yang teriak-teriak seperti manusia hutan, ditambah lagi maminya yang cekikikan tertawa mirip kuntilanak.
Inilah keluarganya, tempat dirinya kecil hingga besar. Mendengarkan suara adiknya yang selalu membuat keributan.
"Winda."
"Apa? jangan panggil-panggil tidak melihat betapa repot Winda." Langkah kecil Arum berjalan mengelilingi ruang tamu, diikuti oleh Winda yang memasangkannya baju.
Ar turun dari lantai dua, mengambil putrinya dan memakaikannya baju dengan mudah membuat Wildan tersenyum.
Winda sudah mengeluarkan tinju ingin bertarung dengan putrinya, di depan Abinya sangat anggun, tapi di depan Winda mirip Tarzan.
"Winda, kak Wil ingin bicara?"
"Soal apa? Winda repot kak Wil." Teriakkan Winda kuat, membuat Bima menutup mulut putrinya.
"Ada apa Wildan? bicara saja sama Papi."
"Tidak Pi, aku akan menunggu Winda sampai selesai dan tidak sibuk lagi."
__ADS_1
Winda mengerutkan keningnya, menatap kakaknya yang terlihat aneh. Langsung memintanya ke taman belakang rumah mereka.
"Win, buatkan kak Wil minum."
"Tidak mau." Winda tersenyum melihat tatapan dingin Wildan, langsung pergi ke dapur untuk membuatkan minum.
Winda meletakkan minuman, duduk di samping kakaknya yang terlihat sangat tenang menatap langit biru yang terlihat cerah.
Senyuman Wildan terlihat, ini pertama kalinya dirinya duduk berdua bersama Winda dan mengobrol santai.
"Kak Wil jangan tersenyum mirip Joker, serem tahu." Winda mengunyah cemilan, menunggu kakaknya bicara.
Wajah Winda terlihat terkejut mendengar Wildan mengucapkan terima kasih, kemarin hari yang berat untuk Wildan melihat perubahan sikap istrinya.
Sejak menikah Vira tidak pernah membentaknya, apalagi menepis tangannya bekali-kali.
"Kamu tahu selain Mami, Vira wanita yang sangat menjaga aku, sejak kita kecil meskipun dia tidak sengaja memukul, pasti langsung meminta maaf, meniup tangan bahkan memeluk." Wildan mengusap air matanya.
Melihat perubahan satu hari sikap Vira sungguh membuat Wildan takut, Wildan tidak siap jika terjadi sesuatu yang buruk kepada istrinya.
"Winda tahu kak Wil sedang sakit, tapi mengertilah kak. Kak Vira wanita kuat dan tangguh, wajar saja responnya seperti itu." Winda mengusap punggung kakaknya.
Vira mengobati kesedihan Wildan, bahkan keluarga tapi belum berarti luka dihatinya benar-benar sembuh.
Luka kehilangan masih membekas, Vira sedang mengobatinya secara perlahan agar kembali seperti semula.
"Luka itu belum sembuh kak, sekarang ditambah lagi dengan luka baru. Vira hanya mengeluarkan sedikit kemarahannya, untuk menutupi luka yang semakin membesar."
"Apa yang bisa aku lakukan Winda? rasanya aku tidak ada gunanya, sakit itu tidak bisa dipindahkan."
Tatapan mata Winda melihat ke arah kakaknya, kepala Wildan tertunduk menahan air matanya. Menggenggam erat tangannya.
"Menangis lah kak, jangan ditahan. Kita memiliki air mata harus dimanfaatkan." Tangan Winda menggenggam tangan kakaknya.
"Terima kasih Winda, kamu paling mengerti perasaan kak Wil. Terima kasih untuk tadi malam saat kamu bisa mengubah kesedihan Vira menjadi tawa, semangat kami yang hilang dan sudah jatuh mampu kamu bangkitkan kembali dan lebih besar lagi. Kamu mampu melakukan yang tidak bisa kak Wil lakukan." Wildan mengusap kepala adiknya, menyatukan kening mereka.
"Setidaknya Winda ada manfaatnya menjadi kembaran kak Wil, setelah puluhan tahun aku ada gunanya dilahirkan oleh mami." Winda tertawa melihat kakaknya tertawa.
Winda cemberut menceritakan kekesalan menunggu Winda bersama nyamuk, hanya demi menghibur dia.
__ADS_1
"Kamu memang berencana menghibur Vira, bukan cemburu dengan Arum?" Wildan menahan tawa.
"Kak Wil pikir Winda gila, keluar tengah malam karena Arum dan Ar, maaf ya menyingkirkan Arum terlalu mudah untuk Winda, langsung tendang saja keluar kamar." Winda menjelekkan putrinya.
"Lalu kenapa tidak kamu lakukan?"
"Masalahnya, jika Arum ditendang keluar, Ar juga hilang mengikuti putrinya. Akhirnya Winda juga yang rugi."
Wildan langsung tertawa, adik perempuan memang paling aneh. Putri kecil dan cantik dijadikan musuh dan orang ketiga dalam rumah tangganya.
"Kak Wil ternyata bisa tertawa juga, terus seperti ini kak jika nanti kedua putri kak Wil lahir, dia membutuhkan moments tertawa bersama ayahnya." Senyuman Winda terlihat, menatap tampannya kakaknya yang selalu dikagumi sahabatnya.
Wildan menganggukkan kepalanya, merangkul Winda yang langsung memeluknya erat.
"Bagaimana soal perkejaan yang diberikan Ayah?" Wildan meminta Winda berhati-hati dan tidak bertindak gegabah, karena dirinya tidak bisa seperti dulu memprioritaskan Winda di urutan nomor satu.
"Jangan dipikirkan, fokus saja kepada Vira dan twins. Dia akan muncul dihadapan kita semua, memohon maaf dan penuh penyesalan terutama kepada Lin." Tatapan tajam Winda terlihat, tidak akan membuat masalah, tapi akan menyelesaikannya secepat mungkin dan menjaga twins dari orang-orang busuk.
Tatapan Wildan terarah kepada Arum yang berjalan ke arah taman karena melihat kupu-kupu, Winda sudah menatap sinis.
Putri kecil mencari perhatian Papinya, dugaan Winda benar. Wildan langsung jongkok meminta Arum memeluknya.
Mata genit putrinya terlihat, langsung melangkah ke arah Wildan memeluk lembut dan mencium pipi Wildan membuat tawa terdengar.
"Eh pelakor." Vira cemberut, menggendong Arum memindahkan jauh dari Wildan. Vira mencium pipi suaminya mengantikan Arum.
Wildan menutup wajah karena tertawa, Vira dan Winda menjadikan Arum musuh mereka karena selalu mencari perhatian.
"Kalian berdua keterlaluan, Arum masih kecil dipanggil pelakor. Jaga ucapan." Reva menatap cucu perempuan satu-satunya yang berdiri diam melihat ke bawah.
Winda dan Vira memanggil Arum yang masih diam, tidak merespon sama sekali.
"Arum maafkan Mami sayang, tadi hanya bercanda." Vira sedih melihat tatapan Arum yang matanya bening.
"Arum, umi sama Mami hanya bercanda sayang." Winda menatap putrinya yang berjalan menjauhi Winda dan Vira.
"Gara-gara kak Vira, Arum ingin pergi dari rumah." Winda berlari sambil tertawa mengikuti langkah putrinya.
Winda dan Vira tersenyum, Arum mengadu kepada ketiga kakak lelakinya, Wira, Arwin dan Virdan menatap Winda dan Vira tajam.
__ADS_1
***