
Dalam tiga hari Angga mendarat dari penerbangannya, Angga di dampingi oleh lima putranya. Mobil membawa mereka ke perusahaan besar milik Tian.
"Perusahaan BRE bukan hanya sukses di negaranya, tapi meroket sampai ke negara luar." Angga tersenyum, langsung masuk untuk menemui Tian.
Tian duduk santai di kursi kebesarannya, Angga dan kelima putranya masuk dan melihat Tian yang memejamkan matanya.
"Selamat siang pak, tamu dari LN sudah datang." sekretaris Tian langsung pamit keluar, Angga dan kelima putranya langsung masuk dan duduk tanpa dipersilahkan.
"Tuan Tian yang terhormat, saya tahu kamu bukan putra kandung keluarga Bramasta, bukannya perbuatan kamu mengusik keluarga kami membawa masalah." Putra pertama Angga angkat bicara.
Tian hanya diam dan tersenyum, membuka matanya menatap tajam dan sinis ke arah orang-orang yang merasa tidak berdosa.
"Kalian kehilangan satu poin, 90% seluruh kekayaan kalian akan menjadi milikku." Tian tertawa, kakinya di letakkan di atas meja.
"Bastian, kamu cari mati!" Angga langsung berdiri mendekati Tian, menarik kerah bajunya.
"Jangan main-main Om, aku juga bisa membunuh Om tanpa menyentuh, membongkar kejahatan Om soal kejadian 10 tahun yang lalu, anda sudah membunuh Angel, jika putra tertuanya tahu, kamu istri anak cucu bisa menjadi makanan harimau." Tian berbisik sambil tersenyum, Angga melepaskan kerah baju Tian, wajahnya langsung pucat.
"Katakan apa masalahnya kamu bisa mengusik hidup kami? selama ini keluarga kami sangat menghormati seluruh bisnis keturunan Bramasta."
"Ini bukan soal bisnis, sejak awal aku tidak pernah menyentuh bisnis keluarga kami, tapi jika kalian mengusik salah satu orang kami maka hal utama yang bakal habis harta kekayaan kalian, tapi jika kalian menantang dan memilih maju, kami akan membongkar kejahatan kalian, jika masih ingin maju kami akan melenyapkan kalian, begini cara bekerja kami, kalian sudah kehilangan dua poin." Tian tersenyum licik.
"Kami, kamu tidak bekerja sendiri rupanya." Angga mengacak rambutnya, melihat ratusan polisi dan keamanan menyerang mengeledah seluruh perusahaan, bahkan gudang dan rumah pribadi semuanya di periksa. Angga meminta kelima putranya kembali untuk mengamankan gedung pribadi yang menyimpan banyak rahasia.
Tian hanya diam saja melihat lima orang keluar bersamaan dengan Ravi yang masuk ke dalam, Tian tersenyum melihat Ravi yang berjalan langsung duduk santai di sofa.
"Ravi Prasetya, kamu juga tergabung dalam perusahaan BRE?
"Hai paman Angga, apa kabar setelah puluhan tahun tidak kembali?"
"Saya salah apa?"
"Kenapa kamu mengangkat seorang putri? tapi kalian menyakitinya.
__ADS_1
"Kamu mengetahui soal Raya?"
"Dia istriku!"
Angga bagaikan tersambar petir, Raya yang mengurus seluruh bisnisnya, Raya yang menjadi kambing hitam untuk menutupi seluruh kejahatan bisnisnya seorang istri dari Ravi. Angga tertawa tidak percaya, Raya yang Angga kenal tidak takut apapun, tidak punya hati, tidak memandang siapapun dan di mata Angga Raya wanita psikopat.
"Sepertinya dugaan Tama benar Tian, Cinta juga menjalani setengah kehidupan Raya. Angga juga sudah ditipu oleh Ayahnya Cinta." Ravi tersenyum, Angga semakin binggung.
"Aku tidak pernah menyakiti Raya, hanya saja dia aku didik dengan keras, aku juga memberikan kebebasan dan kehidupan layak untuknya."
"Kamu sibuk mencari istri, bersenang dengan banyak wanita. Raya disiksa, dipukul, ditampar atas perintah anak dan istri kamu." Ravi melemparkan foto penyiksaan Kasih.
"Aku tidak tahu menahu soal ini, sejak Raya kecil dia tidak tinggal dengan aku, tapi bersama istri ke-tiga, setelah Raya berusia 15 tahun dia mulai kuat dan aku mempercayai dia untuk menjaga seluruh bisnis."
"Dia istri ketiga kamu?" Ravi melemparkan foto seorang wanita sedang bersama seorang pria yang Ravi ketahui jika dia Ayahnya Cinta."
Angga meremas foto jika istrinya juga berselingkuh dengan orang kepercayaan, lelaki yang membantu Angga untuk menjual banyak bayi, karena pernah tertangkap Angga menghentikan bisnis ilegalnya, langsung mengadopsi Raya.
"Kabarnya tapi tidak ada yang menemukan mayatnya, hanya istriku yang ditemukan."
Ravi langsung menghubungi Wildan untuk segera bergerak ke langkah selanjutnya, Cinta tidak berhasil keluar, tapi Ayahnya yang datang membawa banyak pembunuh bayaran untuk melindungi Cinta sampai bisa kembali ke LN.
Tama sudah menutup seluruh Akses keluar masuk dalam luar Negeri dengan penjagaan ketat, baik laut, udara bahkan darat juga di awasi agar Cinta tidak melarikan diri.
Ravi dan Tian kembali ke rencana B, ternyata musuh sebenarnya bukan Angga, tapi Ayah Cinta yang memanfaatkan nama Angga agar dia aman dari kejaran kejahatan yang dia lakukan.
Wildan keluar ruangan bergerak langsung untuk pergi ke lokasi pertemuan dengan Ayahnya Cinta, Karan yang mengawasi pergerakan Ravi Tian, Tama bahkan Wildan.
"Karan, jika kamu ingin berkhianat aku sudah memberikan jalan." Wildan berbicara membuat Karan tertawa, Wildan memang bocah lugu tapi berbahaya.
"Kamu pikir aku bodoh, Wildan kamu tidak pernah mempercayai orang bahkan ada seseorang yang mengawasi aku."
Wildan menjalankan mobilnya sambil tersenyum sinis, Ravi bisa mendengar percakapan Wildan dan Karan hanya tersenyum saja.
__ADS_1
"Tama bagaimana keamanan di komplek, aku tidak ingin Kasih keluar bahkan terlibat, jangan biarkan Mommy Daddy dan Uncle bertindak. Aku tidak ingin keluargaku terluka."
"Kamu lupa di sana ada Vira geng, ada Bella yang bisa mengawasi, ada Winda manusia licik. Jika ada yang bisa masuk pasti ada yang membukakan jalan."
Mobil Tian juga melaju dengan kecepatan tinggi, Ayah Cinta yang wajahnya sudah di lacak berubah total, Karan sedang melakukan sesuatu untuk memastikan jika ada operasi wajah.
"Wildan perketat penjagaan, dia seorang penjahat dan sangat berbahaya."
"Jangan cerewet Ravi, aku tahu dia pria gila lebih gila dari pada Cinta. Pikirkan cara kita mengetahui yang aslinya, bahkan wajah dan nama sudah berubah, bisa saja dia tidak datang menjadikan orang lain kambing hitam, membuat kita menjauh."
"Wildan apa maksud ucapan kamu?" Ravi mengigat wajah Angga, Tian juga langsung mengerem mobilnya menatap Ravi.
"Jangan bilang kalian berdua melepaskan Angga." Wildan juga langsung menghentikan mobilnya, Karan langsung melacak keberadaan Angga yang sudah menghilang, bahkan Tama juga ikut menghilang.
"Wildan, Tama menghilang."
"Kak Erik dengarkan Wildan, pergi ambil alih posisi Tama, aku yang akan pergi sendiri, Ravi sebaiknya kembali ke rumah, sedangkan kak Tian minta perusahan untuk melacak keberadaan Angga, dia tidak mungkin jauh."
"Kamu bisa dalam bahaya Wildan, mereka bukan anak kecil yang bisa kamu minta bercanda, tapi dia bisa saja langsung menembak kamu dari kejauhan." Ravi menolak untuk kembali.
"Kemungkinan aku yang dalam bahaya, atau bahayanya ada di kediaman kita. Ingat pesan Uncle Bisma, musuh kita dekat tapi kita sibuk mencarinya."
Ravi langsung keluar dari mobil Tian, meminta pengawal membawa mobil untuk pulang. Tian langsung balik lagi untuk menemukan Angga dan Tama, Wildan lanjut untuk menemui Ayah Cinta.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***
MAAF KALAU CERITANYA BERPUTAR, CIRI KHAS AUTHOR SETIAP NOVEL PASTI ADA MISTERINYA.
__ADS_1