
Mobil sampai di kantor polisi, Karan dan Ravi masuk lebih dulu. Berbicara dengan Tama yang sedang berada di kantor, setelah selesai Ravi meminta Kasih dan Karin masuk.
Keduanya melangkah melihat paman, yang membuat keluarga mereka berantakan. Karin meneteskan air matanya, ada rasa marah saat mengingat masa kelam.
"Paman sangat jahat, Karin kehilangan 15 tahun bersama bapak dan ibu. Saat kembali Karin tidak memiliki nama, Karin hidup menumpang pada Kasih. Raya Karina, sedangkan kakak bernama Kasih Amora Rahmat. Karin juga ingin paman memiliki nama, Karin Amora Rahmat." Karin terus menangis.
"Maafkan Paman, kamu tidak mendapatkan cinta sejak kecil. Hari yang tidak bisa terulang kembali Karin, seadanya dulu paman sadar kalian tidak mungkin terpisahkan. Maaf, maaf hanya maaf yang bisa paman ucapkan." Angga meneteskan air matanya melihat Karin.
"Hiduplah dengan baik Paman, setidaknya kali ini Paman mendapatkan kesempatan untuk bertobat. Jangan sia-siakan pengorbanan Kasih. Jangan pernah Paman berpikir, Kasih memaafkan, pada kenyataannya Kasih sedang menghukum Paman. Terus menyesal, akan perpisahan kami, terus pikirkan penderitaan bapak, terus salahkan diri paman akan hancurnya kehidupan Cinta. Teruslah merenung, sampai saatnya Paman tidak bernafas."
"Kasih, ucapan kamu memang sangat menyakitkan nak. Kamu dingin dan keras, tapi kamu mirip bapak kamu, kalian terlalu baik."
Kasih mendekat memukul terali besi, tersenyum dan tertawa kecil. Ravi hanya melihat dari kejauhan Kasih sangat terluka.
"Paman, pernah tidak Paman kasihan kepada kami? ibu, bapak. Sampai bapak menghembuskan nafas terakhirnya, tidak bisa melihat kami bersatu." Kasih melangkah pergi, menghapus air matanya yang menetas.
Karan hanya menunggu di mobil, Kasih masuk membanting pintu. Karan melihat wajah Kasih perlahan Karan tahu jika yang berada di belakangnya Kasih.
Di dalam Karin menatap pamannya, meminta maaf akan ucapan Kasih. Karin yakin Kasih tidak berniat buruk.
"Karin, nama kamu sebenarnya Karin Amira Rahmat. Aku meletakan nama kamu di belakang Karina. Maafkan Paman ya."
Karin tersenyum, memberikan sebuah tasbih. Dia ikhlas memaafkan, berharap pamannya akan menjadi orang yang baik.
"Ravi, jaga Kasih." Paman menatap Ravi yang berjalan mendekat.
"Maafkan Kasih yang tidak bisa mengutarakan rasa sayangnya dengan ucapan baik, tapi bicara kasar."
"Paman tahu, Kasih mengungkapkan perasaan dengan Kemarahan."
"Paman, sadarkan paman jika kami terlibat cinta segitiga. Aku mencintai Kasih, tapi melakukan banyak hal bersama Karin. Aku menyakiti salah satu dari mereka. Maafkan aku Karin, banyak hal yang kita lalui bersama, aku berusaha membayangkan kamu, tapi kamu sudah menghilang."
"Kamu ingin meminta Paman bertanggung jawab dengan hubungan kita? Ravi aku ikhlas melepaskan kamu, jangan pernah berpikir jika aku terluka, awalnya iya tapi aku tahu cinta tidak bisa dipaksa. Jangan meminta maaf, jangan juga minta Paman bertanggung jawab. Kamu kakak ipar aku." Karin tersenyum, menatap pamannya yang menangis sesenggukan.
__ADS_1
Karin melangkah pergi, padahal Ravi ingin mengatakan kebenaran soal pamannya yang juga terlihat cinta segitiga dengan bapak Kasih dan Karin.
Ravi melangkah pergi, bapak Kasih Karin sangat baik, dia menerima calon istri saudaranya yang ditinggal pergi. Menikahinya dengan keikhlasan, nasib pernikahan turun kepada Kasih dan Karin.
Jika dulu bapaknya menikahi ibu karena menutupi kesalahan saudara, menjaga nama baik keluarga, sama seperti Kasih menikahi Ravi demi menjaga nama baik keluarganya, juga melindungi Karin.
"Sekarang aku mengerti mengapa Ibu sangat mencintai Cinta, dia putri lelaki yang sangat dia cintai. Lelaki yang membuatnya merasakan patah hati. Drama cinta." Ravi tersenyum, langsung menemui Tama untuk pergi menjemput Cinta.
Di dalam mobil Karan menatap Kasih dan Karin, Karan baru saja mengetahui hubungan ibu, bapak, juga Paman mereka. Memiliki cerita yang sama dengan Kasih, Karin dan Ravi.
Ravi masuk ke dalam mobil, melihat Kasih yang membuang pandangannya.
"Kasih, jika tatapan kamu masih tajam, sebaiknya kita pulang. Aku tidak ingin kekesalan kamu merambat kepada yang lainnya." Ravi menggenggam tangan Kasih.
Kasih menghembuskan nafasnya, mencoba menurunkan kemarahannya. Tersenyum melihat Ravi, langsung mengatakan ingin bertemu Cinta.
Karan menjalankan mobil, Ravi diam, Karin juga masih terdiam coba memikirkan ucapan Ravi.
"Aak, jelaskan!?"
"Sama sama seperti kita sayang, hanya saja dulu bapak menikahi ibu karena Paman melarikan diri di hari pernikahan, bapak mengambil posisi Paman."
"Kak Tama tetap kakak kandung kami?"
"Iya Karin, kamu menuduh ibu kamu hamil di luar nikah."
"Astaghfirullah Al azim, bukan bermaksud seperti itu."
"Pantas ibu sangat menyayangi Cinta, dia putri Paman yang tidak mendapatkan Kasih sayang, bapak yang sangat baik membawanya, memberikan cinta sama rata dengan kami." Kasih menudukan Kepalanya.
"Bapak dan ibu sangat menyayangi Cinta, tapi mengapa kak Cinta membunuh bapak?" Karin menangis.
"Bukan Cinta yang melakukannya, tapi Bapak kalian yang berkorban menyelamatkan Cinta. Tidak ada yang percaya Cinta, dia juga yakin kepergian Bapak karena dirinya. Cinta ingin Ibu juga membencinya, tapi tanpa diduga kasih sayang Ibu kalian terlalu tulus." Karan orang yang secara langsung menjadi saksi kejadian Bapak meminum racun, menyebabkan Virus, merusak pertahanan tubuh, sampai akhirnya meninggal.
__ADS_1
Kasih menatap keluar jendela, cerita keluarga kini telah terbongkar semua, penderitaan puluhan tahun akhirnya berakhir. Kasih sama seperti Bapak berkorban untuk menjaga nama baik, tapi Kasih ragu, bisakah dirinya sebaik Bapak, Ravi yang terlalu baik, memberikan keluarga juga kebahagiaan kepada Kasih.
"Terima Kasih Aak, Kasih akan berusaha menjadi istri yang baik." Batin Kasih dalam hati.
Mobil tiba-tiba berhenti, Ravi diam melihat seekor kucing melintas tepat di depan mobilnya. Ravi melihat seorang pria membawa kayu mengejar kucing.
"Kenapa dia dipukul padahal hanya mencuri satu ikan?"
"Pencuri akan tetap pencuri Ravi, tidak ada yang sisi baiknya." Karan menatap Ravi.
"Dia mencuri untuk bertahan hidup, seadanya ada rasa kemanusiaan. Kenapa tidak memberi sedikit?" Ravi balik menatap Karan.
"Karan, kamu pilih mati menahan lapar, atau mati mencuri."
"Kasih memilih mencuri, jika tidak tertangkap masih bisa hidup, jika tertangkap memang sudah takdirnya mati, setidaknya aku tidak mati pasrah."
"Kenapa tidak memilih meminta saja?" Karin melihat Kasih.
"Memberikan makan tidak, tapi memukul dan mengusir. Jangan menyakiti hati."
"Sebaiknya kita berangkat, cukup sudah melihat kisah kucing." Karan menjalankan mobil kembali.
Ravi tersenyum melihat Kasih, melihat Kasih seperti melihat Mommy Viana, terlalu menantang. Kenapa lelaki baik seperti Rama bisa mencintai wanita gila seperti Viana, karena orang hanya melihat buruknya Vi, tapi Rama mencari cara agar Viana menjadi orang baik, berdiri disampingnya berjalan beriringan.
Ravi ingin seperti orang tuanya, berjalan beriringan.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP NYA
***
__ADS_1