
Mendengar ucapan Billa hati Wildan juga merasakan sakit, menghapus air mata Billa meminta maaf karena dia tidak bisa menjaga hati Billa, gagal melindungi Billa. Luka yang menyakitkan bukan luka luar, tapi luka dalam hati.
"Maafkan Wil kak, tidak mengerti perasaan kak Billa."
"Tidak masalah Wil, kak Billa mengerti. Sekarang aku harus ke rumah sakit untuk bekerja."
Billa langsung berdiri, melangkah keluar apartemen. Wildan ingin menyusul tapi sudah ditahan oleh Vira.
"Biarkan Billa sendiri, dia wanita dewasa yang bisa mengendalikan keadaan. Kamu tidak bisa mengobati hati Billa."
Sepanjang perjalanan Billa melamun, suara panggilan ponselnya membuyarkan lamunan Billa. Jum memarahi Billa yang pergi dari rumah tanpa izin, Billa langsung meminta maaf, jika ada pekerjaan mendesak.
Jum meminta Billa berhati-hati saat menyetir mobil, mengucapakan bismilah setiap melangkah. Billa tersenyum mengucapakan I love you untuk Bundanya.
Billa tersenyum, dia tidak boleh sedih, apapun yang terjadi, maka terjadilah. Billa melihat cincin pertunangan yang melingkari jarinya, akan ada saatnya cincin akan Billa gunakan, akan di kembalikan tanpa menyakiti Erik, juga keluarga besar, jika saatnya sudah tiba.
Mobil Billa sampai di rumah sakit, Billa bekerja seperti biasanya. Melewati ruangan operasi Laura, terlihat Tian yang masih tertunduk sambil menagis, Ravi dan Tama juga ada di sana, operasi Laura cukup lama, pasti ada cedera serius.
"Bagaimana keadaan dia kak Ravi?" Billa mendekati Ravi, Tian menatap Billa yang terlihat rapi dengan baju kedokterannya.
"Belum tahu Bil, Laura pendarahan hebat. Bagaimana keadaan Bella?" Ravi menatap Billa yang terlihat baik-baik saja.
"Bella baik-baik saja, dia sedang duduk santai menunggu kabar kematian Laura." Billa langsung tersenyum, melangkah pergi.
Tian menatap Billa yang pergi, air matanya kembali menetes, Ravi merangkul Tian untuk menguatkannya. Ravi yakin semuanya akan baik-baik saja, hanya saja butuh sedikit waktu agar kembali normal.
Kasih menghubungi Ravi, dia baru saja mendapatkan kabar soal pertengkaran Bella dan seorang wanita malam, Ravi meminta Kasih jangan memberitahu siapapun, juga jangan banyak pikiran, karena Kasih sedang menyusui, tidak ingin air susunya berkurang jika banyak pikiran.
Ravi melakukan panggilan video, menjauh sedikit dari Tian melihat kedua anaknya yang sedang tidur. Ravi mengelus layar ponselnya. Ravi berharap, anak-anaknya tidak menghadapi masalah serumit mereka.
__ADS_1
[Bobok cantik sekali Rasih Daddy, maafkan Daddy sedang sibuk di luar, Raka juga jaga adik dan Mommy ya.] Ravi memberikan ciuman jarak jauh.
Erik keluar dari ruangan operasi, terlihat ketakutan di wajah Erik. Tian langsung mendekati Erik menanyakan kabar Laura.
"Sekarang Laura baik-baik saja, tapi kemungkinan besar Laura hilang ingatan. Kita tunggu dia sadar untuk memastikan." Erik langsung melangkah pergi, menuju ruangannya.
Erik melewati Billa yang sedang tertawa bersama Dokter lainnya, Billa melihat Erik yang terlihat kacau, langsung membuang pandangannya, melangkah pergi.
Seorang Dokter menemui Billa menceritakan keadaan Laura saat sedang di operasi, Laura mengalami perdarahan, bahkan sesak nafas, dadanya mengalami keretakan karena pukulan, semua yang membantu operasi Laura bersyukur dia bisa bertahan berkat Erik.
Hal buruk yang mungkin terjadi, Laura akan melupakan sebagian ingatannya yang menyakitinya, tapi baru perkiraan, untuk memastikan harus menunggu Laura sadar.
Billa tersenyum kemungkinan besar dia hanya mengigat momen indah bersama Erik, karena cerita indah dimulai saat jatuh cinta dengan Erik. Billa tidak ingin menjadikan beban, berusaha ikhlas dengan semua yang terjadi, jika memang harus berakhir, Billa akan menerimanya.
Billa melihat ponselnya panggilan dari Kasih untuk melihat twins, Billa langsung cepat menganti baju untuk pulang, pekerjaannya juga sudah selesai, mungkin bertemu twins akan meringankan bebannya.
Erik melihat Billa buru-buru ingin pergi, langsung mengejar Billa menahan tangannya. Erik ingin berbicara berdua, Billa menolak karena ada urusan penting.
"Mengerti dalam hal apa?"
"Kita seorang Dokter Bil, tugas kita menolong. Aku hanya minta kamu percaya aku, sampai Laura baik-baik saja."
"Jujur Billa kecewa, tapi seperti yang kamu bilang, kita Dokter pasien harus diutamakan, jika ada pasien yang sekarat, hampir mati mempunyai keinginan terakhir untuk hidup bersama lelaki yang dicintainya, ternyata Dokter yang menangani, orang yang dia inginkan maka sebaiknya mereka harus menikah, seperti itu maksud kamu. Dokter Erik yang terhormat, meminta saya mengerti dari segi mana, menunggu kamu jadi duda, bagaimana jika dia tidak jadi mati, kalian punya anak, hidup bahagia, terus aku menua menunggu kamu." Billa langsung tertawa.
"Pikiran kamu terlalu jauh Billa."
"Aku bisa mengerti tatapan kamu Erik, rasa kasihan menghancurkan hubungan kita. Sudahlah sebaiknya kamu fokus saja, akhirnya hubungan kita, Allah yang menentukan, jika pernikahan kita batal, tidak akan merusak hubungan keluarga kita, Billa tidak akan membenci kak Erik." Billa langsung melangkah pergi, masuk ke dalam mobilnya.
Di dalam mobil, air mata Billa menetes, dia tidak mengerti kenapa bisa kekanakan mengatakan sesuatu yang menyakiti dirinya sendiri. Mengatakan sesuatu yang belum terjadi.
__ADS_1
"Billa kamu bodoh sekali, kemarin berjanji akan mempertahankan, tapi sekarang, Billa melepaskan. Dasar Billa tidak konsisten."
Sesampainya di rumah Mommy Vi, Billa langsung menuju kamar Kasih, melihat twins yang sedang asik menyusu. Kasih meminta babysister keluar, Kasih menatap Billa yang langsung menggendong Raka.
"Bil, duduk sini." Kasih meminta Billa mendekat.
"Ada apa kak? apa ada keluhan?" Billa menatap Kasih yang tersenyum.
"Menuju hari pernikahan berat ya Billa, padahal hanya menghitung minggu, tapi sekarang semua bayangan indah seakan-akan terlihat kabur dari mata." Kasih melihat mata Billa yang berkaca-kaca.
"Iya kak, rasanya berat juga sakit sekali. Billa binggung harus bagaimana, menunggu atau secepatnya mengakhiri. Bil tidak takut memilih jalan terbaik yang ternyata menjadi keputusan yang salah." Billa meneteskan air matanya.
"Semua ini ujian Billa, kamu kuat, bisa menghadapi semuanya, pilih jalan yang tidak menyakiti siapapun."
"Menurut kak Kasih apa yang harus Billa lakukan?"
"Tunggu Bunda mengetahui siapa Laura, kamu bisa melihat dan berkaca dari tindakan Bunda Jum. Kak Kasih yakin Bunda bisa menjadi contoh yang baik untuk kamu. Setelahnya kamu boleh memutuskan." Kasih menghapus air mata Billa, Kasih yakin sakit sekali melihat orang yang dicintai bersama orang lain, sekuat apa wanita yang mampu menerimanya.
Kasih pernah merasakan sakitnya, lebih sakit lagi saat kita berpura-pura baik-baik saja. Berkali-kali lipat menyesakkan dada.
"Aunty Billa kuat, Rasih yakin Aunty pasti bahagia." Kasih menguatkan Billa dengan berbicara menjadi Asih.
"Terima kasih Asih, Aunty berjanji akan menjadi wanita kuat, Asih juga wanita kuat."
"Billa, laki-laki akan menyadari kesalahannya setelah kehilangan wanita yang dicintainya, jika belum mereka tetap berpikir, keputusan mereka sudah benar." Kasih tersenyum menatap Billa.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
__ADS_1
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA.
***