SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 PENCURI LAMA


__ADS_3

Senyuman Lin terlihat menatap Erwin yang masih dimarahi oleh Erik karena pergi dari rumah sakit militer, bukan masalah perginya, tapi keluarga mengkhawatirkan jika dia ada masalah.


"Kak Win?" Lin tersenyum melihat Erwin yang menatapnya tajam.


"Siapa dia?" Erwin melihat seluruh keluarga yang pulang bersamaan.


"Kakak lupa dengan Lin, gadis yang pernah kakak tolong." Erlin mengingatkan Erwin soal dirinya.


"Aku tidak ingat, terlalu banyak orang yang aku tolong." Erwin mengejar kakaknya yang sudah berlari pulang bersama Embun.


"Jum, Va, Septi, nanti kumpul di rumah. Kita makan malam bersama." Viana tersenyum melangkah masuk bersama Rama.


Semuanya pulang ke rumah masing-masing, setelah cukup lama meninggalkan rumah akhirnya bisa kembali dengan tenang, dan menambah anggota baru.


Wildan mencari putranya yang tidak pulang bersama mereka, dan menatap Virdan berjalan mengandeng tangan Arum bersama Arwin.


"Ada apa Ayang?" Vira melihat ke arah tatapan Virdan.


"Dan, kamu ingin ke mana?" suara lembut Wildan terdengar meminta putranya pulang.


Wajah Virdan kebingungan melihat tangannya ditarik oleh Arum, dia juga ingin pulang tapi tidak ingin mengecewakan adiknya.


"Rum, kak Dan pulang ya." Virdan menunjukkan ke arah Papinya yang memintanya untuk kembali.


"Wil, biarkan saja Virdan di sini." Reva tidak mempermasalahkan Virdan tinggal bersama mereka.


Senyuman Wildan terlihat, memang tidak masalah putranya ada di rumah neneknya sendiri, tetapi Wildan tidak ingin ada rasa di hati Virdan jika dia tidak disayangi.


Memiliki adik di usia yang sangat dekat, mungkin memaksa Virdan untuk dewasa lebih cepat. Wildan ingin tetap memperhatikan putranya, dan tidak melupakan dia meskipun ada dua adiknya.


"Maaf ya Mami, Wildan tidak bermaksud menyinggung. Wildan hanya ingin bersikap adil." Senyuman Wildan terlihat, memeluk Reva dan meminta memakluminya.


"Naik punggung Papi." Wildan jongkok, putranya langsung naik sambil tersenyum.


Bima merangkul istrinya, putra mereka benar-benar sudah dewasa dan menjadi sosok ayah diusia muda.


Vira tersenyum melihat suaminya, melangkah bersama untuk ke kamar. Mereka akan saling membantu untuk membesarkan ketiga anaknya hingga dewasa.


"Sampai." Virdan langsung lompat di atas tempat tidur melihat adiknya yang sudah mengerakkan kaki dan tangannya bebas dari bedong bayi.


Tatapan Virdan bingung melihat kedua adiknya yang sangat mirip, Vira mencium pipi putranya yang langsung menutup pipinya.

__ADS_1


"Sayang jangan dijahili." Wildan menarik Vira yang tidak ingin berhenti mencium Virdan.


"Tampan banget ini anak."


Vira berbicara dengan putranya, tanggapan Virdan sudah sangat baik. Dia tidak banyak menjawab hanya menganggukkan kepalanya.


Ocehan Vira yang tidak berhenti membuat putranya pusing, langsung melangkah pergi meninggalkan kamar dengan wajahnya yang kesal.


Rama melihat cucunya yang terlihat kesal, meminta Virdan mengikutinya untuk duduk bersantai.


"Ini susu kamu Dan, jangan heran dengan Mami kamu yang berisik." Senyuman Rama terlihat memangku cucunya.


Suara teriak Erwin terdengar, Rama menggelengkan kepalanya melihat tingkah Erwin yang belum dewasa.


Dia memanjat pagar rumah Rama, mencuri buah mangga yang baru masak. Meksipun ketahuan tidak ada niatnya untuk turun.


"Erwin, turun sini."


"Kenapa Uncle? Erwin mencuri ya. Kak Vira yang selalu mengajari Erwin." Suara kuat jatuh terdengar, Virdan sudah tertawa lucu melihatnya.


Kepala Rama menggeleng melihat Erwin yang jatuh dari atas pohon, membiarkan bangun sendiri.


"Uncel tidak berniat menolong Erwin?"


Erwin langsung duduk, melangkah mendekati Rama mengunyah mangga yang masih ada kulitnya.


Belum ada yang berubah dari Erwin, dia masih si kecil yang selalu menjadi korban kejahilan Vira, Winda dan Bella.


"Kamu rindu masa kecil Win?" Rama merangkul anak muda yang menjadi sumber kebahagiaan sahabatnya Septi.


Kepala Erwin mengangguk, saat kecil dia ingin cepat besar agar bisa memiliki kehidupan bebas seperti kakaknya Erik, juga Wildan.


Saat kebebasan datang, Vira, Winda, Bella dan Billa sudah menikah Erwin ingin kembali kecil meskipun dia selalu menangis.


"Kamu tahu jika kamu paling di sayang oleh kakak-kakak kamu, saat tahu kamu melarikan diri semuanya langsung panik. Sejak kecil mereka melatih mental kamu agar kuat Erwin." Rama menepuk pundak Erwin yang sudah besar.


"Sudah selesai membuat masalahnya Win?" Wildan membawa kedua putrinya.


Erwin langsung menggendong Vio, mencium hidungnya yang mancung. Senyuman Erwin terlihat mengagumi kecantikan Vio.


"Vio cantik sekali?"

__ADS_1


"Kamu bisa membedakan mereka?" Wildan juga masih binggung.


"Bagaimana kak Wil rasanya menjadi Ayah muda dari tiga anak diusia muda?" tatapan Erwin terlihat serius, merasa heran melihat senyuman Wildan.


Perasaan Wildan campur aduk, dia tidak pernah berpikir untuk menikah diusia muda apalagi menjadi ayah muda.


Wildan berpikir akan menikah di usia tiga puluh, hanya memiliki satu anak, tapi tidak pernah disangka dia menikah di usianya yang masih muda.


Cobaan juga datang dalam pernikahannya, hal paling berat saat kehilangan putrinya Vivi, tapi semuanya sudah diganti oleh dua malaikat kecilnya.


"Erwin turut berdukacita kak, Win juga mendengar kabarnya makanya memaksa diri untuk kembali, tapi kak Wil tahu sendiri bagaimana kerasnya kak Erik, dia tidak ingin Erwin melakukan kesalahan yang bisa mengecewakan Mama Papa." Tangan Erwin mengusap hidung Vani yang juga mancung.


"Kak Wildan tahu itu, tapi kak Erik satu-satunya anak jenius yang tidak ada kesalahan, jalan dia mulus dan kepintaran dia kak Wildan akui."


Erwin setuju, Erik memang luar biasa hebatnya di dunia medis, tingkahnya saja yang kekanakan, tapi menyangkut keselamatan pasien dia sangat serius.


"Kak Wil sekarang banyak berubah, jauh lebih hangat. Dulu Win selalu mencari cara untuk mendekat, tapi kak Wil menjauh." Wajah Erwin mendadak sedih jika ingat dinginnya Wildan.


"Win, dua orang jenius tidak bisa bersatu. Kamu api dan kak Wil es, kita berada di jalan yang berbeda, kak Wil menyadari kemampuan kamu sejak kita kecil, makanya memilih menjaga jarak." Senyuman Wildan terlihat, menatap Erwin memakan mangga tanpa dikupas kulitnya membuat Vio binggung, dan melotot.


"Maaf, Erwin juga tidak muncul di penikahan kalian. Win tidak memiliki akses, karena sedang sekolah militer."


Wildan menepuk pundak Erwin, mereka semua sangat maklum karena Erwin nakal. Suara Wildan tertawa terdengar, dia tahu Erwin hadir.


Tatapan Erwin tajam, jangan sampai Rama menyadarinya.


"Win, kamu sudah siap menikah belum?"


"Uncel, jangan bicara seperti itu. Nanti Mama mendengarnya langsung heboh, seperti tidak tahu Mama saja, apalagi Aunty Reva manusia rempong." Suara tawa Erwin terdengar, menutup mulutnya lupa jika dua wanita sahabat terbaik Rama.


Mata Erwin melotot, melihat Lin lewat. Mencoba mengingat di mana dia ada bertemu Lin.


"Ada apa? kamu mengenal Lin?"


"Mungkin kak Wil, tapi di mana ya. Dia mirip tukang jual kue keliling." Erwin tertawa.


"Jaga ucapan kamu, dia putri utama kak Steven." Wildan mengerutkan keningnya.


***


Dua bab

__ADS_1


follow Ig Vhiaazara


__ADS_2