
Berkali-kali Ravi menghubungi Mommy, tapi tidak dijawab. Ravi bangun untuk mencari Kasih, melihat lemari baju yang terbuka. Tangan Ravi gemetaran saat melihat beberapa baju Kasih sudah tidak ada, kopernya juga tidak ada.
Ravi mencoba tenang, masuk ke dalam ruangan kerja. Seluruh CCTV Kasih matikan, ponsel Kasih juga ditinggalkan. Ravi membaca sebuah tulisan, hati Ravi hancur membacanya.
Kasih menulis di kertas, meminta maaf karena dia dan anaknya menyusahkan Ravi, meminta Ravi tidak pernah mencarinya, Kasih akan membesarkan anaknya sendiri, tidak akan menggangu hidup Ravi.
Air mata Ravi menetes, terduduk di lantai, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya.
"Daddy akan menemukan kalian, aku akan membawa kamu kembali Kasih." Ravi menghapus air matanya.
Kepergian Kasih membuat Ravi menjadi pendiam, Viana mencoba bertanya soal Kasih. Rama sangat kaget mendengar kabar Kasih pergi dari rumah.
"Astaghfirullah Al azim, sudah Daddy peringatan Ravi. Apa yang menyebabkan Kasih pergi." Rama tidak tega melihat Ravi yang terpuruk.
"Ravi membentak Kasih di kebun, dia tersinggung." Ravi mengusap air matanya.
"Cari sampai ketemu, Mommy tidak ingin tahu caranya Ravi."
"Pasti Mom, tolong jangan memberitahu yang lainnya, Erik sedang sibuk untuk pertunangannya. Ravi akan terus berusaha mencari Kasih, walaupun harus ke ujung dunia."
"Daddy akan membantu mencari Kasih sampai ketemu. Kenapa wajah kamu pucat sekali Rav?" Viana menyentuh kening Ravi.
"Ravi baik-baik saja Mom, hanya saja pagi tadi muntah-muntah. Badan Ravi juga lemas, sekarang sudah jauh lebih baik."
Viana merasa kasihan melihat keadaan Ravi, beberapa pengawal mulai bergerak untuk menemukan Kasih, Ravi juga tidak tinggal diam berusaha untuk membawa pulang anak istrinya.
Rama juga sangat khawatir, meminta bantuan beberapa orang kepercayaan untuk menemukan menantunya. Rama tahu bagaimana sakitnya ditinggal pergi, Rama tidak ingin yang terjadi padanya terulang kembali.
***
Sudah dua hari Kasih tidak bertemu Ravi, Kasih asik berkeliling mall membeli beberapa makanan. Sebenarnya Kasih sangat merindukan Ravi, ingin dipeluk Ravi, tapi hati Kasih sangat sakit mengigat ucapan Ravi.
"Sayang, seharusnya hari ini jadwal kalian periksa, tapi Daddy lagi dan lagi tidak ada di sisi kita." Kasih mengembalikan semua belanjaannya.
Perut Kasih lapar, melihat banyak buah-buahan. Kasih ingin membelinya, tapi ucapan Ravi mengurungkan niat Kasih.
Taksi yang menunggu Kasih membukakan pintu mobil, Kasih langsung masuk mengelus perutnya yang lapar. Berkali-kali Kasih ingin membeli makanan, tapi ucapan Ravi seakan-akan melarangnya untuk makan.
__ADS_1
"Maaf Bu, kita tidak jadi membeli makanan?" supir taksi menyadari Kasih sedang ingin makan.
"Tidak pak, kita pulang saja." Kasih meneteskan air matanya.
Setiap hari Viana datang ke rumah Ravi, melihat keadaan Ravi yang setiap pagi muntah, tubuhnya lemas, kepalanya pusing, tapi setelah siang Ravi langsung baik-baik saja. Keadaan yang sama seperti Rama saat Vi hamil Vira, tapi Ravi jauh lebih parah.
Hueekk hueekk ... Ravi memegang kepalanya yang sakit, Viana membantu menepuk pelan punggung Ravi. Sebenarnya Viana tidak tega melihat putranya pikiran terbagi-bagi.
"Maaf ya Mom menyusahkan, Ravi harus pergi sekarang. Kemarin pengawal Ravi melihat Kasih di Mall, semoga saja bisa mendapatkan petunjuk." Baru saja Ravi ingin berdiri, perutnya tidak nyaman langsung muntah lagi, sampai Ravi terduduk lemas.
Rama langsung masuk memberikan obat untuk Ravi, memberikan minuman jahe agar mual Ravi berkurang. Rama membantu memapah Ravi yang kesulitan untuk berdiri.
"Kamu beristirahat saja Rav, Daddy yang akan mencari Kasih."
"Kita cari bersama Daddy, Ravi tidak mungkin bisa beristirahat, anak dan istri Ravi sedang berada di luar, kita tidak tahu yang Kasih alami, mungkin sekarang dia sedang menangis." Ravi mengusap matanya, tidak bisa membayangkan keadaan Kasihnya.
Ravi beristirahat sebentar, jam 9 pagi Ravi sudah bisa beraktivitas seperti biasanya. Setelah mandi, sarapan seadanya, Ravi ingin segera menemukan Kasih.
Langkah kaki Ravi terhenti melihat kulkas, biasanya pagi-pagi Kasih sudah memeluk kulkas, memasang wajah sedih meminta es krim. Ravi membuka kulkas, penuh dengan es krim, buah-buahan kesukaan Kasih.
"Apa yang kamu lakukan Rav?" Erik tertawa melihat Ravi yang mirip Kasih suka memeluk kulkas, demi es krim.
"Bagaimana persiapan lamaran malam ini? maaf Rik aku tidak sempat membantu, soalnya ada beberapa masalah." Ravi berusaha terlihat santai.
"Sedikit, sepertinya masalah besar. Jangan mencoba bohong Rav, kita sudah lama kenal, masalah kamu bisa menjadi masalah kita." Erik menepuk bahu Ravi.
"Kamu sakit, kurusan. Aku periksa saja." Wajah Erik langsung khawatir.
"Terima kasih Rik, hanya bawaan. Pagi-pagi muntah, pusing, sekarang sudah baikan, tapi sudah tiga hari Kasih pergi dari rumah." Ravi menundukkan kepalanya.
"Astaghfirullah Al azim, sejak kita balik dari Mansion. Kenapa tidak memberikan kabar?" Kepala Erik menggeleng melihat Ravi menangis.
"Fokus dulu ke acara lamaran, setelahnya tolong bantu aku Rik menemukan anak istriku. Sudah ratusan pengawal bergerak, tapi tidak ada sedikitpun jejak Kasih, terakhir dia terlihat di mall setelahnya kehilangan jejak." Ravi mengusap air matanya.
"Kita cari sekarang."
"Jangan Rik, malam ini acara pertunangan jangan dirusak."
__ADS_1
"Keselamatan anak istri Lo lebih penting, seharunya kamu meminta bantuan seluruhan keluarga. Kamu tidak menganggap kita keluarga lagi Rav?"
Ravi mengacak rambutnya, tidak bisa berpikir lagi. Kekuasaan yang Ravi miliki tidak ada gunanya, mencari istrinya saja butuh waktu berhari-hari.
"Tama tahu?"
"Belum, niatnya setelah acara lamaran batu memberi tahu."
"Ya Allah, ucapan kamu kemarin sangat menyinggung ternyata. Aku tidak menyalahkan Kasih Ravi, jika dia merasakan sakit karena ucapan kamu, mungkin sekarang dia sulit untuk makan."
"Rik, jangan membuat aku semakin khawatir, janin Kasih masih lemah. Dia baru jalan tiga bulan, seharusnya kami sudah cek baby, tapi lagi dan lagi aku tidak bisa melihat anakku." Ravi semakin kacau.
Erik tidak berpikir dua kali, langsung menghubungi Tama dan Tian meminta datang ke rumah Ravi. Tidak butuh waktu lama keduanya sudah muncul, dengan wajah khawatir.
"Ada masalah apa Rik?" Tian langsung duduk, menatap Ravi aneh, terlihat murung, wajahnya terlihat sangat sedih.
"Ada masalah serius kak, kak Tama tolong tenang jangan pakai emosi. Erik meminta kalian datang, karena butuh kerja sama, di sini juga tidak ada Wildan, jadi kita harus bisa kompak."
"Langsung ke inti Rik, jangan berputar-putar." Tama semakin binggung.
"Sudah tiga hari Kasih menghilang." Erik menatap serius.
Tama menatap Ravi yang mengagukan kepalanya, Tian mengerutkan keningnya. Keduanya saling pandang.
"Seriusan?" Tian memasang wajah tidak percaya.
"Iya kak, Ravi sudah meminta ratusan pengawal ..
." Ravi malas terus mengulang ucapannya.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***
__ADS_1