SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 VIDEO ENAK


__ADS_3

Suara pintu dibanting, Ravi menghela nafasnya, rencananya dia ingin membicarakan sesuatu yang penting, tapi dapat masalah lagi, baru saja Erik sekarang giliran Tian. Dua orang yang selalu bergiliran membuat masalah.


"Tian aku hamil, tolong aku Tian. Abah bisa mengusir aku." Nabila berlutut, menangis sesenggukan.


Tian hanya diam saja, asik memainkan ponselnya. Ravi menatap Tian, Kasih memeluk lengan Ravi. Tian sangat kejam mengabaikan perempuan.


"Sebaiknya Wildan pulang, aku tidak ingin ikut campur."


"Wil, nanti pulangnya kak Ravi ada pembicaraan serius."


Erik membantu Nabila berdiri, memintanya duduk dihadapan Tian, yang lainnya juga duduk ingin menjadi penonton.


"Kak, tolong Nabila kak." Nabil menyentuh tangan Tian, menggenggamnya erat.


Kasih meletakan wajahnya di bahu Ravi, sesekali Ravi mencuri ciuman.


"Ak kak Tian serem, kasihan Nabila."


"Kita ke kamar saja, lebih baik kita bikin anak daripada ngibah."


Kasih mencubit kuat perut Ravi, wajah Ravi meringis menahan sakit.


"Kamu melarang Wildan pulang, tapi Aak yang ingin pergi."


Ravi tertawa pelan, langsung fokus lagi ke Bastian yang belum merespon. Wildan sampai mengantuk bosan, Karin tersenyum melihat Karan dan Wildan yang seperti pasangan.


"Anak siapa?" Tian melepaskan tangannya.


"Anak kamu kak, aku hanya menjalin hubungan dengan kak Tian."


Bastian langsung tertawa, Wildan langsung bangun melihat Bastian tertawa. Erik juga langsung berdiri begitupun dengan Ravi.


Erik langsung memberikan aba-aba agar Ravi bertindak, tapi Ravi hanya menggeleng takut. Wildan perlahan melangkah menjauh, dia heran dengan wanita yang bisa jatuh cinta dengan Tian, lelaki dingin yang tidak pernah melirik siapapun. Pacar bagi Tian hanyalah pelarian, dia hanya meminta status.


"Nabila sebaiknya kamu pulang." Ravi meminta Nabil berdiri.


Nabila mengeluarkan tes pack, surat keterangan hamil. Ravi langsung menarik Kasih untuk ke ruang tamu, sebentar lagi Tian akan mengamuk.


Hanya tersisa Tian dan Nabila, Tian menyobek kertas sambil tersenyum.

__ADS_1


Di ruang tamu yang lain berkumpul, penasaran yang akan terjadi. Salsa duduk bersama Karin sambil menunggu teriakan.


"Kak Tian orangnya kasar ya?" Kasih melihat Ravi yang menggeleng kepalanya.


"Jika dia tidak kasar, mengapa kalian lari ketakutan." Karin bertanya kepada Salsa, yang santai sambil memakan permen.


"Dek, Kenapa kamu ingin dipanggil Salsa, padahal kak Windi sangat membenci nama kamu. Panggil Clara saja." Ravi tertawa jika ingat Windy selalu kesal dengan Salsa.


"Tidak mau, Clara mirip nama Aunty Clara, Salsabila bila sudah dipakai Billa, jadi aku Salsa saja."


"Kenapa kak Windy tidak suka Ak?" Kasih penasaran juga, karena Salsa jarang terlihat.


"Ceritanya panjang sayang."


Suara kuat gelas pecah terdengar, Nabila keluar dengan bercucuran air mata. Tidak ada yang menatap Nabil yang melangkah keluar. Tian juga berjalan mendekat duduk santai seakan-akan tidak terjadi apapun.


"Sudah selesai hanya begitu saja, ya Allah kalian membuang waktu Salsa saja, aku pikir akan ada acara jambak-menjambak." Salsa kecewa tidak ada keributan.


"Doa kamu bagus sekali Clara." Tian hanya tersenyum.


"Sudah Salsa ingin pulang, besok harus bangun pagi." Salsa langsung berdiri ingin pergi.


"Sialan, sakit jahara." Erik meringis, belum hilang sakit wajahnya, sekarang kepalannya.


"Makanya kejahilan kamu dikurangi, sudah tahu Salsa mirip wonder woman, sangat suka melihat orang bertengkar." Tian tersenyum melihat Erik.


"Kak Ravi ingin bicara apa? kita sudah lama membuang waktu." Wildan menatap Ravi yang cengengesan.


"Kak Tian apa yang dilakukan kepada Nabila?" Ravi penasaran, yang lain juga sama.


"Kenapa kalian semua ingin menonton adegan mesum?" Tian meletakkan ponselnya.


Ravi langsung mengambilnya, tidak ada yang menyimak ucapan Tian, langsung berkumpul di belakang Ravi yang menghidupkan video.


"Astaghfirullah Al azim," Erik berucap tapi masih ikut menonton.


Karan menutup mata Karin agar menjauh, Wildan yang tidak melihat menatap binggung. Tama juga mundur, Ravi tertawa, matanya langsung ditutup Kasih. Erik juga tersenyum melihat adegan di handphone.


"Kak Tian kirim, lumayan buat pemanasan." Ravi tertawa, Kasih memukuli Ravi yang memang otaknya mesum.

__ADS_1


Tama langsung mematikan ponsel, menyerahkannya kepada Tian, suara enak-enak sudah menggema.


"Sudah cukup, Erik sudah ngeces, Ravi kepalanya sudah panas." Tama mengentikan tontonan.


"Karin belum melihat kak Tama, tadi di tutup Karan. Karin juga penasaran, kenapa dia teriak terus-terus."


Ravi dan Erik tertawa kuat, Tian juga tertawa sambil menepuk jidat. Karin tidak mengerti hubungan enak-enak, Karan menatap sinis menggelengkan kepalanya.


"Lupakan ya dek, kamu belum menikah belum pantas melihatnya." Tama mengelus kepala Karin.


"Erik juga belum, tapi boleh melihatnya."


"Dia karena otak mesum, pikirannya kotor, mirip sama Ravi."


Kasih mendekati Karin, membisikkan sesuatu membuat Karin menutup mulutnya, malu melihat tingkahnya yang penasaran.


"Kak Tian kirim, lumayan untuk khayalan sebelum tidur."


"Dosa Erik, jika kamu sudah penasaran langsung menikah." Tian langsung menghapus video, Erik menghela nafasnya, Tian susah diminta hal yang menarik.


"Sayang, tadi kamu lihat tidak dibalik jilbabnya besar sekali dadanya." Ravi mengingat isi video, Kasih langsung menjambak rambut Ravi melangkah pergi bersama Karin.


"Ya Allah, sayang kamu melakukan KDRT kepada suami." Ravi mengelus kepalanya sambil terus tertawa.


"Kamu benar Vi, besar sekali ya. Putih lagi." Erik mengigat langsung tertawa bersama Ravi.


Tian hanya geleng-geleng melihat dua orang yang paling tahu soal dewasa, tidak heran terkenal sebagai playboy kelas atas. Tian hanya mencintai satu wanita, jika dia memiliki kekasih hanya untuk pelarian. Tian tidak pernah menatap, menyentuh hanya memenuhi seluruh pengeluaran pacarnya, di dalam hati Tian hanya ada satu nama, tidak bisa tergantikan oleh siapapun.


Nabila pacar Tian yang kesekian, salah satu wanita baik yang Tian hargai, setia wanita yang mendekatinya, yang bisa bertemu langsung dengannya akan diselidiki secara menyeluruh. Tian tidak kaget mendapatkan video kotor beberapa bulan yang lalu. Dia menunggu sampai Nabil datang menemuinya. Bukan Tian yang berkhianat, tapi wanita yang berpaling.


Setiap bulan Tian harus berganti nomor umum, kecuali soal keluarganya. Terlalu banyak wanita yang ingin mengenalkan terutama para putri yang memiliki jabatan, tapi Tian memilih wanita biasa yang tidak membuatnya ribet, Bisma juga tidak pernah menerima jika rekan kerja meminta hubungan serius dengan putranya.


Tian memiliki hak untuk memilih tambatan hatinya, tidak ada yang bisa mengubahnya, sekalipun Bisma, tapi Tian sangat taat kepada Bundanya, jika Jum ingin Tian putus, secara langsung Tian langsung memutuskannya sepihak.


Berkali-kali Tian memperkenalkan kekasihnya kepada Jum, tapi tidak ada satupun yang Bundanya suka.


Setelah mendapat amanah soal Bella, Tian langsung mengakhiri hubungan dengan seluruh pacarnya, kecuali Nabil yang sudah melakukan hal fatal, meskipun Tian belum bisa menghubungi Bella karena ulah Ravi yang jahil, setidaknya Tian lega mendapatkan restu, hanya perlu meluluhkan hati adiknya yang masih labil.


***

__ADS_1


__ADS_2