SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 TERKURUNG


__ADS_3

Seorang wanita berjalan tertatih mendekati rumah seorang Dokter yang terkenal paling baik, tidak pernah meminta bayaran, tidak memberatkan pasiennya.


Sebuah perumahan sederhana, jauh dari keramaian. Mengetuk pintu sambil bermandian keringat. Suara ketukan semakin kuat, tidak ada yang membuka pintu sampai duduk lemas di depan pintu.


"Dok, tolong saya dan anak saya Dok. Ini sangat menyakitkan." Suara teriakan juga tangisan terdengar.


Maria tersenyum dari balik pintu hanya menatap saja, menunggu waktu yang tepat untuk membuka pintu. Maria duduk di dekat pintu rumahnya, menatap foto Erik yang tampan, menciumnya berkali-kali, memeluknya dengan erat.


"Cantik, buka pintunya bantu wanita di luar melahirkan."


"Baiklah, tapi kamu sudah berjanji akan membuat aku bertemu dengan Erik, berjanji juga akan menjebak Erik untuk menikahi aku. Lakukan segala cara Noval untuk aku memiliki Erik." Maria tersenyum mencium foto Erik.


"Kamu bukan hanya bisa menikahinya, mimpi kami memiliki anak yang tampan dan cantik bersama Erik akan aku kabulkan."


Maria langsung mengubah mimik wajahnya, membuka pintu langsung teriak histeris membantu Ibu hamil untuk segera masuk ke dalam ruang persalinan.


Seorang pria jelek lebih tepatnya buruk rupa juga muncul, tersenyum manis membantu untuk berdiri, masuk ke dalam ruangan persalinan.


Rumah yang cukup sederhana, tapi ternyata memiliki ruangan bawah tanah yang tidak kalah mewahnya dari milik Wildan.


Langkah kaki Ibu hamil memasuki bawah tanah, seluruh perlengkapan untuk operasi tersedia, perlengkapan kedokteran lengkap, rasanya seperti sedang berada di rumah sakit mini.


Maria menyiapkan segala keperluan, Noval mendekati Ibu yang sedang beristirahat di ranjang, mengelus perutnya, menciumnya, mendoakan agar lahir dengan sehat.


"Kamu terlihat tidak sehat, perut besar tapi tubuh kamu kurus sekali, saya bantu membuka baju kamu." Tangan Noval menyentuh baju, ingin meremas dada, tapi langsung ditahan, ditendang kuat.


"Maafkan saya, ini efek hamil. Saya akan membuka baju sendiri, Dokter perut saya sakit sekali."


"Wanita lemah, wanita hamil harus kuat, tidak suka mengeluh, kalian harus mati demi anak kalian." Maria teriak kuat, menatap tajam.


"Jika saya mati, lalu bagaimana dengan anak saya?"

__ADS_1


"Jika kamu tidak ingin mati, berarti anak kamu saja yang mati, hidup kamu tidak ada gunanya, lihat saja saat melahirkan kamu seorang diri." Noval tersenyum sinis memerintahkan untuk membuka baju.


"Aiishh sialan, Dokter tidak punya akhlak. Bagaimana kamu bisa menjatuhkan mental orang yang sedang ingin berjuang. Satunya Dokter gila, satunya lagi, lelaki buruk rupa yang jelek juga mesum."


"Beraninya kamu menghina, aku pastikan kamu tidak akan keluar dari tempat ini dalam keadaan hidup." Noval menatap tajam.


"Amit-amit jangan sampai wajah jelek juga hati busuk kamu turun kepada anakku, bisa rusak keturunan sampai 7 turunan."


Sebuah pisau langsung melayang, Winda berhasil menghindar. Menatap tajam Maria yang hampir saja melukai wajah cantiknya.


Winda membuka baju yang berlapis-lapis, membuang ikatan diperutnya menunjukkan kepada Noval dan Maria jika dia tidak hamil, tapi sedang menyamar.


Sebuah langkah kaki terdengar, Vira berjalan santai menuruni tangga sambil tersenyum mendekati Winda untuk membersihkan wajahnya yang menggunakan make-up tebal, agar wajah Winda tidak tumbuh jerawat.


Rambut Winda juga terurai panjang, memperlihatkan wajah cantiknya. Mengikat tinggi rambutnya, memasang lipstik yang memperindah bibirnya.


"Winda dan Vira, beraninya kalian berdua masuk ke sini, kalian juga hebat bisa menipu dan masuk tempat ini." Noval tertawa kuat.


Langkah kaki Bella juga terdengar, memegang tabletnya, sudah menemukan daftar beberapa orang dalam satu tahun menjadi korban.


"Bella, ternyata kalian semua ada di sini?" Maria tersenyum, melihat Bella mendekati sebuah kotak, tatapan mata Maria dan Noval tajam menatap Bella.


"Di sini ada mayat bayi, kalian memang iblis." Bella menggelengkan kepalanya.


Seluruh gerbang tertutup otomatis, Winda, Vira dan Bella terkurung bersama Maria dan Noval, senyum Vira terlihat lucu jadi sekarang mereka juga terjebak.


"Kalian hanya mengantarkan nyawa." Noval menghidupkan komputernya, ada beberapa laser yang mulai aktif, Maria dan Noval saling mendekat, menekan sebuah tombol melarikan diri melambaikan tangannya kepada tiga wanita yang saat ini terkurung, sedikit saja bergerak, tubuh mereka akan terkoyak dan putus.


Winda mencengkram kuat ponselnya yang merekam pembicaraan bersama Noval dan Maria, tatapan Vira tajam karena menemukan orang yang jauh lebih licik.


"Kita tidak bisa menghubungi Wildan, sinyal menghilang, kita terkurung seperti orang bodoh."

__ADS_1


"Ada 10 laser aktif, 3 berada di dekat Bella, 3 ada pada kamu Vira, sedangkan 4 ada padaku. Kita tidak bisa menggunakan otot, jadi gunakan otak untuk membebaskan diri." Winda menatap dua sahabatnya.


"Sial, aku bukan ahli komputer seperti Bella, aku seorang pengusahaan, bekerja dengan jujur." Vira mengumpat kasar.


"Vira, kamu bukan hanya putri seorang Rama, tapi putri Viana Arsen, jika dia tidak kuat, pintar, licik, tidak mungkin bisa memimpin orang yang salah jalan, darah kekejaman Mommy ada di tubuh kamu, saatnya kamu gunakan, aku tahu kamu licik Vira." Bella menatap Vira tajam.


"Ucapan kamu setengah menyemangati setengahnya menghina." "Vira langsung mengeluarkan ponselnya.


Bella sudah menggunakan tabletnya untuk memutuskan laser yang sudah otomatis memiliki kode rahasia, dalam waktu 5 menit Bella keluar, menolak untuk pergi setia menunggu Vira Winda.


Vira menggunakan ponselnya yang memang sudah dibuat canggih oleh Bella, Winda juga yang tidak pernah menggunakan otaknya untuk bekerja dengan teknologi, akhirnya harus turun sendiri.


Vira berhasil mematikan laser, melihat Winda yang ternyata paling berbahaya. Laser yang lepas dari Vira dan Bella sudah berkumpul di Winda.


"Bel, sebaiknya aku keluar memanggil Wildan, Winda dalam bahaya, jika dia sudah dikelilingi oleh sepuluh laser, Winda bisa muntah darah, karena luka dalam." Vira mengkhawatirkan Winda yang terkunci.


"Kalian jangan khawatirkan aku." Winda masih menunjukkan senyumnya.


"Kamu yakin baik-baik saja Win, laser aktif kamu pasti sekarang merasakan panas." Bella mulai khawatir, dia tidak terpikirkan jika Winda kunci mematikan laser, tapi lebih dulu menyelamatkan diri sendiri.


"Winda kamu mimisan." Vira menatap Bella


Bella berusaha membuka gerbang, harus keluar menemui Wildan, Winda dalam bahaya. Selama ini Winda tidak pernah berurusan dengan teknologi, bukan hal yang mudah Winda bisa keluar.


"Win, kamu harus bertahan, Vira tidak akan meninggalkan kamu. Wildan pasti akan segera datang."


"Jangan khawatirkan aku Vira, aku tidak akan mati konyol di sini. Kita akan menangkap mereka."


Vira tersenyum melihat Winda, tetap berdiri diam melihat Winda memainkan ponselnya, darah sudah menetes dari hidungnya. Air mata Vira akhirnya menetes, tidak tega melihat Winda yang paling kecil harus terluka.


***

__ADS_1


__ADS_2