SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 BERPISAH LEBIH BAIK


__ADS_3

Suara pintu terbuka, Tian melihat Bunda keluar sambil tersenyum. Wajah Erik pucat, kekhawatiran Billa benar soal Laura.


Bisma menatap aneh istrinya yang tersenyum bahagia, Jum memang perempuan paling aneh yang Bisma temukan, heran kenapa kedua putrinya tidak mirip Bundanya lebih banyak mengikuti sikap buruknya.


"Ayah, Binar cantik sekali. Walaupun wajahnya masih banyak luka, terlihat sekali wajah imut mengemaskan." Jum tersenyum bahagia.


"Istriku sayang, sepertinya kita salah menjenguk orang. Adik Tian bernama Laura bukan Binar." Bisma mencubit pipi Jum gemas.


"Bunda sudah mengubah namanya menjadi Binar." Jum tersenyum bahagia sekali.


Bisma menepuk jidat, Tian hanya tersenyum melihat Bundanya. Mata Jum menatap tajam Ravi yang berada di rumah sakit.


"Apa yang kamu lakukan di sini Ravi?"


"Menemani mereka Bunda."


"Kamu tidak dibutuhkan, anak istri kamu lebih membutuhkan kamu, cepat pulang."


"Bunda benar, sudah cukup Ravi membantu, Bunda memang wanita paling pengertian." Ravi langsung pamitan melangkah pergi untuk pulang.


Jum juga memperhatikan Tama yang terlihat terpukul, melebihi Erik terpukulnya. Jum tidak mengerti, tapi sepertinya Tama memiliki masalah dalam pekerjaan, langsung pamitan untuk bekerja.


Mata Jum melihat ke arah Erik yang melihat ponselnya, menatap foto wallpaper bersama Billa. Jum mengerti Erik pria yang sangat baik, berat baginya menyakiti salah satu, jika saat ini Erik bersikap kasar terhadap Binar, dia pasti akan bunuh diri, Binar tidak punya alasan untuk hidup.


Bisma mendekati Tian untuk menjaga ketat Binar, membantunya cepat pulih, ada satu orang yang sedang tertawa bahagia menyambut kekacauan ini. Dia tidak perlu membuat masalah, karena masalah timbul sendiri.


Ucapan Ayahnya benar, saat ini target utama bukan Billa lagi, tapi Binar. Selain Binar mengetahui pelaku, mengenal baik pelaku, juga memiliki banyak rahasia pelaku, Binar menjadi target utama yang harus disingkirkan. Sekarang Binar tidak dibutuhkan lagi olehnya.


"Erik Tian, berjaga dengan baik."


"Bunda pulang dulu, besok datang lagi. Bunda harus belanja untuk membawa makanan besok."


"Kenapa Bunda harus datang lagi." Bisma menatap aneh istrinya.


"Tentu Bunda harus datang, anakku masih sakit. Dia membutuhkan perhatian kita semua."


"Bunda, terima kasih selalu baik, juga selalu ada di sisi Tian. Maafkan Tian belum bisa mengatakan kepada Laura, jika dia adik kandung Tian. Jika dia tahu sekarang, mungkin akan sangat terkejut dan tidak menerima kenyataan."


"Namanya Binar." Jum memukul lengan Tian.


"Iya Bunda namanya Binar."


"Mukai sekarang dia putri Bunda, adiknya Bastian, kakaknya Bella dan Billa."

__ADS_1


"Tambah anak lagi Bunda?" Bisma menggelengkan kepalanya, Erik juga kaget.


"Kenapa Ayah tidak setuju?"


"Setuju Bun, apapun yang Bunda inginkan, putuskan Ayah setuju." Bisma tersenyum, sedangkan Tian mengusap matanya.


"Bunda, Tian mengucapkan terima kasih, tapi jika Bunda melakukan ini Bella dan Billa akan semakin terluka."


"Mereka putri Bunda, sekeras apapun kepala dan hati mereka, di dalam lubuk hati yang paling dalam ada ketulusan. Bunda tahu mereka akan menerima Binar, kita hanya butuh waktu." Jum langsung melangkah pergi, hanya ini yang bisa seorang Ibu lakukan, memeluk seluruh anaknya, menyatukan semuanya, menyingkirkan ego.


Bisma berjalan menggenggam tangan Jum, kebaikan hati Jum obat paling mujarab bagi Bisma.


"Sayang, terima kasih sudah menjaga seluruh anak kita."


"Bunda tidak akan membiarkan salah satu anak kita tersakiti, Tian, Bella dan Billa. Menyingkirkan Binar sama saja kita membuang Tian, tapi menerimanya tidak akan membuat kita kehilangan kedua putri kita." Jum tersenyum merangkul lengan Bisma.


"Sekarang Bunda kita harus ke mana?"


"Mall."


"Bukannya seharusnya kita menemui kedua putri kita?"


"Biarkan saja, mereka ada di rumah kak Vi."


***


Raka juga diam dalam gendongan Winda, Billa hanya tersenyum melihat Winda yang mengikuti ocehan Bella membuat Raka bergerak ingin menyentuh bibir Winda, sedangkan Rasih hanya diam terpesona dengan ketampanan Wildan.


Suara pintu di buka mengagetkan Rasih dan Raka, Wildan langsung memeluk erat Rasih yang hampir menangis, mencium pipinya. Winda juga menenangkan Raka nyegir melihat Maminya.


"Hayo Aunty sama Uncle nakal, Nenek marah." Wira tertawa melihat Wildan dan Winda ditatap tajam.


"Keterlaluan kamu Wildan, berbulan-bulan tidak pulang . Apa ada niat kamu menyapa Mami dan Papi?" Reva menatap tajam.


"Mami lagi di Desa nelayan, Wildan menunggu Mami Papi pulang."


"Kamu Winda, pulang tidak memberikan kabar."


"Kak Wil mengatakan tunggu Mami pulang saja."


"Kapan aku mengatakannya? suka fitnah." Wildan tersenyum mencium Rasih.


Reva langsung mendekati Wildan, mencubit kuat perutnya, lama tidak melihat putranya, bahkan tanpa komunikasi membuat Reva sangat sedih menahan rindu.

__ADS_1


"Astaghfirullah Al azim Mami, sakit Mam. Wildan lagi mengendong Rasih."


"Berjanjilah kepada Mami kamu tidak akan menghilang lagi." Reva menguatkan cubitannya, Vira langsung mengambil Rasih.


"Wildan janji Mami, tidak akan mengulanginya lagi. Mohon maafkan Wildan Mami." Wildan mengusap perutnya, Vira menatap kasihan melihat Wildan.


"Makanya Uncle tidak boleh nakal, nenek sedih Uncle pergi lama." Wira juga mencubit telinga Wildan membuat semua orang tertawa.


"Iya Uncle minta maaf."


"Awas nakal lagi, nanti Wira cubit kuat ya." Wira mencubit seluruh tubuh Wildan.


Tawa Wildan terdengar, Wira menggelitiknya. Wildan langsung menggakat tinggi keponakannya. Raka menatap ke atas, Rasih senang melihat Wira di atas yang tertawa lepas.


Wildan membawa Wira ke luar kamar, Vira tersenyum memeluk Rasih. Ternyata saat bersama anak-anak Wildan bisa tertawa lepas.


"Mami, Papi selalu tertawa lepas saat bertemu anak-anaknya."


"Iya Kasih, Wildan jiplakan Bima, tapi Wildan lebih dingin lagi, sikapnya ekstrim."


Suara pintu samping terbuka, Ravi pulang kaget melihat kamarnya ramai. Melihat Ravi pulang Billa langsung pamit keluar, Bella dan Winda juga keluar.


Vira langsung memberikan Rasih kepada Mommynya, langsung pergi tapi ditahan Ravi, dia ingin berbicara.


"kalian ada masalah lagi ya?" Reva menatap tajam.


"Pernikahan Billa Erik batal Mami." Vira menghela nafasnya.


"Astaghfirullah Al azim, baru saja Mami pergi sudah ada masalah lagi." Reva langsung keluar, menemui Viana.


Ravi meminta Vira duduk, tapi Vira menolak tetap saja berdiri. Ravi mengerti Vira juga kecewa, tapi Ravi tidak bisa memihak siapapun.


"Vir, kak Ravi hanya ...." Vira langsung memotong ucapan Ravi.


"Kami mengetahui kebenaran kak, tapi terkadang hati yang terluka sulit menerima kebenaran. Kak Ravi pasti merasakan sakitnya hati seperti apa?"


"Vira kamu yang paling tua seharusnya meredakan keadaan."


"Semuanya sudah dewasa kak Ravi, sudah tahu baik dan buruk. Batalnya pernikahan mungkin yang terbaik. Memaksa untuk menikah dalam keadaan hati terluka, tidak mungkin bisa bersatu kak, berpisah jalan satu-satunya."


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA

__ADS_1


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***


__ADS_2