SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 PENANTIAN


__ADS_3

Tamu undangan semakin ramai ada yang datang, ada juga yang pulang. Musik mengiring acara menjadi sangat meriah.


Seseorang MC memanggil Ravi untuk bernyanyi, Windy langsung batuk menatap Ravi, teringat saat mereka bernyanyi kompak di acara ulang tahun twins, menjadi paling kacau.


Ravi tanpa ragu langsung naik, meminta Tian dan Windy bergabung. Erik juga diminta bergabung. Mereka ingin membuktikan kepada Wildan jika mereka bisa kompak, tidak butuh bantuan Wildan lagi.


"Jangan Mommy, suara Mommy jelek." Wira tertawa mengejek Mommynya.


Windy menatap tajam Wira, melangkah maju bersama mengandeng lengan Tian, Erik juga turun untuk bergabung ke atas panggung.


Seluruh keluarga berkumpul sekalian merekam, empat makhluk yang jika digabung penampilannya pasti kacau, Wildan tersenyum melihat empat orang di atas panggung sibuk berbisik.


Windy memainkan piano, Tian memainkan drummer , Erik memainkan gitar sambil bernyanyi bersama Ravi.


"Lagu ini, sebagai ungkapan hati, penantian panjang, perjuangan panjang sampai ada di posisi ini, bukan hanya khusus Erik, atau Ravi, kak Windy yang pernah merasakan suka dukanya cinta. Lagu ini untuk kalian semua yang merasakan penantian." Erik tersenyum melihat banyak orang.


"Selamat menikmati." Ravi tersenyum melihat Tian dan Windy juga Erik.


...PENANTIAN ARMADA...


...RAVI ......


...Temukan dia untukku...


...Pulangkan dia padaku...


...Tunjukkan jalan padanya...


...Bahwa ku tetap disini .......


...ERIK ......


...Temukan dia untukku...


...Pulangkan dia padaku...


...Tunjukkan jalan padanya...


...Bahwa ku tetap disini .......


...Untuknya ... berharap dia...


...Kembali pulang, untukku .......


...reff :...


...RAVI .......


...Penantian ......


...Ini teramatlah panjang...


...Coba kau rasakan sayang...


...Letihku di ujung jalan .......


...Dia menghilang ......


...Membawa semua kenangan...


...Terindah yang kurasakan...


...Saat bersamanya sayang .......


...reff :...


...ERIK ......


...Penantian ......


...Ini teramatlah panjang...


...Coba kau rasakan sayang...


...Letihku di ujung jalan .......


...Dia menghilang ......


...Membawa semua kenangan...


...Terindah yang kurasakan...


...Saat bersamanya sayang .......

__ADS_1


...RAVI ERIK ......


...Ohhhh ... ohhhh .... ohhhh .......


...Hatiku pilu sepilu-pilu nya....


(Dengarkan musik aslinya, pasti mellow)


Tangisan para tamu undangan terdengar, lagu berakhir dengan tepuk tangan yang meriah. Tian melihat Windy yang meneteskan air matanya, Tian melangkah memeluk Windy yang merasakan sakitnya sebuah penantian.


Ravi mengusap kepala Windy memeluknya erat, Ravi juga merasakan penantian saat menunggu Kasih berbulan-bulan di rumah sakit, tapi mungkin tidak seberat Windy.


"Jangan menangis kak, semuanya sudah berakhir sekarang sudah saatnya kita bahagia." Ravi menghapus air mata Windy yang tersenyum.


"Sakit, jika mengigat masa penantian."


"Iya, sekarang kak Win bahagia bersama bocah nakal dan Om Bule."


Rama juga meneteskan air matanya, memeluk Viana, masa penantian hal yang sangat menyakitkan, menanti tanpa harapan, menunggu tanpa jawaban. Viana mengusap punggung Rama yang terbawa suasana mengigat masa kelam mereka harus berpisah.


Reva juga meneteskan air matanya melihat Rama dan Viana, dia dan Bima juga membutuhkan waktu lama untuk bersatu, menjadi saksi perjalanan cinta Rama Viana yang harus melewati sebuah perpisahan.


"Maaf jika lagunya mellow, kita hanya berbagi rasa sebuah penantian cinta." Erik mengusap matanya, menggenggam tangan Windy untuk turun ke bawah pentas.


"Mungkin setelah ini kita bisa mendengar dari satu band lagi dalam keluarga kita, silahkan kita sambut Vira dan twins W dan B." Erik tertawa melihat wajah Wildan.


Erik mengantarkan Windy kepada Stev yang langsung memeluknya erat, Erik kembali ke atas pelaminan.


Vira langsung berdiri, bersiap naik ke atas panggung bersama Bella, Winda dan Wildan yang wajahnya sudah bete. Erik membantu Billa berjalan ke atas panggung.


"Maafkan Billa kak, sudah menyakiti hati kak Erik. Sejujurnya hati Billa juga sakit."


"Iya sayang, cukup menjadi pelajaran."


Tangan Billa berpindah memeluk lengan Wildan naik bersama untuk membuat pecah gendang telinga.


"Kak Bil, tolong larang Billa bernyanyi, jika tidak mendingan kita menggunakan topeng."


"Wil, kamu ini."


"Vira main drum."


Wildan lebih kaget lagi, Billa memegang stik drum saja salah.


"Iya Vira tahu, ini baru pemanasan." Vira tersenyum menatap Wildan.


Winda menyentuh piano sambil tersenyum, dia belajar piano bersama Windy, jika Windy bisa dia juga bisa.


"Winda, kenapa kamu matikan." Wildan mengelus dada.


"Ohh, lupa cara hidup dan mati."


Billa sudah menutup mulutnya menahan tawa, wajah Wildan sudah pucat melihat dua wanita aneh yang akan mempermalukannya. Bella menatap gitar juga binggung cara memakainya, membuat Wildan semakin panik.


"Bisa kalian bertiga turun saja, biarkan aku dan kak Bil yang mewakili."


"Tidak bisa Wil, kita juga harus tampil." Bella nyegir, setelah berhasil mengantungkan gitarnya.


"Sudah Wil, tenang saja pasti aman." Billa menepuk lengan Wildan.


"Lagu ini sama seperti lagu awal, kalian semua pasti merasakan antara putus atau terus. Billa juga merasakannya putus sakit, terus juga sakit, tapi ini pilihan kalian antara bertahan atau meninggalkan. Jangan seperti Vira dan Bella yang berada di tengah, perasaan gantung." Billa tersenyum melihat Bella dan Vira melotot.


...Putus Atau Terus - Judika:...


...WILDAN ......


...Aku.. sedang bertanya-tanya.....


...Tentang.. perasaan kita.....


...Benarkah kita saling mencinta.....


...Atau hanya pernah saling cinta....


...Bukankah kamu juga merasa...


...Dingin mulai menjalari...


...Percakapan kita.....


...Pertanyaan kamu sedang apa ?...


...Terkesan hanya sebuah...

__ADS_1


...Formalitas saja.....


...[Reff]...


...BILLA .......


...Coba tanyakan lagi pada hatimu.....


...Apakah sebaiknya kita putus atau terus...


...Kita sedang mempertahankan hubungan.....


...Atau hanya sekedar.....


...Menunda perpisahan.....


...BILLA ......


...Bukankah kamu juga merasa.....


...Dingin mulai menjalari...


...Percakapan kita.....


...Pertanyaan kamu sedang apa?...


...Terkesan hanya sebuah...


...Formalitas saja.....


...[Reff]...


...WILDAN ......


...Coba tanyakan lagi pada hatimu.....


...Apakah sebaiknya kita putus atau terus...


...Kita sedang mempertahankan hubungan.....


...Atau hanya sekedar.....


...Menunda perpisahan.. woo ooo...


...BILLA ......


...Bila kamu tanya.....


...Aku maunya apa.....


...Aku mau.. kita trus bersama.....


...[Reff]...


...WILDAN BILLA ......


...Coba tanyakan lagi pada hatimu.....


...Kita sedang mempertahankan hubungan.....


...Atau hanya sekedar.. oh woo wo.....


...Hanya sekedar.. menunda perpisahan....


(Dengarkan versi lagu aslinya sambil membaca lebih seru.)


Para undangan ikut bernyanyi, mengikuti setiap irama juga nyanyian Wildan dan Billa. Sampai lagu selesai, tepuk tangan meriah terdengar.


Wildan bernafas lega, tiga pengacau tidak berulah. Lagu selesai dengan baik, Erik mendekati Billa untuk menyambut tangganya.


MC meminta Erik naik, mungkin ada yang memiliki pertanyaan tentang kisah cinta mereka. Vira langsung mengangkat tangannya.


"Kapan kak Erik mulai mencintai Billa?"


"Naik juga belum sudah langsung ditanya."


"Sejak kecil, aku sayang Billa, semakin Billa besar rasa sayang berubah kagum, akhirnya cinta, tapi tidak berani memiliki perasaan lebih." Erik naik berdiri di samping Billa.


"Cinta Billa, kenapa kamu mengungkap cinta saat Ravi mulai mendekati aku?" Cinta menahan tawanya melihat wajah Erik.


"Aku ingin minta maaf kepada Tama, jujur tidak ada niat mempermainkan Cinta, tapi waktu itu lagi mendesak, butuh pacar. Aishah, sebenarnya aku sayang Cinta, niat serius juga sekalian move on dari Billa. Jadinya ya begitu." Erik melipatkan tangannya, meminta maaf menatap Billa.


Semua orang tertawa melihat Erik, Billa juga tersenyum mencubit telinga Erik.

__ADS_1


***


__ADS_2