
Senyuman Bella terlihat, dia harus bisa mengalihkan Karan agar bisa melarikan diri dari Mansion. Kasih juga membantu Bella untuk menyingkirkan para bodyguard yang mengelilingi mansion.
"Para bodyguard mudah disingkirkan, tapi masalahnya ada di Karan. Jika melakukan hack terhadap CCTV dia pasti tahu." Kepala Bella gatal melihat Karan yang sangat serius.
"Hubungi Karin untuk mengalihkan Karan." Kasih tersenyum melihat Winda dan Vira yang mengerutkan kening.
Kepala Winda menggeleng, Kasih tidak tahu siapa Karan. Dia tidak mudah dialihkan sekalipun soal keluarga, bertahun-tahun bersama Wildan dia memiliki hati yang dingin hanya luarnya saja yang hangat.
Tidak ada pilihan lain, Vira meminta Bella mengacaukan sistem keamanan di bawah. Kemungkinan Wildan juga akan keluar.
Mereka hanya memiliki waktu lima menit agar Karan bisa dialihkan, dalam dua menit mereka harus bisa ke lantai lima belas, sebelum masuk mungkin Karan akan tetap tahu.
Resikonya ada Erik dan Tian, mereka harus melewati dua orang yang berjaga di depan pintu.
"Di mana Tama?" tatapan Winda melihat layar Bella.
"Dia ada di depan pintu lantai lima belas." Bella menunjukkan keberadaan Tama.
"Apa kita harus melakukan sejauh ini?" Billa menatap binggung, dia tidak yakin apa yang dilakukan berakhir baik.
Bella menutup mulut adiknya, tidak ada yang memaksa Billa untuk ikut. Jika Billa dan Binar takut, maka tidak diwajibkan pergi.
Reva sudah mengganti bajunya, Viana juga sudah heboh sendiri. Jum menggeleng kepalanya langsung ganti baju juga.
"Kak Jum ingin pergi ke mana?" suara Reva nyaring berteriak.
"Ikut, Jum juga ingin melihat wanita seksi yang kalian bicarakan."
Viana dan Reva langsung tertawa, sikap cemburuan Jum belum juga berubah. Dia sangat tidak menyukai wanita seksi, masih mencurigai suaminya meskipun sudah memiliki anak cucu.
"Mommy kita hanya ada masalah untuk menyingkirkan Tama di depan pintu masuk." Bella tersenyum, berharap mommy dan Mami memiliki solusi.
"Tenang saja Bel, pawang keluarga Bisma Bramasta ikut." Senyuman Viana dan Reva terlihat menatap Jum keluar.
Billa dan Binar saling pandang, lalu anak-anak dengan siapa jika semuanya ingin pergi.
"Jika Bunda pergi, Billa juga."
"Binar juga."
Kening Asih berkerut mengintip ruang tamu yang heboh, dia dan anak-anak yang lain diminta tidur cepat, sedangkan di ruang tamu sangat berisik.
"Apa yang mereka lakukan Asih?"
__ADS_1
"Ais, kak Wira membuat kaget saja." Asih mengusap dadanya.
"Aku juga menjadi semakin penasaran, ada apa di ruangan sidang?" Aka juga muncul bersama Elang.
"Kita tidak boleh mengintip, nanti bintitan." Ning menarik Asih untuk kembali ke kamar.
Wira menghela nafasnya, menatap Aka dan Elang, langsung menarik keduanya untuk kembali ke kamar.
Pintu terbuka, Bella langsung melakukan misi yang sudah dia siapkan. Para pengawal mulai kebingungan, langsung masuk lift dan menuju ruangan Karan.
"Kita keluar sekarang." Kasih memantau Karan yang kebingungan melihat pengawal memenuhi ruangannya.
Semuanya berlarian, karena memasuki lift menggunakan kapasitas jadinya separuh berlari ke tangga darurat untuk masuk lift bawah.
Tatapan Karan melihat ke arah layar, menggelengkan kepalanya memukul meja melihat para wanita melarikan diri.
"Apa yang mereka lakukan? tidak ingat umur masih ingin bermain-main." Karan menghubungi Wildan mengatakan bersiaplah jika para mommy dan wanita akan segera masuk.
Erik dan Tian membuka pintu Mansion yang sudah sepi, mengecek anak-anak yang sudah tidur semuanya.
"Lihatlah, masa kanak-kanak mereka belum usai."
"Bunda Jum juga ikut-ikutan?" Tian menepuk jidat langsung melangkah keluar untuk menuju ruangan pertemuan.
Tama sudah memijit kepalanya, menatap ibu mertuanya yang meminta Tama membuka pintu.
"Bunda, kalian dilarang ke sini."
"Apa kamu ingin Bunda balik lagi?" Jum mengerutkan keningnya tidak percaya.
Tama menghela nafasnya, mengacak-acak rambutnya tidak tahu harus melakukan apa.
Pintu dibuka, Tama mempersilakan masuk para wanita yang tersenyum mengikuti langkah kaki tiga wanita di depan mereka.
"Tunggu dulu, Mommy cantik tidak?" Vi berbalik menatap anak-anaknya.
Kasih menganggukkan kepalanya, meminta tiga wanita tertua masuk. Suara tangisan Lin yang pertama kali terdengar.
Emosi Reva langsung naik, mendorong pintu masuk pertama kali membuat semua yang ada di dalam ruangan terkejut.
Bima mengerutkan keningnya, menggelengkan kepalanya melihat istrinya muncul dengan kemarahan.
Wildan sudah pasrah, Tian dan Erik tidak bisa menghentikan sampai para wanita tetap datang dan pastinya akan membuat masalah.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan sampai cucuku menangis?" suara Reva terdengar sangat pelan.
"Cucu, kamu sudah memiliki cucu sebesar ini?" suara tawa terdengar membuat emosi Reva semakin tinggi.
Langkah Reva mendekati wanita seksi yang mengalahkan keseksian Viana di masa lalu, wajah cantik tapi akhlaknya rusak.
"Denta, kamu anak yatim atau anak haram? sekarang kamu sudah tumbuh besar, tapi akhlak kamu belum juga terdidik." Reva berbisik pelan.
Tatapan mata tajam, langsung mendorong Reva kuat, langkah Reva mundur dua langkah, ditahan oleh Viana.
Cengkraman kuat langsung menghantam wanita yang berani menyentuh Maminya, Winda mencekik leher wanita di hadapannya.
Semua orang langsung berdiri, dua wanita saling menyakiti sekalipun Bima sudah meminta berhenti.
Tatapan Vira dan Bella tidak kalah tajam, melangkah maju berada di belakang Winda.
"Kalian main keroyok?"
"Kamu salah, tidak ada sejarah kami mengeroyok satu wanita lemah. Satu Winda saja belum tentu bisa kamu jatuhkan, tapi jangan heran jika ada tiga wanita di sisinya." Billa tersenyum berdiri di belakang Denta yang merasakan nafasnya sesak.
"Hentikan Winda!" Bima langsung melangkah, tapi Reva menghalanginya.
Wildan dan Ar juga mendekat meminta Winda berhenti, tapi Kasih dan Binar sudah menghentikan.
"Siapa yang memulai lebih dulu, dia harus menyesalinya. Ini ada peraturan dalam keluarga kita." Viana tertawa menatap mata Bima yang terlihat marah.
Delton tertawa melihat para. wanita kuat mengelilingi putrinya, langsung berjalan mendekati para wanita yang sedang menyerang Denta.
"Siapa kalian?" Delton menatap tajam.
Winda mendorong kuat membuat Denta terpental jauh, suara high heels empat orang mendekati Denta dengan senyuman licik.
"Jangan mencoba menyentuh salah satu wanita Bramasta dan Prasetya jika kamu tidak ingin terluka. Bawa Lin keluar dari sini, maka cacat juga pergi dari sini." Bella menatap Lin yang gemetaran berada dalam pelukan Steven.
Winda melangkah mendekati Lin, langsung menarik tangannya untuk mendekati Denta.
"Buka mata kamu Lin, keluarga kita tidak pernah menangis ketakutan. Tatap dia dengan tajam, katakan padanya sedikit saja menyentuhku hilang nyawamu." Suara Winda berteriak kuat.
Bibir Lin gemetaran, Vira berjalan ke samping Lin, merangkulnya. Bella dan Billa juga berjalan ke samping sambil menatap tajam.
"Aku tidak tahu siapa aku? siapa ayah dan ibuku? meskipun aku tidak tahu, tapi di sini aku merasakan dibesarkan dan dicintai keluarga. Aku tidak ingin dibesarkan menjadi orang terkuat, tapi aku ingin menjadi wanita baik dan hidup bersama orang baik. Apa aku tidak punya hak memilih bahagia?" Lin menghapus air matanya, menatap tajam Denta yang juga menatapnya.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazara