SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
KATA MAAF


__ADS_3

Vi dan yang lainnya sedang asik berbicara dengan bayi mungil yang sangat lucu, Septi sibuk memasak dan menyimpan bahan makanan di dalam lemari pendingin. Tya memperhatikan Septi yang sangat lihai memasak dan bau wanginya membuat perut lapar, Viana berjalan mendekati dapur dan duduk manis tersenyum ke Septi.


"Septi! keponakan Lo laper." Vi menunjuk perutnya.


"Jangan fitnah kak Vi, kasihan Dede! mommy yang rakus tapi dia yang di salahkan."


"Lagian kak Vi tidak malu ya, numpang makan di rumah orang." Reva datang mencicipi masakan Septi lebih tidak tahu malunya.


Viana menatap sinis, Tya menahan tawa melihat keakraban mereka semua. Sangat berbeda jauh dengan dirinya yang hidup sebatang kara.


***


Rama baru selesai meeting dan menghidupkan ponselnya, Dia berada di restoran untuk makan siang bersama Bima dan lainnya. Ada beberapa foto yang dikirim Septii membuat Rama tersenyum melihat kecantikan Viana yang masih seperti awal bertemu.


Tangan Rama menekan sebuah video yang memperlihatkan tingkah Viana yang memegang kumis pria kekar, yang membuat Rama langsung tertawa terbahak-bahak. Tidak seperti biasanya dia yang pendiam dan kalem.


"Pasti Lo nonton video kekonyolan mereka? Bisma tersenyum melihat kepolosan Jum.


Bima dan Ivan baru datang, memesan makanan dan menyelesaikan makan siang mereka, Ivan baru sempat memainkan ponselnya dan menghubungi Chintya yang beberapa kali memanggil.


Selesai melakukan panggilan Ivan terdiam dan melepaskan ponselnya kuat, membuat yang lainnya menatapnya penuh tanda tanya.


"Kenapa? Tya hamil!" Bisma tertawa pelan.


"Viana, Reva, Septi, Jum, ada di apartemen gue sekarang!" Ivan langsung bangkit berdiri dan berlari ke parkiran.


Rama dan Bima saling pandang juga ikut berlari meninggalkan Bisma yang masih makan.


"Wooyy, siapa yang bayar?" Bisma teriak membuat pengunjung lainnya memandanginya.


Ammar baru saja datang, dan melihat Bima dan Rama berlari, cepat dia menghampiri Bisma yang masih bicara dengan pelayan.


"Bis, mereka mau kemana?" Ammar menatap binggung.


"Nah ini yang bayar mbak, pak polisi tampan ini!" tanpa menunggu protes Ammar Bisma susah melangkah keluar meninggalkan nota makan mereka.


Ammar menatap aneh, dan kesal melihat total makanan yang dia sendiri belum sempat makan, Ammar terpaksa mengeluarkan dompet dan mengejar Bisma yang menunggu di mobilnya.

__ADS_1


"Bro gue belum makan!?" Ammar masuk dengan wajah kesal, Bisma hanya tertawa sambil menjalankan mobilnya.


"Kita ke apartemen Ivan, pacar Lo Septi bakal membunuh istrinya Ivan." Tawa Bisma mengejek Ammar.


"Tidak mungkin! Septi wanita lembut, berbeda dengan Viana dan Reva."


***


Selesai memasak di rumah tetangga, semuanya masuk apartemen Ivan untuk beristirahat. Viana juga sangat lelah dan memijit kakinya sendiri yang di bantu Jum.


"Ngapain Jum? gue bisa sendiri." Viana menepis tangan Jum yang memijitnya pelan.


"Kak Vi, Jum hanya membantu nanti kalau Jum hamil tolong bantu Jum juga ya."


Reva melangkah mencium pipi Jum yang membuatnya teriak kuat, dan menepis pipinya. Suara teriakan Jum sampai ke luar apartemen membuat semuanya kaget.


"Jum! dicium Bisma Lo jadi patung, dicium Reva teriak histeris."


Semuanya tertawa lagi, Viana membuka kartu Jum yang belum ada yang tahu kecuali Vi dan Rama. Wajah Jum berubah merah menahan malu.


Chintya datang menghampiri mereka memberikan minyak urut ke kaki Viana yang kelelahan berjalan, Vi mengucapkan terimakasih dan tersenyum lembut.


"Permisi! ada apa ya?"


"Dek Ivan, kita pikir tadi kamu bertengkar dengan istri kamu, suara teriakan besar sekali."


Ivan dengan wajah kaget cepat membuka kode kunci, berlari masuk sambil berteriak marah memanggil nama Septi dan Reva.


Canda dan tawa langsung berubah tegang melihat kemarahan Ivan yang menatap Septi, baru datang dari dapur membuat cemilan.


"Jahat Lo Sep," Ivan melangkah melempar piring yang Septi pegang, menarik kuat tangannya dan melempar Septi yang di tahan Reva ikut terpental.


"Lo aman Sep!" Reva melihat tubuh Septi yang berada di atasnya.


"Iya! Reva tangan Lo berdarah." Teriak Septi membantu Reva berdiri.


Reva mengumpat kasar ke Ivan dan maju menyerang Ivan yang merasa bersalah, melukai kedua sahabatnya. Reva memukuli Ivan tanpa ampun lupa dengan tangannya yang sakit, Bima menarik Reva dan memeluknya biar tenang.

__ADS_1


Ammar dan Bisma masuk melihat kekacauan, Ammar mendekati Septi yang terdiam mematung. Wajahnya pucat dan menahan air matanya.


"Septi mau pulang!" tangisan Septi pecah dalam pelukan Ammar.


Chintya melihat keributan dan menangis sesenggukan, tangannya gemetaran sampai menjatuhkan minyak yang baru dia isi ulang.


"Maafkan Tya yang membuat kalian bertengkar." Tya berlutut dan melipatkan kedua tangannya, dengan berderai airmata.


Semuanya terdiam, hanya tangisan Septi dan Tya yang terdengar. Viana tersenyum melihat semuanya emosian jika menyangkut wanitanya.


"Ivan! kita datang ke sini karena bertemu Tya di mall, Septi membantu Tya belanja juga memasak. Kamu menganggu momen bahagia kami. Minta maaf sekarang ke kita semua." Vi bicara tegas membantu Tya berdiri dari berlutut mendudukkannya di samping Jum.


Viana juga mendekati Septi yang masih menangis dalam pelukan Ammar, Viana menghapus air mata Septi dan tersenyum. Mengandeng nya duduk di samping Tya yang air matanya di hapus Jum.


"Reva sini kamu!" Viana melambaikan tangannya memanggil Reva.


"Tidak ada niat mau jemput, gue juga mau kayak Septi dan Tya. Lihat gue terluka!" Reva melangkah mendekati Vi sambil mengomel.


"Bukannya Lo lagi happy baru di peluk om kesayangan Lo." Reva memeluk Viana dari belakang, tadinya marah sekarang sudah cengengesan.


Suara panggilan ponsel Septi terdengar, cepat dia menghapus air matanya, dan tersenyum melihat Satya di layar ponselnya.


[Hai kak Sat, Kadonya sudah Septi terima tapi belum sempat memberikan ke Ivan dan Rama juga Reva. Maaf belum bisa menjalankan amanah.]


[Kamu putus cinta lagi! kenapa menangis? keadaan memang sudah beda Sep, tapi Lo masih bisa curhat ke Ivan walaupun dia sudah beristri. Tya sekarang sudah berubah, bersifat baiklah dan hidup rukun, kita bukan anak kecil lagi. Nanti kak Satya telpon lagi,anak kakak menangis.]


Rama mendekati Septi dan berlutut di hadapan Septi.


"Maaf ya Sep, kita tidak bisa gerti Lo, hanya Lo yang paling pengertian. Maafkan kesalahanpahaman kita, gue bangga punya sahabat baik hati seperti Lo, walaupun marah Lo masih berbuat baik." Rama mengelus kepala Septi yang membalas nya tersenyum.


Ivan juga berlutut di depan Septi, menangis di pangkuan Septi meminta maaf karena menyakitinya, Ivan tempat Septi berlari saat patah hati, saat stres kerja, saat manja minta sesuatu. Reva dan Septi sangat bergantung ke Ivan, bahkan Ivan pernah bertengkar dengan mantan pacar Septi karena menyakitinya.


"Gue gerti Van, kak Satya sudah menjelaskan semuanya kemarin. Lo mencintai Tya sejak dulu jadi pasti Lo sangat ingin melindungi dia, Tya beruntung di berikan kesempatan dan di dampingi oleh Lo."


"Rama, Ivan tidak ada yang mau minta maaf ke gue, lihat terluka! sakit sekali!" Reva memanyunkan bibirnya.


Semuanya tersenyum melihat Reva yang lebay dengan luka kecilnya, yang ingin menjadi wonder woman.

__ADS_1


"Sabar Reva, Lo harus tahu diri jika Lo gak penting!" Viana berbisik membuat Reva kesal menghentak kakinya melangkah pergi mendekati Bima, bibirnya manyun. Bima hanya bisa tersenyum sambil mengacak rambut Reva.


__ADS_2