
Seorang suster Ravi hentikan bertanya keberadaan Erik, suster menjawab Erik sedang diinfus karena hampir jatuh pingsan karena kelelahan, sekarang berada di dalam ruangannya untuk beristirahat.
"Terima kasih Erik." Ravi tersenyum menatap Mommy dan langsung memeluknya.
"Ada apa kalian semua aneh?"
"Kasih sudah sadar Mom, dia sekarang sedang beristirahat."
"Coba diulang Ravi." Viana melihat wajah Ravi.
"Kasihku kembali Mom."
Ravi tersenyum melihat keluarga menangis bahagia, Viana langsung memeluk Rama, Reva juga menangis dalam pelukan Bima, Jum Septi, bahkan Ammar Bisma juga mengusap mata.
"Alhamdulillah, akhirnya doa kita di kabulkan." Windy tersenyum sambil mengandeng putranya yang bibirnya monyong.
"Wira, Aunty cantik sudah sadar sayang." Ravi langsung menggendong Wira mencium keningnya.
"Wira sudah katakan, tapi tidak ada yang percaya. Wira bukan pembohong, Ye selalu mengajari Wira kejujuran." Wira mengomel langsung pindah ke gendongan Bima yang sangat menyayangi cucunya.
"Pintarnya cucu Ye, kamu pemuda tampan yang jujur."
"Iya Wira tampan keturunan Ye, tapi Wira juga tampan seperti Daddy." Wira menguap menahan kantuk.
"Win, pulang ke rumah atau hotel terdekat, Wira harus istirahat."
"oke Papi, besok Windy datang lagi."
Keluarga yang lain Ravi minta pulang juga, tapi semuanya menolak dan langsung masuk kamar Kasih. Viana mencium kening Kasih, Karin juga memeluk pelan.
"Terima kasih kak sudah kembali."
Karena seluruh keluarga menginap Ravi keluar mencari Erik, Tian, Wildan dan Tama juga ikut mencari Erik.
Di depan ruangan Erik, Ravi masuk perlahan, ruangan kosong, tidak ada yang melarang Ravi masuk karena sudah menjadi kebiasaan Ravi langsung masuk tanpa izin.
Ravi membuka sebuah kamar, Erik terbaring masih menggunakan infus. di dalam kamar Wildan melihat banyaknya berkas penelitian Erik, Ravi juga melihat banyaknya tempelan di dinding.
"Wildan rasa kak Erik hampir setiap hari diinfus, hari ini paling buruknya sampai tidak sadar."
"Dia tidak tidur dan makan teratur, lihatlah hanya ada bungkus roti." Tian melihat tempat sampah.
Ravi menatap Erik yang masih terlelap, senyum Ravi terlihat bahagia melihat perjuangan sahabatnya juga Kaka dan saudaranya.
"Terima kasih Rik, kamu sahabat terbaik yang mendampingi aku saat suka duka."
Wildan melihat berkas Erik yang membuatnya tersenyum, Ravi juga duduk melihat Wildan.
"Kasihan kak Erik, dia sampai segitu berjuang demi Kasih."
__ADS_1
"Apa ini Wil?" Ravi menunjukkan kertas.
"Apa yang kalian lakukan?" Erik duduk di sandaran ranjang."
"Tidurlah besok saja kita bahas."
Ravi memeluk Erik.
Suara panggilan ponsel Erik terdengar, Ravi langsung menjawab dan menghidupkan speaker. Pembicaraan Erik dengan seorang Dokter soal kasus Kasih.
[Bagaimana Rik, kesempatan kamu kecil sudah saatnya alat bantu dilepaskan.]
[Terima kasih Dokter Arsel, dia sudah sadar dan stabil, perjuangan aku membuahkan hasil. Aku mampu karena support kalian.]
[Kamu memang Dokter terbaik, good job my friend.]
Panggilan berakhir Erik meminta Wildan membawa daftar buku yang penuh coretan, Erik mengambil pulpen dan menandai beberapa hal.
"Kamu menghubungi banyak Dokter Rik?"
"Emmhhh, hampir ratusan Dokter, satu kampus, satu angkatan bahkan senior, bahkan aku juga menghubungi teman yang menjadi relawan di tempat perang."
"Terima kasih Rik."
"Terima kasih juga untuk Billa, dia yang datang memohon untuk berjuang."
Saat berada di dalam ruangan operasi Erik kehabisan cara melihat kondisi Kasih, Erik mengambil resiko tanpa banyak bicara. Saat selesai Erik lebih terpukul lagi karena kemungkinan besar Kasih akan mengalami mati otak, Erik langsung keluar menangis stress membayangkan Ravi.
Billa tidak menyerah terus membantu Erik, satu bulan perjuangan Erik sampai masuk tahap ke dua. Operasi kedua Kasih mendapatkan respon baik, Erik bersyukur karena Ravi diam saja tanpa banyak bertanya dan memberikan izin Erik berjuang.
Di bulan ke dua Erik menghubungi seluruh Dokter yang pernah menangani operasi jantung, kepala, dada, luka tembak, Erik mengumpulkan seluruh data sampai menjadi satu untuk operasi terakhir.
Operasi dilakukan di tengah makan, hanya ada Ravi yang mendampingi. Tahap ke tiga Erik down karena gagal, tingkat kegagalan lebih besar. Erik tidak mengatakan apapun, memilih mengurung diri dan meneliti setiap hal baru yang dia temukan.
"Sebenarnya Kasih tidak mati otak?" Tama menatap Erik.
"Hampir mendekati jika tidak segera dilakukan operasi kedua, bahkan seluruh Dokter menyerah, aku juga diancam akan dikeluarkan, kehilangan izin bertugas selamanya."
"Luar biasa kamu mengambil resiko." Tian menepuk pundak.
"Kapan Kasih sadar?"
"Harapan terakhir aku satu minggu yang lalu, tubuh Kasih menolak pengobatan, tiga hari yang lalu dia mulai bergerak tapi aku lebih takut karena dia tidak membuka mata, atau merespon hal lain."
"Saat melepaskan ventilator harapan hidup dan mati Kasih." Ravi melotot karena Erik memilih pergi.
"Jelek pikiran Lo Rav, aku tahu dia bakal sadar. Aku keluar karena tidak bisa mempertahankan badan yang hampir tumbang."
"Harapan hidup mati Kasih kemarin, tapi Alhamdulillah Kasih berhasil bertahan. Anggap saja ini hadiah ulang tahun kamu Ravi yang ke 24 tahun."
__ADS_1
Ravi memeluk Erik terharu, Tian juga mengusap kepala Erik yang luar biasa hebatnya.
"Aku membayar hutang, dulu saat ibu membuang aku, Papa mengatakan aku benalu, kamu juga yang memberikan aku harapan, kamu memberikan aku keluarga."
"Kamu sudah membayarnya saat kita kecil di dalam lift, kamu hanya ingin menjadi Dokter sesungguhnya yang berjuang demi pasien."
"Aku bukan Dokter baik Ravi, aku tidak ingin mengambil pusing seperti saat ini."
Wildan masih asik melihat banyak berkas, Wildan yakin perjuangan Erik tidak sesimpel penjelasannya. Dari banyaknya catatan Erik menelan semuanya, Wildan juga melihat foto adik kecil Erik yang dulu, kini Wildan mengerti jika Erik membalas Budi kepada keluarga Ravi yang pernah menyelamatkan adiknya, walaupun adiknya tetap tidak selamat.
Terlihat juga surat pengunduran diri Erik jika dia gagal menyelamatkan Kasih, Wildan tersenyum membuang surat ke tempat sampah.
"Sepanjang apapun perjuangan kak Erik yang paling penting Kasih selamat, keluarga kita tersenyum kembali."
"Wildan benar, kita menang dalam kasus ini walaupun banjir air mata." Tian merangkul Ravi.
"Sekarang saatnya kita keluar, biarkan Erik beristirahat." Tama melangkah keluar, diikuti oleh Ravi dan Tian.
"Kak terima kasih banyak untuk semua ini, Wildan mengakui kak Erik Dokter terbaik. Jangan pernah meninggalkan profesi ini, jika selama ini kak Erik berpikir bekerja untuk menyelamatkan keluarga, demi adik kakak, Wildan pikir salah. Pekerjaan ini sudah mendarah daging di tubuh kak Erik."
"Sejak kapan kamu banyak bicara?"
"Wildan juga tahu siapa wanita yang kak Erik cintai, kenapa harus takut mendekatinya? kami pasti menyambut kehadiran kak Erik dengan baik."
"Tahu dari mana?"
"Mata,"
"Dia harus sekolah mengejar mimpinya, dia punya bakat."
"Kak Erik bisa menjadi gurunya, kalian satu server, hobi yang sama, kalian dua orang yang saling melengkapi. Tapi ingat jangan pernah dia terlibat dengan banyaknya mantan kak Erik. Dia masih sangat polos."
"Wildan kamu memang anaknya Mami Reva."
"Aku juga heran kenapa dengan kalian? Ravi, Tian, dan kamu Erik sangat banyak mantan kekasih. Kalian bertiga playboy tidak jelas, pacar banyak tapi lama naik pelaminan."
"Ravi yang terkena karma, sekali jatuh cinta sampai bertekuk lutut."
"Sadar diri."
"Kamu hari ini cerewet sekali Wil, sana keluar berisik banget.
Wildan langsung pergi, Erik tersenyum memejamkan kembali matanya. Erik menyentuh bingkai foto saat mereka kecil, menatap seorang gadis kecil mengemaskan.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
__ADS_1
***