SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 PEMAKAMAN


__ADS_3

Pemakaman ramai, mobil bersusun mengelilingi daerah makam mengantarkan Dewa ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Randu meneteskan air matanya memeluk foto kakaknya, tidak bisa menutupi rasa kehilangannya.


Wildan duduk di kursi roda, melihat kesedihan Randu yang selalu menarik nafasnya yang sangat kehilangan.


Air mata Vira juga menetes melihat Dewa di masukkan ke dalam tanah, sungguh Vira baru saja saling menyapa ternyata menjadi pertemuan terakhir mereka.


Hujan rintik-rintik turun, Vira memegang payung memayungi dirinya dan Wildan menatap Randu yang memeluk tanah yang basah.


Seluruh keluarga juga hadir mengantarkan kepergian Dewa untuk selamanya, turut sedih melihat Randu yang menangis sesenggukan.


Kepala Wildan tertunduk, dia sangat berterima kasih kepada Dewa, juga meminta maaf kepadanya juga Randu.


Satu persatu mulai meninggalkan makam, Randu melepaskan payung membiarkan hujan lebat mengguyur tubuhnya.


Tangisan Randu pecah, meluapkan kesedihannya melihat kakaknya yang pergi untuk selamanya.


Randu sekarang hidup seorang diri, tidak punya orang tua, kakak adik, saudara bahkan keluarga. Randu hidup sebatang kara, tanpa ada satupun keluarganya yang tersisa.


Hujan turun dengan derasnya, Vira mengusap air matanya menggenggam erat tangan Wildan yang juga menutup matanya.


Ravi Kasih, Erik Billa, Bella Tian, Karan dan Karin juga masih menemani Randu yang menangis memeluk makam kakaknya, tidak menyadari jika masih ada yang menemaninya.


"Kak, apa yang harus Randu lakukan? kita pernah berjanji untuk tidak membunuh hidup dengan damai, tapi Randu ingin balas dendam untuk kematian kak Dewa. Dragon harus membayar dengan nyawa." Randu menangis histeris, mencengkram kuat tanah kuburan.

__ADS_1


"Aku yakin Dewa tidak menginginkannya, dia menyayangi kamu juga pernah mengatakan. Aku takut Randu terluka, aku ingin dia hidup bahagia membentuk sebuah keluarga, dendam tidak akan ada habisnya jika terus saling membalas. Dewa sangat mencintai kamu, setidaknya kamu harus menjalani hidup seperti yang Dewa harapkan dengan hidup baik dan tenang." Wildan menatap Randu yang juga melihat mereka semua masih berdiri menemani sambil memegang payung.


Dewa mengusap wajahnya, melihat Karan memayungi dirinya juga menatap Karin yang tersenyum meminta untuk bangkit.


"Ayo bangun, kita ada di sini untuk merangkul kamu. Aku juga tidak memiliki keluarga, tapi aku ingin melangkah ke jalan yang benar agar dikelilingi orang baik. Allah menjawab harapan itu, memberikan ketenangan juga kebahagiaan. Randu bahagia kita sendiri yang menentukan, jika kamu ingin bahagia maka perbaiki diri sendiri." Karan langsung merangkul dan memeluk erat Randu yang menangis.


"Dia masih berkeliaran di luar sana, tertawa di atas kematian kakakku."


"Dia sedang kesakitan, meringis dan penuh kehancuran. Orang yang dia ingin mati masih ada di sini, dia dalam keadaan baik. Kematian Dewa bukan rencananya, dia menginginkan Wildan yang mati. Apa yang terjadi pada Dewa sebuah pengorbanan dia sudah melakukan kebaikan dengan menyelamatkan hidup orang lain, namanya yang pernah rusak menjadi pahlawan dalam hidup kami. Mungkin dunia tidak tahu betapa baiknya dirinya, tetapi di dalam keluarga besar kami nama Dewa akan abadi sampai ke anak cucu. Tidak ada kebahagiaan tanpa seorang Dewa yang menyingkirkan berita duka kami. Kata-kata tidak cukup sebagai ucapan syukur, sebanyak apapun kami memberi tidak bisa membayar sedikitpun pengorbanan. Dengan penuh hormat kami keluarga besar Wildan mengucap turut berdukacita, juga mengucapkan banyak terima kasih. Maaf ceramah Bella panjang sekali, aku akan diam." Bella menundukkan kepalanya memberikan penghormatan terakhir, diikuti oleh Vira, Billa, Kasih dan Karin.


Randu mendudukkan kepalanya menerima penghormatan wanita hamil yang bicaranya panjang sekali, tapi Randu merasa lega masih ada yang menemaninya meskipun hujan turun dengan lebatnya.


"Ayo kita pulang." Randu berjalan bersama Karan dan Karin menuju mobil.


"Kak Tian, kenapa Randu tidak menikah saja dengan Fly? dia marah karena memukul Fly wanita yang dia cintai." Bella langsung menangis, karena Tian menutup mulutnya juga hidung membuatnya tidak bisa bernafas.


"Astaghfirullah Al azim sayang, kenapa bicara seperti itu? kita lagi berduka kenapa kamu ingin menjadi Mak comblang?" Tian menatap Randu yang melihat ke arah mereka.


Bella sudah marah, langsung membuang payung. Menghentakkan kakinya berjalan ke arah mobil Wildan tidak ingin pulang bersama Tian.


"Bel, kamu kenapa ambekkan sekali?" Vira membuka pintu.


"Kak Tian ingin membunuh Bella, padahal Bella tahu Randu menyukai Fly." Tatapan Bella tajam duduk di mobil.


Tian langsung meminta maaf kepada Randu, istrinya sejak hamil memang sering berbicara sembarang.

__ADS_1


"Kamu tahu dari mana aku menyukai Fly?" Randu tersenyum melihat bumil yang sedang memonyongkan bibirnya.


"Bella sudah lama tahu, tapi tidak perduli. Saat kita berada di bawah tanah, kamu satu-satunya orang yang bisa membedakan Fly dan saudara kembarnya. Kamu tidak tertarik dengan kecantikan Vira, juga Winda berarti ada wanita lain dia Fly." Bella menatap tajam Randu yang menganggukkan kepalanya.


"Lalu kamu tahu dari mana jika aku hampir membunuh Fly." Randu tersenyum melihat Bella yang tertawa.


"Tentu aku tahu, Fly menghubungi aku meminta tolong untuk melacak keberadaan dragon. Dia ingin membalas dendam, dengan sukarela aku membantunya."


"Maksudnya apa Bel?" Randu menatap serius.


Bella menceritakan jika Fly menemuinya meminta bantuan, dia ingin membalaskan dendam Wildan dan Randu. Juga membalas pengkhianatan dragon.


Keberadaan dragon sudah diketahui, Fly sudah bergerak untuk menyerang. Dia ingin membunuh dragon dengan tangannya sendiri. Bella bahkan memberikan bantuan dari grup V untuk membantu Fly menyerang tempat persembunyian dragon.


"Kita tunggu saja beritanya siapa yang mati, daripada Wildan ataupun Vira bergerak apalagi kak Ravi juga mencari dragon akhirnya Bella membiarkan Fly yang menyingkirkannya. Mati atau hidup Fly tidak ada gunanya untuk kami. Jika kamu ingin wanita yang kamu cintai selamat, sebaiknya cepatlah bergerak sebelum aku mengirim berita duka. Bukannya Bella terlalu baik kepada Fly?" Senyuman Bella terlihat licik menatap Randu yang kebingungan.


"Ya kamu sangat baik, tapi akan lebih baik jika kamu mengatakannya dari awal." Randu langsung berlari.


"Randu, Bella hanya ingin memberikan saran saja jika kamu meyelamatkan Fly tidak ada untungnya, kamu harus berjuang lagi mendapatkan cintanya, sedangkan dia hanya mencintai Wildan. Jika Bella menjadi kamu biarkan saja dia mati." Bella tertawa, Tian ingin sekali menutup mulut istrinya yang banyak bicara, apa anaknya akan cerewet?


"Kamu banyak bicara Bella, akan aku pikirkan saran kamu." Randu langsung masuk mobil melangkah pergi.


Wildan juga langsung bergerak memberikan bantuan untuk Randu setelah mendapatkan izin dari Vira.


Tatapan Vira tajam melihat Bella yang bergerak tanpa pemberitahuan, Vira langsung menghubungi timnya yang mengikuti Fly. Bertanya keadaan lokasi.

__ADS_1


"Siapa yang mati?" Vira menatap tajam, Wildan mengerutkan keningnya melihat ponsel Vira.


***


__ADS_2