SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 MEMALUKAN


__ADS_3

Pintu dibuka dengan kencang bersamaan dengan lampu yang hidup, mata Kasih melotot dan menutup mulutnya.


"Kasih!" Ravi berjalan mendekat sedangkan Kasih sudah berlari mengelilingi sofa tamu.


"Kenapa sayang?"


"Arrrrrgggghhhhh, Ravi mesum!" Kasih melempar semua bantal sofa agar Ravi menjauh.


"Mesum!?" Ravi binggung melihat Kasih menutup matanya, melarang Ravi mendekat.


"Ravi, sana pergi! dasar laki-laki mesum."


"Kasih aku datang karena ingin melihat keadaan kamu, aku sangat khawatir." Ravi menatap Kasih tajam, sedangkan Kasih menunjuk ke bawah Ravi.


Ravi langsung menutup yang di bawahnya, Ravi lupa menggunakan celana dan masih memakai bokser pendek dengan gambar kucing, pemberian Erik saat pulang dari seminar luar kota.


"Maaf lupa pakai celana karena terlalu panik." Ravi mengaruk kepalanya, Kasih langsung melangkah mengambil sesuatu dan melemparkannya kepada Ravi.


"Sayang jangan bercanda, masa iya Ravi memakai rok?"


"Mau pakai rok atau keluar."


"Astagfirullah, iya pakai rok saja, sumpah malu Kasih sampai ke anak cucu kita."


Kasih menahan tawa, membayangkan Ravi menggunakan rok panjang milik Cinta, setelah Ravi mengatakan selesai barulah Kasih berbalik.


Ravi langsung mendekat, menahan malu. Mengecek tubuh Kasih dan ada beberapa goresan pisau dan luka pukulan.


"Di mana dia?" Ravi langsung berubah dingin, Kasih bisa melihat sorot mata Ravi yang marah.


Kasih melangkah mendekati seorang pria besar tinggi, wajahnya juga mendapatkan luka bakar sebelah, dalam keadaan pingsan.


"Dia pasti pembunuh bayaran?


Ravi mengecek keadaan pria yang terbaring di lantai mencari identitasnya, dugaan Kasih tepat. Ravi juga bisa mengenali jika orang yang dikirim beberapa orang yang memang hidup tanpa nama.


"Kamu punya musuh, apa dia ingin membuat aku hancur?"


"Kamu bertanya dan sudah tahu jawabannya, mereka musuh keluarga Prasetya."


"Nanti akan aku pikirkan, kita obati dulu luka kamu."


Suara langkah kaki beberapa orang masuk terburu- buru, Mommy berlari memanggil nama Kasih. Cepat Ravi dan Kasih ke ruang tamu, saat melihat Kasih Viana langsung memeluknya dengan hangat, membelai rambutnya.


"Kasih baik-baik saja Mommy,"


"Kamu luka sayang, tidak bisa dibilang baik ini luka goresan pisau."

__ADS_1


"Tapi Kasih berhasil bertahan Mommy."


"Di mana lelaki brengsek itu, berani menyakiti menantuku?"


"Sudah melarikan diri Mommy." Ravi menatap Kasih, dan Kasih langsung tersenyum, Ravi tidak ingin Mommy terlibat seperti dahulu.


Rama menatap Ravi dari ujung kaki sampai ke atas pinggang, kening Rama langsung berkerut melihat putranya menggunakan rok.


"Ravi kamu normal?"


"Normal Daddy," Ravi langsung melihat roknya.


Viana yang melihat langsung cekikikan tertawa lupa dengan kemarahan, Kasih juga tertawa lucu melihat Ravi yang sangat cute menggunakan rok berwarna pink.


"Mommy, tega banget diketawain." Ravi langsung manyun.


"Kasih ayo kita pulang ke rumah Mommy, di sana juga ada Cinta."


"Mommy Daddy duluan, Kasih sama Ravi menyusul setelah Kasih mengunci pintu."


Mommy akhirnya meenggaguk, melangkah keluar untuk pergi kembali ke rumah. Viana tersenyum karena Kasih mempunyai kemampuan beladiri cukup tinggi sehingga bisa melindungi dirinya. Vi tahu ada kaki seseorang yang terlihat di dekat sebuah lemari, tapi Vi mempercayai putranya bisa melindungi wanita yang dia cintai.


Daddy Rama juga tahu, jika ada orang lain tapi karena Ravi tidak ingin mengatakannya maka lebih baik Rama mempercayai Ravi.


Di dalam rumah, Ravi meminjam ponsel Kasih untuk memanggil seseorang, menyingkirkan pria brengsek dan menunggu instruksi untuk menyingkirkan.


"Karena aku membenci senjata tajam, dan mematikan lampu bertarung dalam kegelapan. Aku bertarung hanya menggunakan pendengaran."


"Hebatnya calon istriku, dan maafkan aku melibatkan kamu dan masalah keluargaku."


"Tidak masalah, aku sudah mendengar semua tentang keluarga kamu dari Vira."


Ravi menarik tangan Kasih masuk ke dalam pelukannya, seandainya mereka sudah sah mungkin Ravi bisa mencoba bibir Kasih yang sangat manis jika tersenyum. Ravi memang seorang playboy, tapi ajaran Daddy tidak pernah Ravi langgar karena jika dia sampai tergoda dan melakukan sesuatu sebelum menikah, maka dia tidak bisa memilih wanita baik untuk menjadi ibu bagi anak-anaknya.


Keduanya langsung melangkah keluar, Ravi mencari motor mang Jejen yang berjalan sendiri, ternyata sudah terguling di pinggir taman rumah Kasih.


"Kenapa motornya bisa nyungsep?"


"Dia tidak punya rem, jadi aku biarkan dia berhenti sendiri." Ravi nyegir kuda sambil menggaruk kepalanya.


Kasih mendekat dan mengetes rem yang sangat cakram, Ravi baru tahu jika remnya juga di depan.


"Kamu tidak tahu cara memakai motor ini?"


"Iya mungkin, soalnya motor ini ompong?"


"What?" Kasih mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Motor aku punya gigi tapi motor ini ompong." Ravi masih nyolot membandingkan motor bergigi dan motor matic.


"Itu motor matic Ravi bukan motor ompong." Kasih menghidupkan motor, Ravi langsung duduk di belakang, memeluk erat pinggang Kasih.


"Ravi duduknya jangan menyamping!?" teriak kesal Kasih.


"Roknya bisa sobek sayang, jadi aku harus duduk menyamping."


Kasih hanya menghela nafas, membiarkan Ravi duduk menyamping. Tidak sampai lama motor masuk ke dalam pekarangan rumah Ravi, dan Vira dengan tawanya yang besar sambil merekam Ravi.


Cinta juga menutup mulutnya melihat Ravi yang menggunakan roknya, cepat Ravi berlari masuk rumah dan menaiki tangga tapi suara keras dan bunyi sobek terdengar, Viana Rama langsung melihat ke dekat tangga.


Ravi terguling jatuh dari tangga, karena roknya nyangkut dan langsung sobek. Rama membalikkan badannya menahan tawa, sedangkan Ravi sudah bangkit dan melangkah masuk kamar dengan rok sobek sampai pahanya.


"Bunyi apa tadi Daddy?" Vira masih dengan handphonenya untuk merekam Ravi, sedangkan Viana dan Rama sudah tertawa memegang perut.


"Ravi dari kecil sampai besar tidak pernah berubah, selalu menjadi bahan tertawaan yang lucu." Rama menggeleng kepalanya melihat tingkah putra sulungnya.


Cinta memeluk Kasih, meneteskan air matanya membelai rambut adiknya.


"Kak Cinta mengapa bisa terluka?" Kasih melihat tubuh Cinta yang sudah diobati.


"Kaka Ci hanya jatuh, terima kasih karena Asih baik-baik saja."


Viana meminta keduanya masuk, maid juga sudah menyiapkan kamar untuk Kasih dan langsung mandi.


Di dalam kamarnya Ravi menyobek rok dan langsung membuangnya ke tempat sampah, tidak bisa Ravi bayangkan bertapa memalukan dia hari ini. Belum lagi dengan bokser pemberian Erik yang gambarnya kucing.


Suara panggilan dari Erik yang mendapatkan sumpah serapah dari Ravi yang sudah malu karena bokser dan rok bodoh.


Ravi menggakat menunjukkan bokser membuat Erik tertawa terpingkal-pingkal, Erik yang baru selesai bertugas terasa tidak ada adab lagi mendengar cerita Ravi, tapi langsung diam saat mendengar penjelasan soal penjahat yang menyerang Kasih.


[Sudahlah, jangan terlalu menjadi beban. Siang nanti kita berkumpul, aku harus pulang karena Mama memaksa untuk bertemu.]


[Oke hati-hati.]


[Ravi, kamu terlihat sangat mengemaskan menggunakan bokser kucing, nanti akan aku kirim lagi bokser hello Kitty.] Erik tertawa langsung menutup panggilan, sebelum Ravi menyumpahinya lagi.


"Erik...! aku sumpah kamu menjadi jomblo akut."


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA.


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***-

__ADS_1


__ADS_2