SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 LALAI


__ADS_3

Langkah kaki berlarian terlihat, setelah atau Minggu menunggu waktu yang tepat untuk pulang, akhirnya Vira, Bella dan Winda bisa kembali ke untuk melihat anak Billa.


Mobil sudah kebut-kebutan saling beriringan, menuju kediaman yang sedang ada acara syukuran kelahiran twins w.


Bening menangis duduk di pinggir jalan, terus memanggil ayahnya. Sebuah mobil mewah berhenti, Cinta kaget bukan main melihat Bening berada di pinggir jalan, jika ada orang yabg yang berkendaraan dengan kecepatan tinggi, Bening bisa kecelakaan.


"Kenapa Bening bisa ada di sini?" Cinta langsung memeluk erat Bening.


"Enti, Ayah mana ayah. Ayah Ning." Bening menangis sesenggukan, Cinta juga menangis memeluk erat Bening.


Cinta membawa Bening ke cafe pinggir jalan, mendengarkan ceritanya soal anak-anak yang mengatakan jika Ayah Bundanya berbeda.


Cinta memeluk Bening, menetes air matanya, Bening masih terlalu kecil untuk mempertanyakan siapa dirinya, Bening sama seperti Cinta dulu yang memaksa mencari tahu tentang dirinya, sehingga kebencian dan amarah menguasai.


"Bening, dengarkan Tante Cinta. Ayah Bunda Bening sangat menyayangi kamu, jangan perduli ucapan siapapun tentang kamu, banyak orang yang akan menjaga dan melindungi kamu."


Bening hanya menganggukkan kepalanya, Bening melanjutkan memakan es krim.


"Enti, bungkus satu untuk Asih. Ini enak sekali."


Cinta menganggukkan kepalanya, pelayan menyiapkan es krim. Bening menatap Cinta memakan banyak permen.


"Enti jangan banyak makan emen, nanti sakit gigi."


"Iya sayang, ini emen pait bagus untuk kesehatan."


Cinta langsung mengandeng Bening untuk pulang, takut semuanya khawatir, tiga mobil mewah lewat, tapi berhenti.


Cinta sudah tahu siapa yang datang, Vira, Bella, dan Winda keluar melihat Cinta dan Bening.


"Kenapa kalian di sini?" Vira menatap Bening yang mengantuk.


Cinta menceritakan yang terjadi, dia ingin segera kembali agar tidak ada yang khawatir.


"Kamu pulang saja Cinta, mereka semua harus diberikan pelajaran." Bella menggendong Bening yang sudah terlelap.


Winda meminta Cinta berpura-pura tidak mengetahui apapun, Bella akan menghapus rekaman CCTV, Wildan hanya bisa mengakses sampai ujung jalan perumahan.


Cinta setuju langsung pamit pulang, Bella membawa Bening ke dalam mobil. Langsung melaju menuju rumah utama tempat biasanya berkumpul.


Beristirahat sampai semuanya panik, baru pulang. Vira mengusap wajah Bening yang sangat cantik, mirip sekali dengan wajah Binar.


"Kasian kamu sayang, masih kecil, tapi sudah dipaksa untuk mendengarkan cerita menyedihkan." Vira mencium kening Bening.

__ADS_1


Winda sibuk sendiri, mencari susu yang cocok untuk Bening, dia bangun tidur pasti lapar. Kebiasaan manja Winda membuatnya mudah marah, menghamburkan susu di dapur, membuat banyak maid geleng-geleng.


***


Di kediaman sedang sibuk, puluhan pengawal sudah mencari keberadaan Bening.


Tangisan Jum dan Binar tidak tertahankan, rasa khawatir tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Wildan sudah melihat rekaman, hanya sampai ujung jalan. Tangisan Binar semakin kuat, melihat anaknya dipinggir jalan besar, banyak mobil berlalu lalang, terlihat juga Bening yang menangis.


Tama baru sampai melihat seluruh orang sibuk, menarik satu lengan pengawal menanyakan yang terjadi. Mendengar Bening menghilang, membuat dada Tama rasanya sakit, langsung berlari menuju ruangan keamanan untuk melihat yang terjadi.


Pintu dibuka kuat, semua kaget langsung melihat Tama yang menatap Binar tajam.


"Tama, Bening ...." Binar langsung jatuh pingsan, Tama menangkap tubuh Binar, memeluknya erat.


Tian menggendong Binar keluar, Cinta hanya tersenyum melihat semua orang yang sudah menangis.


Tama melihat rekaman CCTV, melihat Bening yang memanggil Ayah, air mata Tama rasanya ingin menetes, langsung melangkah keluar untuk mencari Bening.


"Uncel Ning di mana?" Asih memegang Tama.


"Asih, do'akan Ning cepat ketemu." Tama langsung melangkah, tapi Asih memeluk kakinya.


"Asih tidak salah, uncle yang salah tidak bisa menjaga Ning. kita akan mencari Ning sampai ketemu."


"Uncel janji, jelaskan ke Ning biar tidak sedih lagi. Uncel sayang Ning."


"Iya sayang, manfaatkan uncle yang lalai." Tama mengusap kepala Asih langsung berlari keluar.


"Siapa orang yang berani berbicara seperti itu kepada cucuku." Bisma minta orang kepercayaan untuk menyelidiki.


"Mas, jangan salahkan anak yang mengatakannya, dia hanya mengatakan apa yang dia dengar. Tugas kita menjelaskan kepada Bening sebuah kebenaran agar dia tidak salah paham."


"Sayang Bening masih kecil, tugas dia tumbuh, belajar."


"Tidak masalah dia tahu Bisma, pertanyaan yang dia lihat kenapa orang tuanya tidak pernah bersama, anak kecil peka. Saat kamu katakan dia Ayah kamu, tapi kamu tidak boleh tinggal dengan Ayah karena dia punya keluarga sendiri. Dia akan mengingatnya sampai besar, jika dia Ayah tapi beda keluarga." Bima menatap tajam, meminta semuanya fokus untuk menemukan Bening.


,***


Raka hanya duduk bersama Wira, melihat Bening dalam gendongan Tama. Raka langsung berjalan mengikuti Tama, menyentuh tangan Tama.


"Raka juga khawatir? Ning bersama aunty kamu sayang." Tama mengusap kepala Raka.

__ADS_1


Tiga wanita super heboh muncul, dengan gaya dan penampilan masing-masing. Wildan melihat high heels tinggi, langkah bagaimana model, Wildan tersenyum menatap Wira memintanya untuk mengerjai aunty.


Wira langsung melemparkan cicak mainan, Vira langsung teriak histeris, lepas high heels langsung berlari langka seribu, Winda sudah terjengkang jatuh, Bella tersungkur.


Vira berlari sendiri meninggalkan dua temannya yang terjatuh, teriakan Vira membuat semua orang panik, Viana sampai menutup mulut Vira.


"Gila kamu Vira?" Viana memukuli Vira.


"Anak baru pulang sudah dikatain gila." Vira memonyongkan bibirnya.


Suara tangisan terdengar memeluk Bening, Binar sudah memeluk erat putrinya. Menyalahkan dirinya lalai menjaga anak.


"Maafkan Bunda sayang, kamu pasti ketakutan."


"Bunda, Jangan menangis."


"Iya, Bunda tidak menangis lagi." Binar menghapus air matanya.


Bening langsung berlari menemui Asih, memberikan kantong plastik berisi es krim, tapi sudah cair.


"Asih untuk kamu." Bening duduk, Asih juga duduk.


"Yaaa, cair." Bening menatap sedih.


"Asih suka, ini enak sekali." Rasih tidak meminta izin kepada Kasih Ravi, langsung meminumnya, menjilati bibirnya yang penuh es krim.


Raka juga duduk mendekat, menatap Bening. Bibir Bening langsung monyong, dia hanya membawa satu untuk Asih, sedangkan Raka tidak dia belikan.


"Nanti Ning minta Ayah beli lagi untuk aka, maaf aka."


Jum membawakan tiga sendok kecil, Bening langsung mengucapkan terima kasih, langsung memakan es krim bertiga.


"Aku hampir jantungan." Bisma langsung menatap Bella yang baru masuk acak-acakan.


"Jangan tanya kenapa bisa bersama kita, tanyakan kenapa kalian lalai menjaga anak kecil, jika dia diculik, kecelakaan, kalian ingin ngomong apa?" Bella langsung menuju kamarnya.


"Vira Bella tujuan kita pulang untuk melihat twin E?"


"Ohhh iya, sampai lupa." Vira langsung merangkul Bella.


"Kurang ajar tiga wanita ini, kalian tidak melihat kami, bukan salam langsung nyelonong masuk." Reva menatap sinis, ketiganya balik lagi, menciumi tangan orang tua.


***

__ADS_1


__ADS_2